Home forum.majelisrasulullah.org Ucapan ibnu masud -

Ucapan ibnu masud –

- Advertisement -

Forum Majelis Rasulullah

aditya Ucapan ibnu masud – 2008/12/18 09:28 Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh

Semoga Allah selalu melindungai kita semua, sholawat serta salam
semoga tetap tercurah kepada penghuli kita Nabi Muhammad SAW,
beserta anak , cucu, sahabat sampai kiamat.

pertama tama saya mohon maaf bib, karena baru ada kesempatan untuk
bertanya seringnya quota habis, atau connec internet ngadat di
kantor. sebenarnya saya ada kiriman emile dari seseorang tentang
berbagai macam sanggahan terutama tentang maulid, sudah saya
berusaha sanggah dengan mengutip, atau copy paste tulisan habib,
tapi nyatanya sulit untuk membendung kebencifan mereka dengan
maulid. apa cara penyampaian saya yang kruang greget atau dalil
yang saya pakai ( hampir kesemuanya saya dapat di lind ini, MR )
yang kurang mengena atau memang tabiat mereka yang salah , saya
kurang faham bib. saya terus terang malu untuk menyampaikan kepada
forum, jikalau berkenan habib memeriksa sanggahan tersebutsaya
minta ijin untuk mengirim fia e-mile kepada habib. tapi jikalau
waktu dan kesibukan habib tidak memungkinkan maka saya tidak akan
mengirimkan sanggahan tersebut. mohon tanggapan dari habib, terus
terang hati saya miris karena sudah membawa bawa nama habib (
padahal saya tidak pernah menyebut, dari mana saya mendapat
tulisan saya itu ) tapi barangkali karena MR sudah menyebar di
kalangan netter maka dia bisa tahu kalau saya copy paste dari MR.
sekali lagi jikalau habib berkenan maka akan saya kirim, tapi
jikalau habib kurang berkenan maka saya tidak akan kirimkan.

kedua saya ingin bertanya secara maratoh kepada habib ( juga ada
hubungan dengan tulisan penentang maulid tersebut )
berikut sepenggal tulisan itu bib

Perhatikan atsar Sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud
radhiallahu anhu ulama besar dari kalangan Sahabat Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam dibawah ini semoga anda dapat memetik
pelajaran;

Al-Hakam bin Mubarak berkata: “Kami duduk di samping pintu
Abdullah bin Mas’ud sebelum shalat subuh. Jika dia keluar kita
pergi bersamanya. Lalu datang kepada kami Abu Musa al-Asya’ari
radhiallahu anhu dan bertanya: “Apakah Abu Abdirrahman (Ibnu
Mas’ud) sudah keluar menemui kalian?” Kami menjawab: “Belum”. Lalu
dia (Abu Musa) duduk bersama kami sampai dia (Ibnu Mas’ud) keluar.
Tatkala dia (Ibnu Mas’ud) keluar, maka kami menghadap kepadanya.
Abu Musa berkata: “Wahai Abu Abdirrahman! Tadi saya melihat di
masjid ada acara yang aku tidak menyenanginya tapi aku mengira
mereka itu baik.” Lalu dia (Ibnu Mas’ud) bertanya: “Apa itu?”.
Jawab (Abu Musa): “Jika kamu masih hidup kamu akan melihatnya,
saya melihat di masjid ada halaqah dalam rangka menanti shalat,
setiap halaqah di pimpin oleh satu orang dengan menggenggam batu
kerikil, lalu dia (komandannya) berkata: ‘Bertakbirlah seratus
kali,’ Lalu mereka bertakbir. Yang lain berkata: ‘Bacalah tahlil
seratus kali,’ Lalu mereka membaca tahlil. Yang lain berkata:
‘Bacalah tasbih seratus kali,’ Lalu mereka membaca tasbih seratus
kali’. Lalu Abu Abdirrahman (Ibnu Mas’ud) bertanya: “Kamu bicara
apa pada mereka?” Abu Musa berkata: “Aku tidak berkata apa-apa
karena aku menanti perkataanmu dan menanti keputusanmu”. Abu
Abdirrahman berkata: “Mengapa kamu tidak memerintahkan mereka agar
menghitung dosanya dan kamu jamin mereka tidak akan sia-sia amal
baiknya.” Lalu dia (Ibnu Mas’ud) pergi, kami pun pergi bersamanya,
sampailah Ibnu Mas’ud datang di majelis halaqah mereka, lalu dia
(Ibnu Mas’ud) berhenti mengahadap kepada mereka, dan bertanya:
“Apa yang kalian sedang kerjakan!!!???” Mereka menjawab: “Wahai
Abu Abdurrahman, ini batu kerikil untuk menghitung kalimat takbir,
tahlil dah tasbih.” Lalu Ibnu Mas’ud berkata: “Hitunglah dosamu,
aku jamin kalian tidak akan sia-sia amal baikmu sedikitpun. Celaka
kamu wahai umat Muhammad!! Alangkah cepatnya kamu dirusak dengan
amalanmu ini! Itu Sahabat Nabi kalian masih banyak, ini pakaian
beliau belum rusak, bejananya masih utuh. Demi Dzat yang diriku
berada ditangan-Nya, engkau merasa agamamu lebih tinggi dari pada
agama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam atau kalian
pembuka pintu kesesatan”. Mereka berkata: “Demi Allah wahai Abu
Abdirrahaman, tidaklah kami bermaksud melainkan untuk kebaikan”.
Beliau (Ibnu Mas’ud) menjawab: “Berapa banyak manusia bermaksud
baik akan tetapi tidak baik, sesungguhnya Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda kepada kami: “Sesungguhnya ada kaum
membaca al-Qur’an tetapi tidak sampai di tenggorokan mereka. Demi
Allah, saya tidak tahu, barangkali kebanyakan mereka itu kalian.”
(Riwayat Imam ad-Darimi no. 206).

