sub gratis!

sub gratis!

hosting mantap!

BISRI Wali yang bertelanjang kaki – 2008/08/12 03:32 Syekh Bisyr bin
Harits RA

Nama lengkapnya Abu Bisyr bin Al Harits Al Hafi. Beliau lahir
sekitar tahun 150 H/767 M di dekat Kota Merv. Belajar hadits di
Baghdad dan menetap di sana. Di usia muda, beliau terkenal sebagai
pemuda berandal dan suka mabuk-mabukan. Namun setelah sadar,
pendidikan formal yang sedang ditekuninya, juga kehidupan malam
yang suram ditinggalkannya. Beliau lalu mengasah ruhaninya dengan
disiplin diri yang kuat. Hidup sebagai pengemis yang
terlunta-lunta, kelaparan, dan bertelanjang kaki.

Bagaimana jalan hidup Bisyr, manusia berkaki telanjang yang sangat
dikagumi Imam Ahmad bin Hambal dan dihormati oleh Khalifah Al
Makmun? Inilah kisahnya.

TAUBATNYA MANUSIA BERKAKI TELANJANG

Syekh Bisyr muda adalah seorang pemuda berandalan. Hampir tiap
malam waktunya dihabiskan di Bar dan menenggak minuman keras
sampai mabuk. Suatu hari, dalam keadaan mabuk dan langkah
terhuyung-huyung ia menemukan secarik kertas bertuliskan Dengan
Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang . Bisyr lalu
memberi minyak mawar dan memerciki kertas tersebut dengan minyak
lalu menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.

Malam harinya, seorang spiritualis bermimpi. Dalam mimpinya ia
diperintahkan Allah untuk mengatakan kepada Bisyr, Engkau telah
mengharumkan nama-Ku, maka Akupun telah mengharumkan dirimu.
Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Akupun telah memuliakan
dirimu. Engkau telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya
Kuharumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat.

Bisyr adalah seorang pemuda berandal, pikir sang spiritualis

Mungkin aku telah bermimpi salah.

Oleh karena itu, sang spiritualis segera bersuci, shalat, kemudian
tidul kembali. Namun tetap saja mimpi serupa hadir lagi. Hal itu
berulang sampai tiga kali. Keesokan harinya ia maencari Bisyr. Ia
bertanya pada seseorang dan mendapat jawaban, Bisyr sedang
mengunjungi pesta buah anggur.

Maka pergilah sang spiritualis yang dikenal sebagai manusia suci
di daerahnya itu ke rumah orang yang sedang berpesta itu. Sesampai
di sana ia bertanya, Apakah Bisyr berada di tempat ini?

Ada, tetapi ia dalam keadaan mabuk dan lemah tak berdaya.
Katakan kepada Bisyr, bahwa ada pesan yang hendak kusampaikan
padanya, kata manusia suci itu.

Pesan dari siapa, tanya Bisyr.

Dari Allah! Jawab si manusia suci.

Aduhai! Seru Bisyr dengan air mata berlinang.

Apakah pesan untuk mencela atau menghukum diriku? Tapi tunggu
sebentar, aku akan pamit kepada sahabat-sahabatku dahulu.
Sahabat-sahabat, aku dipanggil. Oleh karena itu, aku harus
meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah
melihat diriku lagi dalam keadaan seperti ini! Ia berkata kepada
teman-teman minumnya.

Sejak saat itu, tingkah laku Bisyr berubah seratus delapan puluh
derajat. Pemuda berandalan itu menjadi demikian alim, shalih dan
wara . Sehingga tak seorangpun yang mendengar namanya tanpa
kedamaian Ilahi menyentuh hatinya. Bisyr telah menempuh jalan
penyangkalan diri. Sedemikian asyiknya ia bertawajuh ke hadirat
Allah hingga mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki.
Itulah sebabnya Bisyr mendapat julukan Manusia Berkaki Telanjang
.

Bila ditanya, Bisyr, mengapa engkau tak pernah memakai alas kaki?
Jawabnya adalah, Ketika aku berdamai dengan Allah, aku sedang
berkaki telanjang. Sejak saat itu aku malu mengenakan alas kaki.
Apalagi, bukankah Allah Yang Maha Besar telah berkata, Telah
Kuciptakan bumi sebagai permadani untukmu. Dan bukankah tidak
pantas apabila berjalan memakai sepatu di atas permadani Raja?

Konon Imam Ahmad bin Hambal sering mengunjungi Bisyr. Sang Imam
begitu mempercayai kata-kata Bisyr. Hal itu menyebabkan
murid-muridnya tidak senang hingga pernah mencela tindakan
gurunya.

Wahai guru, di zaman ini tak seorangpun yang dapat menandingimu
dibidang hadits, hukum, teologi, dan setiap cabang ilmu
pengetahuan. Tapi mengapa setiap saat engkau menemani seorang
berandal? Pantaskah perbuatanmu itu?

Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang
lebih ahli daripada Bisyr. Jawab sang Imam.

tetapi mengenai Allah, ia lebih ahli daripada aku.

Ahmad bin Hambal sering memohon kepada Bisyr, Ceritakan kepadaku
perihal Tuhanku.

SI MISKIN YANG EMPATI KEPADA ORANG MISKIN

Dikisahkan, selama 40 tahun Bisyr sangat menginginkan daging
panggang, tetapi ia tidak mempunyai uang untuk membelinya.
Bertahun-tahun ia ingin memakan kacang buncis, tetapi tak
sedikitpun ada yang dimakannya. Padahal, kalu Bisyr mau, sebagai
orang yang selalu menghadap kepada Allah, dia tinggal memohon
kepada Allah apa yang diinginkannya. Tapi dia tidak mau
melakukannya. Jalan hidup penyangkalan dirinya yang begitu kuat
membuat dia juga berpantang meminum air dari saluran yang ada
pemiliknya.

