Abdurohim Mohon Bantuan Habib

0

abdurohim Abdurohim Mohon Bantuan Habib – 2008/09/19 02:31 Assalamu alaikum
warohmatullahi wabarokaatuh,

Mohon maaf Ya Habib ana butuh bantuan Habib, adapun kronologisnya
sbb :

Kebetulan ana ikut milis Taqlim Kantor tempat ana bekerja dengan
niat untuk menjalin ukhuwah, adapun waktu itu dibahas soal sholat
tarawih dan dari tanggapan para anggota milis ini sepertinya
mencerminkan paham wahabi. Untuk itu maka ana kirimkan ke milis
ini penjelasan / tanggapan Habib perihal shalat tarawih yg
diposting per tgl 29/09/2007 dgn link : http://
func=view&catid=9&id=7919&lang=id#7919., dengan harapan agar
anggota milis tsb terhindar dari paham wahabi yang meracuni banyak
orang.

Adapun pengasuh milis tsb memberikan jawaban/tanggapan, untuk itu
ana mohon bantuan tanggapan Habib terkait jawaban / tanggapan
pengasuh milis tsb yang InsyaAlloh dapat menjadi manfaat bagi para
anggota milis tsb.

Demikian Habib yang ana Muliakan, Semoga Allah memberikan anugerah
kemudahan pada Hb Munzir Almusawa untuk terus menjadi Khadim
Nabinya saw, memberikan padanya kesehatan Jasmani dan Rohani, dan
selalu membimbingnya di Jalan yang di Ridhoi Allah swt, dan juga
melimpahkan Anugerah Agung pada para aktifis Majelis Rasulullah
khususnya, dan semua Pecinta Rasulullah saw pada umumnya, Amin.

Wassalamu^alaikum warohmatullahi wabarokaatuh,

Abdurohim

Berikut kutipan email nya :

—– Original Message —–
From: Wido Q Supraha
To: taqlim-intern@googlegroups.com
Sent: Thursday, September 04, 2008 11:25 PM
Subject: RE: Sholat Tarawih di contohkan oleh Rosullullah saw.

Jazakallah atas kiriman artikelnya, namun setelah saya membacanya,
sebenarnya membuat kajian yang begitu ilmiah dari seorang syaikhul
hadits menjadi tidak menarik ketika dijawab dengan beberapa
justifikasi sederhana oleh Al Habib Munzir Al Musawwa. Ada
baiknya, kalau boleh saya memberikan pendapat, agar mendapatkan
pandangan yang cukup seimbang, dapat juga berguru kepada kakak
beliau, yakni Al Habib Nabiel Fu ad Al Musawwa Al Quraisyi, yang
lulus dari fakultas syari ah Universitas Madinah Al Munawwarah,
yang kehidupannya sangat zuhud dan wara .

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Al Habib Munzir,
saya hendak memberikan komentar ilmiah akan beberapa justifikasi
beliau, sbb. :

– Wahabi

Memberikan sebutan dan cap kepada saudara muslim bukanlah akhlak
yang terpuji, terlebih ketika istilah itu adalah istilah yang
dikenal untuk memojokkan saudaranya sendiri sesama muslim. Masa
dan waktu telah membuktikan kepada kita bahwa istilah wahabi yang
digunakan oleh para da i telah berhasil membuat permusuhan di
antara kaum muslimin, memecahkan barisan, dan merusak ukhuwwah,
dan tanpa sadar para da i tersebut telah terperangkap dengan
jebakan-jebakan istilah yang telah dibuat oleh para musuh-musuh
Islam.

Saya kira kita perlu membahas hal ini, agar kita tidak terkesan
taklid (mengikut seseorang dengan kebutaan).