Perhatikan dengan hati yang terbuka, Alangkah tegasnya sahabat
besar Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud didalam mengingkari
kebid’ahan yang dilakukan oleh orang-orang dimasjid tersebut.
Padahal kita mengetahui bahwa mereka berdzikir dengan lafadz yang
benar dan niat yang baik, tetapi mengapa Abdullah bin Mas’ud
justru mendebat mereka dan mengingkari perbuatan kaum tersebut???
Apakah Abdullah bin Mas’ud melarang seseorang untuk
berdzikir?????? Demi Allah tidak. Tetapi yang di ingkari adalah
cara aneh yang dilakukan oleh kaum tersebut yang tidak pernah di
syari’atkan oleh Rasulullah shallallahu alahi wasallam.
Lalu bagaimana jika Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu
hidup pada zaman sekarang ini dan melihat banyaknya kebid’ahan
diantaranya bid’ah zikir secara berjama’ah dengan aneka ragam
lafadz dan cara yang dibuat-buat dan yang aneh-aneh dan bid’ah
maulidan??? Tentunya kaum sufiyun quburiyun tersebut akan
berhadapan langsung dengan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu
dan insya Allah beliau radhiallahu anhu dan para Sahabat akan
berlepas diri dari bid’ah kaum sufi tersebut.

Hujjah anda yang sangat batil lemah bahkan lebih lemah dari sarang
laba-laba sekalipun sudah saya patahkan diatas, tapi kalau memang
keluasan ilmu anda yang suka mentolol-tololkan merasa hujjah saya
adalah bualan tunjukkan bualan itu secara ilmiah bukan akal-akalan
dan mengada-ngada, jangan hanya menebar fitnah saja wahai
saudaraku. Bertaubatlah ya akhi sebelum ajal menjemput.

mohon koreksi manusia dholim ini bib, doakan saya, dan keluarga
saya bib agar selalu mendapat lindungan seta petunjukNYA dan
selalu satu shaf di dalam bendera Sayidina Muhammad

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Ucapan ibnu masud – 2008/12/18 11:44 Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,

Anugerah dan Cahaya Rahmat Nya semoga selalu menerangi hari hari
anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
pertanyaan ini sudah dijawab oleh saudara kita, dan ia adalah
bukan hadits, ia adalah ucapan sahabat, riwayatnya dhoif pula, ia
akan dipakai membentur puluhan hadits shahih yg memperbolehkan
dzikir berjamaah.

berikut penjelasannya :
Hujjah yang dikemukakan ini, adalah atsar ^Abdullah bin Mas`ud
r.a.. Atsar ini diriwayatkan oleh Imam ad-Daarimi dalam sunannya,
jilid 1 halaman 68, dengan sanad dari al-Hakam bin al-Mubarak dari
^Amr bin Yahya dari ayahnya dari datuknya (Amr bin Salamah).
Menurut sebagian muhadditsin, kecacatan atsar ini adalah pada
rawinya yang bernama ^Amr bin Yahya (yakni cucu Amr bin Salamah).
Imam Yahya bin Ma`in memandang “riwayat daripadanya tidak
mempunyai nilai”.

Imam adz-Dzahabi menerangkannya dalam kalangan rawi yang lemah dan
tidak diterima riwayatnya, dan Imam al-Haithami menyatakan bahwa
dia adalah rawi yang dhoif.

Jadi sanad atsar ini mempunyai pertentangan di kalangan
muhadditsin, sekalipun dinyatakan shohih oleh al-Albani, padahal
ALbani bukan muhaddits, bukan pula AL hujjah, bukan pula ALhafidh,
yg bisa dipegang fatwa haditsnya.

Dalam Atsar tersebut dapat dipahami bahwa yang ditegur oleh
Sayyidina Ibnu Mas`ud adalah golongan KHAWARIJ. Maka atsar
Sayyidina Ibnu Mas`ud lebih kepada kritikan beliau kepada para
pelaku yang tergolong dalam firqah Khawarij. Di mana golongan
Khawarij memang terkenal dengan kuat beribadah, kuat sholat, kuat
berpuasa, kuat membaca al-Quran, banyak berzikir sehingga mereka
merasakan diri mereka lebih baik daripada para sahabat
radhiyallahu ^anhum.

