Homeforum.majelisrasulullah.orgSayid Muhammad Al-Maliki Ulama

Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama

forum.majelisrasulullah.org 0 0 likes 129 views share

Arul Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama Kenamaan Makkah – 2006/10/06 20:45
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ^aalamiin
Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa^ala Aalihie Washohbihie
Waman Walaah amma ba^du…

Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama Kenamaan Makkah
]

Berita dukacita datang dari kota suci Mekkah. Sayid Muhammad Bin
Alwi Bin Abbas Alhasani, wafat pada 15 Ramadhan 1425 H, bertepatan
dengan tanggal 29 Oktober 2004. Meninggalnya ulama kelahiran
Mekkah tahun 1943 (1362H) cukup mengejutkan warga kota Mekkah,
khususnya para mukimin Indonesia yang tinggal di Kota Suci itu.
Karena, ulama yang menjadi panutan para kyai di banyak negara ini,
sebelum menghembuskan nafas terakhir masih menunaikan shalat subuh
di kediamannya.

Ketika jenazah Sayid Muhammad Al Maliki hendak dishalatkan di
Masjidil Haram, ribuan warga kota Mekkah bergantian menggusung
jenazahnya. Dikabarkan sejumlah warga Afrika banyak yang menangis
dan histeris. Sementara toko-toko di sekitar Masjidul Haram yang
dilewati jenazah mematikan lampu sebagai tanda dukacita.

Jenazah almarhum di makamkan di pemakaman Ma^la di Mekkah,
berdekatan dengan makam Sayidatina Khadijah, istri pertama
Rasulullah SAW. Harian Arab Saudi Okaz sengaja mengetengahkan tiga
halaman suratkabarnya untuk memuat kegiatan, aktivitas, dan
biografi almarhum.

Kebesaran Al Maliki, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di
negara-negara Afrika, Mesir, dan Asia Tenggara. Ayahnya Sayid Alwi
Al Maliki adalah guru dari pendiri NU, KH Hasyim Ashari. Dia juga
pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram pada 1930-an dan
40-an. Banyak ulama sepuh dari Nahdlatul Ulama (NU) yang menimba
ilmu dari Sayid Alwi Al-Maliki. Sepeninggal Sayid Alwi, kiprahnya
dilanjutkan oleh Sayid Muhammad Al-Maliki.

Sayid Alwi juga pernah mengajar di Masjidil Haram, Makkah.
Almarhum ayahnya ini dulu tinggal di Aziziah, yang tidak jauh dari
Masjidil Haram. Di masjid yang dijadikan sebagai kiblat umat Islam
ini, Sayid Alwi mengajar murid-muridnya yang datang dari berbagai
negara, termasuk para jamaah dari Indonesia. Warga Betawi sendiri
pada masa-masa itu, banyak mengirimkan anak-anak mereka belajar ke
tanah Hejaz (sebutan Kerajaan Arab Saudi kala itu).

Ketika dua tahun lalu saya berkunjung di kediamannya di Rushaifah
sekitar empat kilometer dari Masjidil Haram, terlihat ratusan
muridnya yang berdiam di pesantren dan sekaligus kediamannya.
Banyak diantara mereka yang berasal dari Indonesia. Di samping
dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan sejumlah negara
di Afrika.

Ketua Umum DPP PAN Amien Rais pernah berkunjung ke Sayid Muhammad
Al-Maliki. Demikian pula Hamzah Haz saat masih menjabat sebagai
wakil presiden. Banyak ulama Indonesia, saat melaksanakan ibadah
haji dan umrah, selalu sowan ke rumah Al Maliki.

Almarhum yang telah beberapa kali ke Indonesia dan murid-muridnya
mempunyai banyak pesantren di pulau Jawa, Sulawesi dan Sumatera,
punya perhatian khusus pada Indonesia. Seperti saat Hamzah Haz
tahun lalu mengunjunginya, di hadapan para ulama Mekkah dan
berbagai negara Islam, ia berdoa agar bangsa Indonesia
dipersatukan Allah, dan tidak bercerai berai.

