Homeforum.majelisrasulullah.orgTanggapan Shalat Tarawih –

Tanggapan Shalat Tarawih –

forum.majelisrasulullah.org 0 0 likes 32 views share

abifadhil Tanggapan Shalat Tarawih – 2007/09/28 22:06 Assalamualaikum wr.wb

Yang saya hormati habib munzir, semoga kita selalu memdapat rahmat
dan hidayah Allah SWT.

Saya ingin menanggapi salah satu pertanyaan yang berkenaan tentang
rakaat shalat tarawih, antum menanyakan rujukan atau dasar hukum
shalat tarawih 11 rakaat.

Berikut ini adalah 2 tulisan dari seorang ulama ahli hadist yang
sama-sama kita kenal yang mendasari keshahihan shalat tarawih 11
rakaat, semoga dapat mencerahkan kita sebagai umat islam agar
tidak lagi mempertentangkan rakaat dalam shalat tarawih.

UMAR BIN AL-KHATTAB MENGHIDUPKAN KEMBALI SHALAT TARAWIH (BERJAMA
AH) DAN MENYURUH MENUSIA KALA ITU UNTUK SHALAT SEBELAS RAKA AT

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa semenjak kematian Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam para sahabat Radhiyallahu anhum
terus menjalankan shalat tarawih dengan berpencar-pencar dan
bermakmum kepada imam yang berbeda-beda [1]

Itu terjadi di masa kekhalifahan Abu Bakar dan di awal
kekahlifahan Umar Radhiyallahu anhuma. Kemudan akhirnya Umar bin
Al-Khattab menyatukan mereka untuk bermakmum kepada satu imam.
Abdurrahman bin Abdul Qariy berkata :

Suatu malam di bulan Ramadhan, aku keluar bersama Umar bin
Al-Khattab menunju masjid. Ternyata kami dapati manusia
berpencar-pencar disana sini. Ada yang shalat sendirian, ada juga
yang shalat mengimami beberapa gelintir orang. Beliau berkomentar
: (Demi Allah), seandainya aku kumpulkan orang-orang itu untuk
shalat bermakmum kepada satu imam, tentu lebih baik lagi .
Kemudian beliau melaksanakan tekadnya, beliau mengumpulkan mereka
untuk shalat bermakmum kepada Ubay bin Ka ab Radhiyallahu anhu.
Abdurrahman melanjutkan : Pada malam yang lain, aku kembali
keluar bersama beliau, ternyata orang-orang sudah sedang shalat
bermakmum kepada salah seorang qari mereka. Beliaupun berkomentar
:

Sebaik-baik bid ah, adalah seperti ini .

Namun mereka yang tidur dahulu (sebelum shalat) lebih utama dari
mereka yang shalat sekarang

Yang beliau maksudkan yaitu mereka yang shalat di akhir waktu
malam. Sedangkan orang-orang tadi shalat di awal waktu malam

Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwattha (I : 136-137),
demikian juga Al-Bukhari (IV : 203), Al-Firyabi (II : 73, 74 :
1-2). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah (II : 91 : 1) dengan
lafazh yang mirip, namun tanpa ucapan beliau : sebaik-baiknya bid
ah, ya yang seperti ini . Demikian juga Ibnu Sa ad (V : 42) dan
Al-Firyabi dari jalur lain (74 : 2) meriwayatkannya dengan lafazh
: kalau yang seperti ini dianggap bid ah, maka sungguh satu bid
ah yang amat baik sekali . Para perawinya terpercaya, kecuali
Naufal bin Iyyas. Imam Al-Hafizh mengomentarinya dalam At-Taqrib
; Bisa diterima , maksudnya apabila diiringi hadits penguat,
kalau tidak, maka tergolong hadits yang agak lemah. Begitu
penjelasan beliau dalam mukaddimah buku tersebut.

Perlu diketahui, bahwa dikalangan para ulama belakangan ini, cukup
dikenal penggunaan ucapan Umar diatas, yaitu ucapan beliau :
Sebaik-baiknya bid ah . sebagai dalil dalam dua perkara :

Pertama
Berjama ah dalam shalat tarawih adalah bid ah yang tidak penah ada
di zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Persepsi ini jelas
amatlah keliru, tidak perlu banyak dikomentari karena sudah
demikian jelasnya. Sebagai dalilnya, cukup bagi kita hadits-hadits
terdahulu ; yaitu yang mengkisahkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi
wa sallam mengumpulkan manusia kala itu dalam tiga malam bulan
Ramadhan. Kalaupun akhirnya beliau meninggalkan berjama ah,
semata-mata hanya karena takut dianggap wajib.

