sub gratis!

sub gratis!

hosting mantap!

budi2002 Tanya tentang tawasul ? – 2005/10/23 22:39 Asalamualaikum Ustad,
saya mau bertanya seputar tawasul.
1. Apa pengertian tawasul ?
2. Kenapa ada sebagian orang ada yang menganggap ini bid^ah dan
sebagian lagi tidak.
3. Apakah Rasul SAW atau sahabat2 sendiri mencontohkan tentang
tawasul ini ?

terima kasih sebelumnya atas jawabannya.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Tanya tentang tawasul ? – 2005/10/25 11:54 Alaikum salam
warahmatullah,

Memang banyak pemahaman saudara saudara kita muslimin yg perlu
diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah
dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang
orang mukmin.

Tawassul merupakan hal yg sunnah, dan tak pernah ditentang oleh
Rasul saw, tak pula oleh Ijma? Sahabat radhiyallahu?anhum, tak
pula oleh Tabi?in, dan bahkan para Ulama dan Imam Imam besar
Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara,
dan tak ada yg menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan
memusyrikkan orang yg mengamalkannya.

Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 19-20 ini, dengan munculnya
sekte sesat yg memusyrikkan orang orang yg bertawassul, padahal
Tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits shahih
dibawah ini : ?Wahai Allah, Demi orang orang yg berdoa kepada Mu,
demi orang orang yg bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi
langkah langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar
dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat
kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sum?ah, ???
hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu
Na?iem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn
Majah dengan sanad Shahih).

Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin
untuk doa menuju masjid dan doa safar.

Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw
berdoa dengan Tawassul kepada orang orang yg berdoa kepada Allah,
lalu kepada orang orang yg bersemangat kepada keridhoan Allah, dan
barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku
ini kepada keridhoan Mu).

Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yg sudah
hafal 100.000 (seratus ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum
matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa
Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu
hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad
dan hukum matannya.

Lalu hadits diatas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits.., apakah
kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yg baru muncul
di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang orang yg dianggap muhaddits
padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits , dan
kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, adalah orang yg bukan
pencaci, apalagi memusyrikkan orang orang yg beramal dg landasan
hadits shahih.

Masih banyak hadits lain yg menjadi dalil tawassul adalah sunnah
Rasul saw, sebagaimana hadits yg dikeluarkan oleh Abu Nu^aim,
Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya
Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw,
dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya
dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha
Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan
bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah
atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelummu,
Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih
sayang.”

jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di
kubur, kepada para Nabi yg telah wafat, untuk mendoakan Bibi
beliau saw (Istri Abu Thalib).

Para Imam Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, hanyalah
pendapat sekte sesat ini yg memusyrikkan orang yg bertawassul,
padahal Rasul saw sendiri berrtawassul. Apakah mereka memusyrikkan
Rasul saw?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini,

mengenai pendapat sebagian dari mereka yg mengatakan bahwa
tawassul hanya boleh pada orang yg masih hidup, maka entah
darimana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan
mereka mengatakan bahwa orang yg sudah mati tak akan dapat memberi
manfaat lagi..,

pendapat yg jelas jelas datang dari pemahaman yg sangat dangkal,
dan pemikiran yg sangat buta terhadap kesucian tauhid..

jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi
manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah, lalu mereka
mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yg mati
mustahil?, lalu dimana kesucian tauhid dalam keimana mereka?
Tak ada perbedaan dari yg hidup dan yg mati dalam memberi manfaat
kecuali dengan izin Allah.., yg hidup tak akan mampu berbuat
terkecuali dg izin Allah, dan yg mati pun bukan mustahil memberi
manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah
atas orang yg mati adalah kekufuran yg jelas.

ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati
atau yg hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang,
atau kedekatan derajatnya kepada Allah swt, sesekali bukanlah
manfaat dari manusia, tetapi dari Allah, yg telah memilih orang
tersebut hingga ia menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan
Kudrat ilahi atau membatasi kemampuan Allah, karena ketakwaan
mereka dan kedekatan mereka kepada Allah tetap abadi walau mereka
telah wafat.

contoh lebih mudah, anda ingin melamar pekerjaan, atau mengemis,
lalu anda mendatangi seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang
tetangga anda yg telah wafat adalah abdi setianya yg selalu dipuji
oleh si saudagar, lalu anda saat melamar pekerjaan atau mungkin
mengemis pada saudagar itu, anda berkata : “Berilah saya tuan..
(atau) terimalah lamaran saya tuan, saya mohon.. saya adalah
tetangga dekat fulan, (atau), atau demi kasih sayang tuan
padanya..”.

nah.. bukankah ini mengambil manfaat dari orang yg telah mati?,
bagaimana dengan pandangan bodoh yg mengatakan orang mati tak bisa
memberi manfaat??,

jelas jelas saudagar akan sangat menghormati atau menerima lamaran
pekerjaan anda, atau memberi anda uang lebih, karena anda menyebut
nama orang yg ia cintai, walau sudah wafat, pun seandainya ia tak
memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu
bagaimana dengan Arrahmaan Arrhiim, Yang Maha Pemurah dan Maha
Menyantuni??

dan tetangga anda yg telah wafat tak bangkit dari kubur dan tak
tahu menahu tentang lamaran anda pd si saudagar, NAMUN ANDA
MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YG TELAH WAFAT,

aduh…aduh… entah apa yg membuat pemikiran mereka sempit hingga
tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini.
Firman Allah : “MEREKA ITU TULI, BISU DAN BUTA DAN TAK MAU KEMBALI
PD KEBENARAN” (QS Albaqarah-18)

Wahai Allah beri hidayah pada kaumku, sungguh mereka tak
mengetahui.

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

budi2002 Re:Tanya tentang tawasul ? – 2005/10/25 23:55 Kalau memang
demikian, semisal saya sedang ada kesulitan dalam menghadapi suatu
ujian, atau sedang ada kesulitan ekonomi, dll, lalu saya
mendatangi makam orang soleh & meminta kepada Allah SWT dengan
perantara orang soleh tersebut untuk dimudahkan segala usaha saya,
apakah boleh saya melakukan hal yang demikian ustad ?

Kalau hal tersebut diperbolehkan, lalu bagaimana cara melakukan
tawasul yang benar agar jangan sampai saya terjebak kedalam sifat
syirik, sebab saya sering sekali melihat tayangan di TV
orang-orang yang datang ke kuburan para wali Allah (seperti wali
songo contohnya) mereka ada yang membakar kemeyan di sana,
bersemedi, dan juga entah ritual2 apa lagi yang mereka lakukan di
pemakaman tersebut (apakah cara2 tersebut dibenarkan?).

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jawabannya.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Tanya tentang tawasul ? – 2005/10/27 18:31 Berdoa, atau
bertawasul, atau berdzikir, itu dimana saja, boleh tawassul dari
rumah, atau di kamar, atau di masjid, atau di kuburan, atau dimana
saja, pastilah mungkin hati kita yg sudah tertular virus sekte
sesat ini akan langsung Alergi bila mendengar ?DOA DI KUBURAN?,
ketahuilah berdoa di kuburan pun sunnah Rasul saw, beliau berdoa
di Pekuburan Baqii?, dan berkali kali beliau saw melakukannya. Dan
Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan Salam untuk ahli kubur
dengan ucapan ?Assalaamu alaikum Ahliddiyaar minalmu?minin
walmuslimin, wa Innaa Insya Allah Lalaahiquun, As?alullah lana wa
lakumul?aafiah..? (Salam sejahtera atas kalian wahai penduduk
penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih sayang Allah
atas yg terdahulu dan yang akan datang, dan Sungguh Kami Insya
Allah akan menyusul kalian)? (Shahih Muslim Bab 35 ?hadits no
974.975,976. *3 hadits dalam makna yg sama)
Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul saw bersalam pada Ahli Kubur
dan mengajak mereka berbincang bincang dg ucapan ?Sungguh Kami
Insya Allah akan menyusul kalian?.

