tentang jamaah tabligh –

karkun tentang jamaah tabligh – 2010/08/18 17:53 ayahanda yang dimuliakan
Allah swt,
sy cm ingin ayahanda meralata kata2 bodoh pd JT, dan ayahanda jgn
sebut jamaah ini dgn JT,krna anda tal lebih dgn wahabi dan yg
lainnya, krna jamaah ini tak pernah memberikan nama pd jamaahnya.
ayahanda begini kah cara rasulullah untuk mengingatkan atau
memperbaiki saudaranya yang salah dgn menyebut mereka bodoh dan
tercela.ini kah sikap yg dicontohkan rasulullah, saya rasa
rasulullah tidak akan begitu bila mengingatkan ummat nya yg salah.
ayahanda yg dimuliakan Allah, saya dulu bodoh dgn ilmu agama
tetapi dgn ikut jamaah ini alhamdulillah bnyak ilmu yg saya
dapat,dr tata cara sholat smpai tata cara tidur yg sesuai dgn
rasulullah.jd dimanakah yg ayahanda katakan bodoh.apa semua yg tak
sesuai dgn cara ayahanda,ayahanda katakan bodoh.
maaf ayahanda,saya hnya orang yg lemah ilmu,yg mencari ilmu yg
sedang belajar, sekiranya ayahanda adalah orang yg bisa
membenarkan itu semua,tolong dibenarkan,jgn cm ayahanda mengatakan
bodoh dan tercela,kl ayahanda sperti itu tak lain ayahanda sama
dgn para wahabi yg ayahanda sesatkan.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:tentang jamaah tabligh – 2010/08/20 14:04 Alaikumsalam
warahmatullah wabarakatuh,

kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari
hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
beribu maaf jika ada ucapan saya yg demikian, namun bodoh secara
mutlak, tidak saya ucapkan, jika kalimat bodoh dalam syariah, atau
bodoh dalam dakwah, hal itu mungkin dalam pemahaman umum adalah
celaan, bukan demikian saudaraku, saya berbicara dg istilah
syariah, didalam fiqih, ushul, mustalah hadits, tafsir, dll sering
kalimat itu disampaikan tanpa bermaksud menghina, tapi membenahi
dan memperjelas, bukan mencaci, misalnya orang bertanya : sah kah
imam yg shalih namun fatihah nya tidak benar?, mestilah penjawab
yg mengerti syariah akan menjelaskan : berimam kepada orang yg
bodoh dalam syariah sah shalatnya, asal tidak melanggar rukun
rukun shalat, dan fatihah adalah rukun shalat, namun jika di
wilayah itu tak ada imam lain yg betul dalam membaca fatihah, dan
masyarakat banyak dalam keadaan bodoh dalam syariah, maka
bermakmum padanya sah, karena demikian keadaan wilayah itu, dan
jika tidak merubah makna namun karena kejahilannya/kebodohannya
dalam syariah, sah fatihah nya dan sah bermakmum padanya.

jawaban seperti ini bukan mencela orang shalih itu, tapi
penjelasan dalam syariah, tanpa bermaksud menghina imam itu.

sebagaimana ucapan Makruh, secara bahasa maknanya hal yg dibenci,
namun dalam syariah sungguh jauh berbeda, yaitu hal yg jika
diperbuat tidak menjadi dosa, namun jika dihindari maka mendapat
pahala.

demikian pula kalimat bodoh dalam syariah, bukan menghina, bisa
saja ia wali Allah swt, shalih, orang baik, namun berkekurangan
pemahamannya dalam syariah.

sesekali saya tidak mencela jamaah tabligh, namun jika ada yg
bertanya tenang kesalahan yg mereka perbuat, mestilah saya
menjelaskan bahwa itu karena ketidak fahamannya dalam syariah,
atau kebodohannya dalam syariah,

maka saudaraku, itu bukan celaan, jika anda mempelajari ilmu
mustalah hadits, tafsir, fiqih, anda akan lebih memahami ucapan
saya, dan banyak menemukan istilah itu umum digunakan dalam
syariah.

mengenai gelar JT, saya menyesuaikan dg penanya, walau jamaah
tabligh tidak menamakan itu pada kelompoknya, namun mereka
berkelompok, maka istilah apa yg harus saya sebutkan kalau bukan
menyebut gelar yg diberikan masyarakat umum padanya?

itu bukan celaan saudaraku, sebagaimana ahlussunnah waljamaah
dikenal di dunia maya dg gelar aswaja, atau mereka yg mengikuti
madzhab syafii mereka digelari syafi;iyyun, atau madzhab maliki dg
gelar malikiyyun, hal itu lumrah dan bukan hinaan.

