purnama SHOLAT – 2007/10/28 22:15 Ass.. Bib & keluarga Rahimakumullah…
langsung aja:
1. Hukum melafalkan niat sholat menurut imam syafi^ie?
2. Hukum menggunakan lafadz sayyidina dalam bacaaan shalawat dalam
tasyahud, dan menambah doa-doa setelah shalawat kepada Nabi SAW.
karena dalam Bidayatul Hidayah Imam AL Ghazali, ane baca beliau
melarangnya?
3. Apakah imam syafi^ie menganjurkan untuk membaca doa Qunut dan
bagai mana hukumnya? Dan hukum mengamini serta mengangkat tangan
pada saat membaca doa Qunut?
4. Bagaimana pendapat ulama syafi^ie tentang kesempurnaan shaf
dalam sholat, apakah harus menempelkan masing-masing mata kaki?
Dan minta penjelasan tentang “isbal”?
5. Minta penjelasan tentang anjuran Rasulullah SAW untuk tidak
mencintai Beliau secara berlebihan?
segitu aja, mohon dijawab sejelas-jelasnya.. Syukron…. Wass…

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

ventura1982 Re:SHOLAT – 2007/10/29 01:15 Wa^alaikum salaam warahmatullahi
wabarakaatuh….

Akhi ijinkan saya berbagi dengan akhi mengenai pertanyaan yg akhi
ajukan, disini saya bukan berkapasitas memberikan jawaban, insya
Alloh yg mulia habib munzir akan membenarkan apa yg saya tulis,
tentunya dengan pembenaran yg di ridhoi Alloh Subhanahu Wata^ala.

1. Niat didalam sholat adalah termasuk salah satu rukun sholat
dan sebenarnya sahnya didalam hati dilafadzkannya pada saat
takbiratul ihrom, bagi yg melafadzkannya melalui lisan biasanya
bertujuan agar menguatkan niat tersebut pada saat dilafadzkan
didalam hati.tapi lafadz dengan lisan ini jgn keras² agar tidak
mengganggu sholat orang lain cukup kita sendiri yg mendengarnya

2. lafadz sayyidina pada tasyahud itu boleh, ini bertujuan hanya
untuk penghormatan/adab kepada Nabi besar Muhammad Sholallahu
Alaihi Wasallam.
Membaca doa² didalam tasyahud akhir sebelum salam adalah boleh
dan ini sunah,seperti bacaan Allohummagfirlii maa qoddamtu..dst
Disyariatkan bagi seorang mukmin untuk berdo^a ketika shalatnya
di saat yang disunnahkan untuk berdo^a, baik ketika shalat fardhu
maupun shalat sunnah. Adapun saat berdo^a katika shalat adalah
tatkala sujud, duduk di antara dua sujud dan akhir salat setelah
tasyahud dan shalawat atas Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
sebelum salam. Sebagaimana telah disebutkan dari Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam bahwa beliau berdo^a ketika duduk di antara dua
sujud untuk memohon ampunan. Telah diriwayatkan pula bahwa beliau
berdo^a ketika duduk di antara dua sujud. Allahummagfirlii,
warhamnii, wahdinii, wajburnii, warjuqnii, wa^aafinii.

3. Qunut waktu shubuh dalam madzhab syafii adalah sunah muakkadah
dan sunah melakukan sujud syahwi apabila meluputkannya, tapi
tidak membatalkan sholat apabila kita tidak membacanya, lazimnya
seorang makmum yang sedang mendengarkan doa yg dibaca oleh imam
adalah dengan mengamini doa imam tersebut, seperti bacaan
Walladhoooliin pada akhir surah Alfatihah.

4. Yang saya tahu sempurnanya shaf itu selain lurus memang agar
antara bahu kita & bahu sampingnya harus rapat, tapi kalo
nempelin mata kaki saya belum tahu tuh, mungkin nanti yg mulia
habib munzir akan menerangkannya secara jelas.

