Home forum.majelisrasulullah.org ZIARAH KUBUR - 2010/05/14

ZIARAH KUBUR – 2010/05/14

- Advertisement -
Advertisements

yusuplaskar ZIARAH KUBUR – 2010/05/14 17:53 assalamu^alaikum warahmatullaahi
wabarakatuh,selamat dn kesejahteraan smoga dicurahkan kpada habib
dan kluarga,,amin..
bib,,orang tua sy dulu pernah menyuruh sy ziarah kemakam keramat
(dlm hl ini orang yg dihormati atau mkam ulama) supaya sy cepat
mendptkn pkerjaan.
sy brtanya apa yg harus sy lakukan dimakam,jwb bliau,mintalah kpd
ahli kubur (dlm hl ìni ulama) agar doa saya disampaikan kpd
ALLAH,,,tp sy mrasa galau,krna spengetahuan sy,meminta bntuan kpd
yg sudah mati,hukumnya adalah musyrik. jd sy tdk mlaksanakan
perintah ortu sya.
saya mohon pendapat habìb tentang msalah di atas.
terimakasih sbelumnya,wasalamu^alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:ZIARAH KUBUR – 2010/05/15 13:40 Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,

kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari
hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
penjelasannya panjang lebar, sebelum saya simpulkan, akan saya
tampilkan untuk anda jawaban atas masalah ini (sitighatsah) yaitu
memanggil orang yg sudah wafat untuk memberi bantuan., saya
nukilkan dari buku saya : kenalilah akidahmu edisi 2, anda jangan
tersinggung dg kalimat kalimat ini, karena ini adalah nukilan
untuk memperjelas hukum, bukan ditujukan pada pribadi anda
saudaraku :

II.8. ISTIGHATSAH
Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta
pertolongannya, untuk sebagian kelompok muslimin hal ini langsung
di vonis syirik, namun vonis mereka itu hanyalah karena
kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam, pada hakekatnya
memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal
yg diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan
diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah swt,

tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat, karena bila
seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian
atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam
kemusyrikan yang nyata,

karena seluruh manfaat dan mudharrat berasal dari Allah swt, maka
kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan
mudharrat kecuali dengan izin Allah swt, ketika seseorang berkata
bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa
memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran
karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian
adalah mustahilnya manfaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari
Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan
atau kematian.

Sama saja ketika seorang berkata bahwa hanya dokter lah yang bisa
menyembuhkan dan tak mungkin kesembuhan datang dari selain dokter,
maka ia telah membatasi Kodrat Allah swt untuk memberikan
kesembuhan, yang bisa saja lewat dokter, namun tak mustahil dari
petani, atau bahkan sembuh dengan sendirinya.

Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil
manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yang telah mati daripada
yang masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah,
tuntunan kehidupan, modernisasi dan lain sebagainya. Kesemua para
pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat
dari mereka, muslim dan non muslim, seperti teori Einstein dan
teori teori lainnya, kita masih mengambil manfaat dari yang mati
hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari jabatan
mereka, dari perjuangan mereka, Cuma bedanya kalau mereka ini kita
ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun para shalihin, para wali
dan muqarrabin kita mengambil manfaat dari imannya dan amal
shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.

Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau
saw : Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat
sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu
mereka ber-istighatsah (memanggil nama untuk minta tolong) kepada
Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan kesemuanya
tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada
Muhammad saw (Shahih Bukhari hadits no.1405),

juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits
No.194, Shahih Bukhari hadits No.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi
hadist2 shahih yang Rasul saw menunjukkan ummat manusia ber
istighatsah pada para Nabi dan Rasul, bahkan Riwayat Shahih
Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam,
sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…dan
Adam as berkata : Diriku..diriku.., pergilah pada selainku..,
hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil manggil
Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yang menceritakan ini, dan
menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.

Maka hadits ini jelas jelas merupakan rujukan bagi istighatsah,
bahwa Rasul saw menceritakan orang orang ber-istighatsah kepada
manusia, dan Rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah
Istighatsah diperbolehkan bahkan hingga dihari kiamat kepada para
hamba yg dekat pada Allah di hari kiamat, dan ternyata dihari
kiamat Istighatsah diizinikan Allah swt hanya untuk Sayyidina
Muhammad saw.

Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada
seorang yang keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra : Sebut
nama orang yg paling kau cintai..! , maka berkata orang itu dengan
suara keras.. : Muhammad..! , maka dalam sekejap hilanglah sakit
keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan
diriwayatkan oleh Imam Tabrani dengan sanad hasan) dan riwayat ini
pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.

Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik
pada orang yang memanggil nama seseorang saat dalam keadaan
tersulitkan, justru Ibn Abbas ra yang mengajari hal ini.

Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang
silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan
300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh
masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yang lari ke
makam shalihin selamat. Inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki
oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di
makam makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat
membentengi air bah itu,

yang itu sebagai isyarat Illahi bahwa demikianlah Allah memuliakan
tubuh yang taat pada-Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah
jadikan benteng untuk mereka yang hidup.., tubuh yang tak bernyawa
itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan-Nya swt kepada
mereka mereka yang berlindung dan lari ke makam mereka.

mereka yang lari berlindung pada hamba hamba Allah yang shalih
mereka selamat, mereka yang lari ke masjid masjid tua yang bekas
tempat sujudnya orang orang shalih maka mereka selamat, mereka
yang lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yang lari mencari
tim SAR tidak selamat..

Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai
perantara perlindungan-Nya swt?, kenapa bukan orang yang hidup?,
kenapa bukan gunung?, kenapa bukan perumahan?.

Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah
pada shalihin. Walillahittaufiq

lalu pula didukung oleh hadits shahih Bukhari dan Shahih Muslim
dan lainnya dan dijelaskan oleh Imam ibn Katsir dalam tafsirnya
bahwa Rasul saw mengajarkan kita bersalam pada ahlulkubur.
berkata Imam Ibn Katsir, ini menunjukkan ahlulkubur menjawab salam
orang yg bersalam padanya, karena jika mereka tak mendengar maka
tak dibenarkan bersalam pada benda mati, dan didukun riwayat
shahih bahwa ahlilkubur senang dengan kedatangan para peziarah
padanya.

kesimpulannya saudaraku, meminta pada para wali Allah swt tidak
syirik, apakah ia masih hidup atau telah wafat, karena kita tak
meminta pada diri orang itu, kita meminta padanya karena
keshalihannya, karena ia ulama, karena ia orang yg dicintai Allah

maka hal ini tidak terlarang dalam syariah dg dalil yg jelas.

namun kalau pribadi saya, saya lebih senang berdoa pada Allah,
dengan mengambil perantara pada Rasulullah saw, karena beliau saw
sudah jelas diterima oleh Allah swt perantaraannya bahkan hingga
hari kiamat.

saya sering berziarah pada shalihin dan para wali, tapi berdoa
pada Allah, bukan meminta pada ahlilkubur, namun berdoa didepan
jasad shalih mereka, disaksikan ruh mereka, insya Allah lebih
cepat diijabah oleh Allah.

berikut saya perjelas mengenai tawassul, saya nukilkan dari buku
saya Kenalilah akidahmu edisi 2 :

II.7. TAWASSUL
Saudara saudaraku masih banyak yang memohon penjelasan mengenai
tawassul, wahai saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita
melakukan tawassul. Tawassul adalah mengambil perantara makhluk
untuk doa kita pada Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada
Iman dan Islam dengan perantara makhluk-Nya, yaitu Nabi Muhammad
Saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu
perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah
para tabi in. Demikian berpuluh puluh perantara sampai pada guru
kita, yang mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll,
barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas
mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw,
sampailah kepada Allah swt.

Allah swt berfirman : Hai orang orang yang beriman, bertakwalah
atau patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat
mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt,
agar kamu mendapatkan keberuntungan (QS.Al-Maidah-35).
Berkata Imam Ibn katsir menafsirkan ayat ini :
والوسيلة: هي التي يتوصل بها إلى تحصيل المقصود، والوسيلة أيضًا: علم
على أعلى منزلة في الجنة، وهي منزلة رسول الله صلى الله عليه وسلم
وداره في الجنة، وهي أقرب أمكنة الجنة إلى العرش، وقد ثبت في صحيح
البخاري، من طريق محمد بن المُنكَدِر، عن جابر بن عبد الله قال: قال
رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قال حين يسمع النداء: اللهم رب
هذه الدعوة التامة، والصلاة القائمة، آت محمدًا الوسيلة والفضيلة،
وابعثه مقامًا محمودا الذي وعدته، إلا حَلَّتْ له الشفاعة يوم القيامة”.
حديث آخر في صحيح مسلم: من حديث كعب عن علقمة، عن عبد الرحمن بن
جُبير، عن عبد الله بن عمرو بن العاص أنه سمع النبي صلى الله عليه
وسلم يقول: “إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول، ثم صلُّوا عَليّ، فإنه
من صلى عَليّ صلاة صلى الله عليه بها عشرًا، ثم سلوا الله لي الوسيلة،
فإنها منزلة في الجنة، لا تنبغي إلا لعبد من عباد الله، وأرجو أن
أكون أنا هو، فمن سأل لي الوسيلة حَلًّتْ عليه الشفاعة.” (1)
حديث آخر: قال الإمام أحمد: حدثنا عبد الرزاق، أخبرنا سفيان، عن لَيْث،
عن كعب، عن أبي هريرة؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “إذا
صليتم عَليّ فَسَلُوا لي الوسيلة”. قيل: يا رسول الله، وما الوسيلة؟ قال:
“أعْلَى درجة في الجنة، لا ينالها إلا رَجُلٌ واحد (2) وأرجو أن أكون أنا
هو”.

