Home forum.majelisrasulullah.org MASALAH HADIST - 2010/07/27

MASALAH HADIST – 2010/07/27

- Advertisement -
Advertisements

aditya MASALAH HADIST – 2010/07/27 06:55 ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI
WABARAKATUH

Alhamdulillah , berbulan bulan ternyata Allah kabulakn hamba tuk
bersua dengan habib walau dengan wejagan paduka, begitu kangen
rasanya bib. mohon doanya bib, dan saay tidak bisa bebuat apa apa
hanya berharap kepada Allah bahwa paduka masih dalam keadaan
terbaik, karena saya mendapat kabar bahwa habib sempat koma, apa
betul bib. saya dapat sms kakak yang berasal dari dari gurunya
bib.

ada beberapa yang selama ini saya simpan tuk menungu quota bib.

1. saya meminta ijasah dari habib berupa amalan nabawy, sanad
keilmuan bib yang menurut habib bagaikan rantai emas yang tak
terlepaskan, agar bisa saya menjadi acuan untuk terus berusaha
membesarkan agama Nabi suci Muhamamd saw. mohon bib ijasahnya

2. Apakah tulisan dibawah ini benar bib

1. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullahu di dalam taqrizh
beliau juga terhadap kitab yang sama (hal. 263), dan as-Sakhowi
juga turut mengisyaratkan pula hal ini di dalam adl-Dhou ul Laami
(VIII/104) : Tidaklah seseorang yang berkata bahwa Ibnu Taimiyah
itu kafir melainkan hanya dua orang, entah dia orang yang
sejatinya kafir ataukah ia orang yang bodoh tentang keadaan
beliau… sungguh telah memuji akan keilmuan, agama dan kezuhudan
Ibnu Taimiyah mayoritas ulama yang hidup satu masa dengan beliau.

Apa benar sanggahan diatas bib, mohon bimbingan

2. kitab hadits sunan abu Dawud sendiri, teks aslinya adalah sbb:

Kami telah keluar menyertai Rasulallah saw. mengiringi jenazah,
maka kulihat Rasulallah saw. berpesan kepada penggali kubur, kata
beliau saw., perluaslah arah kedua kakinya, perluaslah arah
kepalanya . Ketika beliau pulang bertemulah kami dengan seorang
perempuan dan perempuan tersebut mengajak Nabi shallahu ^alaihi
wasalam untuk datang kerumahnya dan beliau pun memenuhi undangan
itu dan kami menyertainya lalu dihidangkan makanan, maka beliau
mengulurkan tangannya, kemudian kami pun ikut mengulurkan
tangannya, lalu mereka makan, dan aku melihat Rasulallah saw.
mengunyah suapan di mulutnya . Kemudian beliau bersabda: “kambing
ini diambil dengan tidak izin tuannya”.

Di kitab Bulughul Ummiyah teksnya tertulis bahwa perempuan
tersebut adalah istrinya si mayit,

sedangkan dalam Kitab Hadits Sunan Abu Dawud sendiri teksnya
tertulis :

bertemu dengan seorang perempuan yg kemudian mengundangnya untuk
datang kerumahnya,
dan teks hadits ini juga dikuatkan dalam Kitab Subulus Salam dan
Kitab Nailul Autar.

Apa benar, yang dimaksud kata perempuan di atas itu adalah
perempuan lain, atau bukan perempuan istri dari ahli mayit ?????.

Terus apa makna dari sabdah nabi “kambing ini diambil dengan tidak
izin tuannya”.

3. Adakah para sahabat dan ulama 4 Imam Mazhab yg menolak riwayat
dibawah ini, baik dari segi perawinya maupun matannya:

Diriwayatkan imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah Al Bajali dengan
sanad yang shahih: “Adalah kami (para sahabat) menganggap
bahwaberkumpul di rumah ahli mayyit dan mereka menyediakan
makanansesudah mayyit dimakamkan adalah termasuk perbuatan
meratap”.

APAKAH HADITS DI ATAS BENAR ADANYA BIB, BAGAIMANA KITA
MENYIKAPINYA ??

