alfatih Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/05 01:11 Assalamu^alaikum ustadz,

innal hamdalillah wa sholatu wa salamu ^ala Rasulillah wa ba^d
Setelah ana baca artikel dengan judul Bid^ah, sepertinya ana ada
perbedaan pemahaman dengan ulasan ustadz karena sepengetahuan ana
dalil-dalil yang digunakan sama sekali bukan ditujukan
dibolehkannya bid^ah hasanah tetapi sunnah hasanah.

Mungkin untuk memberikan pemahaman pembanding ana dapatkan tulisan
dari link berikut yang mengupas secara lebih detail sebanyak empat
Bab, semoga ustadz tidak keberatan untuk membacanya. syukron
katsir

http://www.al-firdaus.com/BidahHasanah/Bab1.htm

Dengan demikian semoga duduk perkaranya semakin jelas

Barakallafu fiik
Wassalamu^alaikum warahmatullahi wa barakatuh

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/06 07:47 Alaikumsalam
warahmatullah wabaraktuh,

Rahmat dan Ketenangan Jiwa semoga selalu menghiasi hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
penjelasan saya telah jelas, mengenai artikel yg ditulis oleh si
fulan itu bila anda mempercayainya maka silahkan saja, saya tak
punya waktu untuk mempelajari puluhan halaman hanya untuk
membuktikan bahwa darah itu berwarna kuning,

Karena masalah ini telah jelas bagi kami dan bukan merupakan hal
yg perlu dipertanyakan lagi, kami mempunyai sanad,

Kami ahlussunnah waljamaah memahami siapa imam imam kami dan
bagaimana fatwa mereka, kami bicara bukan dengan menggunting
kalimat dan menukil, kami bicara dg sanad,
Saya bicara fatwa Imam Syafii dan saya memiliki sanad kepada Imam
Syafii, saya bicara hadits Bukhari dan saya mempunyai sanad kepada
Imam Bukhari, saya bicara fatwa Imam Nawawi saya mempunyai sanad
pada Imam Nawawi, saya bicara fatwa Imam Assuyuthi saya mempunyai
sanad kepada Imam Assuyuthiy,

Kami ahlussunnah waljamaah sudah memahami fatwa imam imam kami,
tak bisa dikaburkan dengan potongan potongan kalimat perusak agama
di akhir zaman yg membolak balikkan maknanya lalu berfatwa
semaunya.

anda ingin membantahnya,

Anda sebaiknya belajarlah bahasa arab, jangan mengutip artikel2
terjemah tulisan orang yg tak jelas, karena anda bisa ditipu, coba
buka sumber2nya itu, pelajari dg seksama,

Karena dikalangan ahlussunnah waljamaah semua fatwa dari orang yg
tak memiliki sanad adalah bathil, sebagaimana ucapan Imam Syafii :
Tiada ilmu tanpa sanad

Siapa yg menjamin shalat kita betul?, buku kah?, siapa yg menjamin
pendapat kita benar?, buku kah?, siapa yg membimbing kita?,

Saudaraku yg kumuliakan, inilah nasihat saya, bila anda merasa tak
berkenan dg artikel saya maka silahkan bantah, saya akan jelaskan
poin2nya, saya siap bertanggung jawab atas isinya, gunakan dalil
yg jelas, bukan menumpukkan dan mengutip2 artikel orang lain
setebal puluhan halaman yg anda tak mengenalnya,

karena berhujjah dg buku buku terjemah adalah hujjah yg sangat
dhoif, apalagi berhujjah menentang suatu hukum hanya dg
berdalilkan artikel terjemahan yg anda tak kenal pula siapa dia
dan tak tahu apakah orang itu berilmu atau hanya menukil nukil
pula,

Anda pelajari saja artikel itu, lalu anda pelajari artikel saya,
mana yg anda tak faham silahkan tanyakan, saya sangat sibuk sekali
untuk mengumbar waktu membaca tulisan artikel puluhan halaman dari
orang yg tak jelas sanadnya, hanya berfatwa dari kepalanya dan
menukil dari buku buku, karena Imam Imam kami telah jelas
fatwanya,

mereka ini menukil fatwa Imam Syafii, Imam Nawawi, Imam Ibn Rajab,
dan memujinya, menyanjungnya, namun mereka tetap wahabi, mereka
tak bermadhzabkan syafii, mereka tak bermazhab hanbali sebagaimana
Imam Ibn Rajab,

semua perbuatan mereka hanya menukil nukil demi menjatuhkan tanpa
ada keinginnan berpanut pada Imam Syafii, atau para Muhadditsin yg
mereka sebutkan, mereka tetap hanya punya satu panutan, yaitu Ibn
abdulwahab,

semua pujian pujian atas imam imam itu hanya kamuflase dan
mengaburkan makna, mereka sendiri tak bermadzhab syafii,
sebagaimana Imam Nawawi yg bermadzhab syafii, atau memanut imam
lainnya, mereka hanya munafik saja, bertujuan debat dan tak lebih
dari itu,

hal hal ini baiknya menjadi perbandingan bagi anda,

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu.

wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

alfatih Re:Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/09 03:04 Assalamu^alaikum
warahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillahi ladzi arsala Rasulahu bi al-huda wa dien al-haq,
liyudzhirohu ^ala ad-Dieni kullihi wa lau karihal musyrikun. Wa
ba^d

Jazakallauhu atas penjelasan ustadz yang sangat panjang. Afwan ana
tidak bisa mewujudkan keinginan ustadz untuk membantah artikel
tersebut, karena ana tidak menginginkan adanya perdebatan.