Wasilah adalah sesuatu yg menjadi perantara untuk mendapatkan
tujuan, dan merupakan perantara pula ilmu tentang setinggi tinggi
derajat, ia adalah derajat mulia Rasulullah saw di Istana beliau
saw di sorga. Dan itu adalah tempat terdekat di sorga ke Arsy, dan
telah dikuatkan pd shahih Bukhari dari jalan riwayat Muhammad bin
Al Munkadir, dari Jabir bin Abdillah ra, sabda Rasulullah saw :
Barangsiapa yg berdoa ketika mendengar seruan (adzan) :Wahai Alla
Tuhan Pemilik Dakwah ini Yang Maha Sempurna, dan Shalat Yang
didirikan, berilah Muhammad perantara dan anugerah, dan
bangkitkanlah untuk beliau saw derajat yg terpuji yg telah Kau
Janjikan pada beliau saw, maka telah halal syafaat dihari kiamat .

Hadits lainnya pada Shahih Muslim, dari hadits Ka;ab dari Alqamah,
dari Abdurrahman bin Jubair, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash,
sungguh ia mendengar Nabi saw bersabda : Jika kalian mendengar
muadzin, maka ucapkan seperti ucapan mereka, lalu bershalawatlah
padaku, maka sungguh barangsiapa yg bershalawat padaku sekali maka
Allah melimpahkan shalawat padanya 10x, lalu mohonlah untukku
wasiilah (perantara), maka sungguh ia merupakan tempat di sorga,
tiada diberikan pada siapapun kecuali satu dari hamba Allah, dan
aku berharap agar akulah yg menjadi orang itu, maka barangsiapa yg
memohonkan untukku perantara, halal untuknya syafaat.

Dan hadits lainnya berkata Imam Ahmad, diucapkan pada kami oleh
Abdurrazzak, dikabarkan pada kami dari sofyan, dari laits, dari
Ka;ab, dari Abu Hurairah ra : Sungguh Rasulullah saw bersabda :
Jika kalian shalat maka mohonkan untukku wasiilah, mereka bertanya
: Wahai Rasulullah, (saw), wasiilah itu apakah?, Rasul saw
bersabda : Derajat tertinggi di sorga, tiada yg mendapatkannya
kecuali satu orang, dan aku berharap akulah orang itu
Selesai ucapan Imam ibn Katsir. (Tafsir Imam Ibn Katsir pd Al
Maidah 35)

Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara
kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan
Hadits hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau
saw tak melarang tawassul pada beliau saw, bahkan orang yang
mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat
beliau saw.
Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : Wahai
Allah, demi amal perbuatanku yang saat itu kabulkanlah doaku ,
sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits
yang panjang menceritakan tiga orang yang terperangkap di goa dan
masing masing bertawassul pada amal shalihnya, Allah swt membuka
sepertiga celah goa tempat mereka terperangkap berkat tawassul
orang pertama pada amal shalihnya, namun mereka belum bisa keluar
dg celah itu, maka orang kedua bertawassul pada amal shalih yg
pernah diperbuatnya, maka celah terbuka 2/3 dan belum bisa membuat
mereka keluar dari goa, maka orang ketiga bertawassul pula pada
amal baiknya, maka terbukalah celah goa keseluruhannya.

Namun dari riwayat ini bisa difahami bahwa tawassul pada amal
shalih sendiri tidak bisa menyelamatkan dirinya, namun justru
sebab dua orang lainnya maka mereka semua bisa selamat..
Jelas sudah bertawassul pada orang lain lebih bisa menyelamatkan
daripada tawassul pada amal sendiri yg belum tentu diterima, namun
tawassul pada orang shalihh yg sudah masyhur kebaikan dan
banyaknya amal ibadahnya, akan lebih mudah dikabulkan Allah swt,
lebih lagi tawassul pada Rasulullah saw.
Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya,
sebagaimana yang diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar
bin Khattab ra pada riwayat shahih Bukhari :

Advertisements
//graizoah.com/afu.php?zoneid=3526959

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا
نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ
فَيُسْقَوْنَ

