Homeforum.majelisrasulullah.orgTa^alluq dalam Kajian Sifat

Ta^alluq dalam Kajian Sifat

forum.majelisrasulullah.org 0 0 likes 35 views share

nugon19 Ta^alluq dalam Kajian Sifat 20 – 2008/03/27 18:15 As Salamu
^alaikum wr. wb.,

Habib Munzir yg ane hormati,

Mohon maaf Habib, ane mohon bantuan untuk penjelasan dan pemberian
referensi terkait pelajaran Sifat 20, terlebih khusus utk
Ta^alluq, terlebih dalam Bhs Indonesia, karena ane tdk bisa
berbahasa Arab.

Begini Habib Munzir…
Sewaktu ane muallaf, ketika SD dan Mts (SMP) Muhammadiyah, guru
mengaji dan guru sekolah ane mengajarkan Sifat 20. Tetapi tdk
pernah menyinggung ttg Ta^alluq – pertalian, kaitan – Yakni suatu
sifat menuntut perbuatan yang bertambah dari berdirinya sifat
kepada Dzat.

Tetapi sewaktu saudara ane (Koko ane) memberitahukan sekilas dan
memberikan Buku Sifat 20 Awalluddin Terbitan S.A. Alaydrus, dari
karya Habib Usman bin Yahya (berwarna merah), disitu menyinggung
ttg Ta^alluq.

Dari membaca buku tersebut, hanya Materi ini saja yg belum pernah
ane pelajari dan belum paham dari kumpulan materi Sifat 20.

Disana ada gambar ilustrasi yang kira-kira sbb (hal 20):
(=) Ta^alluq Sifat Qudrat dan Iradat adalah Ta^alluq Ta^tsir pada
Segala Mumkin, yakni Mumkin Ma^dum dan Mumkin Maujud
(=) Ta^alluq Sifat Sam^un (Sama^) dan Bashar adalah Ta^alluq
Inkisyaf pada Segala Maujud, yakni Hadits Maujud dan Maujud Qadim
(=) Ta^alluq Ilmu adalah Ta^alluq Inkisyaf pada Segala Wajib,
yakni Segala Mustahil dan Segala Ja^iz. Sedangkan Ta^alluq Kalam
adalah Ta^alluq Dalalah pada Segala Wajib, yakni Segala Mustahil
dan Segala Ja^iz.

Ane belum mengerti walau sudah membaca berkali-kali, karena
kedangkalan pengetahuan ane, sehingga belum bisa memahaminya. Dan
Koko ane yg pernah mengaji Sifat 20 termasuk materi Ta^alluq tsb,
telah menjelaskan hal ini, namun diakuinya materi ini dikuasainya
hanya secara garis besar sehingga penjelasannya masih kurang dapat
ane mengerti.

Make ane mohon bantuan pengajaran dan penjelasan Habib Munzir,
terutama untuk menjelaskan dan memberikan referensi terkait
Ta^alluq sehingga dapat menggenapkan pengetahuan ane ttg Sifat 20.

Mohon maaf bila kurang berkenan, dan Terima Kasih banyak atas
segala perhatian dan pengajaran yang Habib Munzir berikan.

Wassalam,

Nugon (Nugroho Laison)

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Ta^alluq dalam Kajian Sifat 20 – 2008/03/30 14:13 Alaikumsalam
warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya anugerah Nya semoga selalu menerangi hari hari anda dan
keluarga,

Saudaraku yg kumuliakan,
dalam permasalahan ini terus terang saja saya belum sempat
mempelajari buku buku ALhabib Utsman bin Yahya, karena saya
mempelajari tauhid di Yaman, dan buku buku Hb Utsman hanya dipakai
di Jakarta umumnya,

saya tak berkenan menjawab dalam hal ini, dan saya rujukkan
pertanyaan anda pada seorang teman saya yg telah mendalami kitab
kitab Hb Utsman bin Yahya, agar lebih jelas bagi anda.

yaitu Kh Khairullah romli, berikut jawaban beliau.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita
cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