Di depan kediamannya, terdapat sebuah masjid cukup besar.
Sementara di bagian dalam, terdapat sebuah lapangan yang biasa
digunakan untuk menerima tamu dalam jumlah besar. Boleh dikata
Al-Maliki tidak pernah sepi menerima banyak tamu tiap hari.
Al-Maliki yang murah senyum dan berwajah tampan, ketika itu,
tengah mengadakan pertemuan dengan sejumlah ulama, di antaranya
dari Afrika dan Eropa. Pertemuan silaturahmi semacam ini hampir
tiap malam dilakukan.

Dalam pertemuan itu dibacakan maulid Nabi Muhammad SAW, yang boleh
dikatakan jarang terjadi di Arab Saudi. Menurut keterangan, di
antara murid-muridnya itu banyak para mukimin asal Indonesia yang
telah menjadi warga Arab Saudi. Biasanya, setelah shalat Isya para
tamu kemudian makan bersama berupa nasi kebuli. Satu nampan besar
umumnya dihidangkan untuk 5 hingga 6 orang. Almarhum yang pada
tahun 1970-an dan 1980-an kerap berkunjung ke Indonesia. Ia
singgah di berbagai pesantren dan perguruan Islam di Indonesia. Ia
juga pernah beberapa kali berkunjung ke Majelis Taklim Kwitang,
Attahiriyah, dan Assyafiiyah.

Tak henti belajar

Sayid Muhammad Al Maliki memulai pendidikan di Masjidil Haram,
tempat ayahnya pernah mengajar. Kemudian dilanjutkan di sekolah
Tahfidil Quran. Masih dalam usia muda, Sayid yang tidak pernah
bosan menempa ilmu itu kemudian berkeliling ke India dan Pakistan.
Di sini ia belajar di kota Bombay, Hederabad, dan Karachi dari
ulama di kota-kota tersebut.

Ia kemudian melanjutkan pelajarannya di Universitas Al-Azhar
Bidang Usuluddin dan mendapat gelar doktor. Dari Al-Azhar ia
melanjutkan pendidikan ke Maroko dan beberapa negara Afrika Utara.
Setelah ayahnya wafat, pada 1971 ia menjadi guru besar di Masjidil
Haram. Sebelumnya menjadi dosen syariah di Universitas Makkah
Mukarommah. Ia juga pernah dipilih sebagai ketua penelitian
internasional dalam perlombaan MTQ pada pertengahan tahun 1970-an.
Sayid Muhammad Al Maliki mendirikan tidak kurang 30 buah pesantren
dan sekolah di Asia Tenggara. Karangannya mencapai puluhan kitab
mengenai usuluddin, syariah, fikih dan sejarah Nabi Muhammad. Ia
mendapat gelar profesor dari Universitas Al-Azhar pada tanggal 6
Mei 2000. Ratusan murid yang menampa pendidikan di pesantrennya,
biaya makan dan pemondokan ditanggungnya, alias gratis.

Menurut Habib Abdurahman A Basurrah, wakil sekjen Rabithah
Alawiyah yang lama mukim di Arab Saudi, di Indonesia di antara
murid-murid Al-Maliki banyak yang menjadi ulama terkenal dan
pendiri dari berbagai pesantren. Murid-muridnya itu antara lain
Habib Abdulkadir Alhadad, pengurus Al-Hawi di Condet, Jakarta
Timur; Habib Hud Baqir Alatas pimpinan majelis taklim
As-Shalafiah; Habib Saleh bin Muhammad Alhabsji; Habib Naqib Bin
Syechbubakar yang memimpin majelis taklim di Bekasi; Novel
Abdullah Alkaff yang membuka pesantren di Parangkuda, Sukabumi.

Di antara ulama Betawi lainnya yang pernah menimba ilmu di Makkah
adalah KH Abdurahman Nawi, yang kini memiliki tiga buah madrasah/
pesantren masing-masing di Tebet, Jakarta Timur, dan dua di Depok.
Masih belasan pesantren dan madrasah di Indonesia yang pendirinya
adalah alumni dari Al-Maliki. Seperti KH Ihya Ulumuddin yang
memiliki pesantren di Batu, Malang. Demikian pula Pesantren
Riyadul Solihin di Ketapang (Probolinggo), dan Pondok Pesantren
Genggong, juga di Probolinggo.