Kedua.
Bahwa diantara bid ah itu ada yang terpuji. Dengan (ucapan Umar)
tadi, mereka mengkhususkan keumuman hadits Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam : Setiap bid ah itu adalah sesat . Dan juga
hadits-hadits lain yang sejenis. Pendapat ini juga bathil ; hadits
tersebut harus diartikan dengan keumumannya, sebagaimana yang
dijelaskan nanti dalam tulisan khusus mengenai bid ah, insya
Allahu Ta ala. Adapun ucapan Umar : Sebaik-baik bid ah, adalah
yang seperti ini , yang beliau maksudkan bukanlah bid ah dalam
pengertian istilah; yang berarti : Mengada-ada dalam menjalankan
ibadah tanpa tuntunan (dari Nabi). Sebagaimana yang kita tahu,
beliau tidak pernah melakukan sedikitpun. Bahkan sebaliknya,
beliau menghidupkan banyak sekali dari sunnah Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam. Namun yang beliau maksudkan dengan bid ah adalah
dalam salah satu pengertiannya menurut bahasa. Yaitu suatu
kejadian yang baru yang belumlah dikenal sebelum beliau
perkenalkan. Dan tidak diragukan lagi, bahwa tarawih berjama ah
belumlah dikenal dan belum diamalkan semenjak zaman khalifah Abu
Bakar dan juga di awal-awal kekhalifahan Umar sendiri Radhiyallahu
anhuma sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya-. Dalam pengertian
begini, ia memang bid ah. Namun dalam kacamata pengertian bahwa ia
sesuai dengan perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ia
adalah sunnah, bukannya bid ah. Hanya dengan alasan itulah beliau
memberikan tambahan kata baik . Pengertian seperti inilah yang
dipegang oleh para ulama ahli tahqiq (peneliti) dalam menafsirkan
ucapan Umar tadi. Abdul Wahhab As-Subki dalam Isyraqul Mashabiih
Fi Shalati At-Tarawih yang berupa kumpulan fatwa (I : 168)
menyatakan :

Ibnu Abdil Barr berkata : Dalam hal itu Umar tidak sedikitpun
membuat-buat sesuatu melainkan sekedar menjalani apa yang
disunnahkan, disukai dan diridhai Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam. Dimana yang menghalangi beliau Shallallahu alaihi wa
sallam untuk melakukan secara kontinyu semata-mata karena takut
dianggap wajib atas umatnya. Sedangkan beliau adalah orang yang
pengasih lagi pemurah terhadap umatnya. Tatkala Umar mengetahui
alasan itu dari Rasulullah, sementara ia mengerti bahwa
amalan-amalan yang wajib tidak akan bertambah ataupun berkurang
lagi sesudah kematian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ; maka
beliaupun mulai menghidupkannya dan menyuruh manusia untuk
melakukannya. Kejadian itu berlangsung pada tahun 14 H. Itu adalah
keutamaan yang Allah simpan lalu diperuntukkan bagi beliau
Radhiyallahu anhu. Yang mana Abu Bakar sekalipun tidak pernah
terinspirasi untuk melakukannya. Meskipun, beliau lebih utama dan
lebih segera melakukan kebaikan secara umum- daripada Umar
Radhiyallahu anhuma. Akan tetapi masing-masing dari keduanya
dianugerahi Allah keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki yang
lainnya . As-Subki menyatakan.

Kalau melakukan tarawih berjama ah itu tidaklah memiliki
tuntunan, tentu ia termasuk bid ah yang tercela ; sebagaimana
shalat sunnah hajat di malam Nishfu Sya ban, atau di Jum at
pertama bulan Rajab. Itu harus diingkari dan jelas kebatilannya
(yakni kebatilan pendapat yang mengingkari bolehnya shalat tarawih
berjama ah). Dan kebatilan perkara tersebut merupakan pengertian
yang sudah baku dalam pandangan Islam .

Al-Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami didalam fatwa yang ditulisnya
menyatakan.

Mengeluarkan orang-orang Yahudi dari semenanjung jazirah Arab,
dan memerangi Turki (Konstantinopel, pent) adalah perbuatan yang
dilakukan berdasarkan perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
dan tidak termasuk katagori bid ah, meskipun belum pernah
dilakukan di masa hidup beliau. Sedangkan ucapan Umar berkenaan
dengan tarawih : Sebaik-baiknya bid ah yang dimaksud adalah bid
ah secara bahasa. Yaitu sesuatu yang diperbuat tanpa contoh
sebeumnya ; sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wa Ta ala.

Artinya : Katakanlah : Aku bukanlah rasul yang pertama di antara
raul-rasul [Al-Ahqaf : 9]

Jadi yang dimaksud bukanlah bid ah secara istilah. Karena bid ah
secara istilah menurut syari at adalah sesat, sebagaimana yang
ditegaskan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Adapun sebagian
ulama yang membaginya menjadi bid ah yang baik dan tidak baik,
sesungguhnya yang mereka bagi hanyalah bid ah menurut bahasa.
Sedangkan orang yang mengatakan setiap bid ah itu sesat maksudnya
adalah bid ah menurut istilah. Bukankah kita mengetahui bahwa para
shahabat Radhiyallahu anhum dan juga para tabi in yang mengikuti
mereka dengan kebaikan juga menyalahi adzan pada selain shalat
yang lima waktu, misalnya shalat dua Hari Ied, padahal tidak ada
larangannya (secara khusus). Mereka juga menganggap makruh mencium
dua rukun Syami (di Masjidil Haram), atau shalat seusai sa i
antara Shafa dan Marwah yang dikiaskan dengan shalat seusai
berthawaf. Demikian juga halnya segala yang ditinggalkan
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sementara itu mungkin
dilakukan, maka meninggalkan amalan itu menjadi sunnah ; sementara
mengamalkannya menjadi bid ah yang tercela. Maka seperti :
Mengusir orang-orang Yahudi dari tanah Arab dan mengumpulkan
Al-Qur an dalam satu mushaf, tidaklah masuk dalam konteks
pembicaraan kita tentang yang mungkin dikerjakan Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam dimasa hidupnya. Segala yang
ditinggalkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam karena adanya
penghalang seperti shalat tarawih berjama ah misalnya ; maka
apabila ada kemungkinan yang pasti [2], berarti hilanglah
penghalang yang ada tersebut. [3]