Lagipula bantahan terhadap artikel tersebut sudah sangat banyak
dan insya Allah tsiqoh dan dapat dipertanggung jawabkan pula
secara dakwah dan ilmu, karena penulisnya pun memiliki ilmu yang
cukup. Jadi ana tetap berpegang bahwa kullu bid^atin dholalah
(setiap bid^ah sesat) tidak ada bid^ah hasanah.

Kemudian mengenai sanad sepengetahuan ana ulama manapun yang
memiliki kemampuan berijtihad akan mengatakan ia memiliki sanad
guru termasuk ulama-ulama yang kurang diminati oleh ustadz. Ana
memiliki ustadz yang sanadnya pun sampai ke Imam Muslim jadi ana
melihat anomali dari mereka yang terlalu membenci wahabi namun
hakekatnya tidak mengetahui dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab
rahimahullah.

Tentang sran ustadz agar ana belajar bahasa arab ana sangat
perhatikan, karena alhamdulillah ana sedikit banyak mempelajari
pula kitab-kitab asli tim-teng, bukan terjemahan. Sudah lama ana
tinggalkan buku-buku terjemahan. Dan artikel yang ana nukilkanpun
menyertakan tex bahasa arab yang aslinya, seperti perkataan Imam
as-Syaitibi dan Imam As-Syafi^i dll. sehingga ana berkesimpulan
tidak ada yang dipolitisir untuk mencari kemenangan semata. Karena
kalau kemenangan yang dicari ana ikhlas melepaskannya. Bagi ana
ilmu tidak akan habis digali, siapapun bisa mengatakan
pemahamannya sesuai dengan kebenaran selagi ia mampu berhujjah
secara ilmiah berdasarkan al-Qur^an dan sunnah

Demikian ustadz sekali lagi syukron atas penjelasn ustadz dan ana
mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan ustadz. Semoga
Allah ta^ala menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.

Barakallau fiik
Wassalamu^alaikum warahmatulahi wa barakatuh

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/10 01:51 Alaikumsalam
warahmatullah wabaraktuh,

Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari
anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
kesimpulannya, anda hanya menukil saja, mengadu domba antara kami
dan mengadu antara dua artikel, dan anda sendiri tak memberi
pendapat apa apa selain menyalahkan artikel saya.

anda tidak pula menyangkal sehurufpun dari artikel saya,

berarti Alhamdulillah anda insya Allah bersama saya, mengakui
kebenaran bahwa Bid^ah hasanah itu adalah hal yg baik, ok, saya
ulas lagi sebagian dari artikel saya, pendapat yg datang bukan
dari tukang ketoprak, tapi dari para Imam dan muhaddits, silahkan
periksa sendiri dalam kitab aslinya, saya bukan mengambil dari
terjemahan.

Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid ah

1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii
rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid ah terbagi dua, yaitu bid ah
mahmudah (terpuji) dan bid ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan
dg sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah
adalah tercela, beliau berdalil dg ucapan Umar bin Khattab ra
mengenai shalat tarawih : inilah sebaik baik bid ah . (Tafsir
Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam
Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi :
seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid ah
adalah dhalalah (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid
atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal hal yg tidak sejalan dg
Alqur an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu
anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits
lainnya : Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam,
maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak
berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat
hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang
yg mengikutinya (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini
merupakan inti penjelasan mengenai bid ah yg baik dan bid ah yg
sesat . (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf
Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
Penjelasan mengenai hadits : Barangsiapa membuat buat hal baru
yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg
mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan
barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya , hadits ini
merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan
ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini
terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : semua yg baru
adalah Bid ah, dan semua yg Bid ah adalah sesat , sungguh yg
dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid ah yg tercela .
(Syarh Annawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid ah menjadi 5,
yaitu Bid ah yg wajib, Bid ah yg mandub, bid ah yg mubah, bid ah
yg makruh dan bid ah yg haram.
Bid ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada
ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid ah yg mandub
(mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila
ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun
majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam
macam dari jenis makanan, dan Bid ah makruh dan haram sudah jelas
diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari
makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih
bahwa inilah sebaik2 bid ah . (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim
Juz 6 hal 154-155)

Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
rahimahullah
Mengenai hadits Bid ah Dhalalah ini bermakna Aammun makhsush ,
(sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah :
yg Menghancurkan segala sesuatu (QS Al Ahqaf 25) dan
kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : Sungguh
telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin
dan manusia keseluruhannya QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya
bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna
keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen)
atau hadits : aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini (dan
kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw)
(Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan
pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati
darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau
seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh
atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya
menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa
memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

Walillahittaufiq

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

alfatih Re:Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/10 03:20 Assalamu^alaikum
warahmatullahi wa barakatuh,

Al-Habib yang semoga Allah muliakan,

Bolehkah ana tanya satu hal, begini habib:

Hadits Muslim No. 1017 yang habib kutip, setahu ana dalam lafazh
aslinya tertulis: “man sanna fil islami sunnatan hasanatan” yang
artinya bahwa kata “man sanna” adalah “barangsiapa yang melakukan
amalan” sebagai penerapan dari syariat yang ada karena dilanjutkan
dengan kalimat “fil islami” (di dalam islam). Artinya amalan
tersebut ada tempat kembali (asalnya) dalam syariat. Bukan sesuatu
yang baru.