Maka kritikan Sayyidina Ibnu Mas`ud ra ini ditujukan kepada
kelompok Khawarij yang mereka itu mengabaikan bahkan mengkafirkan
para sahabat

Sehingga janganlah digunakan atsar yang ditujukan kepada kaum
Khawarij ini digunakan terhadap saudara muslim lain yang sangat
memuliakan para sahabat Junjungan Nabi s.a.w.
Jangan dikira para ulama Aswaja tidak tahu mengenai atsar
Sayyidina Ibnu Mas`ud ini.

Imam AL Hafidh Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy pada “Natiijatul
Fikri fil Jahri fidz Dzikri” dalam “al-Hawi lil Fatawi” juz 1,
beliau menguraikan 25 hadits dan atsar yang diriwayatkan dalam
shahih Bukhari dan Shahih Muslim hingga yang diriwayatkan oleh
al-Mirwazi berkaitan dengan zikir secara jahar dan majlis zikir
berjamaah.

Sedangkan terhadap atsar Ibnu Mas`ud tersebut, Imam asy-Sayuthi
pada halaman 394 menyatakan, antara lain:
Jika dikatakan ianya memang tsabit, maka atsar ini bertentangan
dengan hadits-hadits yang banyak lagi tsabit yang telah
dikemukakan yang semestinya didahulukan (sebagai pegangan)
dibanding atsar Ibnu Mas`ud apabila terjadi pertentangan.

Kemudian, aku lihat apa yang dianggap sebagai keingkaran Sayyidina
Ibnu Mas`ud itu (yakni keingkarannya terhadap majlis-majlis zikir
bersama-sama tadi) yakni penjelasan Imam Ahmad bin Hanbal dalam
kitab “az-Zuhd” yang menyatakan:- Telah memberitahu kami Husain
bin Muhammad daripada al-Mas`udi daripada ^Aamir bin Syaqiiq
daripada Abu Waail berkata:- “Mereka-mereka mendakwa ^Abdullah
(yakni Ibnu Mas`ud) mencegah daripada berzikir (dalam
majlis-majlis zikir), padahal ^Abdullah tidak duduk dalam sesuatu
majlis melainkan dia berzikirUllah dalam majlis tersebut.”

Dalam kitab yang sama, Imam Ahmad juga meriwayatkan bahwa Tsabit
al-Bunani berkata: “Bahwasanya ahli dzikrullah yang duduk mereka
itu dalam sesuatu majlis untuk berdzikrullah, jika ada bagi mereka
dosa-dosa semisal gunung, niscaya mereka bangkit dari (majlis)
dzikrullah tersebut dalam keadaan tidak tersisa sesuatupun dosa
tadi pada mereka”, (yakni setelah berzikir, mereka memperolehi
keampunan Allah ta`ala).

saudaraku, saya akhiri dg riwayat riwayat dibawah ini :

Allah berfirman :
“DAN SABARKAN DIRIMU UNTUK TETAP BERSAMA ORANG ORANG YG BERDZIKIR
DAN BERDOA KEPADA TUHAN MEREKA DI PAGI HARI DAN SORE SEMATA MATA
HANYA MENGINGINKAN RIDHA ALLAH, DAN JANGAN KAU PALINGKAN WAJAHMU
DARI MEREKA KARENA MENGHENDAKI KEDUNIAWIAN, DAN JANGAN TAATI ORANG
ORANG YG KAMI BUAT MEREKA LUPA DARI MENGINGAT KAMI . (QSAl
Kahfi 28)

Berkata Imam Attabari : Tenangkan dirimu wahai Muhammad bersama
sahabat sahabatmu yg duduk berdzikir dan berdoa kepada Allah di
pagi hari dan sore hari, mereka dengan bertasbih, tahmid, tahlil,
doa doa dan amal amal shalih dengan shalat wajib dan lainnya, yg
mereka itu hanya menginginkan ridho Allah swt bukan menginginkan
keduniawian (Tafsir Imam Attabari Juz 15 hal 234)

Dari Abdurrahman bin sahl ra, bahwa ayat ini turun sedang Nabi saw
sedang di salah satu rumahnya, maka beliau saw keluar dan
menemukan sebuah kelompok yg sedang berdzikir kepada Allah swt
dari kaum dhuafa, maka beliau saw duduk bersama berkata seraya
berkata : Alhamdulillah yg telah menjadikan pada ummatku yg aku
diperintahkan untuk bersabar dan duduk bersama mereka riwayat
Imam Tabrani dan periwayatnya shahih (Majmu zawaid Juz 7 hal 21)

Sabda Rasulullah saw : akan tahu nanti dihari kiamat siapakah
ahlulkaram (orang orang mulia) , maka para sahabat bertanya :
siapakah mereka wahai rasulullah?, Rasul saw menjawab : : majelis
majelis dzikir di masjid masjid (Shahih Ibn Hibban hadits no.816)