4. Diriwayatkan bahwasanya Jarir pernah bertamu kerumah Umar. Lalu
Umar bertanya , Apakah mayit kamu diratapi? Jawab Jarir, tidak!
Umar bertanya lagi, Apakah mereka berkumpul dirumah ahli mayit
dan mereka membuat makanan? Jawab Jarir, ya! Berkata Umar,
Itulah ratapan!). Dari Jarir bin Abdullah Al Bajaliy, ia berkata :
Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni
menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di
tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit
termasuk dari bagian meratap (Imam Ibnu Majah �” No. 1612 dan
Imam Ahmad di musnadnya �” 2/204)

AKAPAH SUDAH BENAR RIWAYAT DIATAS BIB, SAYA KAWATIR ADA YANG
SENGAJA MEMOTONG RIWAYATNYA BIB, AGAR ARTINYA MENJADI BIAS,
BAGAIMANA CARA SEBENARNYA UNTUK MEMAHAMINYA BIB

demikian bib. mohon. pencerahannya bib

wassalamualaikum waramatullahi wabarakatuh

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:MASALAH HADIST – 2010/07/30 03:17 Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,

kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari
hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
terimakasih atas doanya, dan toada hadiah lebih agung dari doa,
mengenai saya koma, itu dusta, kabar yg disebarkan orang yg iseng
saja, kalau sakit memang betul, bbrp wkt yg lalu kondisi saya drop
dan selepas acara nisfu sya^ban pun saya drop, namun bukan koma,
koma adalah diruang icu dan bukan lagi diruang gawat darurat di
rs, alhamdulillah saya tidak sampai begitu, hanya kabar saja yg
tersebar.

1. saya Iazahkan pada anda sanad keguruan kepada anda, yg
bersambung sanadnya kepada Guru Mulia kita, hingga Rasulullah saw,
ia adalah bagai rantai emas terkuat yg tak bisa diputus dunia dan
akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata
rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw, semoga Allah swt
selalu menguatkan kita dalam keluhuran dunia dan akhirat bersama
guru guru kita hingga Rasul saw.

2. saudaraku, Ibn Taimiyah bukan kafir, ia diakui oleh banyak para
Imam dizamannya sebagai imam yg mumpuni, namun banyak fatwanya yg
ditentang pula, Ibn Taimiyah membolehkan perayaan maulid, Ibn
Taimiyah mengakui bahwa mengambil manfaat dari makhluk adalah hal
yg sangat bisa terjadi, namun dalam beberapa hal ia banyak
berfatwa yg ditentang Jumhur (mayoritas) para Imam,

berbeda dg Ibn Abdul wahhab yg memang bertentangan dg seluruh
madzhab, dan ibn abdul wahhab banyak mengambil fatwa2 Ibn Taimiyah
yg justru ditentang oleh para imam.

3 ada dua versi akan riwayat itu, dan berikut penjelasan saya yg
saya nukilkan dari buku saya kenalilah akidahmu edisi 2,
penjelasan saya sekaligus merangkum pertanyaan no. 4.

KENDURI ARWAH, TAHLILAN, YASINAN MENURUT PARA ULAMA
Hal itu merupakan pendapat orang orang yang kalap dan gerasa –
gerusu tanpa ilmu, kok ribut sekali dengan urusan orang yang mau
bersedekah pada muslimin?

عن عائشة أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ثم يا رسول الله
إن أمي افتلتت نفسها
ولم توص وأظنها لو تكلمت تصدقت أفلها أجر إن تصدقت عنها قال نعم

Dari Aisyah ra bahwa sungguh telah datang seorang lelaki pada Nabi
saw seraya berkata : Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah
meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat bicara
mestilah ia akan bersedekah, bolehkah aku bersedekah atas
namanya?, Rasul saw menjawab : Boleh (Shahih Muslim hadits
No.1004).

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi rahimahullah :

وفي هذا الحديث أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها وهو كذلك
باجماع
العلماء وكذا أجمعوا على وصول الدعاء

Dan dalam hadits ini (hadits riwayat shahih muslim diatas)
menjelaskan bahwa shadaqah untuk mayit bermanfaat bagi mayit, dan
pahalanya disampaikan pada mayyit, demikian pula menurut Ijma
(sepakat) para ulama, dan demikian pula mereka bersepakat atas
sampainya doa doa (Syarh Imam Nawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal
90)

Maka bila keluarga rumah duka menyediakan makanan dengan maksud
bersedekah maka hal itu sunnah, apalagi bila diniatkan pahala
sedekahnya untuk mayyit. Demikian kebanyakan orang orang yang
kematian, mereka menjamu tamu tamu dengan sedekah yang pahalanya
untuk si mayyit, maka hal ini sunnah.
Lalu mana dalilnya yang mengharamkan makan dirumah duka?
Mengenai ucapan para Imam itu, yang dimaksud adalah membuat jamuan
khusus untuk mendatangkan tamu yang banyak, dan mereka tak
mengharamkan itu.
Perlu diketahui bahwa Makruh adalah jika dihindari mendapat pahala
dan jika dilakukan tidak mendapat dosa.