Wahabi seharusnya ditranslasikan menjadi wahhabi. Adapun yang
mereka maksud dengan istilah ini adalah istilah kepada setiap
mukmin yang hendak mengesakan Allah (muwahhid), dengan mengambil
nisbat kepada salah satu juru da wah utama di beberapa ratus tahun
lalu, yakni Muhammad bin Abdul Wahhab (namanya Muhammad, nama
orang tuanya Abdul Wahhab). Seharusnya, jika memang yang dimaksud
oleh para pembuat justifikasi adalah juru da wah tersebut (yang
bernama Muhammad), maka seyogyanya disebut Muhammadi, bukan
Wahhabi, karena menisbatkan kepada namanya, bukan nama orang
tuanya. Namun, dengan izin Allah, ternyata dipakai nama wahhabi,
meskipun tidak tepat, dan menunjukkan ketidakmengertian
orang-orang yang senang dengan justifikasi ini, justeru ini adalah
nisbat kepada Al Wahhab (Nama Allah Yang Maha Pemberi), bagian
dari Asmaul Husna. Maka semoga mereka yang menisbatkan diri dengan
Al Wahhab, memiliki tauhid yang tangguh dan meneguhkannya untuk
berda wah kepada tauhid. Dan semoga para pemberi justifikasi,
mendapatkan hidayah dari Allah untuk menyadari kekeliruannya.

– Al Albani sebagai Muhaddits

Tidak mau mengakuinya beliau (Al Habib) terhadap Syaikh Al Albani,
sebagai sebuah fenomena di abad ini, adalah sebuah hal yang tentu
mengecewakan, dan terkesan bahwa beliau tidak mengerti tentang
siapa itu muhaddits. Keilmuan Syaikh Al Albani di dalam dunia
hadits setahu saya sangat dihormati oleh para pecinta hadits, dan
para ahli hadits lainnya.

Karena keahliannya itu pula, Syaikh Al Albani pernah mengajar di
Universitas Islam Madinah tentang Hadits dan Ulumul Hadits,
pernah menjadi anggota Majelis Tinggi Universitas tersebut, dan
bahkan pernah ditawari untuk menjadi Direktur Pasca Sarjana
Dirasah Islamiyah Universitas Yordania. Sebuah penghargaan
tertinggi dari Kerajaan Saudi Arabia pun pernah disematkan kepada
beliau. Dan yang menarik, hasil-hasil penelitian beliau di bidang
Hadits saat ini sangat digemari dan dijadikan rujukan oleh banyak
pihak, seperti misalkan Silsilah Hadits Shahih, Silsilah Hadits
Dha if dan Maudhu , dan lain-lainnya. Nah yang menjadi mustahil,
ketika beliau (Al Habib) memberikan syarat-syarat tersendiri yang
tidak mungkin tercapai, seperti harus bertemu rijalussanad, perawi
hadits, harus bersanad dengan imam Bukhori, dan kemudian membuat
justifikasi bahwa beliau bertentangan dengan mazhab yang empat.
Tentu saja, sangat disayangkan, muncul justifikasi seperti ini.

– Tarawih tidak pernah ada di zaman Nabi SAW

Tarawih adalah sebuah istilah baru, maknanya secara bahasa adalah
rahah ba da rahah, istirahat setelah istirahat, jadi tarawih
sebenarnya adalah sebuah rangkaian yang penuh dengan rekreasi
istirahat, baik shalat yang nikmat sehingga bermakna istirahat,
juga setelah shalat yang sebaiknya beristirahat dahulu agar dapat
melanjutkan istirahat yang nikmat.

Dengan demikian, sesungguhnya kita bukan sedang membahas tarawih,
akan tetapi Qiyamullail, yang waktunya adalah mulai Isya hingga
Fajar [1]. Kebetulan di zaman Umar, qiyam di bulan Ramadhan
disebut dengan Tarawih. Sehingga, kalau yang dimaksud istilah
tarawih maka beliau (Al Habib) benar menyatakan tak pernah ada di
zaman Nabi SAW, namun jika yang dimaksud adalah istilah qiyam,
maka sesungguhnya akan selalu ada, baik Ramadhan maupun di luar
Ramadhan. Namun kemudian, ketika beliau (Al Habib) menyinggung
istilah Witir, maka perlu pula kita bahas akan hal ini.