( alwi shahab )
Sumber: Harian Republika

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

khunthai Re:Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama Kenamaan Makkah – 2006/11/19
02:53 Assalamu^alaikum wrwb.

Mohon informasi.. adakah penerus perjuangan beliau Syaikh Muhammad
bin Alwi al Maliki di negeri Saudi saat ini? Siapakah ulama-ulama
penerus generasi beliau yang berjuang di sana saat ini? Adakah ada
putra-putra (putri) beliau yang meneruskan?

Benarkah beliau ulama terakhir yang memperjuangkan dakwah ahlu
sunnah wal jamaah di tanah suci melawan paham wahaby? Kalau
benar… innalillahi wa innailaihi roji^un.

Kami sangat bersykur jika ada yang menulis tentang hal ini.

Terima kasih.

Wassalamu^alaikum wrwb.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

maftuh Re:Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama Kenamaan Makkah – 2007/10/10
01:30 Tambahan sedikit Manaqibnya
KH Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Almanafi ( bandung – sumedang )
pernah berkata sayyid muhammad bin alawi almaliki qoddasallahu
sirohu adalah syaikhu suyukh di daerah hijaz dan timur
tengah.karena seluruh ulama di daerah hijaz dan timur tengah
pernah bermimpi kedatangan Sayyiduna Rosul SAW.dan beliau SAW
menyuruh agar para ulama sehijaz dan timur tengah agar berguru
kepada cucu beliau yaitu sayyid muhammad bin alawi almaliki. dan
ketika itu guru saya-yg pada saat itu di bawa oleh sayyid muhammad
ke sebuah acara maulid di madinah- mendengar langsung para ulama
sehijaz dan timur tengah mendaulat beliau sebagai suyukh.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Arul Re:Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama Kenamaan Makkah – 2007/10/10
19:47 khunthai tulis:
Assalamu^alaikum wrwb.

Mohon informasi.. adakah penerus perjuangan beliau Syaikh Muhammad
bin Alwi al Maliki di negeri Saudi saat ini? Siapakah ulama-ulama
penerus generasi beliau yang berjuang di sana saat ini? Adakah ada
putra-putra (putri) beliau yang meneruskan?

Benarkah beliau ulama terakhir yang memperjuangkan dakwah ahlu
sunnah wal jamaah di tanah suci melawan paham wahaby? Kalau
benar… innalillahi wa innailaihi roji^un.

Kami sangat bersykur jika ada yang menulis tentang hal ini.

Terima kasih.

Wassalamu^alaikum wrwb.

Sepengetahuan sy ada yg bernama Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Alwi
al maliki, mungkin beliau adalah putra dari Syeikh Muhammad bin
Alwi al Maliki, Wallahualam.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

danang Re:Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama Kenamaan Makkah – 2007/10/14
17:45 Assalamu^alaikum warahmatullah wabarakatuh

perkenalkan nama saya danang, saya merekomendasi untuk membeli
terjemahan dari kitab2 beliau seperti

1. insan kamil, buku ini menceritakan kesempurnaan sayyidina
Muhammad saw

2. faham-faham yang perlu diluruskan (mafahin wajib an tu shahih),
buku ini meluruskan pemahaman beberapa hal seperti ziarah kubur,
tabaruk, maulid, dll, buku ini terbitan rosda bandung dibagi
menjadi 3 jilid… hubungi toko buku terdekat

demikian informasi dari saya, maaf bila informasi ini mengganggu

wassalamu^alaikum warahmatullah wabarakatuh

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Arul Re:Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama Kenamaan Makkah – 2007/10/16
01:08 Buat sdr Maftuh, apakah antum dr bandung.
kalo dr bandung, sy mau tanya, apakah di bandung banyak habaib?

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=1381

© http://carauntuk.com/sayid-muhammad-al-maliki-ulama

Sponsor 2

Leave a Reply