1. Ucapan Imam Nawawi yang anda jelaskan itu (mereka menukil imam
nawawi mengenai jamuan makan keluarga mayyit), beliau
mengatakannya tidak disukai (Ghairu Mustahibbah) bukan haram, tapi
orang wahabi mencapnya haram padahal Imam Nawawi mengatakan ghairu
mustahibbah, berarti bukan hal yang dicintai, ini berarti hukumnya
mubah, dan tidak sampai makruh apalagi haram, dan yang dimaksud
adalah mengundang orang dengan mengadakan jamuan makanan
(ittikhaadzuddhiyafah),

beda dengan tahlilan masa kini bukanlah jamuan makan, namun
sekedar makanan ala kadarnya saja, bukan jamuan. Hal ini berbeda
dalam syariah, jamuan adalah makan besar semacam pesta yang
menyajikan bermacam makanan, ini tidak terjadi pada tahlilan
manapun dimuka bumi, yang ada adalah sekedar besek atau sekantung
kardus kecil berisi aqua dan kue – kue atau nasi sederhana sekedar
sedekah pada pengunjung, maka sedekah pada pengunjung hukumnya
sunnah.

2. Imam Ibnu Hajar Al Haitsamiy menjelaskan adalah :

من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه بدعة منكرة مكروهة

mereka yang keluarga duka yang membuat jamuan demi mengundang
orang adalah hal Bid ah Munkarah yang makruh (bukan haram).

Semoga anda mengerti bahasa, bahwa jauh beda dengan rumah duka
yang menyuguhkan makanan untuk tamu yang mengucapkan bela
sungkawa, jauh berbeda dengan membuat makanan demi mengundang
orang agar datang, yang dilarang (Makruh) adalah membuat makanan
untuk mengundang orang agar datang dan meramaikan rumah, lihat
ucapan beliau, bid ah buruk yang makruh, bukan haram, jika haram
maka ia akan menyebutnya : Bid ah munkarah muharramah, atau cukup
dengan ucapan Bid ah munkarah, maka itu sudah mengandung makna
haram, tapi tambahan kalimat makruh, berarti memunculkan hukum
sebagai penjelas bahwa hal itu bukan haram.

Entahlah mereka itu tak faham bahasa atau memang sengaja
menyelewengkan makna, sebab keduanya sering mereka lakukan, yaitu
tak faham hadits dan menyelewengkan makna.

Advertisements
//graizoah.com/afu.php?zoneid=3526959

Dalam istilah istilah pada hukum syariah, sungguh satu kalimat
menyimpan banyak makna, apalagi ucapan para Muhaddits dan para
Imam, dan hal semacam ini sering tak difahami oleh mereka yang
dangkal dalam pemahaman syariahnya.

3. Ucapan Imam Ibnu Abidin Al-Hanafy menjelaskan
Ittikhadzuddhiyafah , ini maknanya membuat perjamuan besar ,
misalnya begini : Gubernur menjadikan selamatan kemenangannya
dalam pilkada dengan Ittikhadzuddhiyafah yaitu mengadakan
perjamuan. Inilah yang dikatakan Makruh oleh Imam Ibn Abidin dan
beliau tak mengatakannya haram, kebiasaan ini sering dilakukan
dimasa jahiliyah jika ada yang wafat, maksudnya menghibur keluarga
mayyit dg mengundang orang ramai dan membuat jamuan besar, itu
selalu dilakukan dimasa jahiliyah utk melupakan kesedihan.

4. Imam Ad-Dasuqi Al-Maliki berkata berkumpulnya orang dalam
hidangan makan makan dirumah mayit hukumnya Bid ah yang makruh
(bukan haram tentunya), dan maksudnya pun sama dengan ucapan
diatas, yaitu mengumpulkan orang dengan jamuan makanan, namun
beliau mengatakannya makruh, tidak sampai mengharamkannya.

