Homeforum.majelisrasulullah.orgSeputar Bulan Rajab –

Seputar Bulan Rajab –

forum.majelisrasulullah.org 0 0 likes 160 views share

klulaku Seputar Bulan Rajab – 2006/08/08 17:20 Assalamu^alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.

Semoga habib, keluarga dan pengikut Rasulullah SAW, selalu
mendapat limpahan rahmat Allah.
Ana mendapat kirimna email dari rekan ana yg isinya sebagai
berikut :

HADITS-HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN SHALAT DAN PUASA DI BULAN
RAJAB

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Bagian Terkahir dari Dua Tulisan 2/2
sumber http://www.almanhaj.or.id

PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG MASALAH RAJAB

[1]. Imam Ibnul Jauzy menerangkan bahwa hadits-hadits tentang
Rajab,
Raghaa^ib adalah palsu dan rawi-rawi majhul. [Lihat al-Maudhu?at
(II/123-126)]

[2]. Kata Imam an-Nawawy:
?Shalat Raghaa-ib ini adalah satu bid?ah yang tercela, munkar dan
jelek.?
[Lihat as-Sunan wal Mubtada?at (hal. 140)]

Kemudian Syaikh Muhammad Abdus Salam Khilidhir, penulis kitab
as-Sunan
wal
Mubtada?at berkata: ?Ketahuilah setiap hadits yang menerangkan
shalat
di
awal Rajab, pertengahan atau di akhir Rajab, semuanya tidak bisa
diterima
dan tidak boleh diamalkan.? [ Lihat as-Sunan wal Mubtada?at (hal.
141)]

[3]. Kata Syaikh Muhammad Darwiisy al-Huut: ?Tidak satupun hadits
yang
sah
tentang bulan Rajab sebagaimana kata Imam Ibnu Rajab.? [Lihat
Asnal
Mathaalib (hal. 157)]

[4]. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H): ?Adapun
shalat
Raghaa^ib, tidak ada asalnya (dari Nabi Shallallahu ?alaihi wa
sallam),
bahkan termasuk bid?ah…. Atsar yang menyatakan (tentang shalat
itu)
dusta
dan palsu menurut kesepakatan para ulama dan tidak pernah sama
sekali
disebutkan (dikerjakan) oleh seorang ulama Salaf dan para Imam…?

Selanjutnya beliau berkata lagi: ?Shalat Raghaa^ib adalah BID?AH
menurut
kesepakatan para Imam, tidak pernah Rasulullah Shallallahu ?alaihi
wa
sallam
menyu-ruh melaksanakan shalat itu, tidak pula disunnahkan oleh
para
khalifah
sesudah beliau Shallallahu ?alaihi wa sallam dan tidak pula
seorang
Imam pun
yang menyunnahkan shalat ini, seperti Imam Malik, Imam Syafi?i,
Imam
Ahmad,
Imam Abu Hanifah, Imam ats-Tsaury, Imam al-Auzaiy, Imam Laits dan
selain
mereka.

Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang itu adalah dusta menurut
Ijma?
para
Ahli Hadits. Demikian juga shalat malam pertama bulan Rajab, malam
Isra?,
Alfiah nishfu Sya?ban, shalat Ahad, Senin dan shalat hari-hari
tertentu
dalam satu pekan, meskipun disebutkan oleh sebagian penulis, tapi
tidak
diragukan lagi oleh orang yang mengerti hadits-hadits tentang hal
tersebut,
semuanya adalah hadits palsu dan tidak ada seorang Imam pun (yang
terkemuka)
menyunnahkan shalat ini… Wallahu a?lam.? [Lihat Majmu? Fataawa
(XXIII/132,
134)]

[5]. Kata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah:
?Semua hadits tentang shalat Raghaa^ib pada malam Jum?at pertama
di
bulan
Rajab adalah dusta yang diada-adakan atas nama Rasulullah
Shallallahu
?alaihi wa sallam. Dan semua hadits yang menyebutkan puasa Rajab
dan
shalat
pada beberapa malamnya semuanya adalah dusta (palsu) yang
diada-adakan.?
[Lihat al-Manaarul Muniif fish Shahiih wadh Dha?iif (hal. 95-97,
no.
167-172) oleh Ibnul Qayyim, tahqiq: ?Abdul Fattah Abu Ghaddah]

[6]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan dalam kitabnya,
Tabyiinul
?Ajab bima Warada fii Fadhli Rajab:
?Tidak ada riwayat yang sah yang menerangkan tentang keutamaan
bulan
Rajab
dan tidak pula tentang puasa khusus di bulan Rajab, serta tidak
ada
pula
hadits yang shahih yang dapat dipegang sebagai hujjah tentang
shalat
malam
khusus di bulan Rajab.?