Demikian pula tawassul, karena tawassul adalah doa kepada Allah,
bila anda menuju makam untuk berziarah, berdoalah kepada Allah,
misalnya anda berdoa sebagaimana doa Rasul saw : Wahai Allah, Demi
orang orang yg bermunajat pada Mu, Demi orang orang yg Bersemangat
kepada keridhoan Mu, Demi langkahku ini, atau dengan tawassul
menyebut nama sebagaimana Rasul saw menyebut Demi para Nabi
sebelumku.. atau misalnya Wahai Allah, Demi Ahlul Badr, atau Demi
Muhajirin dan Anshar, atau Demi Ruku dan Sujudnya para wali Mu,
atau menyebut nama mereka sebagaimana Rasul saw menyebut nama para
malaikat.
Toh doa doa ini kepada Allah, berperantarakan ketaatan para hamba
hamba Nya,

Anda ingat peristiwa Adam as?, mengapa malaikat diperintahkan
sujud pada makhluk?, karena para malaikat itu sujud pada Adam as
bukan menyembah Adam as, tetapi menyembah Allah.. karena jutsru
sujud pada Adam itu adalah ketaatan, namun apa yg dilakukan
Iblis?, pada dasarnya Iblis hanya ingin sujud kepada Allah semata,
tak mau memuliakan makhluk yg dimuliakan Allah, dan jatuhlah ia
kepada Laknat Allah, maka orang yg tak mau memuliakan orang yg
dimuliakan Allah swt adalah para pengikut Iblis, naudzubillahi min
dzalik.

Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu
adalah bagi orang yg berkeyakinan ada Tuhan Lain selain Allah,
atau ada yg lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada tuhan yg sama
dengan Allah swt. Inilah makna syirik.

Mereka yg berkemenyan, sajen dlsb itu, tetap tak mungkin kita
pastikan mereka musyrik, karena kita tak tahu isi hatinya,
sebagaimana Rasul saw murka kepada Usamah bin Zeyd ra yg membunuh
seorang pimpinan Laskar Kafir yg telah terjatuh pedangnya, lalu
dengan wajah tak serius ia mengucap syahadat, lalu Usamah
membunuhnya, ah? betapa murkanya Rasul saw saat mendengar kabar
itu.., seraya bersabda : ?APAKAH KAU MEMBUNUHNYA PADAHAL IA
MENGATAKAN LAA ILAAHA ILLALLAH..?!!?, lalu Usamah ra berkata: ?
Kafir itu hanya bermaksud ingin menyelamatkan diri Wahai
Rasulullah..?, maka beliau saw bangkit dari duduknya dg wajah
merah padam dan membentak : ?APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA
KAU TAHU ISI HATINYA??!!!?, lalu Rasul saw maju mendekati Usamah
dan mengulangi ucapannya : ?APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA
KAU TAHU ISI HATINYA??!!!?, Usamah ra mundur dan Rasul saw terus
mengulanginya : ?APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI
HATINYA??!!!?, hingga Usamah ra berkata : Demi Allah dengan
peristiwa ini aku merasa alangkah indahnya bila aku baru masuk
islam hari ini..(maksudnya tak pernah berbuat kesalahan seperti
ini dalam keislamanku). (Shahih Muslim Bab 41 no. 158 dan hadits
yg sama no.159)
Dan juga dari peristiwa yg sama dg riwayat yg lain, bahwa Usamah
bin Zeyd ra membunuh seorang kafir yg kejam setelah kafir jahat
itu mengucap Laa Ilaaha Illallah, maka Rasul saw memanggilnya dan
bertanya : ?MENGAPA KAU MEMBUNUHNYA..?!?, Usamah menjawab : ?Yaa
Rasulullah, ia telah membunuh fulan dan fulan, dan membantai
muslimin, lalu saat kuangkat pedangku kewajahnya maka ia
mengatakan Laa Ilaaha illallah..?, lalu Rasul saw menjawab : ?LALU
KAU MEMBUNUHNYA..?!!?, Usamah ra menjawab : ?benar?, maka
Rasulullah saw berkata : ?APA YG AKAN KAU PERBUAT DENGAN LAA
ILAAHA ILLLALLAH BILA TELAH DATANG HARI KIAMAT..?!!?, maka Usamah
berkata : ?Mohonkan pengampunan bagiku Wahai Rasulullah??, Rasul
saw menjawab dengan ucapan yg sama : ?APA YG AKAN KAU PERBUAT
DENGAN LAA ILAAHA ILLLALLAH BILA TELAH DATANG HARI KIAMAT..?!!!?,
dan beliau terus mengulang ulangnya.. (Shahih Muslim Bab 41
no.160)