Namun habib mentranslate “man sanna” dengan “barangsiapa yang
melakukan hal baru”. Ini yang membuat bias arti terjemahannya
karena padanan kata dalam bahasa indonesia sulit mengikuti
kekayaan kosa-kata dan maksud kalimat dalam bahasa arab.

Kemudian perkataan para imam berikut dalam menafsirkan perkataan
Umar ra:

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Paling jauh dalam hal bahwa
Umar menyebutkan sebagai bid^ah yang dianggap baik, namun
merupakan penamaan menurut tinjauan bahasa saja, bukan menurut
syara^. Karena “bid^ah” dalam pengertian bahasa meliputi segala
apa yang dikerjakan pertama kali tanpa ada contoh sebelumnya.
Adapun bid^ah menurut syara^ adalah segala sesuatu yang tidak ada
dalilnya dalam syara^[Tafsir Ibni Katsir, terhadap surat
al-Baqarah ayat 117]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Bid^ah itu ada dua macam, yakni
pertama menurut syara^ seperti sabda Raulullahi Shallallahu
^alaihi wa sallam,”Karena sesungguhnya setiap perkara yang
dibuat-buat dalam agama adalah bid^ah dan setiap bid^ah itu
sesat”. Sedangkan kedua menurut bahasa, sebagaimana perkataan Umar
bin Khaththab mengenai perbuatannya ketika mengumpulkan
orang-orang untuk shalat tarawih dan secara kontinyu,”inilah
sebaik-baik bid^ah”.[Jaami^ul ^Uluum Wal-Hikam, no.28]

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata: “Adapun apa yang
terdapat pada perkataan para ulama salaf mengenai adanya anggapan
BAIK terhadap sebagian bid^ah, maka yang dimaksud adalah bid^ah
lughawiyyah (menurut bahasa), bukan syar^iyyah (menurut agama).
Diantaranya adalah perkataan Umar:”Inilah sebaik-baik bid^ah”.
Maksudnya adalah perbuatan tersebut belum ada dengan cara demikian
pada saat itu, namun sebelumnya ia mempunyai asal dari syariat
yang dijadikan rujukan.[Tafsiirul Manaar 9/660 melalui Ilmu
Ushulul Bida^ oleh Syaikh Ali Hasan]

Demikian habib mohon penjelasannya. Afwan atas tulisan yang kurang
berkenan.
Wallahu al-Musta^an

Wassalamu^alaikum warahmatullahi wa barakatuh

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

pancay Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/10 03:55
Assalamualaikum Wr Wb

Pancaran ilmu Alloh semoga slalu menyinari Habibana..Amiin

Afwan bib..
Ane mau tanggapin ^mereka^ sedikit…

“Website ini KHUSUS Ahlussunnah wal Jamaah,adapun Wahabby,Salafi
dlsb DILARANG masuk kecuali yg mencari kebenaran”

Kayaknya orang2 ini(wahaby) ga bakalan “mau ngarti”.capee..deh.

-Bukti pertama:

Bila Alloh Tidak Ridho dengan Ahlussunah wal jamaah(DEngan
Maulid,Tahlil,Tabaruk,tawassul,Bid,ah hasanah dll) pastilah ajaran
ini sudah tidak adalagi di muka bumi,tp kenyataannya Alhamdullilah
tetap eksis..

.Dengan Maulid,Tahlillan,majelis ta^lim kami Syiar,Dengan apa anda
men syiarkan Agama Alloh?
.Al Quran mana yg anda baca kalau tidak dgn adanya Bid^ah Hasanah?
.hadis mana yg anda gunakan sbg hujjah kalau tidak ada Bid^ah
Hasanah?

-Bukti kedua:

Sejak Zaman Wali Songo(semoga Alloh memberkati mereka) dengan cara
Dakwah mereka yg halus dan telaten.Alhamdullilah Indonesia jauh
dari musibah2 besar..

Ini lah sedikit bukti yg kongkrit bahwa Ahlussunnah wal Jamaah yg
kita yakini di Ridhoi ALLOH SWT.

Oleh itu Mari Saudara-Saudara Ku yg istiqomah dgn Ahlussunnah wal
Jamaah Rapatkan BARISAN jangan sampai “mereka” mengacak-acak” Bumi
Ahlussunnah wal Jamaah.

-Tuk ^mereka^ jangan ganggu ketentraman bumi^Kami^
-jalankan keyakinan anda..jangan membesar2kan masalah yg FURU^-
-Berkacalah dimana anda berada…….