UMAR RADHIYALLAHU ANHU MEMERINTAHKAN MANUSIA UNTUK SHALAT 11 RAKA
AT

Adapun perintah Umar Radhiyallahu anhu untuk didirikannya tarawih
11 raka at, adalah berdasarkan apa yang diriwayatkan Imam Malik
dalam Al-Muwaththa (I : 137) (dan No. 248), dari Muhammad bin
Yusuf, dari As-Saib bin Yazid bahwasanya beliau menuturkan.

Umar bin Al-Khattab memerintahkan Ubay bin Ka ab dan Tamim
Ad-Dari untuk mengimami manusia (shalat tarawih) 11 raka at .
Beliau melanjutkan : Dan kala itu, seorang qari/imam biasa
membaca ratusan ayat sehingga kami terpaksa bertelekan pada
tongkat kami karena terlalu lama berdiri. Lalu kami baru bubar
shalat menjelang fajar .

Saya katakan : Derajat sanad hadits ini shahih sekali.
Sesungguhnya Muhammad bin Yusuf, syaikh/guru Imam Malik adalah
orang yang terpercaya berdasarkan kesepakatan ahli hadits. Beliau
juga dijadikan hujjah oleh Al-Bukhari dan Muslim. Sedangkan
As-Saib bin Yazid adalah seorang shahabat yang ikut berthaji
bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tatkala beliau masih
kecil. Lalu dari jalur sanad Imam Malik juga, Abu Bakar
An-Naisaburi mengeluarkan hadits itu dalam Al-Fawaid (I : 153),
Al-Firyabi (75 : II-76 : I) dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan
Al-Kubra (I : 196)

Riwayat Malik tentang tarawih 11 raka at tadi diiringi dengan
penguat dari Yahya bin Sa id Al-Qatthan oleh Ibnu Abi Syaibah
dalam Al-Mushannaf (II : 89 : 2), juga dengan riwayat dari Isma
il bin Umayyah, Usamah bin Zaid, Muhammad bin Ishaq oleh Imam
An-Naisaburi ; juga dengan riwayat Ismail bin Ja far Al-Madani
oleh Ibnu Khuzaimah dalam hadits Ali bin Hajar (IV : 186 : 1).
Mereka semua mengatakan : Dari Muhammad bin Yusuf dengan lafazh
tadi, kecuali Ibnu Ishaq, beliau mengatakan : Tiga belas raka at
demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Nashar dalam Qiyamu
Al-Lail (91), dan beliau menambahkan:

Ibnu Ishaq menyatakan : Tidak pernah aku mendengar dalam masalah
itu (yakni bilangan raka at tarawih pada bulan Ramadhan) riwayat
yang lebih shahih dan lebih meyakinkan daripada hadits As-Saib.
Yaitu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam biasa
melaksanakannya pada malam hari 13 raka at .

Saya katakan : Jumlah bilangan 13 raka at ini, hanya diriwayatkan
secara menyendiri oleh Ishaq. Dan riwayat itu, bersesuaian dengan
riwayat lain dari Aisyah Radhiyallahu anha tentang shalat Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Hal ini
dijelaskan dalam riwayat lain, bahwa termasuk dalam yang 13 rakaat
itu dua rakaat sunnah fajar, sebagaimana dalam komentar
sebelumnya. Hadits Ibnu Ishaq inipun bisa dipahami dengan cara itu
sehingga menyepakati riwayat jama ah

Dari penjelasan terdahulu, dapat dipahami bahwa ucapan Ibnu Abdil
Barr : saya tidak pernah mendengar seorangpun yang mengatakan 11
raka at, kecuali Imam Malik ; adalah ucapan yang jelas keliru.
Al-Mubarakfuri mengomentari dalam Tuhfatul Ahwadzi (II : 74) :
itu adalah dugaan yang bathil . Oleh sebab itu, Az-Zarqani juga
menyanggahnya dalam Syarhu Al-Muwattha (I : 25) dengan ucapannya
: Hal itu tidak sebagaimana yang diucapkannnya (Ibnu Abdil Barr),
karena dari jalur sanad yang lain Ibnu Manshur meriwayatkan juga
dari Muhamamd bin Yusuf : 11 raka at , sebagaimana yang
diriwayatkan Imam Malik .