Empatinya kepada kaum fakir miskin begitu luar biasa. Pernah salah
seorang tokoh suci sedang bersama Bisyr dalam suasana cuaca yang
sangat dingin sekali. Semua orang mengenakan jaket tebal. Tetapi
Bisyr malah melepas pakaiannya sehingga tubuhnya menggigil
kedinginan.

Abu Nashr, tegur orang suci. Dalam cuaca dingin seperti ini
orang-orang melapisi pakaian mereka, tetapi engkau malah
melepaskannya.

Aku teringat kepada orang-orang miskin, jawab Bisyr. Aku tidak
mempunyai uang untuk menolong mereka, oleh karena itulah aku ingin
turut merasakan penderitaan mereka.

TAWAKAL TIADA TARA

Syekh Bisyr bin Harits adalah orang yang menggantungkan hidupnya
kepada Allah semata. Tawakalnya sungguh luar biasa. Hal ini dapat
kita temui dalam kisah berikut:

Beberapa orang mengunjungi Bisyr dan berkata, Kami datang dari
Syiria hendak pergi menunaikan ibadah haji. Sudikah engkau
menyertai kami?

Dengan tiga syarat, jawab Bisyr. Yang pertama, kita tidak akan
membawa perbekalan. Kedua, kita tidak meminta belas kasihan orang
di dalam perjalanan. Dan ketiga, jika orang-orang memberikan
sesuatu, kita tidak boleh menerimanya.

Pergi tanpa perbekalan dan tidak meminta-minta dalam perjalanan,
dapat kami terima, jawab mereka. Tetapi apabila orang-orang lain
memberikan sesuatu, mengapa kita tidak boleh menerimanya?

Sebenarnya kalian tidak memasrahkan diri kepada Allah, tetapi
kepada perbekalan yang kalian bawa, cela Bisyr kepada mereka.

Suatu hari orang-orang berkumpul mendengarkan Bisyr memberikan
ceramah mengenai rasa puas. Salah seorang di antara pendengar
mencela:

Abu Nashr! Engkau tidak mau menerima pemberian orang karena ingin
dimuliakan. Jika engkau benar-benar melakukan penyangkalan diri
dan memalingkan wajahmu dari dunia ini, maka terimalah
sumbangan-sumbangan yang diberikan kepadamu agar engkau tidak lagi
dipandang sebagai orang yang mulia. Kemudian secara sembunyi,
berikanlah semua itu kepada orang-orang miskin. Setelah itu,
jangan engkau goyah dalam kepasrahan kepada Allah, dan terimalah
nafkahmu dari alam ghaib.

Murid-murid Bisyr sangat terkesan mendengar kata-kata ini.

Camkanlah oleh kalian! Jawab Bisyr. Orang-orang miskin terbagi
atas tiga golongan. Golongan pertama adalah orang-orang miskin
yang tak pernah meminta-minta dan apabila mereka diberikan sesuatu
mereka menolaknya. Orang-orang seperti ini adalah para
spiritualis. Seandainya orang-orang seperti ini meminta kepada
Allah, niscaya Allah akan mengabulkan segala permintaan mereka.
Golongan kedua adalah orang-orang miskin yang tak pernah
meminta-minta, tetapi apabila kepada mereka diberikan sesuatu,
mereka masih mau menerimanya. Mereka ini berada ditengah-tengah.
Mereka adalah orang-orang yang teguh didalam kepasrahan kepada
Allah. Mereka inilah yang akan dijamu oleh Allah di dalam syurga.
Golongan ketiga adalah orang-orang miskin yang duduk dengan sabar
menantikan pemberian orang sesuai dengan kesanggupan, tetapi
mereka menolak godaa-godaan hawa nafsu.

Aku puas dengan keteranganmu tersebut, kata orang yang tadi
mencela.

Semoga Allah juga puas denganmu!

WAFATNYA MANUSIA BERKAKI TELANJANG

Suatu malam, ketika Bisyr sedang terbaring manantikan ajalnya di
tahun 227 H/841 M, tiba-tiba datang seseorang dan mengeluh tentang
nasibnya yang malang. Bisyr melepaskan dan memberikan pakaiannya
kepada lelaki itu. Dia sendiri lalu memakai baju yang dipinjamnya
dari salah seorang sahabatnya. Dengan mengenakan pakaian pinjaman
itulah, kekasih Allah ini berpindah ke alam baqa .

Di tempat lain, seorang lelaki melihat keledai yang dibawanya
membuang kotoran di atas jalan. Padahal selama Bisyr masih hidup,
tak ada keledai yang membuang kotorannya di jalan-jalan Kota
Baghdad karena menghormati Bisyr yang berjalan dengan kaki
telanjang. Melihat kenyataan tersebut, spontan lelaki itu berseru:

Wahai, Bisyr telah tiada!

Mendengar seruan itu, orang-orangpun pergi menyelidiki. Ternyata
kata-katanya itu terbukti kebenarannya. Lalu kepadanya ditanyakan
bagaimana ia bisa tahu bahwa Bisyr telah meninggal dunia?

Karena selama Bisyr masih hidup, tak pernah ada kotoran keledai
terlihat di jalan-jalan Kota Baghdad. Tadi aku melihat kenyataan
itu telah berubah, maka tahulah aku bahwa Bisyr telah tiada.
Allahu a lam. (Var).

Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73 TH.X SYAWAL 1428

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=17294

© http://carauntuk.com/wali-yang-bertelanjang-kaki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here