Haidarbasyaruddin Remaja Muslim, Valentine^s Day, – 2006/02/14 00:58 Remaja
Muslim, Valentine^s Day, dan Perlawanan Budaya

Setiap tanggal 14 Pebruari ada hiruk pikuk remaja dunia.
Mereka punya hajat besar dengan merayakan sebuah hari yang
dikenal dengan Valentine?s Day (Hari Valentine).

Hiruk pikuk itu kini membudaya. Tak peduli itu di kalangan
Kristen Barat, Hindu India ataupun muslim Indonesia.
Lantas…

Ada pertanyaan yang patut kita kemukakan. Apa sebenarnya
Valentine?s Day itu? Apakah esensinya? Dan bolehkan remaja
muslim ikut berkecimpung merayakannya? Apakah perayaan itu
bagian dari kultur dan peradaban Islam sehingga kita harus
ikut menyemarakkannya?

Background Historis Valentine?s Day
Ada berbagai versi tentang asal muasal Valentin?s Day ini.
Beberapa ahli mengatakan bahwa ia berasal dari seorang yang
bernama Saint (Santo) Valentine seorang yang dianggap suci
oleh kalangan Kristen yang menjadi martir karena menolak
untuk meninggalkan agama Kristiani. Dia meninggal pada
tanggal 14 Pebruari 269 M., di hari yang sama saat dia
menyerahkan ucapan cinta. Dalam legenda yang lain
disebutkan bahwa Saint Valentine meninggalkan satu catatan
selamat tinggal pada seorang gadis anak sipir penjara yang
menjadi temannya. Dalam catatan itu dia menuliskan tanda
tangan yang berbunyi ?From Your Valentine? ada pula yang
menyebutkan bahwa bunyi pesan akhir itu adalah ?Love From
Your Valentine.?

Cerita lain menyebutkan bahwa Valentine mengabdikan dirinya
sebagai pendeta pada masa pemerintahan Kaisar Claudius.
Claudius kemudian memenjarakannya karena dia menentang
Kaisar. Penentangan ini bermula pada saat Kaisar berambisi
untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia
berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung
menjadi tentara. Namun banyak yang tidak mau untuk terjun
ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak
familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu
apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide ?gila?. Dia
berpikiran bahwa jika laki-laki tidak kawin, maka mereka
dengan tidak segan-segan akan bergabung menjadi tentara.
Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengijinkan laki-laki
kawin.

Kalangan remaja menganggap bahwa ini adalah hukum biadab.
Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai
seorang pendeta dia bertugas menikahkan lelaki dan
perempuan. Bahkan setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar,
dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia dan
ini sungguh sangat mengasyikkan. Bayangkan dalam sebuah
kamar hanya ada sinar lilin dan ada pengantin putra dan
putri serta Valentine sendiri. Peristiwa perkawinan
diam-diam inilah yang menyeret dirinya ke dalam penjara dan
akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Walaupun demikian dia selalu bersikap ceria sehingga
membuat beberapa orang datang menemuinya di dalam penjara.
Mereka menaburkan bunga dan catatan-catatan kecil di
jendela penjara. Mereka ingin dia tahu bahwa mereka juga
percaya tentang cinta dirinya. Salah pengunjung tersebut
adalah seorang gadis anak sipir penjara. Dia mengobrol
dengannya berjam-jam. Di saat menjelang kematiannya dia
menuliskan catatan kecil ?Love from your Valentine.” Dan
pada tahun 496 Paus Gelasius menseting 14 Pebruari sebagai
tanggal penghormatan buat Saint Valentine. Akhirnya secara
gradual 14 Pebruari menjadi tanggal saling tukar menukar
pesan kasih dan Saint Valentine menjadi patron dari para
penabur kasih. Tanggal ini ditandai dengan saling mengirim
puisi dan hadiah seperti bunga dan gula-gula. Bahkan sering
pula ditandai dengan adanya kumpul-kumpul atau pesta dansa.

Dari paparan di atas kita tahu bahwa
kisah cinta Valentine ini merupakan kisah cinta milik
kalangan Kristen dan sama sekali tidak memiliki benang
merah budaya dan peradaban dengan Islam.

Namun kenapa remaja-remaja muslim ikut larut dan
merayakannya?

Ada beberapa jawaban yang bisa kita berikan terhadap
pertanyaan tersebut :
Pertama, remaja muslim kita tidak tahu latar belakang
sejarah Valentine?s Day sehingga mereka tidak merasa risih
untuk mengikutinya. Dengan kata lain, remaja muslim banyak
yang memiliki kesadaran sejarah yang rendah.