Dari Anas bin Malik ra sungguh Umar bin Khattab ra ketika sedang
musim kering ia memohon turunnya hujan dengan perantara Abbas bin
Abdulmuttalib ra, seraya berdoa : wahai Allah.., sungguh kami
telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami
(Muhammad saw) agar kau turunkan hujan lalu Kau turunkan hujan,
maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan
Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang melihat beliau
sang Nabi saw maka turunkanlah hujan maka hujanpun turun dg
derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.954)
Berkata Hujjatul Islam Al imam Ibn Hajar Al Asqalaniy mensyarahkan
hadits ini :

وَيُسْتَفَاد مِنْ قِصَّة الْعَبَّاس اِسْتِحْبَاب الِاسْتِشْفَاع بِأَهْلِ الْخَيْر وَالصَّلَاح وَأَهْل
بَيْت النُّبُوَّة ، وَفِيهِ فَضْل الْعَبَّاس وَفَضْل عُمَر لِتَوَاضُعِهِ لِلْعَبَّاسِ وَمَعْرِفَته بِحَقِّهِ
.

.maka diambil faidah dari kejadian Abbas ra ini menjadi hal yg
baik memohon syafaat pada orang orang yg baik dan shalih, dan
keluarga Nabi saw, dan pada hadits ini pula menyebutkan keutamaan
Abbas ra dan keutamaan Umar ra karena rendah dirinya, dan
kefahamannya akan kemuliaan Abbas ra. (Fathul Baari Bisyarah
Shahih Bukhari Bab Al Jum;ah no.954)
Riwayat diatas menunjukkan bahwa :
1 Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan
Allah swt.
2 Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan
dikabulkan Allah swt.
3 Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw
(perhatikan ucapan Umar ra : demi Paman nabi (saw). Kenapa
beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin
Abdulmuttalib ra?, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi
mengucapkan sebutan Paman Nabi dalam doanya kepada Allah, dan
Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga
Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.

Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw
bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk
kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yang sakit :
Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian
dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin Tuhan kami
(shahih Bukhari hadits No.5413, dan Shahih Muslim hadits No.2194),
ucapan beliau saw : demi air liur sebagian dari kami menunjukkan
bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur mukminin yang dengan
itu dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya,
sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah
pula tentunya, juga beliau bertawassul pada tanah, menunjukkan
diperbolehkannya bertawassul pada benda mati atau apa saja karena
semuanya mengandung kemuliaan Allah swt, seluruh alam ini
menyimpan kekuatan Allah dan seluruh alam ini berasal dari cahaya
Allah swt.

Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya
mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul
saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta
agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw
memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu
Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : Wahai Allah,
Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi
Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku
menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku
ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi
syafaat hajatku untukku (Shahih Ibn Khuzaimah hadits No.1219,
Mustadrak ala shahihain hadits No.1180 dan ia berkata hadits ini
shahih dengan syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta
ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yang mengajarkan
padanya, bukan orang buta itu yang membuat buat doa ini, tapi
Rasul saw yang mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu,
sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat
padanya, bersalam padanya.

Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul
hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena
Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra.
Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw
bertawassul pada tanah dan air liur.

Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yang hidup,
pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : telah
datang kepada utsman bin hanif ra seorang yang mengadukan bahwa
Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka
berkatalah Utsman bin Hanif ra : berwudulah, lalu shalat lah dua
rakaat di masjid, lalu berdoalah dengan doa : : Wahai Allah, Aku
meminta kepada-Mu, dan Menghadap kepada-Mu, Demi Nabi Mu Nabi
Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku
menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku
ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi
syafaat hajatku untukku (doa yang sama dengan riwayat diatas) ,
nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dengan ku kesuatu
tempat.
Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra
mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra,
lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin
Affan lebih dulu bertanya padanya : apa hajatmu? , orang itu
menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan
orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : kau
bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan
hajatku ya..?? , maka berkata Utsman bin hanif ra : aku tak
bicara apa apa pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku
menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan
sembuh . (Majmu zawaid Juz 2 hal 279).
Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu
diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.
Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri
oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa
memanggil orang yang sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita
setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat :
Assalamu alaika ayyuhannabiyyu (Salam sejahtera atasmu wahai nabi
), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw :
tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan
ruh ku hingga aku menjawab salamnya (HR Sunan Imam Baihaqiy
Alkubra hadits No.10.050)

Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah
diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat
Radhiyallahu anhum, tak pula oleh para tabi in dan bahkan oleh
para ulama serta Imam imam besar Muhadditsin, bahkan
Allahmemerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat
radhiyallahu anhum mengamalkannya.
Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang
mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya
atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.

Tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda
(seperti air liur yang tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah
kemuliaan orang atau benda itu sendiri, dan tentunya kemuliaan
orang dihadapan Allah tidak sirna dengan kematian, justru mereka
yang membedakan bolehnya tawassul pada yang hidup saja dan
mengharamkan pada yang mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan
terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa
memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan
yang mati tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah
memuliakannya,

Bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan
Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah??, si hidup
bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah??,
Tidak saudaraku.. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan
dari yang hidup dan dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali
dengan izin Allah swt. Yang hidup tak akan mampu berbuat
terkecuali dengan izin Allah swt dan yang mati pun bukan mustahil
memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah swt.

Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang
yang mati adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati
tidak membedakan kodrat Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan
Allah SWT. Ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT
tetap abadi walau mereka telah wafat.

Sebagai contoh dari bertawassul, seorang pengemis datang pada
seorang saudagar kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah istri
saudagar itu adalah tetangganya, lalu saat ia mengemis pada
saudagar itu ia berkata Berilah hajat saya tuan saya adalah
tetangga dekat amarhumah istri tuan maka tentunya si saudagar
akan memberi lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang
istrinya, Nah bukankah hal ini mengambil manfaat dari orang yang
telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan orang mati
tak bisa memberi manfaat?, Jelas jelas saudagar itu akan sangat
menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya
uang lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau
sudah wafat.

Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan
akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, Yang
Maha Pemurah dan Maha Penyantun?, istri saudagar yang telah wafat
itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang urusan
hajat si pengemis pada si saudagar, NAMUN TENTUNYA SI PENGEMIS
MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT, entah apa yang
membuat pemikiran saudara saudara kita menyempit hingga tak mampu
mengambil permisalan mudah seperti ini.

Saudara saudaraku, boleh berdoa dengan tanpa perantara, boleh
berdoa dengan perantara, boleh berdoa dengan perantara orang
shalih, boleh berdoa dengan perantara amal kita yang shalih, boleh
berdoa dengan perantara Nabi saw, boleh pada shalihin, boleh pada
benda, misalnya Wahai Allah Demi kemuliaan Ka bah , atau Wahai
Allah Demi kemuliaan Arafat , dlsb, tak ada larangan mengenai ini
dari Allah, tidak pula dari Rasul saw, tidak pula dari sahabat,
tidak pula dari Tabi in, tidak pula dari Imam Imam dan
muhadditsin, bahkan sebaliknya Allah menganjurkannya, Rasul saw
mengajarkannya, Sahabat mengamalkannya, demikian hingga kini.
Walillahittaufiq


II.24. NABI MUHAMMAD SAW DI ALAM BARZAH
Sabda Rasulullah saw : “aku melewati Musa (as) dimalam aku di Isra
kan di Katsibil Ahmar dan Musa berdiri di kuburnya dan ia shalat”
(Shahih Muslim Bab Fadhail), bahkan firman Allah swt : “Janganlah
kalian menyangka orang yang terbunuh dijalan Allah itu mati,
bahkan mereka hidup dan diberi rizki oleh Allah” (Al Imran-169),

Saya perjelas lagi bahwa berdoa di kuburan pun adalah sunnah
Rasulullah saw, beliausaw bersalam dan berdoa di Pekuburan Baqi ,
dan berkali kali beliau saw melakukannya, demikian diriwayatkan
dalam Shahihain Bukhari dan Muslim, dan beliau saw bersabda :
Dulu aku pernah melarang kalian menziarahi kuburan, maka sekarang
ziarahlah . (Shahih Muslim hadits No.977 dan 1977)

Dan Rasulullah saw memerintahkan kita untuk mengucapkan salam
untuk ahli kubur dengan ucapan Assalaamu alaikum Ahliddiyaar
minalmu minin walmuslimin, wa Innaa Insya Allah Lalaahiquun, As
alullah lana wa lakumul aafiah.. (Salam sejahtera atas kalian
wahai penduduk penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih
sayang Allah atas yang terdahulu dan yang akan datang, dan Sungguh
Kami Insya Allah akan menyusul kalian, Aku memohon kepada Allah
untukku dan kalian Afiah ) (Shahih Muslim hadits No 974, 975,
976). Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersalam pada
Ahli Kubur dan mengajak mereka berbincang-bincang dengan ucapan
Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian .

Rasul saw berbicara kepada yang mati sebagaimana selepas perang
Badr, Rasul saw mengunjungi mayat mayat orang kafir, lalu
Rasulullah saw berkata : wahai Abu Jahal bin Hisyam, wahai
Umayyah bin Khalf, wahai Utbah bin Rabi , wahai syaibah bin rabi
ah, bukankah kalian telah dapatkan apa yang dijanjikan Allah pada
kalian ?!, sungguh aku telah menemukan janji tuhanku benar..! ,
maka berkatalah Umar bin Khattab ra : wahai rasulullah.., kau
berbicara pada bangkai, dan bagaimana mereka mendengar ucapanmu? ,
Rasul saw menjawab : Demi (Allah) Yang diriku dalam genggamannya,
engkau tak lebih mendengar dari mereka (engkau dan mereka sama
sama mendengarku), akan tetapi mereka tak mampu menjawab (Shahih
Muslim hadits No.6498).
Makna ayat : Sungguh Engkau tak akan didengar oleh yg telah mati
.
Berkata Imam Qurtubi dalam tafsirnya makna ayat ini bahwa yang
dimaksud orang yang telah mati adalah orang kafir yang telah mati
hatinya dengan kekufuran, dan Imam Qurtubi menukil hadits riwayat
Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasul saw berbicara dengan
orang mati dari kafir Quraisy yang terbunuh di perang Badr.
(Tafsir Qurtubi Juz 13 hal 232).
Berkata Imam Attabari rahimahullah dalam tafsirnya bahwa makna
ayat itu : bahwa engkaua wahai Muhammad tak akan bisa memberikan
kefahaman kepada orang yang telah dikunci Allah untuk tak memahami
(Tafsir Imam Attabari Juz 20 hal 12, Juz 21 hal 55, )
Berkata Imam Ibn katsir rahimahullah dalam tafsirnya : walaupun
ada perbedaan pendapat tentang makna ucapan Rasul saw pada mayat
mayat orang kafir pada peristiwa Badr, namun yang paling shahih
diantara pendapat para ulama adalah riwayat Abdullah bin Umar ra
dari riwayat riwayat shahih yang masyhur dengan berbagai riwayat,
diantaranya riwayat yang paling masyhur adalah riwayat Ibn
Abdilbarr yang menshahihkan riwayat ini dari Ibn Abbas ra dengan
riwayat Marfu bahwa : tiadalah seseorang berziarah ke makam
saudara uslimnya didunia, terkecuali Allah datangkan ruhnya hingga
menjawab salamnya , dan hal ini dikuatkan dengan dalil shahih
(riwayat shahihain) bahwa Rasul saw memerintahkan mengucapkan
salam pada ahlilkubur, dan salam hanyalaha diucapkan pada yg
hidup, dan salam hanya diucapkan pada yg hidup dan berakal dan
mendengar, maka kalau bukan karena riwayat ini maka mereka (ahlil
kubur) adalah sama dengan batu dan benda mati lainnya. Dan para
salaf bersatu dalam satu pendapat tanpa ikhtilaf akan hal ini, dan
telah muncul riwayat yang mutawatir (riwayat yg sangat banyak)
dari mereka, bahwa Mayyit bergembira dengan kedatangan orang yang
hidup ke kuburnya . Selesai ucapan Imam Ibn Katsir (Tafsir Imam
Ibn Katsir Juz 3 hal 439).
Riwayat lainnya Rasul saw bertanya tanya tentang seorang wanita
yang biasa berkhidmat di masjid, berkata para sahabat bahwa ia
telah wafat, maka Rasul saw bertanya : mengapa kalian tak
mengabarkan padaku?, tunjukkan padaku kuburnya seraya datang ke
kuburnya dan menyolatkannya, lalu beliau saw bersabda : Pemakaman
ini penuh dengan kegelapan (siksaan), lalu Allah menerangi
pekuburan ini dengan shalatku pada mereka (Shahih Muslim hadits
No.956)
Abdullah bin Umar ra bila datang dari perjalanan dan tiba di
Madinah maka ia segera masuk masjid dan mendatangi Kubur Nabi saw
seraya berucap : Assalamualaika Yaa Rasulallah, Assalamualaika Yaa
Ababakar, Assalamualaika Ya Abataah (wahai ayahku) . (Sunan Imam
Baihaqi Alkubra hadits no.10051)
Berkata Abdullah bin Dinar ra : Kulihat Abdullah bin Umar ra
berdiri di kubur Nabi saw dan bersalam pada Nabi saw lalu berdoa,
lalu bersalam pada Abubakar dan Umar ra (Sunan Imam Baihaqiy
ALkubra hadits no.10052)
Sabda Rasulullah saw : Barangsiapa yang pergi haji, lalu
menziarahi kuburku setelah aku wafat, maka sama saja dengan
mengunjungiku saat aku hidup (Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits
no.10054).