Kita tak bisa menilai orang yg berbuat apapun dengan tuduhan
syirik, dia berkomat kamit dengan sajen dan mandi sumur tujuh rupa
dan segala macam kebiasaan orang kafir lainnya, ini merupakan dosa
besar, dan Bid?ah munkarah yg dimurkai Allah swt, namun tak
mungkin kita mengatakannya musyrik hanya karena melihat
perbuatannya, kecuali ia ber ikrar dengan lidahnya.

Satu contoh, seorang muslim sebelum shalat ia mandi air kembang,
lalu menaruh keris di pinggangnya, lalu ia shalat, musyrikkah ia?,

dan orang lain mandi dengan sabun Lux, lalu menaruh pistol
dipinggangnya, lalu shalat, musyrikkah dia?,

kesimpulannya adalah, tidak ada kalimat musyrik bisa dituduhkan
kepada siapapun terkecuali dengan kesaksian lidahnya.

Hati hatilah dengan ucapan syirik, bila seseorang muslim lalu
musyrik, maka pernikahannya batal, istrinya haram dikumpulinya,
jima dengan istri terhitung zina, anaknya tak bernasab padanya,
kewaliannya atas putrinya tidak sah, dan bila keluarganya wafat ia
tak mewarisi dan bila ia wafat tak pula diwarisi, ia diharamkan
shalat, diharamkan dikuburkan di pekuburan muslimin.

Saran saya, berziarahlah kubur bila anda berkenan, dan palingkan
pandangan dan sangka buruk dari mereka yg bertaburan menyan dan
kembang dlsb, jangan sesekali menuduh mereka musyrik, mungkin hati
mereka musyrik, tapi kita dimurkai Rasul saw bila menuduhnya.

bila anda selesai berziarah, ada baiknya anda menyalami mereka dan
dengan senyum hangat anda memberi mereka hadiah Al Qur?an, dan
katakanlah : ?Wahai Tuan, para Sunan dan wali songo itu mempunyai
kesenangan dan kegemaran, dan mereka akan senang bila Tuan
mengamalkan kegemaran dan amal mereka?, pastilah serta merta
mereka akan bertanya dg sigap..apakah kegemaran mereka??!!,
jawablah dengan lembut dan berwibawa : ?Mereka siang malamnya
asyik dengan Al Qur?an.. pasti Tuan akan disayangi mereka bahkan
disayang Allah bila asyik membaca Al Qur?an, Nah..ini saya
hadiahkan pada tuan, barang yg paling disayangi oleh Para Wali dan
Sunan?.

?DAN HAMBA HAMBA ARRAHMAN (ALLAH SWT) YANG BERJALAN DIMUKA BUMI
DENGAN RENDAH DIRI, (tidak sombong), DAN BILA MEREKA DIAJAK BICARA
(dicaci, atau di bentak) OLEH ORANG ORANG JAHIL, MAKA MEREKA
MENJAWABNYA DENGAN LEMBUT? (Alfurqan-63).

Wallahu a?lam.