Sabda Rasulullah saw : sungguh Allah memiliki malaikat yg beredar
dimuka bumi mengikuti dan menghadiri majelis majelis dzikir, bila
mereka menemukannya maka mereka berkumpul dan berdesakan hingga
memenuhi antara hadirin hingga langit dunia, bila majelis selesai
maka para malaikat itu berpencar dan kembali ke langit, dan Allah
bertanya pada mereka dan Allah Maha Tahu : darimana kalian?
mereka menjawab : kami datang dari hamba hamba Mu, mereka berdoa
padamu, bertasbih padaMu, bertahlil padaMu, bertahmid pada Mu,
bertakbir pada Mu, dan meminta kepada Mu.
Maka Allah bertanya : Apa yg mereka minta? , Malaikat berkata :
mereka meminta sorga, Allah berkata : apakah mereka telah melihat
sorgaku?, Malaikat menjawab : tidak, Allah berkata : Bagaimana
bila mereka melihatnya . Malaikat berkata : mereka meminta
perlindungan Mu, Allah berkata : mereka meminta perlindungan dari
apa? , Malaikat berkata : dari Api neraka , Allah berkata :
apakah mereka telah melihat nerakaku? , Malaikat menjawab tidak,
Allah berkata : Bagaimana kalau mereka melihat nerakaku. Malaikat
berkata : mereka beristighfar pada Mu, Allah berkata : sudah
kuampuni mereka, sudah kuberi permintaan mereka, dan sudah
kulindungi mereka dari apa apa yg mereka minta perlindungan
darinya, malaikat berkata : wahai Allah, diantara mereka ada si
fulan hamba pendosa, ia hanya lewat lalu ikut duduk bersama
mereka, Allah berkata : baginya pengampunanku, dan mereka (ahlu
dzikir) adalah kaum yg tidak ada yg dihinakan siapa siapa yg duduk
bersama mereka (shahih Muslim hadits no.2689),

perhatikan ucapan Allah yg diakhir hadits qudsiy diatas : dan
mereka (ahlu dzikir) adalah kaum yg tak dihinakan siapa siapa yg
duduk bersama mereka

lalu hadits semakna pada Shahih Bukhari hadits no.6045.

dan masih banyak riwayat shahih lainnya.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a^lam

anda dapat kirimkan file file tsb ke : syukron@ymail.com

Insya Allah Ustaz Syukron akan segera menyampaikannya pada saya.

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

aditya Re:Ucapan ibnu masud – 2009/01/29 20:43 Assalamualaikum

Alahmdulillah, segala puji kepunyaan Allah, sholawat serta salam
semoga dan semoga tetap tercurah kepada jujungan kita habibuna
Muhammad , semoga habib selalu dalam keadaan yang terbaik.

Melajutkan pertanyaan saya bib
1. apa benar alamat e-mile yang habib kasih yaitu
syukron@ymail.com
2. karena saya sudah mengiri tulisan penentang mauled bib. Mohon
koreksi
3. masalah atsar ibnu masud, ada yang menyampaikan seperti di
bawah ini bib

atsar ini mempunyai beberapa jalur periwayatan.

1. ad-Darimi men-shohihkan hadits dari jalur amr bin yahya bin amr
bin salamah. silakan lihat sunan ad-Darimi no.210 dan silakan
lihat juga tarikh wasith hal. 198-199 oleh Bahsyal. silakan lihat
rujukannya dalam Bahsyal dalam Silsilah Ahadits Ash-Shahihah 5/
11-13/no. 2003
oleh al-Albani.

lalu mengenai Syaikh al-Albani, anda mengatakan bahwa beliau bukan
ahli hadits. apa anda punya argumen dengan tuduhan anda ini? atau
anda hanya ngikut perkataan ulama anda semacam Hasan Ali
as-Saqqof? apa yang salah dengan Syaikh al-Albani sehingga anda
katakan beliau bukan ahli hadits?

2. Hammad bin Zaid dan Mujalid bin said dan Amr bin Salamah
DHAIF. Dikeluarkan At-Thabrani dalam Al-Mujamul jbir 9/136/no.
8636. Berkata Al-Haitsami dalam Majma Zawaid 1/18 1: Dalam
sanadnya terdapat Mujalid bin Said, dia dianggap tsiqah oleh
Nasai, tapi dilemahkan Bukhari, Ahmad bin Hanbal dan Yahya.

3. Sufyan bin Uyainah dari Bayan dan Qais bin Abu Hazim
SHAHIH. Dikeluarkan Abdur Razzaq dalam AlMushannaf: 5408 dan
At-Thabrani dalam Al-Mujamul Kabir: 8629. Seluruh perawinya
tsiqah. Oleh karenanya, imam al-Haitsami menshahihkan sanad ini.

4. Sufyan dan Salamah bin Kuhail dari Abu Az-Za raa, Abdullah bin
Hani.
HASAN. Dikeluarkan At-Thabrani dalam Al Mujamul Kabir: 8628 dan
Abu Nuaim dalam Al-Hilyah 4/38 1. Sanad ini hasan, seluruh
perawinya terpercaya kecuali Abu Zaraa Abdullah bin Hani, ada
sedikit pembicaraan tetapi tidak turun dan derajat hasan.

Dan masih ada jalur-jalur lainnya lagi dalam AlMujamul Kabir no.
8637-8639 oleh Imam AtThabrani

kesimpulannya, atsar dari Abdulloh bin Mas^ud itu shohih dengan
terkumpulnya banyak jalur yang men-shohihkan.