Isbal adalah menurunkan pakaian sampai dibawah mata kaki bahkan
sampai terseret ke tanah.
“Isbal berlaku bagi sarung, gamis,celana dan sorban. Barang siapa
yang
menurunkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh
Allah
di hari kiamat.” [Hadits Riwayat Abu Daud, Nasa^i, dan Ibnu
Majah.]

5. wah pertanyaan kelima saya belum bisa jawab sebab saya belum
pernah tahu tentang itu, yg saya tahu perihal berlebihan memang
tidak disukai Alloh (Innallaha Laa Yuhibbul Mu^tadiin), tapi kalo
perkara mencintai Rasulullah saya berpegang dengan salah satu
ayat didalam Alqur^an yang artinya
“Katakanlah, ^Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka
ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mengasihi kalian dan
akan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang” (QS. Ali-Imran: 31).
Dan bagaimana kita bisa sampai mencintai Alloh bila kita tidak
mencintai kekasihnya.

Demikan, Wallahu^alam

Wassalaamu^alaikum

Hartono – Mangga Besar XIII

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

purnama Re:SHOLAT – 2007/10/29 20:33 Ass… Syukron katsir.. saudara ane
seperjuangan, k^lo ane pribadi insya Allah cukup dengan penjelasan
antum, cuma ane ada teman yang minta di cariin sumber dari imam
syafi^ie lansung gitu akh…

sekalian k^lo habibana sudah punya waktu ane tambah 1 pertanyaan:
– hukum salaman setelah sholat…?
syukron ….
Wass…

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:SHOLAT – 2007/10/30 23:51 Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,

Rahmat dan kebahagiaan semoga selalu menyelimuti hari hari anda

Saudaraku yg kumuliakan,
beribu maaf selama 10 hari saya tidak online hingga tak bisa
menjawab pertanyaan anda

1. Masalah lafadh niat itu adalah demi Ta kid saja, (penguat dari
apa yg diniatkan), itu saja, berkata shohibul Mughniy : Lafdh
bimaa nawaahu kaana ta kiidan (Lafadz dari apa apa yg diniatkan
itu adalah demi penguat niat saja) (Al Mughniy Juz 1 hal 278),
demikian pula dijelaskan pd Syarh Imam Al Baijuri Juz 1 hal 217
bahwa lafadh niat bukan wajib, ia hanyalah untuk membantu saja.
2. ucapan ucapan itu boleh saja dilakukan dan boleh tidak, karena
tak ada perintah dalam hadits beliau saw yg menjelaskan kita harus
memanggil dg Sayyidina atau lainnya.
maka menambahi nama sahabat dg Radhiyallahu ^anhu pun boleh atau
boleh pula tidak, atau saat shalat kita membaca surat dan menyebut
nama para nabi, maka boleh mengucapkan / menambahkan alaihissalam,
namun yg jadi masalah adalah mereka yg “tak mau” atau bahkan
“melarang” menyebut sayyidina pada para sahabat bahkan pada Rasul
saw
karena Rasul saw memperbolehkannya, sebagaimana sabda Beliau saw :
“janganlah kalian berkata : beri makan Rabb mu, wudhu kan Rabb mu
(Rabb juga bermakna pemilik, ucapan ini adalah antara budak dan
tuannya dimasa jahiliyah), tapi ucapkanlah (pada tuan kalian)
Sayyidy dan Maulay (tuanku dan Junjunganku), dan jangan pula
kalian (para pemilik budak) berkata pada mereka : wahai Hambaku,
tapi ucapkanlah : wahai anak, wahai pembantu” (shahih Bukhari
hadits no.2414) hadits semakna dalam Shahih Muslim hadits no.2249.

maka jelaslah bla budak saja diperbolehkan mengucapkan hal itu
pada tuannya, bagaimana kita kepada sahabat yg mereka itu adalah
guru guru mulia seluruh muslimin, sebagaimana ucapan yg masyhur
dikalangan sahabat : “aku adalah budak bagi mereka yg mengajariku
satu huruf”, atau hadits Nabi saw yg bersabda : “bila seseorang
telah mengajarkanmu satu ayat maka engkau telah menjadi budaknya”
maksudnya sepantasnya kita memuliakan guru guru kita, lebih lebih
lagi para sahabat, karena par sahabat sendiri satu sama lain
mengucapkan

