jael1475 MUHRIM – 2007/07/20 05:24 Assalamualaikum Wr.Wb.
Mohon maaf sebelumnya Pak Kiyai …
langsung saja , Saya ingin bertanya mengenai “Muhrim” Apa artinya
, ada teman saya bahwa yg dinamakan Muhrim sebatas Seseorang sudah
menikah batas muhrim itu sudah boleh maksudnya kalau seorang sudah
menikah suami dan istri disebut sudah menjadi muhrimnya dan boleh
syah apabila dia (suami) sudah wudhu terkena kulit tidak batal
demikian kira2nya
Mohon maaf sebelumnya bila pertanyaan Saya membingungkan ..!Terima
kasih saya ucapkan sebelumnya

Wassalam
A.Karim J

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:MUHRIM – 2007/07/21 04:33 Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,

Limpahan kebahagiaan dan rahmat Nya swt semoga selalu tercurah
pada anda dan keluarga,

saudaraku yg kumuliakan,
Muhrim adalah yg kita boleh berjumpa bebas dengannya tanpa perlu
jilbab atau pakaian tertutup, boleh jumpa misalnya dengan celana
pendek, atau pakaian bebas lainnya, dan bila bersentuhan tak batal
wudhu, dan haram menikah dengan mereka.

yaitu wanita yg muhrim adalah :
dari keluarga darah daging sendiri
1. Ibu
2. nenek (ibu dari ibu dan ibu dari ayah) seterusnya
3. putri kandung
4. cucu (putri anak lelaki atau putri anak perempuan) dst.
5. saudara kandung
6. saudara perempuan (saudari kandung, saudari seayah dan saudari
seibu)
7. bibi (saudari ayah atau saudari ibu)
8. keponakan (putri dari saudara lelaki dan putri dari saudara
perempuan)

dari periparan
1. mertua (ibu dari istri)
2. putri dari istri
3. menantu (istri dari putra)
4. Istri dari ayah (ibu tiri)

dari persusuan
1. wanita yg disusui istri (anak suson)
2. saudari sepersusuan (wanita yg menyusui dari wnaita yg menyusui
kita)
3. ibu suson (wanita yg menyusui kita)
4. wanita yg menyusui istri kita dimasa kecil (mertua suson)

nah.. demikianlah mereka mereka yg menjadi muhrim kita (QS Annisa
23).

menurut Madzhab Syafii yg selain mereka yg diatas ini bila
bersentuhan maka batal wudhunya. termasuk istri/suami.

untuk yg wanita maka muhrim lelakinya adalah nama nama diatas,
tinggal menggantinya menjadi pria, yaitu ayah, anak lelaki dst.

menurut madzhab Imam Ahmad bin hanbal bersentuhan dg istri atau
wanita lainnya tdk batal wudhu, namun menurut madzhab syafii batal
wudhunya.

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wassalam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

cdan Re:MUHRIM – 2007/10/02 21:57 Assalamualaikum..

Bolehkah kita bertaklid pada mazhab hambali…pada sesuatu
keadaan….atau mazhab syafie sendiri melarang.. wassalam

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:MUHRIM – 2007/10/03 00:15 Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,

Cahaya Keberkahan Lailatul Qadr semoga selalu menerangi hari hari
anda dengan kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
Memang tak ada perintah wajib bermadzhab secara Shariih dg Nash
(jelas dg dalil), namun bermadzhab wajib hukumnya, karena kaidah
syariah adalah Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib, yaitu
apa apa yg mesti ada sebagai perantara untuk mencapai hal yg
wajib, menjadi wajib hukumnya.

misalnya kita membeli air, apa hukumnya membeli air?, tentunya
mubah saja, namun bila kita akan shalat fardhu tapi air tidak ada,
dan yg ada hanyalah air yg harus beli, dan kita punya uang, maka
apa hukumnya membeli air?, dari mubah berubah menjadi wajib
tentunya, karena perlu untuk shalat yg wajib.
demikian pula dalam syariah ini, tak wajib mengikuti madzhab,
namun karena kita tak mengetahui samudera syariah seluruh madzhab,
dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul saw, maka kita tak
mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa yg ada di imam imam
muhaddits terdahulu, maka bermadzhab menjadi wajib,

karena kita tak bisa beribadah hal hal yg fardhu / wajib kecuali
dengan mengikuti salah satu madzhab itu, maka bermadzhab menjadi
wajib hukumnya.

Sebagaiman suatu contoh kejadian ketika zeyd dan amir sedang
berwudhu, lalu keduanya kepasar, dan masing masing membeli sesuatu
di pasar seraya keduanya menyentuh wanita, lalu keduanya akan
shalat, maka zeyd berwudhu dan amir tak berwudhu, ketika zeyd
bertanya pada amir, mengapa kau tak berwudhu?, bukankah kau
bersentuhan dengan wanita?, maka amir berkata : aku bermadzhabkan
Maliki dan madzhab Maliki tak batal wudhu bila bersentuhan dengan
wanita , maka zeyd berkata : wudhu mu itu tak sah dalam madzhab
malik dan tak sah pula dalam madzhab syafii!, karena madzhab
maliki mengajarkan wudhu harus menggosok anggota wudhu, tak cukup
hanya mengusap, namun kau tadi berwudhu dengan madzhab syafii dan
lalu dalam masalah bersentuhan kau ingin mengambil madzhab maliki,
maka bersuci mu kini tak sah secara maliki dan telah batal pula
dalam madzhab syafii.. .

Demikian contoh kecil dari kesalahan orang yg mengatakan
bermadzhab tidak wajib, lalu siapa yg akan bertanggung jawab atas
wudhunya?, ia butuh sanad yg ia pegang bahwa ia berpegangan pada
sunnah nabi saw dalam wudhunya, sanadnya berpadu pada Imam Syafii
atau pada Imam Malik?, atau pada lainnya?, atau ia tak berpegang
pada salah satunya sebagaimana contoh diatas..

dan berpindah pindah madzhab tentunya boleh boleh saja bila sesuai
situasinya, ia pindah ke wilayah malikiyyun maka tak sepantasnya
ia berkeras kepala dg madzhab syafii nya,

demikian pula bila ia berada di indonesia, wilayah madzhab syafi
iyyun, tak sepantasnya ia berkeras mencari madzhab lain.

Menyikapi perbedaan madzhab adalah dengan kelembutan dan bukan
permusuhan tentunya, namun jangan sesekali mengikuti madzhab lain
sebelum memahaminya dengan seksama, dan cara terbaik adalah jangan
mengikuti madzhab lain kecuali bila di wilayah mereka/negeri lain
yg bermadzhab lain dengan kita.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=5692

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here