[7]. Imam al-?Iraqy yang mengoreksi hadits-hadits yang terdapat
dalam
kitab
Ihya? ?Uluumuddin, menerangkan bahwa hadits tentang puasa dan
shalat
Raghaa^ib adalah hadits maudhu? (palsu). [Lihat Ihya? ?Uluumuddin
(I/202)]

[8]. Imam asy-Syaukani menukil perkataan ?Ali bin Ibra-him
al-?Aththaar, ia
berkata dalam risalahnya: ?Sesungguhnya riwayat tentang keutamaan
puasa
Rajab, semuanya adalah palsu dan lemah, tidak ada asalnya (dari
Nabi
Shallallahu ?alaihi wa sallam).? [Lihat al-Fawaa-idul Majmu?ah fil
Ahaaditsil Maudhu?ah (hal. 381)]

[9]. Syaikh Abdus Salam, penulis kitab as-Sunan wal Mubtada?at
menyatakan:
?Bahwa membaca kisah tentang Isra? dan Mi?raj dan merayakannya
pada
malam
tang-gal dua puluh tujuh Rajab adalah BID?AH. Berdzikir dan
mengadakan
peribadahan tertentu untuk merayakan Isra? dan Mi?raj adalah BID?
AH,
do?a-do?a yang khusus dibaca pada bulan Rajab dan Sya?ban semuanya
tidak ada
sumber (asal pengambilannya) dan BID?AH, sekiranya yang demikian
itu
perbuatan baik, niscaya para Salafush Shalih sudah
melaksanakannya.?
[Lihat
as-Sunan wal Mubtada?at (hal. 143)]

[10]. Syaikh ?Abdul ?Aziz bin ?Abdullah bin Baaz, ketua Dewan
Buhuts
?Ilmiyyah, Fatwa, Da?wah dan Irsyad, Saudi Arabia, beliau berkata
dalam
kitabnya, at-Tahdzir minal Bida? (hal. 8): ?Rasulullah Shallallahu
?alaihi
wa sallam dan para Shahabatnya tidak pernah mengadakan upacara
Isra?
dan
Mi?raj dan tidak pula mengkhususkan suatu ibadah apapun pada malam
tersebut.
Jika peringatan malam tersebut disyar?iatkan, pasti Rasulullah
Shallallahu
?alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada ummat, baik melalui
ucapan
maupun
perbuatan. Jika pernah dilakukan beliau Shallallahu ?alaihi wa
sallam,
pasti
diketahui dan masyhur, dan ten-tunya akan disampaikan oleh para
Shahabat
kepada kita…

Nabi Muhammad Shallallahu ?alaihi wa sallam adalah orang yang
paling
banyak
memberi nasihat kepada manusia, beliau telah menyampaikan risalah
kerasulannya sebaik-baik penyampaian dan telah menjalankan amanah
Allah
dengan sempurna.

Oleh karena itu, jika upacara peringatan malam Isra? dan Mi?raj
dan
merayakan itu dari agama Allah, ten-tunya tidak akan dilupakan dan
disembunyikan oleh Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam,
tetapi
karena
hal itu tidak ada, maka jelaslah bahwa upacara tersebut bukan dari
ajaran
Islam sama sekali. Allah telah menyempurnakan agama-Nya bagi ummat
ini,
mencukupkan nikmat-Nya dan Allah mengingkari siapa saja yang
berani
mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama, karena cara tersebut
tidak
dibenarkan oleh Allah:

?Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan
telah
Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam jadi agama
bagimu.?
[Al-Maa-idah: 3]

KHATIMAH

Orang yang mempunyai bashirah dan mau mendengarkan nasehat yang
baik,
dia
akan berusaha meninggalkan segala bentuk bid?ah, karena setiap
bid?ah
adalah
sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam:

?Artinya : Tiap-tiap bid?ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan di
Neraka.?
[HSR. An-Nasa^i (III/189) dari Jabir radhiyallahu ?anhu dalam
Shahih
Sunan
an-Nasa^i (I/346 no. 1487) dan Misykatul Mashaabih (I/51)]

Para ulama, ustadz, kyai yang masih membawakan hadits-hadits yang
lemah
dan
palsu, maka mereka digo-longkan sebagai pendusta.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam bersabda:

