atthoyar KEAJAIBAN AL QUR^AN – 2008/08/10 10:42 Abdurrazaq Nawfal, dalam
Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Qur^an Al-Karim yang terdiri dari tiga
jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan
dalam Al quran, yang dapat kita simpulkan secara sangat singkat
sebagai berikut.

A. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya.
Beberapa contoh, di antaranya:

*

Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145
kali;
*

Al-naf^ (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing
sebanyak 50 kali;
*

Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing 4 kali;
*

Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi^at (keburukan), masing-masing
167 kali;
*

Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/
kekesalan), masing-masing 13 kali;
*

Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin),
masing-masing 8 kali;
*

Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite,
masing-masing 17 kali;
*

Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite,
masing-masing 8 kali;
*

Al-shayf (musim panas) dan al-syita^ (musim dingin), masing-masing
1 kali.

B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang
dikandungnya.

*

Al-harts dan al-zira^ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
*

Al-^ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing
27 kali;
*

Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]),
masing-masing 17 kali;
*

Al-Qur^an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan Islam),
masing-masing 70 kali;
*

Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali;
*

Al-jahr dan al-^alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali.

C. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata
yang menunjuk kepada akibatnya.

*

Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73
kali;
*

Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing
12 kali;
*

Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/
pembakaran), masing-masing 154 kali;
*

Al-zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang
banyak), masing-masing 32 kali;
*

Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26
kali.

D. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata
penyebabnya.

*

Al-israf (pemborosan) dengan al-sur^ah (ketergesa-gesaan),
masing-masing 23 kali;
*

Al-maw^izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah),
masing-masing 25 kali;
*

Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing 6 kali;
*

Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan),
masing-masing 60 kali.

E. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga
keseimbangan khusus.

(1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali,
sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang
menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah
keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam
sebulan. Disisi lain, kata yang berarti “bulan” (syahr) hanya
terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

(2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada “tujuh.” Penjelasan ini
diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat
Al-Baqarah 29, Al-Isra^ 44, Al-Mu^minun 86, Fushshilat 12,
Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya
tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan
pula dalam tujuh ayat.

(3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul
(rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira),
atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518
kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi,
rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

(4) Kata lautan (al bahar) disebutkan 32 kali sedangkan kata
daratan (al bar) disebutkan 13 kali. Jika di jumlahkan perkataan
yang berkaitan tentang “lautan” dan “daratan” adalah 45 perkataan.
Seperti pengiraan berikut :

Lautan : 32/45 X 100% = 71.11111111%
Daratan : 13/45 X 100% = 28.88888888%

Kini telah kita ketahui peratusan bagi “Lautan” dan “Daratan” di
dalam dunia ini sebagaimana yang di sebutkan di dalam kitab sici
Al Quran.

(5) [Quran 3:59]
Sesungguhnya persamaan “Isa” di sisi Allah seperti persamaan
“Adam”.
Kata “Isa” dan “Adam” sama-sama muncul 25 kali.

(6) [Quran 7:176]
“anjing” dengan “kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” Maka
persamaannya ialah :
bahwa “kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” (al-qawmul-ladzi_na
kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) dipersamakan/ diibaratkan kelakuannya
seperti seekor
“anjing” (kalb). jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya,
atau jika kamu membiarkannya, ia menjulurkan lidahnya
juga.”Anjing” (kalb) tertulis 5 kali sebagaimana kata “Kaum yang
mendustakan ayat-ayat Kami” (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi
a_ya_tina_) tertulis 5 kali juga

(7) [Quran 29:41]
Persamaan “orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali
selain daripada Allah” (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi),
ialah seperti persamaan “laba-laba” (al-^ankabu_t). Laba-laba
(al-^ankabu_t) tertulis 2 kali, “Orang-orang yang mengambil untuk
mereka wali-wali selain daripada Allah” (alladzi_nat-takhadzu_
mindu_nil-laahi) tertulis 2 kali juga.

(8) [Quran 62:5]
Persamaan “orang-orang yang dibebankan dengan Taurat”,kemudian
mereka tidak memikulnya adalah seperti persamaan “seekor keledai”
yang memikul buku-buku yang tebal. “Keledai” (al-hima_r) dan
“orang-orang yang dibebankan
dg taurat” (al-ladzi_na humilut-tawra_t) sama-sama muncul di ayat
ini, yaitu hitungannya sama-sama satu kali muncul.