Orang orang wahabi (gelar bagi penganut faham ibn abdul wahhab)
menafsirkan kalimat makruh adalah hal yang dibenci, tentu mereka
salah besar, karena Imam – Imam ini berbicara hukum syariah, bukan
bicara dicintai atau dibenci, makna makruh berbeda secara bahasa
dan secara syariah, maknanya secara bahasa adalah sesuatu yang
dibenci, namun dalam syariah adalah : “hal yang jika dilakukan
tidak dapat dosa dan jika ditinggalkan mendapat pahala”. Namun
mereka ini tidak bisa membedakan mana buku yang membahas masalah
bahasa, mana buku yang membahas hukum syariah.

5. Syaikh An-Nawawi Al-Banteni rahimahullah menjelaskan adat
istiadat baru berupa Wahsyah yaitu adat berkumpul di malam
pertama saat mayyit wafat dengan hidangan makanan macam macam,
hal ini makruh, (bukan haram).

Dan mengenai ucapan secara keseluruhan, yang dimaksud makruh
adalah sengaja membuat acara jamuan makan demi mengundang tamu –
tamu, ini yang ikhtilaf ulama antara mubah dan makruh, tapi kalau
justru diniatkan sedekah dengan pahalanya untuk mayyit maka justru
Nash (dalil) dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diatas telah
memperbolehkannya bahkan sunnah.

Dan tentunya bila mereka (keluarga mayyit) meniatkan untuk sedekah
yang pahalanya untuk mereka sendiripun maka tak ada pula yang
memakruhkannya bahkan mendapat pahala jika dilakukan.

Yang lebih baik adalah datang dan makan tanpa bermuka masam dan
merengut sambil berkata haram..haram.. dirumah duka (padahal
makruh), tapi bawalah uang atau hadiah untuk membantu mereka.

Dan masa kini pelarangan atau pengharaman untuk menghidangkan
makanan dirumah duka adalah menambah kesusahan keluarga duka,
bagaimana tidak?, bila keluarga anda wafat lalu anda melihat orang
banyak datang maka anda tak suguhkan apa apa ..?,

datang dari luar kota misalnya, dari bandara atau dari stasion
luar kota datang dengan lelah dan peluh demi hadir jenazah, lalu
mereka dibiarkan tanpa seteguk airpun..???, tentunya hal ini
sangat berat bagi mereka, dan akan sangat membuat mereka malu.

Bahkan Rasul saw memerintahkan diadakan makanan dirumah duka!!,

sebagaimana hadits beliau saw ketika didatangkan kabar wafatnya
Jakfar bin Abi Thalib : Buatkan makanan untuk keluarga (alm)
Jakfar, sungguh mereka sedang ditimpa hal – hal yang menyibukkan
mereka (Musnad Ahmad dll), hadits ini justru menunjukkan bahwa
Rasul saw memerintahkan sahabat membuat makanan untuk mereka.
Kenapa? karena pasti banyak tamunya yang menyambanginya.

kalau makanan hanya utk keluarga Jakfar, sungguh ia hanya
mempunyai istri dan anak, cukup Rasul saw berkata pada istri
beliau saw atau seorang sahabat untuk kirim makanan saja, namun
mengapa Rasul saw sampai memerintahkan dg ucapan ISHNA^UU (jamak)
buatlah kalian semua makanan untuk keluarga jakfar…”. berarti
tamu tamunya itu akan makan, dan perlu diberi makan, dan buatkan
makanan untuk membantu keluarga jakfar agar jangan kesusahan
membuat makanan untuk tamu pula, maka makan dirumah duka justru
diperbolehkan oleh Rasul saw.

Mereka membalik makna hadits ini dengan mengatakan bahwa hadits
ini dalil bahwa keluarga mayyit tak boleh menyiapkan makanan,
namun mereka lupa bahwa hadits ini justru perintah Rasul saw agar
disiapkan makanan dirumah duka, karena beliau saw bukan mengatakan
tidak boleh makan dirumah Jakfar, tapi justru buatkan makanan, dan
perintahnya jamak, Ishna uu.. yaitu : wahai kalian (bukan untuk
satu orang), ramai ramailah membuat makanan untuk keluarga Jakfar
karena mereka sedang ditimpa hal yang menyibukkan mereka . Apa?
para tamu.