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

handlight Re:Tanya tentang tawasul ? – 2005/11/27 20:47 Dan setelah datang
kepada mereka Al-Qur^an dari Allah yang membenarkan apa yang ada
pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon untuk
mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang
kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar
kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.
[QS. Al-Baqarah: 89]
Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang Yahudi sebelum Nabi
Muhammad lahir, yang mereka bertawassul dengan Nabi akhir zaman
agar dimenangkan terhadap orang-orang kafir. Akan tetapi ketika
Nabi tersebut telah dibangkitkan, mereka ingkar kepadanya.
Kemudian tersebut dalam kitab hadits:
Bahwasanya Nabi SAAW pernah berdo?a dengan mengatakan, ?Dengan haq
Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelum aku.? [HR. Imam Thabrani]
Dari Umar ra. Ia berkata: Rasulullah SAAW bersabda, ?Tatkala Adam
melakukan kesalahan, dia berkata: ?Wahai Rabbku, aku memohon
kepada-Mu dengan haq Muhammad akan dosa-dosaku, agar Engkau
mengampuniku.? Lalu Allah berfirman: ?Wahai Adam, bagaimana kamu
mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya (sebagai
manusia) ?? Adam menjawab: ?Wahai Rabbku, tatkala Engkau
menciptakanku dengan Tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam
diriku, maka Engkau Mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas
kaki-kaki arsy tertulis ?Laa Ilaaha illallaah Muhammadur
Rasuulullaah? sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke
dalam Nama-Mu kecuali makhluq yang paling Engkau cintai.? Lalu
Allah Berfirman: ?Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad
adalah makhluq yang paling Aku cintai, berdoalah kepadaku dengan
haq dia, maka sungguh Aku Mengampunimu. Sekiranya tidak ada
Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.? [HR. Al-Hakim dalam
Al-Mustadrak juz 2 halaman 615, dan beliau mengatakan shahih. Juga
Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Ibnu Taimiyah mengutipnya
dalam kitab Al-Fatwa juz 2 halaman 150, dan beliau menggunakannya
sebagai tafsir/penjelasan bagi hadits-hadits yang shahih]
Dari Abu Sa?id Al-Khudry ra. berkata: Rasulullah SAAW bersabda, ?
Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk shalat, lalu membaca: ?Yaa
Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan haq orang-orang
yang memohon kepada-Mu dan dengan haq perjalananku ini, karena aku
tidak keluar dalam keadaan kufur ni?mat, sombong, riya`, atau pun
sum?ah, tapi aku keluar karena takut murka-Mu dan karena mencari
ridha-Mu, karena itu aku mohon kepada-Mu kiranya Engkau memelihara
aku dari neraka dan mengampuni dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada
yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.? Maka Allah
menghadap dengan wajah-Nya dan tujuh puluh ribu malaikat
memohonkan ampunan untuknya.? [Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam
Nataaijul Afkar berkata: Hadits ini adalah hasan, dikeluarkan oleh
Ahmad ibnu Khuzaimah dalam kitab At-Tauhid, Abu Naim dan Ibnus
Sunni.]
Dalam hadits di atas dikatakan bahwa Rasul bertawassul dengan
orang yang berdoa kepada Allah, bukan dengan kecintaan beliau
kepada orang yang berdoa kepada Allah. Jadi dalam bertawassul
dengan nabi atau orang shalih, seseorang bukanlah bertawassul
dengan amal shalihnya, berupa kecintaannya kepada nabi atau orang
shalih tersebut. Tetapi seseorang bertawassul dengan nabi atau
orang shalih itu, dengan derajat mereka, dengan kedekatan mereka
di sisi Allah. Jadi, tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa
seseorang yang bertawassul dengan nabi atau pun orang shalih, dia
harus mengi?tiqadkan bahwa ia bertawassul dengan amal shalihnya,
yaitu berupa kecintaannya kepada nabi atau orang shalih. Orang
berpendapat seperti ini adalah orang yang meng-haramkan
bertawassul dengan nabi atau pun orang shalih, atau pun dengan
malaikat. Padahal dalam hadits di atas telah begitu jelas
bagaimana nabi bertawassul. Lalu atas dasar apa mereka mengatakan
bahwa tawassul dengan orang yang berdoa kepada Allah itu haram,
bertawassul dengan nabi itu sudah dihapus, bertawassul dengan nabi
itu harus mengi?tiqadkan bahwa ia bertawassul dengan amal shalih,
kalau tidak demikian berarti haram. Mana dalilnya? Mana dalil yang
mengharamkan bertawassul dengan nabi? Mana dalil yang menunjukkan
bahwa hadits bertawassul dengan nabi telah dihapus? Mana dalil
yang menunjukkan bahwa seseorang harus mengi?tiqadkan bahwa ia
bertawassul dengan amal shalihnya berupa kecintaan kepada nabi?
Mana dalilnya? Mengapa bertawassul dengan nabi disebut syirik,
sedangkan bertawassul dengan amal shalih sendiri tidak disebut
syirik? Bukankah amal shalih juga makhluq? Bukankah derajat nabi
lebih tinggi dari amal shalih kita yang belum tentu ikhlash?
Hadits di atas telah jelas. Begitu juga hadits-hadits shahih
berkenaan dengan hal ini.
Jadi adalah boleh bertawassul dengan para Nabi dan orang-orang
shalih sebab Allah mencintai mereka. Dan bolehnya perbuatan ini
tidak bisa dihapus hanya dengan persangkaan-persangkaan. Jika ada
yang mengatakan bahwa keterangan yang jelas ini telah dihapus,
maka ia harus mengemukakan dalil yang jelas pula dari Al-Qur`an
atau hadits yang jelas dan shahih, bukan berdasarkan persangkaan
seorang ustadz. Jika yang menghapus itu adalah seorang ustadz
tanpa nas yang jelas, kemudian ada orang yang mengikutinya, maka
pengikutnya itu telah menyembah ustadz tersebut, sebab pengikutnya
telah mengangkat sang ustadz sebagai syari? (pembuat syari?at).
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka
sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al
Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan
Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.
Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [QS. At-Taubah:
31]
Jika seseorang mengganti perkataan ?Ya Rabbi bil Musthafa? dengan
?Ya Rabbi bit taqwana?, maka aku bertanya, manakah yang lebih
tinggi derajatnya di sisi Allah, Muhammad Al-Musthafa ataukah
taqwa kita yang tidak seberapa?
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Syafi?i di Makkah pada abad yang
lalu berkata: ?Kesimpulannya, bahwa menurut paham Ahlussunnah wal
Jama?ah adalah sah bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW, baik
ketika hidup beliau, maupun sesudah beliau meninggal. Begitu juga
boleh bertawassul dengan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang lain,
dengan auliya-auliya dan orang-orang shalih sebagaimana dianjurkan
oleh hadits-hadits yang telah kami terangkan terdahulu. Kita kaum
Ahlussunnah wal Jama?ah mengi?tiqadkan bahwa tiada seorang pun
yang dapat memberi efek, mengadakan, menjadikan, meniadakan,
memberi manfaatnya, memberi mudharat, kecuali hanya Allah Yang
Maha Esa saja, tidak bersekutu bagi-Nya. Kita tidak mempercayai
Nabi mengadakan ta?tsir (memberi efek), Nabi memberi manfaat pada
haqiqat, memberi mudharat dengan jalan mengadakan, memberi bekas/
efek, dan juga tidak bagi lain Nabi, baik orang yang telah mati
maupun yang masih hidup. Maka tidak ada perbedaan dalam soal ini
dan dalam soal tawassul ini antara Nabi SAW dan Nabi-Nabi yang
lain, rasul-Rasul, Wali-Wali dan orang-orang shalih, tidak ada
perbedaannya hidup atau mati, karena mereka tidak menciptakan
suatu juga, mereka tidak berkuasa sama sekali, hanya berkat mereka
diambil karena kekasih Allah; mencipta dan mengadakan hanya milik
Allah, Tunggal dan tidak bersekutu. Orang-orang yang memperbedakan
antara orang yang hidup dengan orang mati, maka orang itu mengi?
tiqadkan bahwa orang hidup bisa mencipta apa-apa dan orang mati
tidak bisa lagi. Kita berkeyakinan dan beri?tiqad bahwa yang
menjadikan tiap-tiap suatu adalah Allah, dan Allah itu menjadikan
kita dan menjadikan pekerjaan kita. (Lihat QS. 37: 96) Orang-orang
yang membolehkan tawassul dengan orang yang masih hidup tetapi
melarang tawassul dengan orang yang telah wafat maka orang itu
pada haqiqatnya telah masuk syirik dalam i?tiqad dan tauhid
mereka, karena mereka mengi?tiqadkan bahwa yang hidup bisa
mencipta, sedang orang yang telah wafat tidak bisa lagi.
Orang-orang beri?tiqad macam itu, bagaimana pula mereka mengatakan
bahwa mereka memelihara tauhid, dan orang lain dikatakannya telah
masuk kepada syirik, sedang pada haqiqatnya merekalah yang
kemasukan syirik. Mahasuci Engkau, ya Rabb! Itulah bohong mereka
yang besar (buhtaanun ?azhiim).? [Kitab ?Syawahidul Haq? karangan
Syeikh Yusuf bin Isma?il an Nabbani hal. 159]