Saya mengatakan : Derajat sanad hadits ini sungguh amat shahih,
sebagaimana yang diutarakan oleh Imam As-Suyuthi dalam
Al-Mashabih , (riwayat) ini saja sudah cukup untuk menyanggah
pernyataan Ibnu Abdil Barr. Bagaimana lagi kalau digabungkan
dengan beberapa riwayat penguat lainnya yang saya lihat- tidak
seorangpun yang mendahului saya dalam mengumpulkan riwayat-riwayat
itu. Wal hamdulillah ala taufiqihi.

[Disalin dari kitab Shalatu At-Tarawih, Edisi Indonesia Shalat
Tarwih, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerjemah
Abu Umar Basyir Al-Maidani, Penerbit At-Tibyan]
_________
Foote Note
[1]. Saya katakan : Demikianlah kondisi yang terjadi di masa
hidup Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu beliau mengimami
mereka selam tiga malam. Kemudian beliau meninggalkannya karena
takut dianggap wajib atas mereka sebagai hadits Aisyah terdahulu.
Sehingga kembalilah kaum muslimin kepada kebiasaan semula, hingga
Umar mengumpulkan mereka. Semoga Allah mengganjarinya dengan
kebaikan atas jasa beliau terhadap Islam. Ibnu At-Tiien dan yang
lainnya berkata : Umar bin Al-Khattab mengambil kesimpulan,
denghan ketetapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam akan
keabsahan shalat orang-orang yang bermakmum kepada beliau pada
beberapa malam itu. Kalaupun ada yang beliu benci, hanya sebatas
karena beliau khawatir akhirnya menjadi wajib atas mereka. Inilah
yang menjadi rahasia kenapa Al-Bukhari mengutip hadits Aisyah yang
terdahulu sesudah hadits Umar. Setelah nabi meninggal, kekhawitran
itu sudah tidak berlaku lagi. Umar lebih mengutamakan kesimpulan
demikian, karena berpencar-pencarnya kaum muslimin dapat
menimbulkan perpecahan. Dan juga karena berjama ah dengan satu
imam itu lebih membawa semanngat bagi banyak orang yang shalat .
Dan terhadap ucapan Umar itu, mayoritas umat lebih cenderung
[Fathul Bari IV : 203-204]
[2]. Yang dimaksud dengan kemungkinan yang pasti : Adalah ketidak
adaan penghalang itu sendiri. Contohnya shalat tarawih berjama ah.
Kemungkinan untuk melaksanakan perbuatan itu ada di zaman Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam, akan tetapi ada penghalangnya,
yaitu takut dianggap wajib. Maka pada saat itu, kemungkinannya
tidaklah pasti.
[3]. Lihat Al-Ibda Fi Mudhaaril ibtida hal. 22-24

dan tulisan yang ke dua……

NABI SHALLALLAHU ^ALAIHI WA SALLAM TIDAK PERNAH SHALAT TARAWIH
MELEBIHI SEBELAS RAKA^AT

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Setelah kita menetapkan, disyariatkannya berjama^ah dalam shalat
tarawih berdasarkan ketetapan Nabi Shallallahu ^alaihi wa sallam,
perbuatan beliau dan juga anjurannya ; Maka sudah seharusnya kami
jelaskan juga beberapa jumlah raka^at yang dilaksanakan Nabi
Shallallahu ^alaihi wa sallam pada malam-malam yang beliau
hidupkan bersama para sahabat. Dan perlu diketahui, bahwa dalam
hal ini kami memiliki dua dalil.

Yang Pertama :
Dari Abi Salamah bin Abdir-Rahman, bahwasanya ia pernah bertanya
kepada ^Aisyah Radhiallahu ^anha tentang bagaimana shalat
Rasulullah Shallallahu ^alihi wa sallam di bulan Ramadhan ? Beliau
menjawab : “Baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang
lain, beliau Shallallahu ^alaihi wa sallam tidak pernah shalat
malam melebihi sebelas raka^at[1] . Beliau shalat empat raka^at[2]
; jangan tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat
lagi empat raka^at, jangan juga tanya soal bagus dan panjangnya.
Kemudian beliau shalat (witir) tiga raka^at.

Hadits tersebut diatas, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (III : 25, IV
: 205), Muslim (II : 166), Abu ^Uwanah (II : 327), Abu Dawud (I :
210), At-Tirmidzi (II : 302-303 cetakan Ahmad Syakir), An-Nasa^i
(I : 248), Malik (I : 134), Al-Baihaqi (II : 495-496) dan Ahmad
(VI : 36,73, 104).

Yang Kedua :
Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ^anhu bahwa beliau menuturkan
: “Rasulullah Shallallahu ^alaihi wa sallam pernah shalat bersama
kami di bulan Ramadhan sebanyak delapan raka^at lalu beliau
berwitir. Pada malam berikutnya, kamipun berkumpul di masjid
sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau
disitu hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan
bertanya : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi
malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami”. Beliau
menjawab : “Sesungguhnya aku khawatir kalau (akhirnya) shalat itu
menjadi wajib atas dirimu”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Nashar (hal
90), Ath-Thabrani dalam “Al-Mu^jamu Ash-Shagir” (hal 108). Dengan
hadits yang sebelumnya, derajatnya hadist ini hasan. Dalam “Fathul
Bari” demikian juga dalam “At-Talkhish” Al-Hafizh Ibnu Hajar
mengisyaratkan bahwa hadits itu shahih, Namun beliau menyandarkan
hadits itu kepada Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah masing-masing
dalam Shahih-nya].