Didalam Ushul dijelaskan bahwa Mandub, Hasan, Annafl, Sunnah,
Mustahab fiih (mustahibbah), Muragghab fiih, ini semua satu makna,
yaitu yutsab ala fi lihi walaa yu aqabu alaa tarkihi (diberi
pahala bila dilakukan dan tidak berdosa jika ditinggalkan).

Imam Nawawi mengatakan hal itu ghairu mustahibbah, yaitu bukan hal
yang bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak
mendapat dosa, maka jatuhlah derajatnya antara mubah dan makruh,
sekali lagi, yg dimaksud adalah jamuan, bukan sekedar suguhan ala
kadarnya.

Imam Nawawi tidak mengucapkan haram, karena bila haram beliau tak
payah payah menaruh kata ghairu mustahibbah dlsb. Beliau akan
berkata haram mutlaqan (haram secara mutlak), namun beliau tak
mengatakannya.

Dan mengenai kata Bid ah sebagaimana mereka menukil ucapan Imam
Nawawi, fahamilah bahwa Bid ah menurut WAHABI sangat jauh berbeda
dengan BID AH menurut Imam Nawawi, Imam Nawawi berpendapat bid ah
terbagi 5 bagian, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram
(rujuk Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 6 hal 164-165).

Maka sebelum mengambil dan menggunting ucapan Imam Nawawi, fahami
dulu apa maksud bid ah dalam ta rif Imam Nawawi, barulah bicara
fatwa Bid ah oleh Imam Nawawi. Bila Imam Nawawi menjelaskan bahwa
dalam bid ah itu ada yang mubah dan yang makruh, maka ucapan Bid
ah Ghairu Mustahibbah bermakna Bid ah yang mubah atau yang
makruh, kecuali bila Imam Nawawi berkata Bid ah Muharramah (Bid
ah yang haram).
Namun kenyataannya Imam Nawawi tidak mengatakannya haram, maka
hukumnya antara Mubah dan makruh.

Untuk ucapan Imam Ibn Hajar inipun jelas, beliau berkata Bid ah
Munkarah Makruhah, (Bid ah tercela yang makruh), karena Bid ah
tercela itu tidak semuanya haram.

Sebagaimana masa kini sajadah yang padanya terdapat hiasan –
hiasan warna warni membentuk pemandangan atau istana – istana
dan burung burung misalnya, ini adalah bid ah buruk (munkarah)
yang makruh, tidak haram untuk memakainya shalat, tidak batal
shalat kita menggunakan sajadah semacam itu, namun bid ah buruk
yang makruh, tidak haram, karena shalatnya tetap sah, dan tidak
dosa, namun jika ditinggalkan mendapat pahala
.
Hukum darimana makruh dibilang haram?, makruh sudah jelas makruh,
hukumnya yutsab ala tarkihi wala yu aqabu ala fi lihi (mendapat
pahala bila ditinggalkan dan tidak mendapat dosa bila dilakukan).
Dan yang dimakruhkan adalah menyiapkan makanan untuk mengundang
orang, beda dengan orang datang lalu shohibul bait menyuguhi.

Berkata Shohibul Mughniy :

فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم
وشغلا ل
إلى شغلهم وتشبها بصنع أهل الجاهلية

Bila keluarga mayyit membuat makanan untuk orang orang, maka
makruh, karena hal itu menambah atas musibah mereka dan
menyibukkan, dan meniru niru perbuatan jahiliyah. (Almughniy Juz
2 hal 215)

mereka menggunting ucapan shohibul Mughniy sampai disini saja
padahal ada keterusannya :

Lalu Shohibul Mughniy menjelaskan kemudian :

وإن دعت الحاجة إلى ذلك جاز فإنه ربما جاءهم من يحضر ميتهم من القرى
والأماكن
البعيدة ويبيت عندهم ولا يمكنهم إلا أن يضيفوه

Bila mereka melakukannya karena ada sebab atau hajat, maka hal itu
diperbolehkan, karena barangkali diantara yang hadir mayyit mereka
ada yang berdatangan dari pedesaan, dan tempat – tempat yang jauh,
dan menginap dirumah mereka, maka tak bisa tidak terkecuali mereka
mesti dijamu (Almughniy Juz 2 hal 215).