– Bukan Tarawih, melainkan Witir

Jika yang dimaksud beliau (Al Habib) adalah kata witir dalam
pengertiannya sebagai rangkaian shalat qiyam, maka seharusnya
tidak dibenturkan dengan istilah tarawih, namun akan tetapi jika
yang dimaksud beliau adalah witir dalam pengertian kelanjutan
shalat sunnah sebagai penutup setelah qiyamnya sendiri, maka akan
menjadi mustahil menyebutkan Rasul SAW shalat malam hanya witir
saja, tanpa didahului oleh qiyam [2]. (Qiyam dalam pembahasan ini
bisa dibaca : Tahajjud).

Karena dalam hal ini kita perlu memaklumi, bahwa witir secara
bahasa, kadangkala dikonotasikan dengan rangkaian shalat malam
yang berarti di dalamnya ada qiyam (tahajjud) dan diakhiri dengan
shalat yang ganjil sebagai penutup, sebagaimana yang tersirat
dalam banyak hadits Rasulullah terkait hal ini.

[1] Diriwayatkan dari 8 orang sahabat. Contoh perawinya, Abu
Dawud, At-Turmudzi, Ibn Majah

[2] Rasulullah bersabda, Jadikanlah akhir shalat kalian pada
malam hari adalah witir. Sehingga tidak bisa dijustifikasi, pasti
yang dilakukan Rasulullah adalah shalat witir saja.

Wassalam,

Abu Abdurrahman

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Abdurohim Mohon Bantuan Habib – 2008/09/19 13:49 Alaikumsalam
warahmatullah wabarakatuh,

kemuliaan Ramadhan,kesucian Rahmat, pengampunan, pembebasan dari
neraka dan Cahaya Lailatulqadar semoga menerangi hari hari anda,

saudaraku yg kumuliakan,
tidak perlu berdebat dg mereka, saya akan jawab dg singkat saja,
setelah saya membaca tanggapan ini jelas sudah penulis tak
mengerti ilmu hadits dan bahasa.

1. kakak kandung saya setahu saya, tidak pernah kuliah di Madinah,
dan bukan berarti beliau itu rendah ilmu, karena belajar dimana
saja bisa menjadi ulama syariah.

2. “wahabi” adalah istilah saja dalam bahasa arab, bisa istilah
untuk pengikut madzhab Imam Malik dg gelar Maliki, atau Hanafi,
atau orang yaman dg gelar Yamaniy, maka pengikut Ibn Ibn
Abdulwahhab digelari Wahabi, itu bukan penghinaan,

dan tak bisa dikatakan bahwa itu berarti pengikut ibn abdulwahhab
itu suci tauhidnya, justru mereka yg membuat perpecahan dan
kerusakan pada akidah ahlussunnah waljamaah, jika gelar wahhabi
berarti mereka suci tauhidnya, bagaimana dg Jahannamiy..?,
Jahannamiy adalah gelar ahli sorga yg masuk terlambat ke sorga,
mereka keluar dari neraka jahannam namun sudah dimaafkan Allah dan
digelari Jahannamiyun (Shahih Bukhari Bab Tauhid).

namun bagi orang yg tak memahami bahasa arab mereka menganggapnya
hinaan.

mengenai witir, boleh sampai 11 rakaat, dan sebagian ulama
mengatakan 11 rakaat itu adalah witir, serbagian ada yg mengatakan
adalah tahajjud, namun tak ada satu imam pun yg mengakui itu
adalah tarawih.

mengenai muhaddits, silahkan belajar dulu ilmu hadits, Musthalah
hadits, jelas sudah bahwa seseorang disebut muhaddits itu bukan
dosen atau yg sudah menulis 1000 buku, tapi Muhaddits adalah orang
yg meriwayatkan hadits dan mengumpulkannya dan menuliskannya,
orang yg membaca buku hadits bukan muhaddits.