Hadits Tarawih Dua Puluh Raka^at Dha^if Sekali dan Tidak Dapat
Dijadikan Hujjah Untuk Beramal

Dalam “Fathul Bari” (IV : 205-206) Ibnu Hajar ketika menjelaskan
hadits yang pertama, beliau menyatakan : “Adapun yang diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah
Shallallahu ^alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan dua puluh
raka^at ditambah witir, sanad hadist ini adalah dha^if. Hadits
^Aisyah yang disebut dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim ini juga
bertentangan dengan hadits itu, padahal ^Aisyah sendiri lebih
mengetahui seluk beluk kehidupan Rasulullah Shallallahu ^alaihi wa
sallam pada waktu malam daripada yang lainnya”. Pendapat serupa
juga telah lebih dahulu diungkapkan oleh Az-Zailai^ dalam “Nashbu
ar-Rayah” (II : 153).

Saya mengatakan : “Hadits Ibnu Abbas ini dha^if sekali,
sebagaimana dinyatakan oleh As-Suyuthi dalam “Al-Hawi Lil Fatawa”
(II : 73). Adapun cacat hadits itu yang tersembunyi, adanya perawi
bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman. Al-Hafizh dalam
“At-Taqrib” menyatakan : “Haditsnya matruk (perawinya dituduh
pendusta)”. Aku telah menyelidiki sumber-sumber pengambilan hadits
itu, namun yang aku temui cuma jalannya. Ibnu Abi Syaibah juga
mengeluarkannya dalam “Al-Mushannaf ” (II : 90/2), Abdu bin Hamid
dalam “Al-Muntakhab Minal Musnad” (43 : 1-2), Ath-Thabarani dalam
“Al-Mu^jamu Al-Kabir” (III : 148/2) dan juga dalam “Al-Ausath”
serta dalam “Al-Muntaqa” (edisi tersaring) dari kitab itu, oleh
Adz-Dzahabi (II : 3), atau dalam “Al-Jam^u” (rangkuman) Al-Mu^jam
Ash-Shaghir dalam Al-Kabir oleh penulis lain (119 : I), Ibnu ^Adiy
dalam “Al-Kamil” (I : 2), Al-Khatib dalam “Al-Muwaddhih” (I : 219)
dan Al-Baihaqi dalam “Sunan”-nya (II : 496). Seluruhnya dari jalur
Ibrahim (yang tersebut) tadi, dari Al-Hakam, dari Muqsim, dari
Ibnu Abbas hanya melalui jalan ini”. Imam Al-Baihaqi juga
menyatakan : “Hadits ini hanya diriwayatkan melalui Abu Syaibah,
sedangkan ia perawi dha^if “. Demikian juga yang dinyatakan oleh
Al-Haitsami dalam “Majmu^ Az-Zawaid” (III : 172) bahwa ia perawi
yang dha^if. Kenyataannya, ia malah perawi yang dha^if sekali,
seperti diisyaratkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar tadi bahwa ia
Matrukul hadits (ditinggal haditsnya karena dituduh berdusta).
Inilah yang benar, seperti juga dinyatakan oleh Ibnu Ma^in : “Ia
sama sekali tak bisa dipercaya”. Al-Jauzajani menyatakan : “Jatuh
martabatnya” (celaan yang keras). Bahkan Syu^bah menganggapnya
berdusta dalam satu kisah. Imam Al-Bukhari berkomentar :”Dia tak
dianggap para ulama”. Padahal Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan
dalam “Ikhti-shar ^Ulumi Al-Hadits” (hal 118) :”Orang yang
dikomentari oleh Al-Bukhari dengan ucapan beliau seperti tadi,
berarti sudah terkena celaan yang paling keras dan buruk, menurut
versi beliau”. Oleh sebab itu, saya menganggap hadits ini dalam
kategori Hadits Maudhu^ alias palsu. Disebabkan (disamping
kelemahannya) ia bertentangan dengan hadits ^Aisyah dan Jabir yang
terdahulu sebagaimana tadi diungkapkan oleh Al-Hafizh Az-Zaila^i
dan Al-Asqalani. Imam Al-Hafidz Adz-Dzahabi juga memaparkan
hadits-haditsnya yang munkar. Al-Faqih Ibnu Hajar Al-Haitami
menyatakan dalam “Al-Fatawa Al-Kubra” (I : 195) setelah beliau
menyebutkan hadits ini.