Kedua, adanya anggapan bahwa Valentine?s Day sama sekali
tidak memiliki muatan agama dan hanya bersifat budaya
global yang mau tidak mau harus diserap oleh siapa saja
yang kini hidup di ? untuk meminjam McLuhan – global
village.

Ketiga, keroposnya benteng pertahanan relijius remaja kita
sehingga tidak mampu lagi menyaring budaya dan peradaban
yang seharusnya mereka ?lawan? dengan keras.

Keempat, adanya perasaan loss of identity kalangan remaja
muslim sehingga mereka mencari identitas lain sebagai
pemuas keinginan mendapat identitas global.

Kelima, hanya mengikuti trend yang sedang berkembang agar
tidak disebut ketinggalan zaman.

Keenam, adanya pergaulan bebas yang kian tak terbendung dan
terjadinya de-sakralisasi seks yang semakin ganas.

Mungkin masih ada deretan jawaban lain yang bisa diberikan
terhadapa pertanyaan di atas.

Islam, Valentine?s Day dan Cinta
Bisa kita lihat pada bahasan di atas bahwa Valentine Day
merupakan peringatan ?cinta kasih? yang diformalkan untuk
mengenang sebuah peristiwa kematian seorang pendeta yang
mati dalam sebuah penjara. Yang kemudian diabadikan oleh
gereja lewat tangan Paus Gelasius. Maka merupakan sebuah
kurang cerdas jika kaum muslim?dan secara khusus kalangan
remajanya?ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak
memiliki ikatan historis, emosioal dan religius dengan
mereka. Keikut sertaan remaja muslim dalam ?huru-hura? ini
merupakan refleksi kekalahan mereka dalam sebuah
pertarungan mempertahankan identitas dirinya.

Mungkin ada sebagian remaja yang akan bertanya : Kenapa
memperingati sebuah tragedi cinta itu tidak boleh
dilakukan? Apakah Islam melarang cinta kasih? Bukankah
Islam menganjurkan pemeluknya kasih pada sesama?

Tak ada yang menyangkal bahwa Islam tidak melarang cinta
kasih. Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung
cinta pada sesama. Dalam Islam cinta demikian dihargai dan
menempati posisi sangat terhormat, kudus dan sakral. Islam
sama sekali tidak phobi terhadap cinta. Islam mengakui
fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun
demikian Islam tidak menjadikan cinta sebagai komoditas
yang rendah dan murahan. Cinta yang merupakan perasaan jiwa
dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai
kekasihanya dengan penuh gairah, lembut dan kasih sayang
dalam Islam dibagi menjadi tiga tingkatan yang kita tangkap
dari ayat Al-Quran: “Katakanlah : Jika bapak-bapakmu,
anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu,
kerabat-kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan,
perniagaan yang kami khawatirkan kerusakannya, dan
rumah-rumah tempat tinggal yang kamu senangi lebih kau
cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di
jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan
keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada
orang-orang yang fasik.” (Q. S. At-Taubah : 24)

Dalam ayat ini menjadi jelas kepada kita semua bahwa cinta
tingkat pertama adalah cinta kepada Allah., Rasul-Nya dan
jihad di jalan-Nya yang kemudian disebut dengan cinta
hakiki, kemudian cinta tingkat kedua adalah cinta kepada
orang tua, isteri, kerabat, dan seterusnya. Sedangkan cinta
tingkat ketiga adalah cinta yang mengedepankan cinta harta,
keluarga dan anak isteri melebih cinta pada Allah, Rasul
dan jihad di jalan Allah.

Cinta hakiki akan melahirkan pelita. Cinta hakiki yang
dilahrikan iman akan senantiasa memberikan
kenikmatan-kenikmatan nurani. Cinta hakiki akan melahirkan
jiwa rela berkorban dan mampu menundukkan hawa nafsu dan
syahwat birahi. Cinta akan menjadi berbinar tatkala orang
yang memilikinya mampu menaklukkan segala gejolak dunia.
Cinta Ilahi akan menuntun manusia untuk hidup berarti dan
setelah itu mati?untuk meminjam kata Khairil Anwar.