4. Masalah bid’ah

‘Abdullah bin ‘Umar cmengatakan: “Semua bid’ah itu adalah sesat
meskipun orang menganggapnya baik.” (Al-Ibanah 1/339, Al-Lalikai 1
/92)

Al-Imam Malik bin Anas t mengatakan: “Barangsiapa yang berbuat
satu kebid’ahan di dalam Islam dan dia menganggapnya baik, berarti
dia telah menuduh Rasulullah Muhammad  telah mengkhianati
risalah. Karena Allah  telah menyatakan:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan
telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian. Dan Aku ridha Islam
menjadi agama kalian.” (Al- Maidah: 3)
Maka apapun yang ketika itu (di zaman Rasulullah dan para
shahabatnya) bukanlah sebagai ajaran Islam, maka pada hari ini
juga bukan sebagai ajaran Islam.”

Al-Imam Asy-Syaukani t menyebutkan: “Sesungguhnya apabila Allah
menyatakan Dia telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mencabut ruh
Nabi-Nya , maka apakah lagi gunanya segala pemikiran atau
pendapat yang diada-adakan oleh pemiliknya sesudah Allah
menyempurnakan agama-Nya ini?! Kalau pendapat mereka itu merupakan
bagian dari agama ini menurut keyakinan mereka, itu artinya mereka
menganggap bahwa agama ini belum sempurna kecuali setelah
dilengkapi dengan pemikiran mereka. Hal ini berarti penentangan
terhadap Al Qur’an. Dan seandainya pemikiran tersebut bukan dari
agama, maka apa gunanya mereka menyibukkan diri dengan sesuatu
yang bukan dari ajaran agama (Islam)?!
(Ayat) ini adalah hujjah yang tegas dan dalil yang pasti. Tidak
mungkin mereka membantahnya sama sekali selama-lamanya. Maka
jadikanlah ayat yang mulia ini senjata pertama yang dipukulkan ke
muka ahlul bid’ah dan untuk mematahkan semua hujjah mereka.”
(Al-Qaulul Mufid hal. 38, dinukil dari Al-Luma’)

5. apa oleh oleh dari guru mulia al habib umar …………… kok tidak
ditampilkan dalam bentuk tulisan bib, saya menunggunya bib

Mohon tanggapannya bib

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Ucapan ibnu masud – 2009/02/01 17:10 Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,

Kesejukan kasih sayang Nya semoga selalu menerangi hari hari anda
dg kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
akan saya perjelas ke Ust Syukron apakah email anda sudah masuk.

mengenai atsar, sekuat kuatnya atsar, ia tak bisa dibenturkan
dengan puluhan hadits shahih dan firman Allah swt sebagaimana yg
telah saya sampaikan, maka atsar itu sudah jelas batil, mustahil
seorang sahabat semacam Ibn Mas;^ud menentang belasan hadits
shahih dan firman Allah.

coba tunjukkan firman Allah swt yg melarang dzikir berjamaah..?
coba tunjukkan hadits shahih yg melarang dzikir berjamaah..?

puluhan hadits shahih meriwayatkan pujian ALlah atas majelis
dzikir, lalu seorang albani membawakan atsar seorang sahabat untuk
menentangnya, subhanallah..

albani tidak diakui sebagai hadits, karena ia tak sampai pada
derajat Alhafidh, yaitu hafal 100 ribu hadits dg sanad dan
matannya, ia hanya menukil nukil saja, maka fatwanya batil,
ucapannya mardud, pendapatnya tertolak

kenapa?

karena bertentangan dg ALqur;an dan hadits shahih sebagaimana
teriwayatkan.

jika albani seorang pakar hadits, tunjukkan ucapan para Imam
dimasanya yg mengakui bahwa ia adala Alhafidh atau ALhujjah atau
Almusnid,

tidak ada.

tunjukkan sanad beliau kepada para muhadditsin, karena dalam ilmu
hadits tak bisa seseorang berfatwa soal hadits jika tak punya
sanad hadits, fatwa tentang hadits tak diakui jika ia tak punya
sanad.

jika ia berkata fatwa addarimiy, maka apakah ia punya sanad kepada
Imam Addarimiy?

jika ia berkata fatwa Imam Bukhari, apakah ia punya sanad kepada
Imam Bukhari?

ia tak punya sanad kepada siapapun, fatwa hadits tanpa sanad
adalah tertolak, sebagaimana dijelaskan oleh para Muhadditsin:
“Tiada fatwa ilmu tanpa sanad, dan orang yg tidak punya sanad
dalam mencari ilmu bagai pencari kayu bakar ditengah malam gelap
gulita tanpa pelita, ia tak bisa membedakan mana tali pengikat
kayu bakar mana ular hitam yg berbisa” (Tadzkiratul Huffadh dan
Siyar A^lamunnubala)

saya bingung, belasan hadits shahih dan firman Allah sdh
disampaikan, orang masih meragukannya karena hanya fatwa Al Bani
yg menukil atsar, dan pada para periwayata atsar itupun terdapat
padanya disana sini sangkalan pula, dan iapun berfatwa tanpa sanad
pula

ia hanya penukil dan tak lebih dari penukil, lalu ditipu oleh
kesempitan pemahamannya tentang hadits.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Ucapan ibnu masud – 2009/02/01 17:14 BID AH

1. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid ah hasanah selama hal
itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw
: Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka
baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak
berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat
hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang
yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya
(Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada
Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy,
Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna
Bid ah hasanah dan Bid;ah dhalalah.

Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?,
maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru
yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah
indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw
tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi
ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman,
modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya
pastilah diperlukan hal hal yg baru demi menjaga muslimin lebih
terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama
ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna
ayat : ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, hari ini
Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula
kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian ,
maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat
lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik
sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah
dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam,

bila yg dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat
itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain
turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini
bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki
orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian
turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram,
maka membuat kebiasaan baru yg baik boleh boleh saja.

namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg
bertentangan dg syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan
apa apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah
makna hadits beliau saw : Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg
berupa keburukan…dst , inilah yg disebut Bid ah Dhalalah.

Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan
berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa
kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk
memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dg hal yg ada dizaman
kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan
agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid ah dhalalah).

Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus
untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg
dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas
tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti
dengan perbuatan bid ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi in.

2. Siapakah yg pertama memulai Bid ah hasanah setelah wafatnya
Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul
yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur an dan Ahli
Alqur an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar
Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : Sungguh Umar (ra) telah
datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan
ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur an,
lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan
dan menulis Alqur an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu
hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata
padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan
kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan
dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar, dan engkau
(zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak
pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang
ikutilah dan kumpulkanlah Alqur an dan tulislah Alqur an..!
berkata Zeyd : Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan
sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu
padaku untuk mengumpulkan Alqur an, bagaimana kalian berdua
berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw?? , maka
Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga
iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju
dan kini aku sependapat dg mereka berdua dan aku mulai
mengumpulkan Alqur an . (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar
shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : sampai Allah menjernihkan
dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar , hatinya
jernih menerima hal yg baru (bid ah hasanah) yaitu mengumpulkan
Alqur an, karena sebelumnya alqur an belum dikumpulkan menjadi
satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis
di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid ah hasanah,
justru mereka berdualah yg memulainya.

Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan
(menghilangkan) Bid ah hasanah mengenai semua bid ah adalah
kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat
subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg
membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami
berkata : Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk
perpisahan , maka beri wasiatlah kami.. maka rasul saw bersabda :
Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan
taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika,
sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat
banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada
sunnahku dan sunnah khulafa urrasyidin yg mereka itu pembawa
petunjuk, gigitlah kuat kuat dg geraham kalian (suatu kiasan untuk
kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yg baru, sungguh
semua yg Bid;ah itu adalah kesesatan . (Mustadrak Alasshahihain
hadits no.329).

Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti
sunnah beliau dan sunnah khulafa urrasyidin, dan sunnah beliau saw
telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar
syariah, dan sunnah khulafa urrasyidin adalah anda lihat sendiri
bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui
bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak
dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur an, lalu pula
selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dg
persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini,
khulafa urrasyidin melakukan bid ah hasanah, Abubakar shiddiq ra
dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur an, lalu
kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya
memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : Inilah
sebaik baik Bid ah! (Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula
selesai penulisan Alqur an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra
hingga Alqur an kini dikenal dg nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin
Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.
Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah
dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa
Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula
dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn
Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits
no.873).

Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti
larangan Bid ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa
urrasyidin ini tak faham makna Bid ah?

3. Bid ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid ah hasanah inilah yg
termasuk pada golongan Bid ah dhalalah, dan Bid ah dhalalah ini
banyak jenisnya, seperti penafian sunnah, penolakan ucapan
sahabat, penolakan pendapat Khulafa urrasyidin, nah diantaranya
adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar
syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan
dilakukan oleh Khulafa urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas
memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah
pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa urrasyidin, bagaimana Sunnah
Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid ah hasanah, bagaimana
sunnah Khulafa urrasyidin?, mereka melakukan Bid ah hasanah, maka
penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid ah dhalalah, hal yg
telah diperingatkan oleh Rasul saw.

Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid ah hasanah, maka kita
telah menafikan dan membid ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits
yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab
tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw
untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal
itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu
anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.

Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak
pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula
Khulafa urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi in
mulai menulis hadits Rasul saw.

Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain
sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua
adalah perbuatan Bid ah namun Bid ah Hasanah.

Demikian pula ucapan Radhiyallahu anhu atas sahabat, tidak
pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat,
walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu
diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw
memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun
karena kecintaan para Tabi in pada Sahabat, maka mereka
menambahinya dengan ucapan tersebut.
Dan ini merupakan Bid ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu
muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program
Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua
adalah Bid ah hasanah.
Bid ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan
muslimin, karena dengan adanya Bid ah hasanah di atas maka semakin
mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca
Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang
memungkirinya.

Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila
Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang
terjadi pada perkembangan sejarah Islam ?
Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan
para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul
beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang
akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan
riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam.
Namun dengan adanya Bid ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal
Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid ah Hasanah ini pula
kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah
Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah
membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dg jelas bahwa hal hal
baru yg berupa kebaikan (Bid ah hasanah), mesti dimunculkan kelak,
dan beliau saw telah melarang hal hal baru yg berupa keburukan
(Bid ah dhalalah).

Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah
ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya
adalah Mutiara Alqur an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata
mengenai Bid ah hasanah : sampai Allah menjernihkan dadaku dan
aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar .

Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra : ..bagaimana kalian berdua
(Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh
Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu
adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd)
sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku
sependapat dg mereka berdua .

Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg
jernih menerima hal hal baru yg baik adalah hati yg sehati dg
Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin
haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah
swt,
Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal
ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak
mau sependapat dg mereka, belum setuju dg pendapat mereka, masih
menolak bid ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa
akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan
perbuatan khulafa urrasyidin, gigit dg geraham yg maksudnya
berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati
dan sependapat dg Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra,
Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat..
amiin

Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid ah

1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii
rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid ah terbagi dua, yaitu bid ah
mahmudah (terpuji) dan bid ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan
dg sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah
adalah tercela, beliau berdalil dg ucapan Umar bin Khattab ra
mengenai shalat tarawih : inilah sebaik baik bid ah . (Tafsir
Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam
Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi :
seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid ah
adalah dhalalah (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid
atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal hal yg tidak sejalan dg
Alqur an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu
anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits
lainnya : Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam,
maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak
berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat
hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang
yg mengikutinya (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini
merupakan inti penjelasan mengenai bid ah yg baik dan bid ah yg
sesat . (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf
Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
Penjelasan mengenai hadits : Barangsiapa membuat buat hal baru
yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg
mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan
barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya , hadits ini
merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan
ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini
terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : semua yg baru
adalah Bid ah, dan semua yg Bid ah adalah sesat , sungguh yg
dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid ah yg tercela .
(Syarh Annawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid ah menjadi 5,
yaitu Bid ah yg wajib, Bid ah yg mandub, bid ah yg mubah, bid ah
yg makruh dan bid ah yg haram.
Bid ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada
ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid ah yg mandub
(mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila
ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun
majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam
macam dari jenis makanan, dan Bid ah makruh dan haram sudah jelas
diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari
makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih
bahwa inilah sebaik2 bid ah . (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim
Juz 6 hal 154-155)

Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
rahimahullah
Mengenai hadits Bid ah Dhalalah ini bermakna Aammun makhsush ,
(sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah :
yg Menghancurkan segala sesuatu (QS Al Ahqaf 25) dan
kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : Sungguh
telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin
dan manusia keseluruhannya QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya
bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna
keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen)
atau hadits : aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini (dan
kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw)
(Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan
pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati
darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau
seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh
atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya
menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa
memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

mengenai ucapan Al Hafidh Imam Assyaukaniy, beliau tidak melarang
hal yg baru, namun harus ada sandaran dalil secara logika atau
naqli nya, maka bila orang yg bicara hal baru itu punya sandaran
logika dan sandaran Naqli nya, maka terimalah, sebagaimana ucapan
beliau :

وهذا الحديث من قواعد الدين لأنه يندرج تحته من الأحكام ما لا يأتي
عليه الحصر وما مصرحه وأدله على إبطال ما فعله الفقهاء من تقسيم
البدع إلى أقسام وتخصيص الردببعضها بلا مخصص من عقل ولا نقل
فعليك إذا سمعت من يقول هذه بدعة حسنة بالقيام في مقام المنع مسندا
له بهذه الكلية وما يشابهها من نحو قوله صلى الله عليه وآله وسلم كل
بدعة ضلالة طالبا لدليل تخصيص تلك البدعة التي وقع النزاع في شأنها
بعد الاتفاق على أنها بدعة فإن جاءك به قبلته وإن كاع كنت قد ألقمته
حجرا واسترحت من المجادلة

hadits hadits ini merupakan kaidah kaidah dasar agama karena
mencakup hukum hukum yg tak terbatas, betapa jelas dan terangnya
dalil ini dalam menjatuhkan perbuatan para fuqaha dalam pembagian
Bid ah kepada berbagai bagian dan mengkhususkan penolakan pada
sebagiannya (penolakan thd Bid;ah yg baik) dengan tanpa
mengkhususkan (menunjukkan) hujjah dari dalil akal ataupun dalil
tulisan (Alqur an/hadits),
maka bila kau dengar orang berkata : ini adalah Bid ah hasanah ,
dg kau mengambil posisi melarangnya dg bertopang pada dalil bahwa
keseluruhan Bid;ah adalah sesat dan yg semacamnya sebagaimana
sabda Nabi saw : semua Bid ah adalah sesat dan (kau) meminta
dalil pengkhususan (secara aqli dan naqli) mengenai hal Bid ah yg
menjadi pertentangan dalam penentuannya (apakah itu bid;ah yg baik
atau bid ah yg sesat) setelah ada kesepakatan bahwa hal itu Bid;ah
(hal baru), maka bila ia membawa dalilnya (tentang Bid ah hasanah)
yg dikenalkannya maka terimalah, bila ia tak bisa membawakan
dalilnya (aqlan wa syar an) maka sungguh kau telah menaruh batu
dimulutnya dan kau selesai dari perdebatan (Naylul Awthaar Juz 2
hal 69-70).