“Hadits ini sungguh amat dha^if ; para ulama telah bersikap keras
terhadap salah seorang perawinya, dengan celaan dan hinaan.
Diantara bentuk celaan dan hinaan itu (dalam kaedah ilmu hadits) :
Ia perawi hadits-hadits palsu, seperti hadits yang berbunyi :
“Umat ini hanya akan binasa di Aadzar (nama tempat) ” juga hadits
: “Kiamat itu hanya akan terjadi di Aadzar “. Hadits-hadistnya
yang berkenaan dengan masalah tarawih ini tergolong jenis
hadits-hadits munkarnya. Imam As-Subki itu sendiri menjelaskan
bahwa (diantara) persyaratan hadist dha^if untuk dapat diamalkan
adalah ; hadits itu tak terlalu lemah sekali. Imam Adz-Dzahabi
menyatakan : “orang yang dianggap berdusta oleh orang semisal
Syu^bah, tak perlu ditoleh lagi haditsnya”.

Saya mengatakan : “Apa yang dinukil beliau dari As-Subki itu
mengandung isyarat lembut dari Al-Haitami bahwa beliau sendiri tak
sependapat dengan mereka yang mengamalkan hadits tentang shalat
tarawih 20 raka^at itu, simaklah”.

Kemudian, setelah beliau menyebutkan hadits Jabir dari riwayat
Ibnu Hibban, Imam As-Suyuthi berkomentar : “Kesimpulannya, riwayat
tarawih 20 raka^at itu tak ada yang shahih dari perbuatan
Rasulullah Shallallahu ^alaihi wa sallam. Apa yang tersebut dalam
riwayat Ibnu Hibban merupakan klimaks apa yang menjadi pendapat
kami, karena (sebelumnya) kami telah berpegang dengan apa yang
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari ^Aisyah Radhiallahu ^anha, yaitu
: Bahwa beliau Shallallahu ^alaihi wa sallam baik dalam bulan
Ramadhan maupun dalam bulan lainnya tak pernah shalat malam
melebihi 11 raka^at. Kedua hadits itu (Hadits Riwayat Ibnu Hibban
dan Al-Bukhari) selaras, karena disebutkan disitu bahwa Nabi
Shallallahu ^alaihi wa sallam shalat delapan raka^at, lalu
menutupnya dengan witir tiga raka^at, sehingga berjumlah 11
raka^at. Satu hal lagi yang menjadi dalil, bahwa Nabi apabila
mengamalkan satu amalan, beliau selalu melestarikannya.
Sebagaimana beliau selalu meng-qadha shalat sunnah Dhuhur sesudah
Ashar ; padahal shalat waktu itu pada asalnya haram. Seandainya
beliau telah mengamalkan shalat tarawih 20 raka^at itu, tentu
beliau akan mengulanginya. Kalau sudah begitu, tak mungkin ^Aisyah
tidak mengetahui hal itu, sehingga ia membuat pernyataan seperti
tersebut tadi”.

Saya mengatakan : “Ucapannya itu mengandung isyarat yang kuat
bahwa beliau lebih memilih sebelas raka^at dan menolak riwayat
yang 20 raka^at dari Ibnu Abbas karena terlalu lemah, coba
renungkan”.

[Disalin dari buku Shalatu At-Tarawih, edisi Indonesia Shalat
Tarawih, Penyusun Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan
Pustaka At-Tibyan hal. 28 – 36 Penerjemah Abu Umar Basyir
Al-Maidani]
_________
Foote Note
[1]. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah (II/116/1), Muslim dan
lain-lain : “Shalat Rasulullah Shallallahu ^alaihi wa sallam baik
pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain adalah tiga
belas raka^at. Diantaranya dua raka^at fajar”. Namun dalam riwayat
lain yang dikeluarkan oleh Imam Malik (I : 142), juga oleh
Al-Bukhari (III : 35) dan lain-lain, diceritakan bahwa ^Aisyah
menuturkan :”Beliau shalat pada waktu malam tiga belas raka^at.
Lalu bila datang adzan subuh memanggil, beliau shalat dua raka^at
yang ringan”. Al-Hafidzh Ibnu Hajar mengatakan : “Pada dzahirnya,
hadits itu nampakl bertentangan dengan hadits terdahulu. Bisa
jadi, ^Aisyah menggabungkan dengan dua raka^at shalat sesudah
Isya, karena beliau memang melakukannya di rumah. Atau mungkin
juga dengan dua raka^at yang dilakukan Nabi sebagai pembuka shalat
malam. Karena dalam hadits shahih riwayat Muslim disebutkan bahwa
beliau memang memulai shalat malam dengan dua raka^at ringan. Dan
yang kedua ini lebih kuat, menurut hemat saya. Karena Abu Salamah
yang mengkisahkan kriteria shalat beliau yang tak melebihi 11
raka^at dengan empat-empat plus tiga raka^at, hal itu jelas belum
mencakup dua raka^at ringan (pembuka) tadi, dua raka^at itulah
yang tercakup dalam riwayat Imam Malik. Sedangkan tambahan matan
hadits dari seorang hafizh (seperti Malik) bisa diterima. Pendapat
ini lebih dikuatkan lagi dengan apa yang tertera pada riwayat
Ahmad dan Abu Dawud dari jalur riwayat Abdullah bin Abi Qais dari
^Aisyah Radhiallahu ^anha dengan lafazh : “Beliau melakukan witir
tiga raka^at setelah shalat empat raka^at ; atau tiga setelah
sepuluh. Dan beliau belum pernah berwitir -plus shalat malamnya-
labih dari tiga belas raka^at. Dan juga tidak pernah kurang
-bersama shalat malamnya- dari tujuh raka^at. Inilah riwayat
paling shahih yang berhasil saya dapatkan dalam masalah itu.
Dengan demikian, perselisihan seputar hadits ^Aisyah itu dapat
disatukan”.