Dan masih banyak lagi kejelasan, dan memang tak pernah ada yang
mengingkari ziarah kubur sejak Zaman Rasul saw hingga kini selama
14 abad (seribu empat ratus tahun lebih semua muslimin berziarah
kubur, berdoa, bertawassul, bersalam dll tanpa ada yang
mengharamkannya apalagi mengatakan musyrik kepada yang berziarah,
hanya kini saja muncul dari kejahilan dan kerendahan pemahaman
atas syariah, munculnya pengingkaran atas hal hal mulia ini yang
hanya akan menipu orang awam, karena hujjah hujjah mereka Batil
dan lemah

Dan mengenai berdoa dikuburan sungguh hal ini adalah perbuatan
sahabat radhiyallahu anhu sebagaimana riwayat diatas bahwa Ibn
Umar ra berdoa dimakam Rasul saw, dan memang seluruh permukaan
Bumi adalah milik Allah swt, boleh berdoa kepada Allah dimanapun,
bahkan di toilet sekalipun boleh berdoa, lalu dimanakah dalilnya
yang mengharamkan doa di kuburan?, sungguh yang mengharamkan doa
dikuburan adalah orang yang dangkal pemahamannya, karena doa boleh
saja diseluruh muka bumi ini tanpa kecuali.

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar :
Bahwa para syuhada hidup sebagaimana Nash Alqur^an, dan para Nabi
lebih afdhal dari para Syuhada, sebagaimana buktinya adalah hadits
yg dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah ra : “Dan
bershalawatlah kalian kepadaku, sungguh shalawat kalian
disampaikan padaku dimanapun kalian berada”, dan sanadnya shahih,
dan berkata Abu Syeikh dalam kitab Attsawab dengan sanad Jayyid
dengan lafadh : “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku dikuburku,
aku mendengarnya, dan barangsiapa yang bershalawat padaku
dimanapun, maka disampaikan padaku”, dan juga riwayat Abu Dawud
dan Nasa^i yang dishahihkan oleh Ibn Khuzaimah dari Aus bin Aus
dalam keutamaan hari Jumat : “Maka perbanyaklah shalawat padaku
dihari itu karena shalawat kalian ditunjukkan padaku, mereka
berkata : Wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan shalawat
padamu jika engkau telah musnah?, maka Rasul saw bersabda : “Allah
mengharamkan permukaan Bumi untuk memakan Jasad para Nabi”.
selesai ucapan Imam Ibn Hajar
(Fathul Baari bi Syarah Shahihul Bukhari hadits no.3185 Bab
Ahaditsul Anbiya).

Dijelaskan oleh Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya : Dan friman Nya
swt

وقوله: { وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ
الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } يرشد تعالى العصاة والمذنبين إذا
وقع منهم الخطأ والعصيان أن يأتوا إلى الرسول صلى الله عليه وسلم
فيستغفروا الله عنده، ويسألوه أن يستغفر لهم، فإنهم إذا فعلوا ذلك
تاب الله عليهم ورحمهم وغفر لهم، ولهذا قال: { لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا
رَحِيمًا }وقد ذكر جماعة منهم: الشيخ أبو نصر بن الصباغ في كتابه
“الشامل” الحكاية المشهورة عن العُتْبي، قال: كنت جالسا عند قبر النبي
صلى الله عليه وسلم، فجاء أعرابي فقال: السلام عليك يا رسول الله،
سمعت الله يقول: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ
وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وقد جئتك مستغفرا
لذنبي مستشفعا بك إلى ربي ثم أنشأ يقول: يا خيرَ من دُفنَت بالقاع (1)
أعظُمُه … فطاب منْ طيبهنّ القاعُ والأكَمُ نَفْسي الفداءُ لقبرٍ أنت ساكنُه
… فيه العفافُ وفيه الجودُ والكرمُ … ثم انصرف الأعرابي فغلبتني
عيني، فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال: يا عُتْبى، الحقْ
الأعرابيّ فبشره أن الله قد غفر له