Afwan ya Habib

Insya Alloh,kita semua dimuliakan Alloh SWT…Amiin

Wassalamualaikum wr wb.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Saqqaf Re:Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/10 08:30 alfatih tulis:

………. Diantaranya adalah perkataan Umar:”Inilah sebaik-baik
bid^ah”. Maksudnya adalah perbuatan tersebut belum ada dengan cara
demikian pada saat itu, namun sebelumnya ia mempunyai asal dari
syariat yang dijadikan rujukan.[Tafsiirul Manaar 9/660 melalui
Ilmu Ushulul Bida^ oleh Syaikh Ali Hasan] ………

Demikian berarti antum sudah mengetahui dalilnya Dan Maulid,
tahlil, serta segala macam yang dibid^ahkan oleh sebagian golongan
dari antum sudah ada dalil-dalil rujukannya… diterangkan tuntas
oleh habib dalam artikel di web ini dan dalam bukunya Aqlan wa
syar^an…

Jadi sepertinya tidak ada masalah besar.. dan tidak perlu
dibesar-besarkan lagi.
Ya Habibana Mundzir… Ana kangen antum bib.. Ga sabar ana nunggu
malem jum^at nih..

Maassalamah ya habibiy
Wassalamu^alaikum warahmatullahi wabarakatuh

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

MuhammadSulton Re:Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/10 21:17
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Semoga Allah SWT selalu mencurahkan kebahagiaan dan rahmatNYA
pada diri kita yg dhoif ini.

Perihal penulis di web http://www.al-firdaus.com/BidahHasanah/
Bab1.htm yg bernama Dr. Mohd Asri Zainul Arifin memang seorang
mufti di daerah perlis (mufti daerah) malaysia.
Dan saat ini beliau sedang bermasalah dengan para Habaib se
Malaysia krn menghina ahlul bait Rasulullah SAW.

Saya pernah baca permasalah tersebut di majalah AlKisah
(silahkan cek sendiri ke Alkisah) yg salah satu point ejekan
beliau adalah bahwa “dzikir yg dilakukan / diamalakan oleh
orang orang di Hadramaut membuang buang waktu saja”.
(Mungkin Habib Mundzir bisa lansung mengecek dengan para
Habaib di Malaysia atas brita tersebut.)
Saat itu para Habaib di Malaysia bereaksi dengan mengundang
(secara resmi dgn surat) debat terbuka atau tertutup kepada
beliau namun saya sampai saat ini tak tahu pasti apakah beliau
bersedia hadir di debat tersebut atau tidak.

Saya lampirkan sepenggal informasi yg Insya Allah bermanfaat
bagi kita semua khususnya bagi diri saya.
http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/05/
siri-1-membongkar-kesesatan-muftin-asri.html

Demikianlah sepenggal informasi yg saya peroleh.
Wallahu^alam

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

ratno Re:Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/10 22:06
ASSLAMUALAIKUM

SAYA MENDUNGKUNG MU..PANJAY…..

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/11 00:26
Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari
anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
sanna ini luas maknanya, dan sebagaimana saya telah mengutip
penjelasan dari para Muhadditsin bahwa yg dimaksud adalah hal yg
berupa perbuatan yg baru dalam islam, (baru namun tak bertentangan
dg syariah) karena kejadian perbuatan shadaqah yg terjadi dalam
hadits itu adalah hal baru, memang shadaqahnya adalah hal yg sudah
masyru , namun perbuatan sahabat itu adalah hal yg baru demi
mengajak sahabat lainnya mau bersedekah.

Dan bila yg dimaksud adalah sunnah Nabi saw yg telah ada, maka
mustahil ada sunnah yg buruk sebagaimana hadits tersebut,
barangsiapa yg membuat hal baru dalam islam berupa hal buruk

Demikian pula dalam penjilidan Al Qur an sebagaimana artikel yg
saya tulis :

Siapakah yg pertama memulai Bid ah hasanah setelah wafatnya Rasul
saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul
yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur an dan Ahli
Alqur an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra,

berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : Sungguh
Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas
ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada
para Ahlulqur an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq
ra) mengumpulkan dan menulis Alqur an, aku berkata : Bagaimana aku
berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??,

maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan
dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah
menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg
Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak
menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat
wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur an dan
tulislah Alqur an..!

berkata Zeyd : Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan
sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu
padaku untuk mengumpulkan Alqur an, bagaimana kalian berdua
berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw?? , maka
Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga
iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju
dan kini aku sependapat dg mereka berdua dan aku mulai
mengumpulkan Alqur an . (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar
shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : Bagaimana aku berbuat
sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah?? (BID AH) , lalu beliau
berkata : sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan
kini aku sependapat dg Umar ,

hatinya jernih menerima hal yg baru (bid ah hasanah) yaitu
mengumpulkan Alqur an, karena sebelumnya alqur an belum
dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan
sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll,
ini adalah Bid ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya.

Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan
(menghilangkan) Bid ah hasanah mengenai semua bid ah adalah
kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat
subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg
membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami
berkata : Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk
perpisahan , maka beri wasiatlah kami..

maka rasul saw bersabda : Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa
kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin
oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur
panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat,
maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa
urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dg
geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah
dengan hal hal yg baru, sungguh semua yg Bid;ah itu adalah
kesesatan . (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).

Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti
sunnah beliau dan sunnah khulafa urrasyidin, dan sunnah beliau saw
telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar
syariah, dan sunnah khulafa urrasyidin adalah anda lihat sendiri
bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui
bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak
dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur an, lalu pula
selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dg
persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah
dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa
Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula
dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn
Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits
no.873).

Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti
larangan Bid ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa
urrasyidin ini tak faham makna Bid ah?

saya melihat Kitab Jami ul Ulum walhikam halaman 28 dan pembahasan
anda tidak saya dapatkan, apakah anda membacanya sendiri atau
menukil dari orang lain sebelum membuktikannya?, atau jika memang
tertulis di Jamiul ulum wal hikam dapatkah anda copy Paste pada
saya agar jelas bahwa ada tertulis ucapan demikian.

mengenai ucapan Al Hafidh Imam Ibn Rajab, beliau tidak melarang
hal yg baru, namun harus ada sandaran dalil secara logika atau
naqli nya, maka bila orang yg bicara hal baru itu punya sandaran
logika dan sandaran Naqli nya, maka terimalah, sebagaimana ucapan
beliau :

وهذا الحديث من قواعد الدين لأنه يندرج تحته من الأحكام ما لا يأتي
عليه الحصر وما مصرحه وأدله على إبطال ما فعله الفقهاء من تقسيم
البدع إلى أقسام وتخصيص الردببعضها بلا مخصص من عقل ولا نقل
فعليك إذا سمعت من يقول هذه بدعة حسنة بالقيام في مقام المنع مسندا
له بهذه الكلية وما يشابهها من نحو قوله صلى الله عليه وآله وسلم كل
بدعة ضلالة طالبا لدليل تخصيص تلك البدعة التي وقع النزاع في شأنها
بعد الاتفاق على أنها بدعة فإن جاءك به قبلته وإن كاع كنت قد ألقمته
حجرا واسترحت من المجادلة

hadits hadits ini merupakan kaidah kaidah dasar agama karena
mencakup hukum hukum yg tak terbatas, betapa jelas dan terangnya
dalil ini dalam menjatuhkan perbuatan para fuqaha dalam pembagian
Bid ah kepada berbagai bagian dan mengkhususkan penolakan pada
sebagiannya (penolakan thd Bid;ah yg baik) dengan tanpa
mengkhususkan (menunjukkan) hujjah dari dalil akal ataupun dalil
tulisan (Alqur an/hadits),

maka bila kau dengar orang berkata : ini adalah Bid ah hasanah ,
dg kau mengambil posisi melarangnya dg bertopang pada dalil bahwa
keseluruhan Bid;ah adalah sesat dan yg semacamnya sebagaimana
sabda Nabi saw : semua Bid ah adalah sesat dan (kau) meminta
dalil pengkhususan (secara aqli dan naqli) mengenai hal Bid ah yg
menjadi pertentangan dalam penentuannya (apakah itu bid;ah yg baik
atau bid ah yg sesat) setelah ada kesepakatan bahwa hal itu Bid;ah
(hal baru), maka bila ia membawa dalilnya (tentang Bid ah hasanah)
yg dikenalkannya maka terimalah, bila ia tak bisa membawakan
dalilnya (aqlan wa syar an) maka sungguh kau telah menaruh batu
dimulutnya dan kau selesai dari perdebatan (Naylul Awthaar Juz 2
hal 69-70).

Jelaslah bahwa ucapan Imam Asyaukaniy menerima Bid;ah hasanah yg
disertai dalil Aqli (Aqliy = logika) atau Naqli (Naqli = dalil
Alqur an atau hadits), bila orang yg mengucapkan pada sesuatu itu
Bid ah hasanah namun ia tak bisa mengemukakan alasan secara
logika, atau tak ada sandaran Naqli nya maka pernyataan tertolak,
bila ia mampu mengemukakan dalil logikanya, atau dalil Naqli nya
maka terimalah.

Jelas jelas beliau mengakui Bid ah hasanah.

وقال ابن رجب في كتابه جامع العلوم والحكم ما لفظه جوامع الكلم التي
خص بها النبي صلى الله عليه وسلم نوعان أحدهما ما هو في القران كقوله
تعالى إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن
الفحشاء والمنكر والبغي قال الحسن لم تترك هذه الاية خيرا إلا أمرت
به ولا شرا إلا نهت عنه والثاني ما هو في كلامه صلى الله عليه وسلم
وهو منتشر موجود في السنن المأثورة عنه صلى الله عليه وسلم انتهى

Berkata Ibn Rajab dalam kitabnya Jami ul Uluum walhikam bahwa
lafadhnya : kumpulan seluruh kalimat yg dikhususkan pada nabi saw
ada dua macam, yg pertama adalah Alqur an sebagaimana firman Nya
swt : Sungguh Allah telah memerintahkan kalian berbuat adil dan
kebaikan, dan menyambung hubungan dg kaum kerabat, dan melarang
kepada keburukan dan kemungkaran dan kejahatan berkata Alhasan
bahwa ayat ini tidak menyisakan satu kebaikanpun kecuali sudah
diperintahkan melakukannya, dan tiada suatu keburukan pun kecuali
sudah dilarang melakukannya.
Maka yg kedua adalah hadits beliau saw yg tersebar dalam semua
riwayat yg teriwayatkan dari beliau saw. (Tuhfatul Ahwadziy Juz 5
hal 135)
maaf kalau saya merepotkan anda dengan meminta penjelasan, saya
senang bila anda bertanya satu persatu seperti ini hingga tak
menyita waktu dalam membahasnya, kita bisa saling memperjelas,
Baarakallahufiikum.