(disini hukumnya berubah, yang asalnya makruh, menjadi mubah
bahkan hal yang mulia, karena tamu yang berdatangan dari jauh,
maka jelaslah kita memahami bahwa pokok permasalahan adalah pada
keluarga duka dan kebutuhan tamu)

Dijelaskan bahwa yang dimaksud adat jahiliyyah ini adalah membuat
jamuan besar, mereka menyembelih sapi atau kambing demi mengundang
tamu setelah ada kematian, ini makruh hukumnya, sebagian ulama
mengharamkannya, namun beda dengan orang datang karena ingin
menjenguk, lalu shohibulbait menyuguhi ala kadarnya, bukan kebuli
dan menyembelih kerbau, hanya makanan sederhana sekedar hadiahan
dan sedekah.

Baiklah jika sebagian saudara kita masih belum tenang, maka
riwayat dibawah ini semoga dapat menenangkan mereka :

Dari Ahnaf bin Qeis ra berkata : Ketika Umar ra ditusuk dan
terluka parah, ia memerintahkan Shuhaib untuk membuat makanan
untuk orang – orang (Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar pada
Mathalibul Aliyah Juz 1 hal 199 No.709, dan ia berkata sanadnya
Hasan)

Dari Thaawus ra : Sungguh mayyit tersulitkan di kubur selama 7
hari, maka merupakan sebaiknya mereka memberi makan orang orang
selama hari hari itu (Diriwayatkan Oleh Al Hafidh Imam Ibn Hajar
pd Mathalibul Aliyah Juz 1 hal 199 dan berkata sanadnya Kuat).

Mengenai pengadaan makanan dan jamuan makanan pada rumah duka
telah kuat dalilnya sebagaimana sabda Rasul saw : Buatlah untuk
keluarga Jakfar makanan sungguh mereka telah ditimpa hal yang
membuat mereka sibuk (diriwayatkan oleh Al Imam Tirmidziy No.998
dengan sanad hasan, dan di Shahihkan oleh Imam Hakim Juz 1/372)

Demikian pula riwayat shahih dibawah ini :

فلما احتضرعمر أمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثة أيام ، وأمر أن يجعل
للناس طعام فيطعموا حتى يستخلفوا إنسانا ، فلما رجعوا من الجنازة جئ
بالطعام ووضعت الموائد، فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه ، فقال
العباس بن عبد المطلب : أيها الناس !، إن رسول الله صلى الله عليه
وسلم قد مات فأكلنا بعده وشربنا ومات أبو بكر فأكلنا بعده وشربنا
وإنه لابد من الاجل فكلوا من هذا الطعام ، ثم مد العباس يده فأكل ومد
الناس أيديهم فأكلوا

Ketika Umar ra terluka sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada
Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama
3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan –
hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya,
maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib ra : Wahai hadirin..,
sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum
setelahnya, lalu wafat Abubakar ra dan kita makan dan minum
sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang mesti, maka makanlah
makanan ini..! , lalu beliau ra mengulurkan tangannya dan makan,
maka orang orang pun mengulurkan tangannya masing – masing dan
makan.
(Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul
ummaal fii sunanil aqwaal wal af al Juz 13 hal 309, Thabaqatul
Kubra Li Ibn Sa d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al
Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110)