Dari Samurah bin Jundub dari Nabi Shallallahu ?alaihi wa sallam,
beliau
Shallallahu ?alaihi wa sallam bersabda: ?Barang-siapa yang
menceritakan
satu
hadits dariku, padahal dia tahu bahwa hadits itu dusta, maka dia
termasuk
salah seorang dari dua pendusta.? [HSR. Ahmad (V/20), Muslim (I/7)
dan
Ibnu
Majah (no. 39)]

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul
Qadir
Jawas,
Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober
2004M]
_______
MARAJI?
[1]. Shahih al-Bukhari.
[2]. Shahih Muslim.
[3]. Sunan an-Nasaa-i.
[4]. Sunan Ibni Majah.
[5]. Musnad Imam Ahmad.
[6]. Shahih Ibni Hibban.
[7]. Zaadul Ma?aad fii Hadyi Khairil ?Ibaad, oleh Syaikhul Islam
Ibnu
Qayyim
al-Jauziyyah, cet. Mu-assasah ar-Risalah, th. 1412 H.
[8]. Maudhu?atush Shaghani.
[9]. Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha?if, oleh Syaikhul
Islam
Ibnu
Qayyim al-Jauziyyah.
[10]. Al-Maudhu?at, oleh Imam Ibnul Jauzy, cet. Daarul Fikr, th.
1403
H.
[11]. Mizaanul I?tidal, oleh Imam adz-Dzahaby, tahqiq: ?Ali
Muhammad
al-Bajaawy, cet. Daarul Fikr.
[12]. Al-Mashnu? fii Ma?rifatil Haditsil Maudhu?, oleh Syaikh Ali
al-Qary
al-Makky.
[13]. Al-Fawaa-idul Majmu?ah fil Ahaadits Maudhu?at oleh
asy-Syaukany,
tahqiq: Syaikh ?Abdurrahman al-Ma?allimy, cet. Al-Maktab
al-Islamy, th.
1407
H.
[14]. Tanziihus Syari?ah al-Marfu?ah ?anil Akhbaaris Syanii?ah
al-Maudhu?at,
oleh Abul Hasan ?Ali bin Muhammad bin ?Araaq al-Kinani.
[15]. Taqriibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-?Asqa-lany,
cet.
Daarul Kutub al-?Ilmiyyah.
[16]. Adh-Dhu?afa wa Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i.
[17]. At-Taghib wat Tarhib, oleh Imam al-Mundziri.
[18]. Silsilah Ahaadits adh-Dha?ifah wal Maudhu?ah, oleh Imam
Muhammad
Nashiruddin al-Albany.
[19]. Al-Laali al-Mashnu?ah, oleh al-Hafizh as-Suyuthy.
[20]. Adh-Dhu?afa wal Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i.
[21]. Al-Jarhu wat Ta?dil, oleh Imam Ibnu Abi Hatim ar-Razy.
[22]. As-Sunan wal Mubtada?at, oleh Muhammad Abdus Salam
Khilidhir.
[23]. Asnal Mathaalib fii Ahaadits Mukhtalifatil Maraatib, oleh
Muhammad
Darwisy al-Huut.
[24]. Majmu? Fataawa, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[25]. Al-Manaarul Muniif fis Shahih wadh Dha?if, oleh Syaikhul
Islam
Ibnu
Qayyim al-Jauziyyah.
[26]. Tabyiinul ?Ajab bimaa Warada fiii Fadhli Rajab, oleh
al-Hafizh
Ibnu
Hajar al-?Asqalany.
[27]. Ihya? ?Uluumuddin, oleh Imam al-Ghazzaly.
[28]. At-Tahdziir minal Bida?, oleh Imam ?Abdul ?Aziz bin ?
Abdullah bin
Baaz.
[29]. Misykaatul Mashaabih, oleh Imam at-Tibrizy, takhrij: Imam
Muhammad
Nashiruddin al-Albany. )

Mohon habib meberikan penjelasannya, agar ana bs lebih faham / tau
mana yang Haq dan Mana yg Bathil
Terima Kasih,

Wassalamu^alaikum wr wb.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Seputar Bulan Rajab – 2006/08/12 02:36 Alaikumsalam
warahmatullah wabarakatuh,

Limpahan Rahmat Nya semoga selalu memperindah hari hari anda,

mereka itu memang selalu tak suka dengan perbuatan orang orang yg
shalih, setumpuk dalil mereka kemukakan mengenai pengingkaran
shalat raghaib, dan memang tak ada diantara kita melakukannya.

mengenai dalil dalil yg mengingkari bahwa Rasul saw tidak pernah
memerintah untuk puasa Rajab, maka itu adalah pendapat mereka,
karena Puasa rajab sudah dilakukan oleh beberapa sahabat
radhiyallahu ^anhum.