Jelaslah bahwa ucapan Imam Assyaukaniy menerima Bid;ah hasanah yg
disertai dalil Aqli (Aqliy = logika) atau Naqli (Naqli = dalil
Alqur an atau hadits), bila orang yg mengucapkan pada sesuatu itu
Bid ah hasanah namun ia tak bisa mengemukakan alasan secara
logika, atau tak ada sandaran Naqli nya maka pernyataan tertolak,
bila ia mampu mengemukakan dalil logikanya, atau dalil Naqli nya
maka terimalah.

Jelas jelas beliau mengakui Bid ah hasanah.

وقال ابن رجب في كتابه جامع العلوم والحكم ما لفظه جوامع الكلم التي
خص بها النبي صلى الله عليه وسلم نوعان أحدهما ما هو في القران كقوله
تعالى إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن
الفحشاء والمنكر والبغي قال الحسن لم تترك هذه الاية خيرا إلا أمرت
به ولا شرا إلا نهت عنه والثاني ما هو في كلامه صلى الله عليه وسلم
وهو منتشر موجود في السنن المأثورة عنه صلى الله عليه وسلم انتهى

Berkata Ibn Rajab dalam kitabnya Jami ul Uluum walhikam bahwa
lafadhnya : kumpulan seluruh kalimat yg dikhususkan pada nabi saw
ada dua macam, yg pertama adalah Alqur an sebagaimana firman Nya
swt : Sungguh Allah telah memerintahkan kalian berbuat adil dan
kebaikan, dan menyambung hubungan dg kaum kerabat, dan melarang
kepada keburukan dan kemungkaran dan kejahatan berkata Alhasan
bahwa ayat ini tidak menyisakan satu kebaikanpun kecuali sudah
diperintahkan melakukannya, dan tiada suatu keburukan pun kecuali
sudah dilarang melakukannya.
Maka yg kedua adalah hadits beliau saw yg tersebar dalam semua
riwayat yg teriwayatkan dari beliau saw. (Tuhfatul Ahwadziy Juz 5
hal 135)

Walillahittaufiq

Telah beredar buku saya mengenai Bid ah, tawassul, istighatsah,
maulid, ziarah kubur, tabarruk dll, buku itu saya beri judul
Kenalilah Akidahmu . Dapat dipesan di sekertariat kami.

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=20008© https://carauntuk.com/ucapan-ibnu-masud

- Advertisement -
cu.adminhttp://carauntuk.com
Nama: Arie Ibrahim | Lahir : 16 january 1987 | Lulus : SMA 28 Oktober 1928 jakarta Selatan Tahun 2005 | Keahlian : dibidang komputer. | Ketertarikan: ilmu komputer, ilmu Quran, dan Ilmu Fisika. | Kontak : arie@carauntuk.com adpit31@gmail.com | Pesan : semoga artikel diatas bermanfaat bagi saya pribadi dan yang membutuhkannya, Terimakasih
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

aib seseorang – 2009/04/30

Forum Majelis Rasulullahf3bby aib seseorang - 2009/04/30 07:55 assalamu^alaikum wr.wb Habibana yang saya cintai, saya mau tanya, kalau...
- Advertisement -

Salam Ceria buat Habib

Forum Majelis Rasulullahtuananan Salam Ceria buat Habib - 2009/04/30 06:43 Assalamualaikum dan salm ceria buat Habib, ...

bertanya – 2009/04/30 06:38

Forum Majelis Rasulullahkai bertanya - 2009/04/30 06:38 assalamualaikum wrwb yahabibana saya ingin bertanya mohon penjeladan ya...

Mohon Di beri masukan

Forum Majelis Rasulullaharimulyono Mohon Di beri masukan - 2009/04/30 06:26 Assalamu^alaikum warahmatullah wabarakatuh, Limpahan kasih sayang...

Related News

aib seseorang – 2009/04/30

Forum Majelis Rasulullahf3bby aib seseorang - 2009/04/30 07:55 assalamu^alaikum wr.wb Habibana yang saya cintai, saya mau tanya, kalau...

Salam Ceria buat Habib

Forum Majelis Rasulullahtuananan Salam Ceria buat Habib - 2009/04/30 06:43 Assalamualaikum dan salm ceria buat Habib, ...

bertanya – 2009/04/30 06:38

Forum Majelis Rasulullahkai bertanya - 2009/04/30 06:38 assalamualaikum wrwb yahabibana saya ingin bertanya mohon penjeladan ya...

Mohon Di beri masukan

Forum Majelis Rasulullaharimulyono Mohon Di beri masukan - 2009/04/30 06:26 Assalamu^alaikum warahmatullah wabarakatuh, Limpahan kasih sayang...

makruh dan haram –

Forum Majelis Rasulullahfrengky makruh dan haram - 2009/04/30 06:24 Assalamu ^alaikum Wr Wb alhamdulillah .....alhamdulillah.....alhamdulillah................. ...
- Advertisement -

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of