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a^lam
[size=3][/size]

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

WIDAYAT Re:Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/11 02:50
Assalamu^alaikum.

Semoga limpahan Rahmat selalu tercurah pada Habib dan keluarga,

Sungguh ana sangat dapat mengambil manfaat dengan apa yang
disampaikan Habib terhadap masalah Bid^ah ini, semoga benang kusut
(bid^ah) yang selama ini menyelimuti umat Islam ini akan cepat
terurai.

Dan untuk mas Alfatih, ana juga mengucapkan terima kasih dan salam
hangat dari ana, semoga antum selalu dalam lindungan dan kasih
sayang Allah, dengan inisiatif Mas Alfatih, Habib Munzir mau
mengurai masalah Bid^ah ini dengan segala ilmu yang dimilikinya,
semoga hal ini kalau benar adanya tidak akan menutup kemungkinan
mas Alfatih akan kembali lagi ke pangkuan Ahlussunnah Wal Jamaah.

Untuk teman2 dan saudara2 yang lain, kedepankan sikap santun,
lemah lembut dan kasing sayang terhadap sesama Muslim.

Semoga Habib mau meneruskan pembicaraan mengenai Bid^ah ini dengan
sejelas-jelasnya,

Sekali lagi salam ana buat Habib dan Keluarga, semoga selalu dalam
limpahan kasih sayang Allah, dan semoga sakitnya cepat digantikan
dengan kesembuhan (karena saya lihat senen malam selasa kemarin
Habib pakai tongkat untuk berdiri).

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

khunthai Re:Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/11 07:55
Assalamu^alaikum wrwb
Semoga kemuliaan dan kesehatan selalu menyertai habib Munzir
sekeluarga.. amien.

Alhamdulillah ..penjelasan habib munzir sangat mencerahkan kami.
Tapi ada yang sedikit mengganggu, tentang ini,
mengenai ucapan Al Hafidh Imam Ibn Rajab, beliau tidak melarang
hal yg baru, namun harus ada sandaran dalil secara logika atau
naqli nya, maka bila orang yg bicara hal baru itu punya sandaran
logika dan sandaran Naqli nya, maka terimalah, sebagaimana ucapan
beliau :

……………….

Jelaslah bahwa ucapan Imam Asyaukaniy menerima Bid;ah hasanah yg
disertai dalil Aqli (Aqliy = logika) atau Naqli (Naqli = dalil
Alqur an atau hadits),

Yang benar..Imam Ibn Rajab ataukah Imam Asyaukamiy?

Terima kasih pak habib penjelasannya.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/11 23:47
Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari
anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
terimakasih atas doanya, doakan saya cepat sembuh ya mas widayat?,

semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

alfatih Re:Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/17 02:44
Assalamu^alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

Beliau rahimahullah berkata:

اي خالقهما على غير مثال سبق قال مجاهد و السدي: و هو مقتضى اللغة
ومنه يقال للشيء المحد ث بدعة كما جاء في صحيح مسلم: فان كل محد ثة
بدعة وكل بدعة ضلا لة والبد عة على قسمين: تارة تكون بدعة شرعية
كقوله: فان كل محد ثة بدعة وكل بدعة ضلا لة و تارة تكون بدعة لغوية
كقول امير المؤ منين عمر بن الخطاب عن جمعه اياهم على صلاة التراويح
واستمراهم: نعمت البدعة هذه

“Yaitu yang menciptakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya,
Mujahid dan as-Sadi berkata hal tersebut merupakan keperluan
bahasa dan daripadanya dikatakan terhadap sesuatu yang baru adalah
bid ah. Sebagaimana di dalam Shahih Muslim: Karena sesungguhnya
setiap perkara yang dibuat-buat dalam agama adalah bid ah dan
setiap bid ah itu sesat . Bid^ah itu ada dua macam, yakni pertama
menurut syara^ seperti sabda Raulullahi Shallallahu ^alaihi wa
sallam,”Karena sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat dalam
agama adalah bid^ah dan setiap bid^ah itu sesat”. Sedangkan kedua
menurut bahasa, sebagaimana perkataan Umar bin Khaththab mengenai
perbuatannya ketika mengumpulkan orang-orang untuk shalat tarawih
dan secara kontinyu,”inilah sebaik-baik bid^ah”.(Tafsir QS:
Al-Baqoroh 117, Tafsir Al-Qur an Al- Azhim Ibnu Katsir, hal 223
cet. Maktabah at-Taufiqiyah Cairo Mesir)

Dengan demikian kita tidak boleh berdalil dengan bid^ah menurut
bahasa untuk urusan (perkara) agama. Karena perbedaannya sangat
jelas seperti di atas.

Demikian semoga memperjelas. Afwan jiddan dari ana yang dhoif jika
kurang berkenan

Barakallahu fiik
Wassalamu^alaikum warahmatullahi wa barakatuh

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/17 03:27
Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

Semoga Keagungan Cahaya Rajab dan kemuliaan Isra wal Mi taj selalu
menerangi hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
makna bid^ah sudah saya jelaskan diatas, bahwa hal yg tak ada
landasan secara logika dan dalil (aqlan wa syar^an), diluar itu
maka boleh,

saudaraku Fatih yg kumuliakan, sadarlah, guntingan2 ucapan itu tak
bisa menipu kami bahwa mereka para Imam itu mengatakan Bid^ah pada
hal hal yg baru yg bermanfaat, selama ada sandarannya aqlan wa
syar^an.

kami tahu sejarah Imam Nawawi, ia membenarkan tabarruk di kubur2,
kami tahu Imam Syafii, ia bertabarruk dg Jubah Imam Ahmad bin
hanbal ketika muridnya itu disiksa dan dicambuk di penjara., kami
tahu Imam Ahmad bin Hanbal mewasiatkan agar potongan Rambut
Rasulullah dimasukkan dalam kafannya,

kami tahu Imam Syaukani yg merupakan tokoh sufi yg banyak menulis
shalawat2 atas nabi saw.

bukan menggunting sana sini lalu memfitnah mereka itu adalah
sejalan dengan pemikiran wahabi,

mereka adalah guru guru kami, penipuan dengan potongan potongan
ucapan seperti ini mentah, karena kami mengenal mereka dan sejarah
mereka,

anda lihatlah ucapan khulafa urrasyidin, anda lihat perbuatan
sahabat, lihat perbuatan para Imam dan Muhaddits, apakah mereka
ini bodoh semua hingga berbuat bid^ah hasanah?

anda bertobatlah dari madzhab sempalan itu, tidak ada ajaran apa
apa selain menuduh dg dalil yg gunting tambal, dan memusyrikkan
orang yg beriman,

hanya sebatas itulah wahabi ini, tidak lebih dari itu.

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Mattawaf Re:Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/18 17:52
IHYA ULUMIDDIN (Imam Al-Ghazali)
Penerbit As-Syifa Semarang Tahun 1992; terjemahan indonesia
Buku ke tiga (jilid III)
Bab Pertama Mengenai Tata kesopanan makanan
Halaman 5-6. Tertulis (silahkan dicek)
Tertulis Berikut:

———————– start ——–

Anas bin Malik rahimahumullah berkata : Rasulullah saw tidak
makan diatas meja dan tidak didalam piring .
Ditanyakan: Diatas apakah kamu makan ? maka ia menjawab :
diatas hamparan .

Dan dikatakan: Empat hal yang diada adakan setelah Rasulullah saw
yaitu meja makan, ayakan tepung, wijikan (cucian tangan, pegrm)
dan kenyang. Ketahuilah bahwa kami meskipun makan atas hamparan
itu lebih utama namun kami tidak mengatakan makan diatas meja
makan itu dilarang dengan larangan makruh atau tahrim karena tidak
ada larangan yang sah padanya. Dan tidak dikatakan bahwa itu bid
`ah setelah Rasulullah saw karena tidak setiap yang diada adakan
itu dilarang. Tetapi yang dilarang adalah bid`ah yang berlawanan
dengan sunnah yang sohih, dan menghilangkan urusan syara padahal
illatnya masih. Bahkan kadang-kadang bid`ah itu wajib di dalam
sebagai keadaan apabila sebab-sebabnya telah berubah.
Sedangkan pada meja makan itu tidak ada kecuali mengangkat makanan
dari lantai untuk memudahkan makan. Hal hal yang semacam itu
termasuk sesuatu yang tidak makruh.

Sedangkan empat macam yang terkumpul bahwa itu adalah bid`ah
adalah tidak sama. Bahkan wijikan itu baik karena padanya
terkandung kebersihan karena sesungguhnya mencuci itu disunnahkan
agar bersih. Sedangkan wijikan itu lebih sempurna didalam
membersihkan sedangkan mereka tidak mempergunakannya karena
barangkali mereka tidak terbiasa, atau wijikan itu tidak mudah
atau mereka sibuk dengan urusan urusan yang lebih penting daripada
menyangatkan didalam melakukan kebersihan. Dan mereka tidak
mencuci tangan mereka juga. Sapu tangan mereka adalah lekuk lekuk
kaki mereka. Itu tidak mencegah keadaan mencuci itu disunnahkan.

Adapun ayakan maka tujuannya adalah membaikkan makanan, dan hal
itu mubah selama tidak berakhir kepada meng-enak enakkan yang
melampaui batas.
Adapun meja makan maka untuk memudahkan makan, dan itu mubah
selama tidak berakhir kepada kesombongan dan membesarkan diri.

Adapun kenyang itu paling berat diantara empat hal itu. Karena
kenyang itu mengajak kepada bergeloranya syahwat-syahwat dan
menggerakkan beberapa penyakit di dalam badan. Maka ketahuilah
perbedaan diantara hal-hal yang diadakan baru ini.