Istighatsah
Istighotsah atau meminta tolong kepada manusia adalah boleh selama
kita beri?tiqad bahwa pada haqiqatnya Allahlah yang memberi
pertolongan. Para shahabat pun pernah beristighatsah kepada Nabi
dan paman beliau, dan bahkan diantara mereka ada yang bersyair, ?
Kalau bukan kepada engkau, kemana kami akan pergi. Kemanakah
manusia akan meminta bantuan kalau bukan kepada Rasul Ilahi.? Akan
tetapi Nabi tidak memarahi mereka, bahkan Nabi berdo?a kepada
Allah bagi mereka.
Dan dalam Injil Barnabas pasal 11 ada dikisahkan mengenai orang
yang berpenyakit kusta datang kepada Nabi Isa dan berkata, ?Tuan,
berilah aku kesehatan.? Nabi Isa mencelanya, ?Kamu adalah bodoh,
berdoalah kepada Allah yang telah menciptakanmu, dan Dia akan
memberimu kesehatan, karena aku adalah seorang manusia seperti
kamu.? Orang itu menjawab, ?Saya tahu bahwa engkau adalah seorang
manusia, tetapi engkau seorang suci utusan Allah. oleh sebab itu
mohon engkau doakanlah kepada Allah, dan semoga Dia berkenan
memberikan daku kesehatan.? Maka Nabi Isa berdoa, ?Allah Tuhan
Mahakuasa, demi kecintaan para Nabi Suci, Engkau berilah kesehatan
terhadap orang yang sakit ini.? Dalam hal ini ada istighotsah,
tawassul dengan Asma dan Sifat Allah, tawassul dengan meminta
dido?akan, juga tawassul dengan para Nabi.