albani bukan muhaddits, ia tak meriwayatkan satu hadits pun karena
tak jumpa dg rawi hadits, hanya menukil nukil saja, dan dalam
derajat ahli hadits tak bisa berfatwa hadits dg nukil nukil tanpa
dasar ilmu hadits yg kuat,

seorang pakar hadits adalah yg telah hafal 100 ribu hadits dg
sanad dan hukum matannya, ia digelari ALhafidh, maka jika kita
dengar ada gelar alhafidh dalam buku hadits itu bukan hafal alqur;
an, tapi hafal 100 ribu hadits dg sanad dan hukum matannya, dan
diatasnya ada gelar Alhujjah., maka jika kita dengar ada gelar
Hujjatul Islam, maka ia telah hafal 300 ribu hadits berikut sanad
dan hukum matannya, silahkan rujuk seluruh buku ilmu hadits,
diantaranya Tadzkiratul Huffadh, Thabaqatul Huffadh, hasyiah
luqatuddurar bi syarah nukhbatul fikar oleh Hujjatul Islam Al Imam
ibn hajar asqalaniy,

namun kesemuanya belum ada buku terjemahnya.

saran saya anda tak perlu berdebat, carilah guru yg berilmu dan
jangan memusuhi mereka yg masih belum mau mengikuti fatwa para
ahli hadits., merekapun saudara kita, boleh keluarkan bayan dan
penjelasan, namun bukan permusuhan,

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita
cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

msulton Re:Abdurohim Mohon Bantuan Habib – 2008/09/26 18:15 Siapa Pencetus
Gelar/Julukan Wahhaby ?

Saya terkejut dan merasa kegelian dengan cara argumentasi beberapa
teman Wahaby dalam membela sekte karya Muhammad bin Abdul Wahab
itu, terkhusus dalam masalah pengistilahan kata Wahabi-y,
Wahhabi-y atau Wahabisme buat kaum yang selama ini mengatasnamakan
dirinya sebagai Salafi-y. Sebagian pura-pura merasa bangga
dengan sebutan Wahhaby tadi, dengan alasan bahwa karena kata itu
diambil dari salah satu nama Allah (al-Wahhab = Maha Pemberi
anugerah).

Padahal semua tahu bahwa Wahhaby bukan diambil dari nama mulia nan
agung itu, melainkan dari Ibn Abdul Wahhab, nama orang biasa yang
hidup di dataran jazirah Arab yang kering nan tandus. Dari sini
jelas sekali bahwa Wahhaby dari nama Allah sangat tidak beralasan
dan cenderung dibuat-buat.

Berbeda dengan kaum Wahhaby lain yang tanpa basa-basi dan
jelas-tegas menolak penisbatan kata Wahhaby kepada mereka, tanpa
pura-pura merasa bangga. Sayangnya, lagi-lagi mereka terjerumus ke
dalam kesesatan cara berpikir (versi mereka) yang selama ini
mereka sendiri mengakui bahwa hal itu sesat, berargumen dengan
bersandar pada pendapat para orientalis yang kafir. (Lihat blog:
http://abusalma.wordpress.com/2007/11/07/
siapa-pencetus-pertama-istilah-wahhabi/, karya Jalal Abu Alrub)
Coba jika ternyata yang anti Wahhaby menulis artikel yang
bersandar kepada buku-buku dan karya tulis yang ditulis oleh kaum
Orientalis, pasti mereka akan menyatakan bahwa itu adalah
kesesatan dan tidak dapat dipercaya. Jangankan dalam kasus semacam
itu, dalam kasus kritisi fatwa si Utsaimin tentang Bumi sebagai
Pusat Tata Surya yang terdapat dalam blog Wahaby lain,
teman-teman yang tidak setuju dengan fatwa tersebut dianggap
sebagai bodoh tentang ajaran Islam atau Taklid Buta kepada
Ilmuwan Barat yang Kafir . Apakah dalam penamaan istilah Wahhaby
pemilik blog itu tidak takild pada ucapan para orientalis yang
kafir? Saya hanya menukil saja ayat yang berbunyi: Kabura Maqtan
Indallahi an Taquluu ma laa Taf aluun (Murka besar Allah sewaktu
kalian berbicara namun tidak kalian kerjakan). Apa yang dilakukan
penulis dalam masalah pencetus julukan Wahaby tadi (yang menuduh
kaum Orientalis) tidak lebih hanya pelaksanaan istilah Maling
teriak maling , pencuri (Wahaby) yang menuduh dan meneriaki
pencuri lain (orientalis) untuk usaha pembersihan diri.