Alhamdulillah yang telah menggerakkan hati antum untk lebih ingin
mengenal Allah SWT, mudah-mudahan kita semua dijadikan dalam
golongan yang mencintai-Nya dan dicintai oelh-Nya. Amin.
Saudaraku. Sifat-sifat wajib bagi Allah yang berjumlah 20 terbagi
kepada 4 bagian, yaitu sifat nafsiyyah, salbiyyah ma ani dan ma
nawiyyah. Habib Usman bin yahya dalam kitabnya sifat 20 juga
menyebutkan hal ini, bahkan beliau membuat gambarannya agar lebih
mudah dimengerti, sifat ma ani yang tersebut terbagi kepada 7
sifat : qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama , bashor dan kalam.
Semua 7 sifat ini mempunyai ta alluq, kecuali hayat, sifat hayat
tidak berta alluq, tetapi ia hanya membenarkan adanya sifat-sifat
yang lain, artinya dengan sifat hayat ini maka dibenarkan Allah
mempunyai sifat-sifat ma ani yang lain, karena tidak mungkin yang
mati dikatakan ia berilmu, ia berkuasa, ia melihat, dll.

Apa itu ta alluq? Habib Usman juga telah menyebutkan definisi ta
alluq, tapi karena beliau menggunakan bahasa melayu lama, maka
agak sulit bagi yang membaca untuk memahaminya, disini saya akan
berusaha sedikit menjelaskannya, zat Allah SWT mempunyai
sifat-sifat sebagaimana telah dimaklum, sifat-sifat ini ada yang
hanya berdiri pada zat-Nya (seperti sifat wujud, qidam, baqo, .)
tidak lebih dari itu, hanya berhubungan dengan zat-Nya dan tidak
berhubungan dengan lainnya, tidak ada fungsi tambahan yang harus
dilakukan oleh sifat-sifat tersebut dan keberadaannya pada zat
Allah SWT itu saja sudah cukup, lain halnya dengan sifat ma ani
(selain hayat) selain sifat ini berdiri pada zat Allah SWT, ia
juga mempunyai fungsi lain yang dilakukan oleh sifat tersebut,
sebagai contoh sifat qudrat, sifat ini berdiri pada zat Allah dan
dengan sifat ini Allah menciptakan sesuatu yang tidak ada,
sehingga menjadikannya ada, dan sebaliknya dengan sifat ini Allah
menjadikan sesuatu yang ada menjadi tidak ada, ini yang dimaksud
bahwa sifat qudrat menuntut hal lainnya, bukan hanya berdiri pada
zat-Nya saja tetapi sifat ini mempunyai fungsi lainnya dan inilah
yang disebut dengan ta alluq.

Qudrat dan iradat berta alluq dengan hal yang sama yaitu semua
yang mumkin (mumkin artinya suatu yang keberadaannya dan
ketiadaannya sama saja tidak ada pengaruhnya dan semua yang hadits
/baharu dinamakan mumkin) qudrat dan iradat tidak berta alluq
dengan yang wajib keberadaannya dan juga tidak berta alluq dengan
hal yang mustahil adanya, karena yang wajib adanya seperti zat
Allah dan sifat wajib yang lain memang sudah ada jadi tidak berta
alluq qudrat dan iradat untuk mengadakannya karena memang sudah
ada, begitu juga hal yang mustahil , qudrat dan iradat tidak
berhubungan dengan yang musthil karena yang mustahil sesuatu yang
harus tidak ada maka menjadikannya ada berarti berlawanan dengan
hakekatnya yaitu mustahil ada dan jika menjadi ada niscaya bukan
mustahil namanya tapi namanya berubah menjadi mumkin dan semua ini
tidak akan terjadi.