Saya mengatakan : Adapun hadits Ibnu Abi Qais ini akan kembali
disebutkan Insya Allah dalam bahasan “Dibolehkannya shalat malam
kurang dari 11 raka^at (hal 81).

Penyelesaian yang dikemukakan oleh Ibnu hajar itu ditopang oleh
riwayat Imam Malik yang secara lebih rinci menyebutkan dua raka^at
ringan tersebut ; yaitu dari jalur hadits Zaid bin Khalid
Al-Juhani bahwasanya ia berkata : “Aku betul-betul berhasrat
menyelidiki shalat Rasulullah Shallallahu ^alaihi wa sallam pada
suatu malam. Beliau shalat terlebih dahulu dua raka^at ringan.
Kemudian beliau shalat dua raka^at panjang, lalu dua raka^at
panjang, lalu dua raka^at panjang. Dua raka^at yang kedua tidak
sepanjang yang pertama. Demikian juga yang ketiga tak sepanjang
yang kedua. Yang keempat juga tak sepanjang yang ketiga. Setelah
itu beliau menutup dengan witir. Semuanya berjumlah tiga belas
raka^at.

[Diriwayatkan oleh Imam Malik (I:143-144), Muslim (II:183), Abu
^Uwanah (II:319) Abu Dawud (I:215) dan Ibnu Nashar (hal.48]

Menurut hemat saya, ada kemungkinan dua raka^at disitu adalah
shalat sunnah sesudah Isya. Bahkan itulah yang nampak (berdasarkan
hukum) secara zhahir. Karena saya belum mendapatkan satu haditspun
yang menyebutkan dua raka^at itu berseiringan dengan penyebutan
raka^at yang tiga belas. Bahkan sebaliknya, saya justru
mendapatkan riwayat yang menopang apa yang saya perkirakan. Yaitu
hadits Jabir bin Abdullah, dimana beliau menyampaikan :”Dahulu
kami bersama-sama beranjak dengan Rasulullah dari Hudaibiyyah.
Tatkala kami sampai di Suqya (yaitu perkampungan antara Mekkah dan
Madinah), tiba-tiba beliau berhenti -dan jabir kala itu
disampingnya- lalu melakukan shalat isya^ kemudian setelah itu
beliau shalat tiga belas raka^at” (hadits ini diriwayatkan oleh
Ibnu Nashar (hal 48). Hadits ini juga sebagai nash yang jelas,
bahwa shalat sunnah ^Isya termasuk hitungan yang tiga belas tadi.
Seluruh perawi hadits tersebut tsiqah (terpercaya), selain
Syurahbil bin Sa^ad. Dia memiliki kelemahan.

[2]. Yakni dengan satu kali salam. Imam Nawawi dalam ^^Syarhu
Muslim” menyebutkan :”Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat
dengan hitungan itu. Adapun yang dikenal dari perbuatan Nabi
Shallallahu ^alaihi wa sallam bahkan beliau memerintahkan, yaitu
agar shalat malam itu dibuat dua-dua (raka^at).

Saya mengatakan : Yang dinyatakan oleh beliau itu sungguh benar
adanya. Adapun pendapat madzhab Syafi^iyyah bahwa (Wajib kita
bersalam pada setiap dua raka^at. Barangsiapa yang melakukannya
dengan satu salam, maka tidak shah) sebagaimana tersebut dalam
“Al-Fiqhu Ala Al-Madzahibi Al-Arba^ah” (I: 298) dan juga dalam
“Syarhu Al-Qasthalani” Terhadap shahih Al-Bukhari (V : 4) dan
lain-lain, pendapat itu jelas bertentangan dengan hadits shahih
ini dan juga bersebrangan dengan pernyataan Imam An-Nawawi yang
menyatakan dibolehkannya cara itu. Padahal beliau termasuk ulama
besar dan alhi tahqiq (peneliti) dari kalangan Syafi^iyyah. maka
jelas tak ada alasan bagi seseorang untuk menfatwakan hal yang
sebaliknya.!