tak satupun dalil dari hadits Rasul saw yg melarang Puasa Rajab,
bahkan para sahabat sebagian melakukannya, sebagaimana
diriwayatkan dalam shahih Muslim hadits no.1157, bahwa Utsman bin
Hakim Al Anshariy bertanya pada said bin Jubair mengenai Puasa
Rajab, maka ia menjawab bahwa Ibn Abbas ra berkata bahwa Rasul saw
bila berpuasa maka terus puasa, dan bila tak puasa maka terus tak
puasa. (shahih Muslim hadits n0.1157) riwayat menunjukkan bahwa
tak ada pelarangan yg mengharamkan puasa rajab, bila ada
pelarangan maka tentu akan disebutkan bahwa Rasul saw, atau Ibn
Abbas ra, atau Sa^id bin Jubair akan berkata bahwa itu haram dan
dilarang.

dan juga Shahih Muslim hadits no.2069 bahwa Ummulmukminin Aisyah
ra menegur Abdullah bin Umar ra bahwa apakah betul ia melarang
orang berpuasa Rajab, maka Abdullah bin Umar berkata : “Bagaimana
dengan puasa seumur hidup?”, ini menunjukkan tidak ada pelarangan
dari Abdullah bin Umar ra mengenai puasa Rajab, dan pertanyaan itu
muncul dari Aisyah ra memberikan pemahaman pada kita bahwa beliau
melakukan puasa Rajab, bila beliau tak melakukannya maka paling
tidak beliau (Aisyah ra) menyukai dan menyetujuinya, karena beliau
menegur Abdullah bin Umar ra apakah betul ia melarang orang puasa
rajab.
riwayat ini adalah pada shahih Muslim.

setumpuk dalil mereka kemukakan dan tak satupun ada hadits Rasul
saw yg melarang atau mengharamkan puasa rajab, namun mereka
mengharamkannya seenak perutnya.
bila Ummulmukminin Aisyah menyetujuinya, kiranya darimanakah
Aisyah mengenal hal itu?, dari kitab kah?, atau dari catatan
catatan yg mungkin palsu da salah cetak?, DARI SUAMINYA TENTUNYA,
SIAPAKAH SUAMINYA?, SAYYIDINA MUHAMMAD SAW, dan Aisyah tak pernah
mengetahui sesuatu dari Ilmu Syariah selain bersumber dari
Suaminya, Rasulullh saw,
Aisyah ra mengungkari orang yg melarang puasa rajab, silahkan kita
memilih antara pemahaman Wahabi sesat atau Ummulmukminin Aisyah
ra.

memang tak ada hadits shahih nya, namun tak ada pula hadits shahih
yg melarangnya, bahkan tak ada hadits dhoif atau ucapan sahabat
atau ucapan muhadditsin yg melarang puasa di bulan rajab

mengenai hal hal bid^ah, maka Bid;ah hasanah adalah hal yg
dianjurkan dengan Nash Shahih dari Shahih Muslim hadits no.1017
“Barangsiapa yg membuat hal baru dala islam yg membawa kebaikan
maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya.

nah.. perayaan Isra Mi^raj adalah Bid^ah hasanah, sama seperti
Penjilidan Al Qur^an yg juga tak pernah diperintahkan oleh Rasul
saw namun adalah Ijtihad para sahabat dimasa khalifah Usman ra,
demikian pula Ilmu hadits, yaitu Ilmu sanad, ilmu matan, derajat
hadits dlsb yg tak pernah diajarkan oleh Rasul saw, itu merupakan
Bid^ah hasanah,
demikian pula Shahih Bukhari, dan semua buku hadits yg menuliskan
hadits hadits Rasul saw dan itu tak pernah diajarkan dan
diperintahkan oleh Rasul saw untuk mrmbukukannya, demikian pula
penyempurnaan masjid misalnya, dengan dilengkapi Karpet, kipas
angin, dlsb yg rtak pernah diajarkan oleh Rasul saw dan sahabat,
namun itu dilakukan untuk maslahat ummat, selama tidak
bertentangan dengan syariah Islam.

konyol sekali mereka ini, mereka tak mau memakai hal yg Bid^ah
walaupun Bid^ah hasanah, namun mereka sendiri memakai Shahih
Bukhari, dan Kitab2 hadits, yg itu semuanya Bid^;ah hasanah.

mereka melarang apa yg diperbolehkan oleh Rasul Allah saw,
Naudzubillah dari pemahaman konyol ini.

demikian wahai saudaraku yg kumuliakan

wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=979

© http://carauntuk.com/seputar-bulan-rajab

Sponsor 2

Leave a Reply