Islam memandang cinta kasih itu sebagai rahmat. Maka
seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil
mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri
(HR. Muslim), perumpamaan kasih sayang dan kelembutan
seorang mukmin adalah laksana kesatuan tubuh; jika salah
satu anggota tubuh terasa sakit, maka akan merasakan pula
tubuh yang lainnya : tidak bisa tidur dan demam (Bukhari
Muslim). Seorang mukmin memiliki ikatan keimanan sehingga
mereka menjadi laksana saudara (Al-Hujarat : 13), dan cinta
yang meluap sering kali menjadikan seorang mukmin lebih
mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun
mereka berada dalam kesusahan (Al-Hasyr : 9).

Di mata Islam mencinta dan dicinta itu adalah ?risalah?
suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada setiap
pemeluknya. Makanya Islam menghalalkan perkawinan dan
bahkan pada tingkat mewajibkan bagi mereka yang mampu.
Islam tidak menganut ?selibasi? yang mengibiri fitrah
manusia seperti yang terjadi dalam ajaran Kristen dan
Hindu, serta Budha yang menganut sistem sosial yang dikenal
dengan kependetaan. Sebab memang tidak ada rahbaniyah dalam
Islam.

Valentine Day yang merupakan ungkapan kasih selain ?hamil?
nilai-nilai relijus yang bukan bagian dari agama kita juga
saat ini dirayakan dengan menonjolkan aksi-aksi permisif.
Dengan lampu remang, dan lilin-lilin temaram. Peniruan pada
perilaku agama lain dan sekaligus melegalkan pergaulan
bebas inilah yang tidak dibenarkan dalam pandangan Islam.

Islam dan Perlawanan Budaya
Sebagai agama pamungkas Islam dengan tegas memposisikan
diri sebagai agama yang diridhai Allah dan siapa saja yang
ingin mencari agama selain Islam maka agamanya tidak akan
diterima (Lihat : Ali Imran ayat 19 dan 185). Dan sebagai
agama terakhir Islam telah melakukan beberapa pembenaran
dari berbagai penyelewengan yang terjadi dalam agama
Kristen dan agama Yahudi. Islam mengharuskan pemeluknya
untuk membentengi diri dari semua budaya yang datang dari
kalangan Yahudi dan Kristen. Kaum muslimin harus memiliki
budaya dan identitasnya sendiri yang bersumber pada norma
dan ajaran agamanya.

Setelah kita mengetahui bahwa Valentine?s Day sama sekali
tidak memiliki kaitan sejarah dengan Islam, maka menjadi
tugas semua remaja Islam untuk menghindari dan tidak ikut
serta dalam sebuah budaya yang tidak bersumber dari
ajarannya.

Valentine?s Day bukanlah simbol dan identitas remaja muslim
karena ia merupakan hari raya kalangan remaja Kristen. Dan
kita persilahkan saudara-saudara kita dari remaja kalangan
Kristen untuk merayakannya sesuai dengan keyakinan mereka.

Ada satu hadits yang sangat terkenal yang diriwayatkan oleh
Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda : Barang siapa
yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari
mereka (Abu Daud). Hadits ini mengisyaratkan bahwa
meniru-niru budaya-reliji orang lain yang tidak sesuai
dengan tradisi Islam memiliki resiko yang demikian tinggi
sehingga orang tersebut akan dianggap sebagai bagian dari
orang yang ditiru. Sebagaimana juga firman Allah, Barang
siapa diantara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin,
maka sesungguhnya orang itu termasuk golonga mereka.
(Al-Maidah : 51). Sabda Rasulullah, “Kau akan bersama-sama
dengan orang yang siapa yang kau cintai.” (Bukhari Muslim)

Banyak contoh yang bisa kita kemukakan dari kontra-kultural
yang dilakukan Rasulullah untuk mengokohkan identitas
umatnya. Saat Rasulullah datang ke Madinah dia melihat
penduduk Madinah bersuka ria dalam dua hari. Kemudian
Rasulullah bertanya : Hari apa dua hari itu? Pada sahabat
menjawab : Dua hari tadi adalah hari dimana kami
bermain-main dan bersuka cita di masa jahiliyah! Maka
bersabdalah Rasulullah : Sesungguhnya Allah telah mengganti
dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian :
Iedul Adha dan Iedul Fithri (HR. Abu Daud).

Rasulullah misalnya melarang umatnya makan dengan tangan
kiri karena cara itu adalah cara makan syetan. (HR. Muslim)
Larangan Rasulullah untuk kembali memperingati 2 hari
dimana orang-orang Madinah biasa bermain di zaman jahiliyah
merupakan perlawanan budaya terhadap budaya jahilyah dan
digantikan dengan budaya-reliji baru. Sedangkan
pelarangannya agar tidak makan dengan tangan kiri juga
merupakan perang etika Islam dengan etika syetan.