Kini saya ulas dengan kesimpulan :
1. Membuat jamuan untuk mengundang orang banyak dengan masakan
yang dibuat oleh keluarga mayyit hukumnya makruh, walaupun ada
yang mengatakan haram namun Jumhur Imam dan Muhadditsin
mengatakannya Makruh.
2. Membuat jamuan dengan tujuan sedekah dan pahalanya untuk mayyit
hukumnya sunnah, sebagaimana riwayat Shahih Bukhari seorang wanita
mengatakan pada Nabi saw bahwa ibuku wafat, dan apakah ibuku
mendapat pahala bila aku bersedekah untuknya?, Rasul saw menjawab
: Betul (Shahih Bukhari hadits No.1322), bukankah wanita ini
mengeluarkan uangnya untuk bersedekah..?,
3. Menghidangkan makanan seadanya untuk tamu yang datang saat
kematian adalah hal yang mubah, bukan makruh, misalnya sekedar
teh, atau kopi sederhana.
4. Sunnah Muakkadah bagi masyarakat dan keluarga tidak datang
begitu saja dengan tangan kosong, namun bawalah sesuatu, berupa
buah, atau uang, atau makanan, dengan landasan sabda Rasul saw :
Buatlah makanan untuk keluarga Jakfar, sungguh mereka sedang
dirundung kesedihan
5. Makan makanan yang dihidangkan oleh mereka tidak haram, karena
tak ada yang mengharamkannya, bahkan sebagaimana riwayat yang
telah saya sebutkan bahwa Umar bin Khattab ra memerintahkan untuk
menjamu tamunya jika ia wafat
6. Boleh saja jika keluarga mayyit membeli makanan dari luar atau
catering untuk menyambut tamu tamu, karena pelarangan akan hal
itulah yang akan menyusahkan keluarga mayyit, yaitu memasak dan
merepotkan mereka.
7. Makruh jika membuat hidangan besar seperti hidangan pernikahan
demi menyambut tamu dirumah duka

Mengenai fatwa Imam Syafii didalam kitab I^anatutthaalibin, yang
diharamkan adalah Ittikhadzuddhiyafah, (mengadakan jamuan besar),
sebagaimana dijelaskan “Syara^a lissurur”, yaitu jamuan makan
untuk menghilangkan sedih dan membuat kegembiraan. Namun bila
diniatkan untuk sedekah, walau menyembelih 1.000 ekor kerbau
selama 40 hari 40 malam atau menyembelih 1.000 ekor kambing selama
100 hari atau bahkan tiap hari sekalipun, hal itu tidak ada
larangannya, bahkan mendapat pahala.
.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=25682© https://carauntuk.com/masalah-hadist-20100727

- Advertisement -
cu.adminhttp://carauntuk.com
Nama: Arie Ibrahim | Lahir : 16 january 1987 | Lulus : SMA 28 Oktober 1928 jakarta Selatan Tahun 2005 | Keahlian : dibidang komputer. | Ketertarikan: ilmu komputer, ilmu Quran, dan Ilmu Fisika. | Kontak : arie@carauntuk.com adpit31@gmail.com | Pesan : semoga artikel diatas bermanfaat bagi saya pribadi dan yang membutuhkannya, Terimakasih
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

al faqir ilakum ya

Abu al faqir ilakum ya habib - 2010/07/31 15:25 Assalamu alaikum ! Saniyyah Semoga rahmah dan inayah Allah selalu terlimpahkan...
- Advertisement -

kabar habib – 2010/07/31

abuamar kabar habib - 2010/07/31 06:07 Assalamualikum wr.wb Limpahan kesehatan semoga tercurah kepada habibana... bagaimana kabar habib? lewat forum ini...

konsultasi masalah – 2010/07/30

didinkusnadi konsultasi masalah - 2010/07/30 18:12 assalamu ^alaikum wr.wb. afwan Bib klo merepotkan lg. semoga Habib selalu di berkahi Allah dalam...

Gimana ya Abah Habib…

anangbanjar01 Gimana ya Abah Habib... - 2010/07/30 16:12 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Alhamdulillah..segala puji bagi Allah dan salawat dan salam ...

Related News

al faqir ilakum ya

Abu al faqir ilakum ya habib - 2010/07/31 15:25 Assalamu alaikum ! Saniyyah Semoga rahmah dan inayah Allah selalu terlimpahkan...

kabar habib – 2010/07/31

abuamar kabar habib - 2010/07/31 06:07 Assalamualikum wr.wb Limpahan kesehatan semoga tercurah kepada habibana... bagaimana kabar habib? lewat forum ini...

konsultasi masalah – 2010/07/30

didinkusnadi konsultasi masalah - 2010/07/30 18:12 assalamu ^alaikum wr.wb. afwan Bib klo merepotkan lg. semoga Habib selalu di berkahi Allah dalam...

Gimana ya Abah Habib…

anangbanjar01 Gimana ya Abah Habib... - 2010/07/30 16:12 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Alhamdulillah..segala puji bagi Allah dan salawat dan salam ...

sholat lailatul sya^ban dan

anwy sholat lailatul sya^ban dan kitab lima mazhab - 2010/07/30 15:25 Assalamu^alaikum wrwb. semoga habibiy al habib munir...
- Advertisement -