Rasul saw bersabda dihadapan para sahabat seraya menunjuk Hasan
bin Ali ra anhuma : “sungguh putraku ini (hasan bin Ali) adalah
Sayyid, dan ia akan mendamaikan dua kelompok muslimin” (shahih
Bukhari hadits no.3430, juga dg hadits yg semakna pada hadits
no.2557)

berkata Umar bin Khattab ra kepada Abubakar shidiq ra : “aku
membai^atmu, engkau adalah sayyiduna, wa khairuna, wa ahibbuna”
(engkaulah pemimpin kami, yg terbaik dari kami, dan yg tercinta
dari kami). (shahih Bukhari hadits no.3467)
Umar ra berkata kepada Bilal dg ucapan sayyidina. (shahih Bukhari
hadits no.3544).
dan masih banyak lagi dalil dalil shahih mengenai hal ini.

3. Mengenai Qunut, memang terdapat Ikhtilaf pada 4 madzhab, masing
masing mempunyai pendapat, sebagaimana Imam Syafii
mengkhususkannya pada setelah ruku pada rakaat kedua di shalat
subuh.., dan Imam Malik mengkhususkannya pada sebelum ruku pada
Rakaat kedua di shalat subuh (Ibanatul Ahkam fii Syarhi
Bulughulmaram Bab I),

mengenai Qunut dengan mengangkat kedua tangan telah dilakukan oleh
Rasul saw dan para sahabat, maaf saya tak bisa menyebut satu
persatu, namun hal itu teriwayatkan pada : Sunan Imam Baihaqi
Alkubra Juz 2 hal 211 Bab Raf^ul yadayn filqunut, Sunan Imam
Baihaqi ALkubra Juz 3 hal 41, Fathul Baari Imam Ibn Rajab
Kitabusshalat Juz 7 hal 178 dan hal 201, Syarh Nawawi Ala shahih
Muslim Bab Dzikr Nida Juz 3 hal 324, dan banyak lagi.

4. mengenai menempelkan kaki dan kerapatan shaf mengenai hadits
hadits nya adalah hadits hadits shahih, dan sangat banyak
teriwayatkan dalam shahihain Bukhari dan muslim, saya tak mungkin
menyebutkannya satu persatu, namun keberadaannya adalah sunnah,
bukan rukun shalat, maka jika shaff shalat tidak rata dan teratur
maka shalatnya tetap sah namun merupakan hal yg makruh, telah
berkata demikian Al Hafidh Al Imam Ibn Rajab bahwa meratakan shaff
adalah hal yg merupakan bentuk kesempurnaan shalat (Fathul Baari
li Ibn Rajab Bab Shalat Juz 5 hal.142)

namun Imam Ibn Rajab menjelaskan pula mengenai pendapat Imam
Bukhari bahwa mereka yg tak meratakan shaf itu berdosa, maka Imam
Ibn Rajab menjelaskan bahwa yg dimaksud adalah jika mereka menolak
dan tidak mau (bukan tak sengaja) untuk meratakan shaf nya (Fathul
Baari li Ibn Rajab Bab shalat Juz 5 hal 143)

demikian pula dijelaskan oleh Imam Ibn Batthal dalam kitabnya,
bahwa meratakan shaff merupakan salah satu dari sunnah nya shalat,
dan tidak melakukannya tidak membatalkan shalat (Sharah Shahih
Bukhari li Ibn Batthal Juz 3 hal 424).

Walaupun ada ikhtilaf dalam hal ini,

mengenai Isbal (tidak membuat pakaian menjela/memanjang dibawah
mata kaki) adalah sunnah Rasul saw dalam sholat dan diluar shalat,
demikian disebutkan dalam hadits Shahih dalam kitab Syama^il oleh
Imam Tirmidzi,dan bukanlah merupakan hal yg wajib, sebagaimana
difahami dari matan hadits bahwa hal itu adalah wajib namun Ijma^
ulama sepakat bahwa hal itu adalah sunnah mu^akkadah.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=8800

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here