——— end ————-

Telah cukup jalas diterangkan oleh Imam Al-Ghazali mengenai bid`ah
yang baik
adapun yang tidak baik adalah yang bertentangan dengan hadits
shohih.
kanapa harus dipertahankan tidak ada bid`ah yang baik sementara
kita sendiri
bergelut, bercampur baur dengannya.
Saudaraku janganlah kita turuti ego kita sendiri yg akan
menjerumuskan kita
ke dalam jalan jalan yang menyimpang, kenapa pula kita harus
mempertahankan yang sesuai dengan akal kita, padahal ada jelas
jelas dikatakan para imam.

jika anda tetap berkeyakinan seperti itu kenapa anda paksakan
orang lain agar sesuai dengan pikiran anda, Nauzu billah.
Yaa… Allah lindangilah kami dari gangguan orang – orang yang
memaksakan kehendaknya kepada kami.

Salam

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Tanggapan, Adakah Bid^ah Hasanah? – 2007/07/19 10:40
Allahummahdiy Qaumiy, fa innahum laa ya^lamuun..

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Qudamah Re:Adakah Bid^ah Hasanah? – 2008/02/28 03:53 Assalamu^alaikum,,
Habib yang saya muliakan,,maaf mengganggu lagi ya,,

ini ada kutipan dari orang salafy bib, yang ana kurang faham dan
cukup membingungkan, karena disini dikatakan bahwa Imam Syafi^i
membagi bid^ah kedalam syar^iayah dan lughowiyah..
Nah yang benar yang mana bib ?

ومراد الشافعى رحمه الله ماذكرناه من قبل : إن البدعة المذمومة ما
ليس لها أصل من الشريعة يرجع اليها وهى البدعة فى إطلاق الشرع وأما
البدعة المحمودة فما وافق السنة يعنى: ما كان لها أصل من السنة يرجع
إليه وإنما هى بدعة لغة لا شرعا لموافقتها السنة

Dan maksud Syafi i rahimahullah adalah apa yang kami telah
sebutkan sebelumnya: Bid ah mazmumah adalah apa saja yang tidak
ada baginya asal dari syariat yang kembali kepadanya maka bid ah
itu adalah dalam pengertian syara dan adapun bid ah mahmudah
adalah apa saja yang sesuai dengan sunnah yakni apa yang baginya
memiliki asal dari sunnah yang kembali kepadanya. Dan sesungguhnya
bid ah ini hanyalah merupakan bid ah dalam arti bahasa bukan syara
karena sesuai dengan sunnah.
(Jami Al Ulum Ibnu Rajab hal. 360-361)

ini juga bib,,,

و أما ما وقع فى كلام السلف من استحسان بعض البدع فإنما ذللك فى
البدع اللغو ية لا الشرعية فمن ذللك قول عمر لما جمع الناس فى قيام
رمضان على إمام وإحد فى المسجد وخرج وراهم يصلون كذللك فقال: نعمت
البدعة هذه

Dan adapun apa yang dikatakan salaf tentang baiknya sebagian bid
ah, maka sesungguhnya yang demikian itu hanyalah merupakan bid ah
secara bahasa bukan secara syariat maka diantara yang demikian
adalah perkataan Umar ra tatkala mengumpulkan orang-orang untuk
shalat qiyamu ramadhon dengan satu orang Imam di masjid dan mereka
keluar menunaikan sholat lalu Umar ra berkata: ini sebaik-baik
bid ah

(Al-Muwaththo I/114, Shohih Bukhori no. 2010 dikutip dari Jami
Al Ulum Ibnu Rajab Al Hanbali hal. 358)

dan perkara tafsir Ibn Katsir yang sering dijadikan alat dari
orang salafy untuk menolak bid^ah hasanah,

mohon bib, penjelasannya,,saya cukup bingung,,,

jazakallah,,

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Adakah Bid^ah Hasanah? – 2008/02/28 12:33 Alaikumsalam
warahmatullah wabarakatuh,

Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi
hari hari anda dan keluarga,

Saudaraku yg kumuliakan,
ucapan imam syafii itu benar, dan ucapan Imam Imam ahlussunnah
waljamaah itu benar dan semakna, kesemuanya tak menentang hal baru
selama itu bermanfaat bagi muslimin, karena telah diperintah oleh
Allah swt.

bid;ah adalah membuat buat shalat yg baru, menambah shalat jadi 6
waktu, menambah jumlah takaat shalat fardhu, dan hal hal semacam
itu tentunya kategori bid^ah yg buruk.

sebenarnya hanya perbedaan pendapat dalam bahasa, namun yg jelas,
semua hal yg baru selama tidak bertentangan dg syariah, dan
membawa manfaat bagi muslimin maka hal itu sudah diperbolehkan
olrh Rasul saw sebagaimana hadits beliau saw : :”Barangsiapa yg
mengajarkan hal baru berupa kebaikan dalam islam, maka baginya
pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya, dan barangsiapa yg
membuat kebiasaan buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa
orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim).

sebagaimana Abubakar ra shiddiq ra menyetujui penjilidan Alqur;an,
dan hal itu tak diperintah oleh Rasul saw, dan tak ada dalil yg
mendukungnya, hanya maslahat muslimin saja.

demikian pula dua kali adzan pada shalat jumat, yg dilakukan mulai
dimasa Utsman ra (shahih Bukhari) hal itu tak ada dalil
pendukungnya, hanya maslahat muslimin saja, lalu apakah kita
mengatakan para khulafa^urrasyidin ini ahlul bid^ah…?

penjelasan saya sebelumnya telah jelas dalam hal ini.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita
cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=5217

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here