Rasul saw menggelari kelompok yg terakhir keluar dari neraka dg
gelar Jahannamiyyun, apakah beliau saw mencela?, tidak, namun
memang mereka penduduk neraka jahannam yg terakhir keluar dari
neraka, Rasul saw menggelari dg gelar itu adalah bermakna pujian,
karena mereka berhasil keluar dari neraka, tidak kekal didalamnya,
ucapan diatas (jahannimyyun), riwayat ini bisa anda temukan pada
Shahih Bukhari dan lainnya.

dalam kali yg lain Muadz bin Jabal ra seorang sahabat besar,
seorang yg terkemuka diantara kelompok sahabat, bahkan termasuk
kelompok ahli syariah diantara para sahabat besar, namun ketika ia
memanjangkan bacaaan suratnya di shalat subuh ketika menjadi imam,
hingga seorang awam mengeluh ia tak mau lagi shalat berjamaah
subuh karena ia punya pekerjaan dan tak bisa menghadiri shalat
sepanjang itu, Rasul saw bersabda atas muadz : Fattaan..!,
fattaan..!, fattaan..! (dg mengulanginya 3x), demikiran riwayat
shahih Bukhari dan lainnya, anda tahukah makna Fattaan?, fattan
artinya tukang fitnah..!, atau pemfitnah.., atau pembawa fitnah..,
ucapan itu dilontarkan Rasul saw dihadapan para sahabat
radhiyallahu^anhum,

namun sungguh adakah akhlak yg lebih mulia dari beliau saw?,
apakah beliau saw penggunjing?, tentunya itu bukan bermakna
celaan, tapi peringatan utk muadz ra dan sahabat lainnya bahwa
perbuatan itu tidak benar, tanpa mengelompokkan muadz bin jabal ra
sebagai kelompok tukang fitnah, walau ucapannya demikian.

maka jika anda menilai sekilas tanpa mempelajari asbabul wurud
(sebab sebab munculnya hadits itu), maka anda akan mengatakan
Rasul saw mencela muadz ra didepan umum dg celaan yg tak layak
dijatuhkan pada Sayyidina Muadz ra.

namun jika anda mempelajari siapa Rasul saw, dan sebab musabab
munculnya hadits itu, dan riwayat riwayat lain dari sabda Rasul
saw yg memuji muadz ra, maka anda akan memahami bahwa itu bukan
celaan, tapi peringatan.

demikian Allah swt berbuat, disuatu waktu Allah swt mencela para
pendosa, di ayat lain Allah swt menyeru para pendosa agar jangan
putus asa dari rahmat Nya,

di suatu ayat Allah swt mencela istir istri nabi saw ketika
berbuat salah, di ayat lain Allah swt memuji mereka.

demikian yg saya lakukan saudaraku, jangan tersinggung dalam hal
ini, saya banyak memuji jamaah tablig, lebih banyak daripada hal
hal yg mengkritik mereka.

anda dapat lihat di link berikut

Itemid=&func=view&catid=7&id=13541〈=id#13541
hal yg mencolok dan perlu dibenahi pada tubuh jamaah tabligh
adalah lebih mendahulukan yg sunnah daripada yg fardhu, dakwah
adalah fardhu kifayah, cara tidur Rasul saw adalah sunnah, cara
makan, doa makan, dlsb itu semua sunnah, namun sebenarnya sebelum
kita mempelajari yg sunnah, kita layak mempelajari yg fardhu dulu,
jika anda tanyakan berapa rukun shalat pd mereka belum tentu
mereka bisa menjawabnya, jika mereka berdakwah lalu ditanya
tentang pertanyaan2 syariah oleh masyarakat bagaimana mereka
menjawabnya?

inilah saudaraku dari beberapa kendala yg mesti dibenahi pada
jamaah tabligh, tanpa kita mengatakan mereka itu salah dan sesat
secara mutlak, karena manusia penuh kekurangan, butuh saling
mengisi dan mengingatkan,

dan semua yg saya sampaikan demi semakin sempurnanya jamaah
tabligh, bukan untuk menghancurkan mereka dan mencela tanpa sebab
yg jelas, mereka baik, sopan, berakhlak, namun perlu lebih
mendalami syariah sambil menjalankan dakwahnya.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=25798

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër
cu.adminhttps://carauntuk.com
Semoga artikel diatas bermanfaat bagi saya pribadi dan yang membutuhkannya!