Allah tidak menghendaki kaum muslimin menjadi ?buntut?
budaya lain yang berbenturan nilai-nilainya dengan Islam.
Peringatan Allah pada ayat di atas membersitkan pencerahan
pada kita semua bahwa Islam dengan ajarannya yang universal
harus dijajakan dengan rajin pada dunia mengenal Islam
dengan cara yang benar dan agar Islam menjadi ?imam?
peradaban dunia kembali. Sebab kehancuran peradaban Islam
telah menimbulkan kerugian demikian besar pada tatanan
normal manusia yang terkikis secara moral dan ambruk secara
etika. Kemunduran peradaban Islam telah menjebak dunia pada
arus kegelapan akhlak dan moralitas. Kehancuran peradaban
Islam ini oleh Hasan Ali An-Nadawi dianggap sebagai
malapetaka terbesar dalam perjalanan peradaban manusia. Dia
berkata, ?Kalaulah dunia ini mengetahui akan hakikat
malapetaka ini, berapa besar kerugian dunia dan
kehilangannya dengan kejadian ini, pastilah dunia hingga
saat ini akan menjadikan kemunduran kaum muslimin sebagai
hari berkabung yang penuh sesal, tangis dan ratapan. Setiap
bangsa di dunia ini akan mengirimkan tanda berduka cita…

Apa yang menimpa remaja muslim saat ini tak lebih dari
dampak keruntuhan peradaban Islam yang sejak lama
berlangsung. Remaja muslim masa kini yang ?buta? terhadap
peradabannya sendiri diakibatkan munculnya serangan budaya
yang gencar menusuk jantung pertahanan budaya kaum
muslimin. Kemampuan mereka untuk bertahan dengan
ideal-ideal Islam yang rapuh menjadikan mereka terseret
arus besar peradaban dunia yang serba permisif, hedonis dan
materialistik. Lumpuhnya pertahanan mereka terhadap
gencarnya serangan budaya lain yang terus menggelombung
menjadikan mereka harus takluk dan menjadi ?budak? budaya
lain.

Maka sudah saatnya bagi remaja muslim untuk memacu diri
melakukan gerilya besar dengan mengusung nilai-nilai Islam
sehingga dia mampu mengendalikan diri untuk tidak
terpancing apalagi larut dengan budaya-reliji lain.
Generasi muda muslim hendaknya mampu membangun
benteng-benteng diri yang sulit ditembus oleh
gempuran-gempuran perang pemikiran yang setiap kali akan
mengoyak-ngoyak benteng pertahanan imannya.

Perlawanan budaya ini akan bisa dilakukan jika remaja
muslim mampu mendekatkan dirinya dengan poros ajaran Islam
dan mampu melakukan internalisasi diktum-diktum itu ke
dalam kalbu, dan sekaligus terkejawantahkan ke dalam aksi.
Remaja muslim yang mampu menjadikan keimanannya ?hidup?
akan mampu bergumul dan bahkan memenangkan pertarungan yang
sangat berat di hadapannya. Remaja muslim yang dengan setia
menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai panduan hidupnya
akan mampu menjadi seorang muslim tahan banting dan imun
terhadap virus budaya global yang mengancam identitasnya.
Seorang remaja muslim yang menjadi the living Quran akan
mampu melakukan kontra aksi terhadap semua tantangan yang
dihadapinya. Dia akan mampu menangkis serangan informasi
satu arah yang kini datang dari Barat.

Apa yang mesti dilakukan oleh kalangan muda Islam di zaman
serba kompleks ini?

Dalam pandangan saya tidak ada yang lebih baik untuk
dilakukan kecuali kita semua kembali merapatkan jiwa dan
kesadaran kita ke akar norma agama kita sendiri, lalu kita
gali sedalam-dalamnya, kita renungkan semaksimal mungkin,
kita aplikasikan dalam hidup ini. Dan kita pasarkan
ajaran-ajaran Islam itu dengan sepenuh raga dan jiwa. Hanya
dengan spirit berjuang yang tinggi dan komitmen yang kuat
remaja muslim akan lahir kembali dalam sosok yang cemerlang
dengan Islam sebagai panji. Selamat datang Wahai pencinta
Rosulullah

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=401

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here