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Tanggapan Shalat Tarawih – 2007/09/29 13:38 Alaikumsalam
warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya Keberkahan Syuhada Badr semoga selalu menerangi hari hari
anda dengan kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
Tarawih tak pernah ada di zaman Nabi saw, yg beliau lakukan itu
bukanlah tarawih, itu shalat witir, karena hadits Aisyah ra
mengatakan Rasul saw tak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat
di bulan ramadhan dan selain ramadhan, ini menunjukkan bukan
tarawih, karena ramadhan hanya dilakukan saat tarawih,

pendapat yg menguatkan ini adalah jika hal itu sunnah maka Nabi
saw tetap akan melakukannya sesekali, sebagaimana siwak yg juga
dijelaskan : “Jika tak risau akan menyulitkan kalian, akan
kuperintahkan kalian bersiwak setiap shalat (Shahih Bukhari),

namun beliau saw tak pernah melakukannya lagi, maka pun jika itu
sunnah maka sudah mansukh, (dihapus) karena beliau saw tak
melakukannya lagi,

dan jika hal itu sunnah maka mestilah Khalifah Abubakar shiddiq ra
melakukannya, mustahil beliau melupakannya, kemana pula para
sahabat lain yg bungkam saja jika hal itu sunnah?

hal itu baru dilakukan dimasa Umar bin Khattab ra,
riwayat shahih Imam Baihaqi yg juga dari Assaaib bin Yaziid
berkata bahwa mereka melakukan di zaman Umar bin Khattab ra shalat
tarawih di bulan ramadhan 20 rakaat, bahkan mereka sampai
bersandar dengan tongkat dimasa Ustman bin Affan ra. (Sunan Imam
Baihaqy Alkubra hadits no.4393).
lalu berkata Imam Baihaqiy bahwa bila kita mengumpulkan antara dua
riwayat ini (riwayat yg 11 rakaat dan 20 rakaat di masa Umar ra),
bahwa sebelumnya mereka melakukannya sebanyak 11 rakaat, lalu
kemudian mereka melakukannya dengan 20 rakaat dan witir 3 rakaat
(Sunan Imam Baihaqiy Alkubra Juz 2 hal 496).

Tentunya kita memahami bahwa Khalifah Umar ra kemudian
melakukannya 20 rakaat, diteruskan hingga zaman ustman ra
sebagaimana riwayat diatas bahwa mereka hingga bersandar pd
tongkat dimasa khalifah Ustman, Bahkan diriwayatkan bahwa hingga
zaman Ali bin Abi Thalib kw mereka masih melakukannya 20 rakaat
(Sunan Imam Baihaqy Alkubra hadits no.4395, 4396).

Pendapat Imam Ibn hajar dalam kitabnya Fathul Baari Almasyhur :
Terdapat banyak riwayat mengenai tarawih, ada pendapat yg
mengatakannya 11 rakaat dan adapula yg 13 rakaat, adapula yg 20
rakaat, dan ikhtilaf adalah pd yg lebih dari 20 rakaat yaitu
condong lebihnya adalah witr, adapula riwayat 36 rakaat, 39 rakaat
dan banyak lagi yg melebihi 40 rakaat.

Berkata Imam Syafii bahwa kulihat orang melaksanakan shalat
tarawih di Madinah sebanyak 39 rakaat dan di Makkah 23 rakaat
(Fathul Baari Almasyhur Juz 4 hal 253)

Pendapat Ibn Taimiyyah :
Sungguh telah kuat riwayat bahwa Ubay bin Ka?ab menjalankan shalat
tarawih 20 rakaat dan shalat witir 3 rakaat, maka pendapat banyak
ulama bahwa hal itu sunnah (Fatawa Ibn taimiyyah Juz 23 hal 112)

mengenai pendapat Imam Malik, beliau sendiri meriwayatkan tarawih
11 rakaat, beliau meriwayatkan pula tarawih 20 rakaat, dan beliau
meriwayatkan pula tarawih yg 36 rakaat, “inilah yg telah berjalan
selama lebih dari 100 tahun”, demikian tutur Imam Malik. dan
teriwayatkan dari Imam Malik pula 46 rakaat dengan 3 witir, inilah
yg masyhur darinya(Fathul Baari Almasyhur Juz 4 hal 253 – 254).

dan tak ada satu madzhab pun yg melakukan shalat 11 rakaat. Jumhur
seluruh ahlussunnah waljamaah dari 4 madzhab tak satupun melakukan
tarawih dibawah 20 rakaat.

bahkan di Haramain Masjidil Haram dan Masjidinnabawiy tidak
melakukan 11 rakaat,

cuma wahabi disini saja memisahkan diri sendiri, dan mengenai Al
Albaniy kita tak mengakuinya sebagai Muhaddits, karena muhaddits
adalah orang yg banyak menerima sanad hadits, sedangkan beliau
hanya menukil dan menghafal dari buku, tak pernah jumpa dengan
Rijalussanad, tak pula jumpa dengan perawi hadits, tak pula punya
sanad kepada Imam Bukhari, tak pula punya sanad pada imamul
madzahib, maka sanad beliau Maqtu^ dan hujjah beliau sangat dhoif,
lebih lebih lagi beliau bertentangan dengan Arba^a madzahib, maka
ini Batil.

mengenai masalah bid^ah telah saya jelaskan panjang lebar di
halaman depan web ini pada artikel yg berjudul : “Bid^ah”.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=7891

© http://carauntuk.com/tanggapan-shalat-tarawih

Sponsor 2

Leave a Reply