Wallahu a?lam.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Tanya tentang tawasul ? – 2005/11/29 14:11 Mengenai
Istighatsah, dalil telah jelas bagaikan matahari.
tercantum dalam Shahih Bukhari (ashahhulkitab ba^dalqur^an) bahwa
Rasul saw bersabda : “kelak dihari qiamat matahari didekatkan
hingga sampailah keringat mereka ditengah telinga, lalu saat
mereka dalam keadaan demikian mereka ber Istighatsah pd Adam, lalu
Musa, Lalu Muhammad…..”.

diriwayatkan dalam kitab Imam Ibn Sunni, dari Haitsam bin Hanasy
berkata : “kami sedang bersama Abdullah bin Umar ra, lalu kakinya
terkena keram (kejang urat), maka ia berseru : “Wahai Muhammad..!
“, maka ia terlepas dari keramnya.
dan demikian pula riwayat dari Ibn Abbas ra, yg memerintahkan
orang yg terkena penyakit keram agar memanggil orang yg paling ia
cintai, maka berkatalah lelaki itu, : “wahai Muhammad..!”, maka
hilanglah penyakit keramnya. (Al Adzkar hal. 271)

demikian pula dari Ibn Mundzir alhuzamiy (salah seorang guru Imam
Bukhari), yg Imam Bukhari menganggapnya rajulun tsiqat, dan masih
banyak lagi riwayat Ibn Qayyim dll mengenai dalil Istighatsah. (Al
Adzkar hal. 271), demikian pula riwayat Imam Qadhi Iyadh dalam
kitabnya Assyifa

wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=48

© http://carauntuk.com/tanya-tentang-tawasul-kenapa-ada-sebagian-orang-ada-yang-menganggap-ini-bidah-dan-sebagian-lagi-tidak