Pertama kali pribadi yang menyebut ajaran sekte sempalan yang
diajarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab dengan sebutan Wahhaby
adalah saudara tua sekandungnya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab
yang selalu mencoba meluruskan pemahaman adiknya yang salah-kaprah
tentang Islam dan ajaran Salaf Saleh. Sebuah surat (risalah)
panjang beliau tulis untuk adiknya yang kemudian dibukukan (baca:
dicetak) dengan judul:

الصواعق الإلهية في مذهب الوهابية
(Petir-petir Ilahi pada Mazhab al-Wahabiyah)

Kitab tersebut beberapa kali di cetak di Turkia, Pakistan dan
beberapa negara lain, terakhir dicetak beberapa percetakan di
Beirut-Lebanon. Tentu, kitab semacam ini tidak akan pernah kita
temukan di toko-toko buku di Arab Saudi yang mazhab resminya
adalah Wahhabiyah, karena akan merusak status quonya.

Dari sini jelas sekali bahwa penamaan sekte sempalan ajaran
Muhammad bin Abdul Wahab sebagai Wahaby bukan pihak di luar
Islam atau di luar mazhab Hambali, tetapi dari saudara tua
Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri, Syeikh Sulaiman bin Abdul
Wahhab. Di awal-awal risalah tersebut Syeikh Sulaiman menyatakan
alasannya kenapa menyebutnya dengan Wahhabiyah dan bukan
Muhammadiyah ? Beliau memaparkan bahwa, memang secara kaidah
harusnya menyebutnya dengan Muhamadiyah yang dinisbahkan kepada
Muhammad bin Abdul Wahab, bukan Wahhabiyah. Akan tetapi, beliau
khawatir jika ajaran sesat adiknya itu diberi nama Muhamadiyah
-yang berarti senama dengan nama Rasululah yang sakral itu- dan
jika ajaran itu menyebar dan tentu akan mendapat tantangan
sehingga ajaran itu menjadi bahan cemooh dari banyak pihak, maka
beliau khawatir nama Muhamadiyah disalahgunakan oleh pihak-pihak
yang tidak bertangungjawab. Atas dasar itu, beliau merelakan
penamaan Wahhaby (yang beliau juga bin Abdul Wahhab) sebagai
nama sekte sempalan ajaran adiknya, dinisbahkan kepada
ayahandanya. Setelah dicetuskan istilah tersebut oleh Syeikh
Sulaiman, para ulama lainpun mengikuti pengistilahan tersebut.
Maka dari itu, setelah itu bermunculanlah beberapa kitab dan
risalah yang ditulis oleh banyak ulama dari manca negara-negara
Tim-Teng yang mengkritisi sekte sempalan Muhammad bin Abdul Wahab
yang dikenal dengan Wahhaby tersebut. Sejak saat itu, sekte
sempalan itu disebut WAHHABI. Jadi apa yang dilakukan Syeikh
Sulaiman bin Abdul Wahhab dengan memberikan julukan Wahhaby
untuk sekte karya adiknya itu dikarenakan beliau melaksanakan
kaidah Taqdimul Qobih alal Aqbah (mendahulukan yang jelek dari
yang lebih jelek). Bagaimana tidak, karena penisbatan kepada
ayahnya untuk sekte itu merupakan suatu yang jelek (buruk), namun
di sisi lain, jika dinamakan dengan nama adiknya maka ia merasa
khawatir nama yang mirip dengan nama Rasulullah itu kelak akan
dijadikan bahan ejekan orang. Dia berpikir, daripada nama
Rasulullah dijadikan bahan cemoohan maka lebih baik nama ayahnya
saja yang dijadikan nama sekte adiknya tersebut, karena setiap
sekte harus dinamai dan umumnya penamaan setiap sekte dinisbahkan
kepada pendirinya. Atas dasar itulah akhirnya beliau menamainya
dengan Wahabisme .