dan firman Nya swt : Dan Sunguh ketika mereka telah mendholimi
diri mereka sendiri (berbuat dosa) lalu mereka berdatangan padamu
(wahai Muhammad saw), lalu mereka beristighfar pada Allah swt,
lalu Rasul saw beristighfar untuk mereka, maka mereka akan
dapatkan Allah swt menerima tobat mereka dan Maha Berkasih Sayang
(QS Annisa 64), bahwa Allah swt mengajarkan para pendosa dan yg
berbuat maksiat jika terjadi dosa dan kesalahan pada mereka, agar
mengunjungi Rasul saw, dan beristighfar pada Allah swt dihadapan
Rasul saw, dan meminta pada Rasul saw agar memohonkan pengampunan
bagi mereka, dan sungguh jika mereka berbuat itu maka Allah swt
memberikan Taubat pada mereka dan menyayangi mereka, dan
mengampuni mereka, untuk hal inilah firman Nya : maka mereka akan
dapatkan Allah swt menerima tobat mereka dan Maha Berkasih Sayang
.
Dan telah teriwayatkan jamaah diantara mereka Syeikh Abu Nashr bin
Asshibagh pada kitabnya Assyaamil, mengenai riwayat yg masyhur
dari Imam Al Utby, maka ia berkata : suatu waktu aku sedang duduk
dihadapan Kubur Nabi saw, maka datanglah seorang Dusun dan berkata
: Assalamualaika Yaa Rasulullah, aku menegtahui firman Allah swt :
..(seraya membaca ayat diatas).., maka kini aku datang padamu,
memohon pengampunan dosa, dan memohon bantuan syafaatmu kepada
Tuhanku . Lalu ia berpantun : Wahai Yang sebaik baik dimakamkan
pada belahan bumi mulia, maka termuliakanlkah sebab kemuliaannya
wilayah sekitar, Diriku adalah penjamin keselamatan Kubur yg
engkau menempatinya, karena terpendam padanya Maaf Allah swt dan
kedermawanan dan Keluhuran .
Lalu orang dusun itu keluar, maka aku (Imam Al Utby) mengantuk,
lalu aku bermimpi Rasul saw dalam tidurku dan berkata : Wahai
Utbiy, kejar orang dusun itu, katakan kabar gembira untuknya bahwa
ia telah diampuni Allah swt. Selesai ucapan imam Ibn Katsir.
(Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 2 hal 347/348, Annisa 64).
Demikian pula hikayat ini diriwayatkan oleh Hujjatul Islam Al Imam
Nawawi pada kitabnya Al Majmuk juz 8 hal 217, dan pada kitab Al
Iidhah hal 498.

Bacaan yang dianjurkan saat berziarah ke makam beliau saw tentunya
memperbanyak doa, sebagaimana para sahabatpun demikian, dan
tentunya bersalam kepada Rasul saw, Khalifah Abubakar Asshiddiq ra
dan Khalifah Umar bin Khattab ra yang sama sama dimakamkan di
tempat tersebut secara berdekatan. Wallahu a^lam

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=25356© https://carauntuk.com/ziarah-kubur-20100514

- Advertisement -
cu.adminhttp://carauntuk.com
Nama: Arie Ibrahim | Lahir : 16 january 1987 | Lulus : SMA 28 Oktober 1928 jakarta Selatan Tahun 2005 | Keahlian : dibidang komputer. | Ketertarikan: ilmu komputer, ilmu Quran, dan Ilmu Fisika. | Kontak : arie@carauntuk.com adpit31@gmail.com | Pesan : semoga artikel diatas bermanfaat bagi saya pribadi dan yang membutuhkannya, Terimakasih
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

makam cikini – 2010/10/01

BudhiSuci makam cikini - 2010/10/01 13:23 assalamualaikum wr wb hbbna, langsung aja berhubung quota tinggal 1.bagaimana hukum memindahkan...
- Advertisement -

bagaimanakah cara mengatasi putus

elanam bagaimanakah cara mengatasi putus cinta - 2010/10/01 11:40 asalamualaikum ya habiballah bagaimana cara mengatasi ptus cinta atau...

doa untuk habib munzir

ajasjibril doa untuk habib munzir al musawa - 2010/09/20 21:50 assalamualaikum wr wb.. minal aidzin wal fa idzin, mohon maaf...

Salam Sejahtera – 2010/09/20

DjPrasetiyo Salam Sejahtera - 2010/09/20 21:46 Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh Habib... Segala Puja dan Puji hanya untuk Allah SWT, Sholawat dan salam ...

Related News

makam cikini – 2010/10/01

BudhiSuci makam cikini - 2010/10/01 13:23 assalamualaikum wr wb hbbna, langsung aja berhubung quota tinggal 1.bagaimana hukum memindahkan...

bagaimanakah cara mengatasi putus

elanam bagaimanakah cara mengatasi putus cinta - 2010/10/01 11:40 asalamualaikum ya habiballah bagaimana cara mengatasi ptus cinta atau...

doa untuk habib munzir

ajasjibril doa untuk habib munzir al musawa - 2010/09/20 21:50 assalamualaikum wr wb.. minal aidzin wal fa idzin, mohon maaf...

Salam Sejahtera – 2010/09/20

DjPrasetiyo Salam Sejahtera - 2010/09/20 21:46 Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh Habib... Segala Puja dan Puji hanya untuk Allah SWT, Sholawat dan salam ...

mimpi indah – 2010/09/20

ajasjibril mimpi indah - 2010/09/20 21:34 assalamualaikum wrwb.. bib saya ingn bertany msalah sholat..., 1. bib yng sya tau masalh sholat...
- Advertisement -