— Berkaitan dengan pertidaksamaan matematik —

Dalam Quran, dijumpai hint tentang pertidaksamaan ketika ada ayat
yang menyatakan “Adakah sama antara A dan B (hal yastawi_ A wa
B?), sebagaimana ditemukan dalam beberapa ayat. Tentunya, kita
akan berfikiran
bahwa tentu saja kemungkinan (probabilitas) ketidaksamaan jumlah
antara A dan B adalah sangat besar, akan tetapi anehnya, jika kita
temukan ayat yang menyatakan ketidaksamaan antara A dan B,
diketahui bahwa perbedaan jumlah antara A dan B adalah TEPAT SATU.

Contoh:

[Quran 4:95]
Tidaklah sama antara “mu^min yang duduk [yang tidak ikut
berperang] yang tidak mempunyai “uzur”” (al-qa_idu_n) dengan
“orang-orang yang berjihad di
jalan Allah” (al-muja_hidu_n) …
Jumlah kemunculan (al-qa_idu_n) / (al-qa_idi_n) = 4
Jumlah kemunculan (al-muja_hidu_n) / (al-muja_hidi_n) = 3

[Quran 6:50]
.. Apakah sama “orang yang buta” (al-a^ma_) dengan “orang yang
melihat” (al-bashi_r)? Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?

Jumlah kemunculan (al-a^ma_) = 8
Jumlah kemunculan (al-bashi_r) = 9

[Quran 13:16]
.. Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah
“gelap gulita” (adz-dzuluma_t) dan “terang benderang” (an-nu_r)

Jumlah kemunculan (adz-dzuluma_t) = 14
Jumlah kemunculan (an-nu_r) = 13

Ada sedikit kejanggalan terhadap fenomena ini di Quran 5:100, yang
dijelaskan sebagai berikut:

[Quran 5:100]
.. :Tidak sama “yang buruk” (al-khabi_ts) dengan”yang baik”
(at-thayyib), meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu,

Catat akhir ayat di atas, bahwa:
“banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, … ”

Ternyata, jumlah kata (al-khabi_ts) dengan (at-thayyib” adalah
SAMA, yaitu 7 kali kemunculan. Penjelasan dari kejanggalan ayat
ini ditemukan di Quran 8:37 yang menyatakan:

[Quran 8:37]
Supaya Allah memisahkan yang buruk daripada yang baik, dan “supaya
Dia meletakkan yang buruk, sebahagiannya di atas sebahagian yang
lain”, …
Di ayat ini, dikatakan bahwa Dia meletakkan “yang buruk”
(al-khabi_ts) sebahagian di atas sebahagian yang lainnya, sehingga
jumlahnya seakan-akan bertambah (seakan-akan sama, yakni sama-sama
muncul 7 kali).

Demikianlah sebagian dari hasil penelitian yang kita rangkum dan
kelompokkan ke dalam bentuk seperti terlihat di atas.

Kedua adalah pemberitaan-pemberitaan gaibnya. Fir^aun, yang
mengejar-ngejar Nabi Musa., diceritakan dalam surah Yunus. Pada
ayat 92 surah itu, ditegaskan bahwa “Badan Fir^aun tersebut akan
diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran generasi berikut.”
Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena hal itu telah
terjadi sekitar 1200 tahun S.M. Nanti, pada awal abad ke-19,
tepatnya pada tahun 1896, ahli purbakala Loret menemukan di Lembah
Raja-raja Luxor Mesir, satu mumi, yang dari data-data sejarah
terbukti bahwa ia adalah Fir^aun yang bernama Maniptah dan yang
pernah mengejar Nabi Musa a.s. Selain itu, pada tanggal 8 Juli
1908, Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk
membuka pembalut-pembalut Fir^aun tersebut. Apa yang ditemukannya
adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran
melalui Nabi yang ummiy (tak pandai membaca dan menulis itu).
Mungkinkah ini?

Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat
melihat Fir^aun tersebut. Terlalu banyak ragam serta peristiwa
gaib yang telah diungkapkan Al-Quran dan yang tidak mungkin
dikemukakan dalam kesempatan yang terbatas ini.

Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya. Banyak sekah isyarat ilmiah
yang ditemukan dalam Al-Quran. Misalnya diisyaratkannya bahwa
“Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahaya
bulan adalah pantulan (dari cahaya matahari)” (perhatikan QS
10:5); atau bahwa jenis kelamin anak adalah hasil sperma pria,
sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanya bagaikan
“ladang” (QS 2:223); dan masih banyak lagi lainnya yang kesemuanya
belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun
terakhir ini. Dari manakah Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari
Dia, Allah Yang Maha Mengetahui!

Kesemua aspek tersebut tidak dimaksudkan kecuali menjadi bukti
bahwa petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh Al-Quran adalah
benar, sehingga dengan demikian manusia yakin serta secara tulus
mengamalkan petunjuk-petunjuknya

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=17246

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here