Ta alluq qudrah dan iradat dengan yang mumkin dinamakan ta alluq
ta tsir meskipun ta tsir qudrat dan iradat berbeda, ta fsir qudrat
adalah iyjad dan I dam artinya dengan sebab qudrat, sebagai contoh
ketia said di ciptakan ia brsifat dengan hal-hal tertentu pada
bentuk fisiknya warna kulitnya sifat tabiat dirinya dan lain-lain,
ini hubungannya dengan irodat adapun menciptakan zaid tanpa
memandang kepada sifat-sifatnya tadi tapi hanya memandang pada
keberadaanya setelah sebelumnya tidak ada ini hubungannya dengan
qudrat, mak makna dari ta alluq ta fsir adalah adanya hasil dari
ta alluq 2 sifat tersebut dengan yang mumkin, hasil tersebut yaitu
تخصيص اعدام ايجاد tapi harus di ketahui bahwa ta fsir hanya di
miliki oleh zat Allah bukan oleh qudrat dan irodat, keduanya hanya
sebab dalam hal ta fsir dan jika di katakan bahwa keduanya
memberikan ta fsir maka ungkapan itu hanyalah majaz seperti kita
berkata panadol ini telah menyembuhkan pusing saya.
Sama dan bashor berta lluq dengan semua yang ada, baik yang ada
tersebut bersifat qodim seperti zat Allah dan sifat-sifatnya tau
bersifat hadits (baharu) yaitu semua makhluknya adapun yang ma dum
yang tidak ada maka keduanya tidak berta alluq dengan hal
tersebut, ta alluq bashor dan sama dengan yang maujud (ada) di
sebut ta alluq inkisyaf artinya segala yang ada baik yang qodim
atau hadits tersingkap oleh Allah SWT, maka Allah mendengar segala
yang ada baik itu suara atau bukan bahkan Allah mendengar zat Nya
dan sifat-sifatNya dan kita wajib beriman bahwa Allah mendengar
hal tersebut sekalipun kita tidak tahu bagaimana caranya,
begitupun sifat besar Nya, tersingkap oleh Allah dengan basharNya
segala yang ada baik yang berupa benda atau bahkan suara-suara
sekalipun kita tida tahu bagaimana caranya tapi kita wajib beriman
dengan hal tersebut. Begitu juga ilmu, tersingkap bagi Allah
segala yang mustahil dan yang jaiz dan yang wajib sehingga Allah
Maha Mengetahui apa yang wajib apa yang mustahil dan yang jaiz
bagi Allah tapi tersingkapnya hal ini bagi Allah dengan ilmunya
tidak sama dengan tersingkapnya segala yang maujud (ada) dengan
basharnya Allah sebagaimana tidak sama tersingkapnya yang maujud
dengan sama nya Allah SWT.

Adapun kalam ta alluqnya sama dengan ta alluq ilmu yaitu semua
yang wajib yang jaiz dan yang mustahil tapi ta alluq kalam pada
hal-hal tersebut dinamakan ta alluq dalalah artinya jikalau hijab
yang ada antara kita dengan sifat kalam disingkapkan dan kita
dapat mendengar sifat kalam maka niscaya kita akan memahami
hal-hal yang wajib, mustahil dan jaiz dari sifat kalam tersebut,
contoh yang wajib adalah zat Allah dalam zat Nya dan sifatNya dan
menafikan segala sifat kekurangan dari zatNya dan sifatNya sama
dengan makna yang ada pada firman Allah
والله بكل شيء عليم Allah Maha Sempurna dengan ilmunya dan firman
Allah
البسير ليس كمثله شيء وهو السميع Allah Maha Suci dari Menyerupai
MakhlukNya.
Tapi perlu di ingat bahwa sifat kalam Allah suci dari huruf, suci
dari suara, suci dari dimulai dengan permulaan dan diakhiri dengan
penghabisan karena ini semua adalah sifat kalam para makhluk, dan
pembahasan kalam ini sangat panjang oleh karena itu saya cukupkan
penjelasan sampai disini mudah-mudahan saudaraku mendapatkan
sedikit penjelasan adapun referensi kitab yang diminta sayangnya
semua berbahasa arab seperti kitab Syarh Jauharatul Tauhid, Syarh
Umul Barohin, Syarh Fathul Majid dll. Kitab Tauhid yang sedikit
luas akan menjelaskan hal-hal tersebut, adapun pengarangnya kitab
pertama Syekh Ibrahim al Bajuri kedua Syekh Muhammad As-Sanusi dan
ketiga Muhammad Nawawi Bantani.

selesai jawaban dari Kh Khairullah.

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=13182

© http://carauntuk.com/taalluq-dalam-kajian-sifat

Sponsor 2

Leave a Reply