Adapun letak kesesatan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab versi
kakaknya, Sulaiman bin Abdul Wahab, adalah terletak pada
pengkafiran (Takfir) sekte tersebut terhadap kelompok muslim lain
di luar sektenya. Dalam risalah karya Syeikh Sulaiman bin Abdul
Wahab hal itu telah disinggung. Di sini, kita akan nukilkan -dari
kitab lain yang juga menyingung tentang- penggalan diskusi antara
Muhammad bin Abdul Wahab dengan kakaknya, Syeikh Sulaiman bin
Abdul Wahab, seorang yang lebih alim dari berbagai bidang ilmu
keagamaan (terkhusus masalah mazhab Hambali) dibanding adiknya.
Syeikh Sulaiman pernah bertanya kepada Muhammad bin Abdul Wahab
dengan pertanyaan:
Berkata saudara yang lebih besar dan lebih alim, Sulaiman bin
Abdul Wahab, kepada saudaranya (adiknya): Wahai Muhammad bin
Abdul Wahab, ada berapa rukun Islam itu? Ia menjawab: Ada lima.
Lantas Sulaiman berkata: Engkau telah menjadikannya enam. Yang
keenam adalah; barangsiapa yang tidak mengikutimu maka ia bukan
muslim. Ini adalah rukun Islam keenam menurutmu . (Lihat kitab
ad-Da awi al-Munawi in li Da wah as-Syeikh Muhammad bin Abdul
Wahhab, I dad: Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdul Lathif, Darul
Wathan li an-Nasyr as-Saudiyah, cetakan pertama, tahun 1412)

Sekarang yang menjadi problem buat kaum Wahhaby dan mereka harus
segera mereka menjawabnya adalah:
1- Masihkah kalian akan mengaku dan bangga bahwa Wahhaby berasal
dari salah satu nama Allah, Al-Wahhab? Tidak ada bukti otentik
atas kebanggan tersebut kecuali karena untuk menutupi rasa malu
saja.
2- Masihkah kalian menganggap bahwa Wahhaby adalah julukan yang
diberikan oleh kaum non-muslim untuk pengikut Muhammad bin Abdul
Wahhab?
3- Masihkah kalian berargumen dengan argumen para orientalis dalam
menetapkan tuduhan kalian, sedang kalian melupakan tokoh mazhab
Hambali Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, sudara tua Muhammad bin
Abdul Wahhab?
4- Kenapa kalian berargumen dengan buku-buku karya orientalis
padahal jika itu dilakukan oleh orang lain (selain kelompok
kalian) maka dengan serta merta kalian akan mengatakan itu
merupakan kesesatan? Mana konsistensi kalian terhadap pendapat dan
ucapan kalian sendiri?
5- Masihkah kalian menginkari akan ajaran Muhammad bin Abdul
Wahhab tentang pengkafiran terhadap kelompok lain, padahal banyak
bukti yang membuktikan hal tersebut? Dalam tulisan yang akan
datang akan sebutkan sedikit demi sedikit pengkafiran tersebut.

Sumber salafyindonesia.wordpress.com

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Abdurohim Mohon Bantuan Habib – 2008/09/28 03:23 semoga Allah
melimpahkan hidayah, dan mengembalikan jiwa muslimin yg terjebak
dalam kesesatan untuk kembali kepada akidah yg suci dan benar,
amiin

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=18186

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments