Homeforum.majelisrasulullah.orgPertanyaan seputar Sholat dan banyak masalah lainya *paketan

Pertanyaan seputar Sholat dan banyak masalah lainya *paketan

forum.majelisrasulullah.org 0 0 likes 43 views share

nugon19 Pertanyaan seputar Sholat dan Thoharoh – 2008/05/08 19:12 As
Salamu ^alaikum wr. wb. Habib Munzir yg saya hormati dan Insya
Allah dimuliakan serta selalu dirahmati Allah swt.

Mohon maaf mengganggu, ada beberapa pertanyaan terkait masalah
Sholat dan Thoharoh. Titipan dari rekan-rekan di mailing list.

[1] Yang pertama, Bagaimana hukumnya membaca ayat atau surat
Al-Quran pada roka^at ketiga dan keempat dalam sholat?

Karena ada diskusi hangat dgn teman-teman di mailing list lain.
Ada yg mengambil ulasan dari Ustadz Ahmad Sarwat di website
Eramuslim bahwa tdk disyariatkan membaca surat selain Al-Fatihah
dlm roka^at ketiga dan keempat sbb:

————
Ustadz yang terhormat,

Pada shalat baik wajib maupun sunnah, membaca surat-surat pendek/
surat
lain setelah membaca surat Al-fatihah adalah sunnah. yang ingin
saya
tanyakan adalah apakah ada dalilnya membaca surat pendek pada
rakaat ke
dan 2/3 dan 4 (jika pada solat yang 4 rokaat). Selama ini saya
membacanya pada rokaat yang ke 3 dan 4. Namun ada sebagian yang
mengatakan tidak boleh dan hanya pada rokaat 1 dan 2 saja. Mohon
penjelasannya.

jawaban boleh dikirim ke e-mail saya yang lain.terima kasih.
Hmad Bustomi

Jawaban
Assalamu a^alaikum warahmatullahi wabarkatuh,

Membaca sebagian surat Al-Quran setelah membaca Al-Fatihah memang
hanya disyariatkan pada dua rakaat pertama. Sedangkan untuk rakaat
ketiga
atau keempat, tidak ada pensyariatannya.

Dengan demikian, tidak pada tempatnya untuk dibaca pada rakaat
ketiga
dan keempat. Sebab prinsip dasar dalam ibadah shalat adalah pada
dasarnya haram, kecuali ada perintahnya.

Adapun hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW hanya membaca
ayat
Al-Quran pada rakaat pertama dan kedua saja adalah hadits berikut
ini:

Dari Qatadah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW membaca dalam shalat
Zhuhur pada dua rakaatnya yang pertama surat Al-Fatihah dan dua
surat,
beliau memanjangkannya di rakaat pertama dan memendekkannya di
rakaat
kedua. Terkadang beliau mendengarkan ayat. Beliau SAW membaca
dalam
shalat Ashar pada dua rakaatnya yang pertama surat Al-Fatihah dan
dua
surat, beliau memanjangkannya di rakaat pertama dan memendekkannya
di
rakaat kedua. Dan beliau beliau memanjangkannya di rakaat pertama
shalat shubuh dan memendekkannya di rakaat kedua. (HR Muttafaqun
^alaihi).

Maka sebaiknya anda tidak membaca ayat Al-Quran pada rakaat ketiga
atau
keempat, kecuali hanya membaca surat Al-Fatihah saja.

Wallahu a^lam bishshawb, wassalamu a^alaikum warahmatullahi
wabarkatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.
—————–

Sedangkan rekan lain menerangkan dgn pendapat Syaikh Albani,
dibolehkan membaca surat selain Al-Fatihah pd roka^at ketiga dan
keempat sbb:

—————-
Assalamu^alaikum warohmatullooh,

Membaca forward artikel oleh bang Morry, membuat saya teringat
akan
tulisan Syaikh Muhammad nashiruddin Al-Albani dalam kitab beliau
“Shifatu Shalaati An-Nabiyyi Shallallaahu ^Alaihi wa Sallama min
At-
Takbiiri ilaa At-Tasliimi Ka-annaka Taraaha”, yang sudah dialih
bahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Thalib (Penerbit
Media Hidayah – Yogyakarta cetakan ke 17 – Edisi Revisi).

Dalam bab 2 – Gerakan dan Bacaan Shalat sub bab 14 Bacaan-Bacaan
Nabi
Dalam Shalat tentang 2.b. Membaca beberapa ayat pada dua raka^at
terakhir. Pada bagian ini tertulis paragraf sebagai berikut:
“Pada raka^at ketiga dan keempat shalat Zhuhur, Nabi membaca ayat
atau
surah lebih pendek daripada ayat atau surah pada raka^at pertama
dan
kedua, kira-kira separonya, yaitu 15 ayat;(footnote 133) dan
terkadang
hanya membaca Al-Fatihah”. (footnote 134)

Berikut footnote-nya:
133. HR Ahmad dan Muslim. Hadits ini menyatakan bahwa membaca
surah
pada raka^at ketiga dan keempat adalah sunnah. Demikianlah
pendapat
sejumlah sahabat, antara lain Abu Bakar Shiddiq. Begitu pula
pendapat
Imam Syafi^i, baik dalam shalat Zhuhur maupun shalat yang lain.
Pendapat ini diikuti ulama-ulama kita belakangan ini, antara lain:
Abul Hasanat Luknawy dalam kitab At-Ta^liqul Mumajjadu ^Ala
Muwaththai
Muhammad, hlm. 102. Ia berkata: “Sebagian teman-teman kami
bertindak
aneh, karena mewajibkan sujud sahwi bila orang tidak membaca surah
pada raka^at ketiga dan keempat.”
Pendapat ini telah ditolak oleh Ibrahim Al-Halabi, pensyarah kitab
Al-
Maniyah, Ibnu ^Amir Hajj, dan lain-lain dengan bantahan yang baik.
Orang yang berpendapat semacam itu barangkali karena belum
mengetahui
Hadits ini atau sudah mengetahui tetapi tidak mau
memperdulikannya.
134. HR. Bukhari dan Muslim.

Dengan demikian, ada perbedaan antara jawaban (di eramuslim.com)
yang
diberikan oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc, yaitu “Membaca sebagian
surat
Al-Quran setelah membaca Al-Fatihah memang hanya disyariatkan pada
dua
rakaat pertama. Sedangkan untuk rakaat ketiga atau keempat, tidak
ada
pensyariatannya.”
Dengan apa yang ditulis oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
tersebut, yaitu bahwa ada hadits [tentunya berkadar shahih] yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim, yang dapat dijadikan
hujjah tentang sunnah-nya membaca surah Al-Quran setelah Al
Fatihah
pada raka^at ketiga dan keempat.

Apanya yang berbeda?? Ustadz Ahmad Sarwat Lc menuliskan “tidak ada
pensyariatannya”, sedangkan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
menuliskan adanya hadits tersebut.

Pendapat saya, jelas ini bukan perbedaan pendapat semata, karena
ada
hadits shahih yang dapat dijadikan landasan.

Apakah ada rekan-rekan sekalian yang dapat memberikan ulasan lebih
lanjut. Seandainya ada diantara anggota milis ini yang dapat
meneruskan kepada ustadz Ahmad Sarwat Lc maka saya akan sangat
berbahagia sekali tentunya, karena saya tidak mempunyai alamat
kontak
beliau secara langsung. Harapannya dapat menjadikan bahan
pembahasan
lebih lanjut, sehingga menjadi tambahan ilmu bagi kita.
InsyaAllooh.

Walloohu^alam.

Wassalam,
cNbM
—————-

Terlepas dari siapa Syaikh Albani, menurut Habib Munzir, pendapat
mana yg benar atau minimal paling kuat, dan bagaimana dalilnya
menurut Sunnah Rasulullah saw.

[2] Berikutnya, utk tayammum, menurut madzhab Syafi^i dan hadits
shohih, bagaimana cara menyapu bagian tangan, apakah cukup sampai
pergelangan atau sampai sikut?

Karena ada rekan dan ustadz yg menyatakan dgn referensi kitab
Bulughul Maram, ada hadits yg menyatakan tayammum sampai
pergelangan tangan.

[3] Kemudian, terkait masalah batal wudhu. Apakah batal wudhu
seseorang suami menyentuh istri, begitu pula kebalikannya?
Bagaimana dalilnya menurut madzhab Syafi^i, baik Qoul Qodim atau
pun Jadid?

Karena dlm kitab-kitab fiqih Madzhab Syafi^i yg sederhana,
dikatakan bahwa batal wudhu bila bersentuhan lawan jenis dgn
kriteria sudah baligh, bukan mahrom abadi. Sedang suami boleh dan
sudah menikah dgn istri, dlm arti lain bukan mahromnya.

Bagaimana juga menurut madzhab lain, mana yg lebih rojih?

[4] Selanjutnya utk sholat, bagaimana tata cara sujud, apakah pd
saat sujud, selain kaki (jari kaki) dihadapkan ke arah Qiblat,
kedua kaki dirapatkan (bertemu) atau direnggangkan?

Karena dari banyak buku tata cara sholat dan thoharoh, ada
hadits-hadits yg menerangkan dirapatkan (biasanya dilakukan oleh
komunitas salafi/wahabi), ada juga yg direnggangkan (mayoritas di
masyarakat kita). Mana yg lebih rojih menurut madzhab Syafi^i?
Bagaimana pandangan madzhab lain?

[5] Bagaimana bila muallaf dlm membaca doa atau tasbih dalam
sholat, urutannya terbalik, apakah bid^ah? apakah batal sholatnya?
Seumpama begini, misal baca doa di antara dua sujud –
Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa^nii warzuqniii dst dibaca
menjadi – Robbighfirlii warhamnii wajburnii warzuqnii warfa^niii.

[6] Apa ada kitab fiqih terjemahan yg mudah dipelajari oleh
muallaf, ringkas, dan merupakan summary dari penjabaran fiqih yg
berlandaskan dalil-dalil yg kuat menurut madzhab Syafi^i?

[7] Bagaimana pandangan Habib Munzir ttg kekuatan dan kelemahan
Kitab Bulughul Marom bagi para murid yg ingin belajar?

Juga bagaimana derajat atau kualitas penjabaran fiqih dalam Kitab
Fiqih Sunnah karangan Sayyid Sabiq yg banyak dijadikan referensi
bagi pelajar khususnya dalam komunitas PKS (Ikhwanul Muslimin)
juga beberapa dari komunitas salafi (wahabi)?

[8] Harapan kami, terutama dari rekan-rekan muallaf, majelis
Rasulullah menerbitkan audio-video dan buku-buku yg ringkas
menjabarkan tauhid terutama sifat 20, serta menjabarkan dan
memberi contoh praktek Rukun Islam, terutama Thoharoh dan Sholat,
yg tentunya mudah dipelajari oleh para muallaf.

Demikian dari saya, mohon maaf bila mengganggu Habib Munzir.

Was Salamu ^alaikum wr. wb.,

Nugroho Laison (nugon)

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Pertanyaan seputar Sholat dan Thoharoh – 2008/05/08 21:26
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya kemuliaan Nya swt semoga selalu menerangi hari hari
saudaraku dalam kebahagiaan,

1. dalam madzhab syafii terdapat dua pendapat, yaitu disunnahkan
membaca surat selain fatihah pada rakaat ketiga dan keempat.

dan pendapat kedua tidak disunnahkan melakukannya, karena mereka
berkata bahwa ucapan Imam syafii dan lainnya itu adalah
dimaksudkan untuk masbuq yg mengikuti imam pada rakaat ketiga dan
keempat, maka mereka tetap disunnahkan membaca surat karena masbuq
masih rakaat pertama atau kedua

dijelaskan oleh Hujjatul Islam Al Imam Nawawi pada kitabnya
Almajmu^. bahwa dua pendapat ini dalam madzhab syafii, namun yg
lebih shahih adalah yg tidak menyunnahkan surat pada rakaat ketiga
dan keempat dan aku berfatwa dengan yg mengatakannya tidak
disunnahkan (Al Majmu^ Linnawawi)

2. berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi bahwa terdapat dua
riwayat dalam hal ini, Al Imam syafii, Imam Malik, dan Imam Hanafi
mengambil hadits shahih bahwa tayammum adalah pada wajah dan
tangan hingga siku, dan Imam Ahmad mengambil hadits shahih bahwa
tayammum pada wajah dan kedua telapak tangan. (Syarah nawawi ala
shahih Muslim Bab Tayammum)

3. berkata Imam Nawawi, bahwa dalam Madzhab kita (Assyafii madzhab
beliau), bahwa bersentuhan kulit pria dan wanita dewasa non muhrim
membatalkan wudhu, berlandaskan pada firman Allah : “Aw
laaamastumunnisaa”, dan berlandaskan hadits shahih riwayat Ibn
Umar ra bahwa Rasul saw bersabda : Barangsiapa yg mencium istrinya
dan menyentuhnya maka baginya berwudhu.

mengenai pendapat madzhab lain adalah berlandaskan beberapa hadits
shahih bahwa Rasul saw mencium istrinya dan menyentuh kaki mereka
saat shalat dan Rasul saw tak berwudhu lagi, namun kita
berpendapat bahwa Rasul saw menciun istrinya itu adalah dengan
kain penutup (jilbabnya) dan bukan bersentuhan langsung, demikian
pula saat beliau saw mengangkat kakiistrinya yg menghalanginya
saat shalat, adalah tidak bersentuhan dg kulitnya langsung, dan
hadits yg menguatkan sentuhan dua kulit tidak membatalkan adalah
hadits dhoif, dan tak ada hadits shahih yg mensharihkan
bersentuhan dua kulit tanpa kain (ha^il).
(Al Majmu^Linnawawi Bab Wudhu).

pendapat madzhab lain adalah bersentuhan tidak batal kecuali jika
dengan syahwat, dan madzhab lainnya bersentuhan tidak batal
kecuali disengaja, dan madzhab lain berpendapat bersentuhan tidak
batal sama sekali.

mengenai mana yg paling shahih maka masing masing madzhab akan
menagatakan pendaoatnya yg lebih kuat, dan demikian kejelasana
Imam Nawawi bahwa yg terkuat adalah madzhab syafii.

4. dalam madzhab syafii menghadapkan jari jari ke kiblat adalah
sunnah, dan merenggangkan kedua paha saat bersujud, dan berkata
shohib Aunulma^bud mengenai hadits riwayat Abu dawud bahwa nabi
saw memerintahkan untuk merapatkan paha, namun ini bertentangan dg
hadits riwayat Abu dawud pula yg meriwayatkan bahwa Rasul saw
memerintahkan untuk membuka kedua paha saat bersujud dan tidak
menjadikan paha mendukung beban perutnya, dan bahwa Imam
Assyaukani merujuk pada hadits Abi Humaid bahwa Rasul saw
mengajarkan membuka kedua pahanya, dan tak ada ikhtilaf dalam hal
ini. pendapat sama pada Madzhab Imam Ahmad dan Abu hanifah
(hanafi).

5. bacaan bacaan itu sunnah, selain fatihah dan tahiyyat, maka tak
dibacapun tetap sah shalatnya namun ia kehilangan pahala sunnah.

6. kitab fiqih yg dikeluarkan oleh departemen agama kita berupa
panduan shalat, itu berlandaskan madzhab syafii.

7. Bulughul maram adalah salah satu dari ribuan kitab hadits,
namun Bulughul Maram adalah kumpulan dari beberapa riwayat yg
dibuat oleh Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy, beliau adalah salah
seorang pakar hadits, dan tentunya jauh diatas derajat Sayid
Sabiq.

selayaknya kita berpegang pada satu madzhab, bukan mencari yg
paling shahih, karena kesemua Imam Madzhab empat adalah dipercaya
oleh ribuan muhaddits dan pakar hadits bahwa mereka berpegangan
pada riwayat shahih.

tak ada yg dhoif dari 4 imam besar itu, karena jika mereka dhoif
dan tak mengerti hadits maka tak akan diakui sebagai Imam Madzhab
oleh ribuan ahli hadits dimasanya.

seorang pakar hadits mestilah mencapai derajat ALhafidh, yaitu
telah hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya,
sedangkan sayid sabiq hanya menukil saja dan ia tak sampai ke
derajat Alhafidh.

diatasnya terdapat derajat Hujjatul Islam, yaitu hafal 300.000
hadits dengan sanad dan hukum matannya, demikianlah Imam
Nawawi,Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy,

mengenai Imam Madzhab mereka sudah lebih lagi, Imam Amad bin
Hanbal ia hafal 1 juta hadits berikut sanad dan hukum matannya,
dan ia adalah murid Imam Syafii, maka jelaslah keluasan Ilum
syariah Imam Imam Madzhab itu, dan selayaknya kita mengikuti
Madzhab setempat,

jika kita di wilayah madzhab hanafi maka janganlah berkeras dengan
madzhab syafii, ikutilah masyarakat setempat hingga tak
menimbulkan perpecahan,

demikianpula jika kita di wilayah madzhab Syafii, tak layaknya
kita berkeras dengan madzhab lainnya hingga menimpbulkan
perpecahan, berbeda dengan wahabi yg selalu memang menimbulkan per
[ecahan dimana mana.

terimakasih atas sarannya saudaraku

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita
cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

nugon19 Re:Pertanyaan seputar Sholat dan Thoharoh – 2008/05/08 23:24 Maaf
mengganggu lagi Habib Munzir, hanya ingin konfirmasi dan
klarifikasi ulang.

Ttg Sujud, maksudnya adalah merapatkan 2 tumit/betis. Ada rekan yg
merapatkan betis/tumitnya hingga sisi pinggir dalam telapak kaki
bertemu, sehingga posisi kaki sampai lutut seolah rapat membentuk
huruf V ( /). Tapi yg umum kita lihat dan lakukan adalah 2 tumit
tdk bertemu, sehingga posisi kaki seperti ini / , bukan rapat
seperti ini / . Apakah keduanya ada dalil? Mana yg lebih afdhol.

Kemudian mohon maaf, bisa tahu judul buku fiqih dari departemen
agama tsb?

Yg terakhir, kalau seumpama ada pengajian Fiqih dgn referensi
Fiqih Sunnah karangan Sayyid Sabiq, kami boleh menghadirinya? Apa
tingkat pembahasannya tdk berat bagi orang awam atau muallaf?

Itu saja dari saya, mohon maaf sedalam-dalamnya karena mengganggu
dan merepotkan Habib.

Was Salamu ^alaikum wr. wb.,

Nugon

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Pertanyaan seputar Sholat dan Thoharoh – 2008/05/10 14:11
alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

cinta dan rindu yg berpadu pada Dzat Allah swt semoga selalu
berpijar pada anda dengan cahaya kebahagiaan

cara yg benar adalah merentangkannya sejajar dg paha dan pinggir
badan, tidak menyatukannya seperti huruf V, tapi seperti II,
demikian sanad kita kepada Rasul saw dari Guru Mulia kita.

merapatkan paha dan kaki saat sujud adalah sunnah bagi kaum
wanita, demikian dalam madzhab syafii.

mengenai buku tsb tentunya sudah banyak di semua toko buku,
judulnya adalah : tuntunan shalat.

atau boleh juga anda berujuk pada kita AL Adzkar, oleh Hujjatrul
Islam Al Imam Nawawi, ia sudah diterjemahkan.

mengenai buku sayid sabiq, terus terang saja saya kurang simpati,
karena penulsi buku itu tak bermadzhab, dan ia tak mempunyai sanad
pula, hanya menukil nukil dari buku buku lain lalu berfatwa, maka
salahnya akan lebih banyak dari betulnya, karena ia tak punya guru
pembimbing.

mengenai hadir di majelis yg membahasnya, saran saya lebih baik
anda hadir di majelis guru guru yg jelas madzhabnya, madzhab
apapun dia, dan jika mungkin maka carilah yg betul betul ulama,
shalih dan bertakwa serta mengamalkan ilmunya, sehingga ada puas
memanut gerak geriknya yg hampir tak pernah ada yg tak menyimpang
dari sunnah dan sanad guru guru kepada Rasul saw.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita
cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

nugon19 Re:Pertanyaan seputar Sholat dan Thoharoh – 2008/05/11 19:22 As
Salamu ^alaikum wr. wb. Habib Munzir yg saya hormati dan Insya
Allah dimuliakan serta selalu dirahmati oleh Allah swt.

Mohon maaf mengganggu kembali Habib Munzir. Masih ada beragam
pertanyaan dari kami yang awam dlm masalah agama, khususnya
muallaf, terkait masalah Sholat dan Thoharoh.

Karena dari berbagai perkumpulan terlebih komunitas muallaf dan
pengajian kantoran…banyak yg menyodorkan beragam pendapat
beserta perbedaannya (khilafiyah)…dgn membawa dalil serta
madzhab masing-masing. Ada yg memakai madzhab Syafi^i; ada yg
membawa madzhab Hambali, terutama dari rekan-rekan di komunitas
salafi; atau madzhab lainnya.

Ini membuat kami yg awam, terlebih muallaf bingung. Mohon bantuan
pengajarannya, terutama dgn madzhab Syafi^i dan dalil Al-Quran,
Hadits Rasulullah saw, serta pernyataan para imam mujtahid.

Sehingga kami menjadi lebih bijak menyikapinya, dapat memilih yg
terkuat, terlebih yg merupakan mayoritas pegangan masyarakat kita
– Madzhab Syafi^i.

Juga bisa membuat kita lebih bijak menyikapi perbedaan, dan bisa
memberitahu yg pendapatnya lemah atau bahkan menegur yg
pendapatnya salah.

Berikut ini daftar pertanyaannya:

[1] Ada pengajar yg mengatakan bahwa cara sholat sunnah yg afdhol
memang per dua roka^at lalu salam. Namun ada juga praktek yg
disambung (washol) utk sholat witir 3 roka^at atau qiyamul-lail 4
roka^at. Bagaimana menurut Habib Munzir, apa benar pernyataan
seperti ini? Bagaimana kajian terkait dalam tiap madzhab, terutama
madzhab Syafi^i?

Kemudian untuk sholat witir washol (langsung) 3 roka^at atau
qiyamul-lail yg langsung 4 roka^at tsb apa harus pakai tasyahud
awal? Bagaimana dalil haditsnya? Bagaimana kajian dalam 4 madzhab,
terutama madzhab mayoritas di masyarakat kita, yaitu Madzhab
Syafi^i?

Karena ada rekan dari komunitas salafi menyatakan menurut beberapa
ulama madzhab Hambali, sholat sunnah yg lebih dari dua roka^at
harus pakai tasyahud awal (tapi beliau tdk menyatakan apakah
mustahab/sunnah, atau wajib).

[2] Bagaimana cara masbuk mengikuti sholat, terutama cara duduk
ketika imam sudah tasyahud akhir, sedang kita masih kurang
roka^atnya? Apakah harus mengikuti persis imam duduk tawaruk sebgm
kebiasaan di tasyahud akhir? Atau kita duduk dgn gaya iftirosy
sebgm kebiasaan di tasyahud awal? Baik untuk sholat yg hanya 2
roka^at atau pun sholat yg di atas 2 roka^at (3 atau 4 roka^at).

Karena saya biasanya duduk iftirosy. Tetapi teman memakai duduk
tawarruk dgn landasan hadits sholat makmum harus mengikuti imam,
apa pun gerakan dan caranya.

Ada juga yg menyatakan kalau sholat subuh, makmum yg telat memakai
gaya duduk iftirosy, begitu pula utk sholat non-shubuh yg jumlah
ketinggalan roka^atnya kurang dari 2 roka^at; tetapi kalau sholat
non-subuh dan jumlah ketinggalan roka^atnya lebih atau sama dari 2
roka^at, ya makmum mengikuti gaya duduk tawarruk.

Saya benar-benar bingung, mohon penjelasan dan dalilnya menurut 4
madzhab, terutama madzhab mayoritas di masyarakat kita – madzhab
Syafi^i.

[3] Apakah ada madzhab terutama dlm 4 madzhab utama, yg menyatakan
jikalau sholawat kepada Nabi Muhammad saw dlm tasyahud bukan
merupakan rukun sholat?

Karena saya membaca sebuah buku cara belajar sholat khusyuk, saya
mendapati kesimpulan bahwa sholat yg ringkas cukup menjalankan
rukunnya saja, dan di daftar rukunnya tdk terdapat lafadz sholawat
kpd Nabi Muhammad saw.

Sedang Madzhab Syafi^i yg kita pakai jelas menegaskan bahwa
sholawat kpd Nabi Muhammad saw adalah Rukun Sholat.

Kemudian, sholawat yg merupakan Rukun Sholat apakah sebatas
sholawat kpd Nabi Muhammad saw saja, atau harus beserta Ahli/
Keluarga beliau (Ahlul Bait ra)? Dan sholawat kpd Nabi Ibrahim
serta keluarganya apakah Sunnah atau Rukun Sholat juga?

[4] Bagaimana cara meletakkan tangan dan memberi isyarat dgn
telunjuk dalam tasyahud menurut madzhab yg 4, terutama Madzhab
Syafi^i?

Apakah pd saat meletakkan tangan di paha sebelum memberi isyarat
ketika bersyahadat, kedua telapak tangan dihamparkan/letakkan di
paha tanpa digenggam; atau tangan kanan sudah pd posisi
menggenggam?

Lalu pd saat membaca bersyahadat, telunjuk memberi isyarat. Apakah
ditegakkan/diluruskan terus sampai mengucap salam? Atau setelah
bersyahadat digenggam kembali, atau bahkan dihamparkan kembali
telapak tangan kanannya?

Atau digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri? Atau digerak-gerakan
seperti jari diputar searah jarum jam; atau jari diputar
berlawanan arah jarum jam; atau digerak-gerakkan sedikit ke atas
dan sedikit ke bawah?

Khusus yg menggerak-gerakkan telunjuknya bahkan ada yg sudah
melakukan begitu duduk tasyahud, dimulai dari membaca tahiyat.
Juga ada rekan yg kendati tdk menggerak-gerakkan telunjuk, namun
begitu duduk tasyahud, begitu membaca tahiyat, telunjuknya
langsung ditegakkan/diluruskan sampai dgn salam.

Masalah ini menjadi polemik, bahkan ada rekan yg sharing, di
kampungnya hampir memicu perkelahian fisik karena masalah
tata-cara tahiyat dan tasyahud ini.

[5] Bagaimana cara bersedekap ketika sholat pada saat berdiri
membaca Al-Fatihah dan surat/ayat Al-Quran lainnya?

Apakah tangan kanan menggenggam pergelangan tangan kiri (dgn jari
telunjuk diluruskan), atau cukup meletakkan tangan kanan di atas
tangan kiri saja? Bila meletakkan, apakah posisinya di bagian
punggung telapak tangan atau di pergelangan?

Bagaimana posisinya, di dada, di antara perut dan dada (ulu hati),
atau di perut, atau di bagian pusar (agak ke bawah dari tengah
perut)?

Apakah setelah i^tidal harus bersedekap lagi atau tidak? Atau
malah bid^ah jika bersedekap lagi pd saat i^tidal?

Ini jadi polemik juga, membingungkan pd saat kami mau mengajarkan
sholat kpd sesama muallaf yg masih awam atau benar-benar baru
masuk Islam.

[6] Apakah makan daging unta membatalkan wudhu? Bagaimana kajian
dan dalil Al-Quran serta Hadits Rasulullah saw utk masalah ini,
terutama dari Madzhab Syafi^i?

Karena ada teman yang kebetulan mengaji di komunitas salafi, kata
beliau, menurut madzhab Hambali makan daging unta membatalkan
wudhu. Bila minum kaldu kuah unta, disarankan berwudhu lagi demi
kehati-hatian. Saya pribadi belum pernah makan unta, tapi
mendengar hal ini agak kaget juga.

Padahal selama belajar fiqih selama sekolah dan dari pengajian dgn
beberapa ustadz, yg Insya Allah biasanya berbasiskan madzhab
fiqih, tdk dinyatakan bahwa makan daging tertentu, terutama unta,
bisa membatalkan wudhu. Yg dinyatakan adalah lebih afdhol kalau
berwudhu lagi, apalagi ditambah dgn bersiwak.

[7] Dipandang dari segi hukum fiqih, Apakah berbicara pd saat
wudhu membatalkan wudhu? Apakah berbicara pd saat mandi junub
membatalkan mandi junub tsb, sehingga harus diulangi dari awal?

Apakah bila pd saat mandi junub, di tengah-tengah mandi junub kita
kentut, atau buang air kecil, atau buang air besar, dianggap
membatalkan mandi junub dan harus mengulangi mandi junub dari
awal.

Karena ada rekan yg belajar di Ma^had mengatakan bila berkata-kata
pd saat wudhu tdk baik tapi tdk batal, namun bila berkata-kata pd
saat mandi junub maka harus diulangi lagi (tdk dikatakan batal
atau tidak). Dan bila di tengah-tengah mandi junub lalu keluar
sesuatu dari 2 jalur, rekan tsb mengatakan mandi junubnya batal,
harus diulangi dari awal lagi.

Masih seputar mandi junub, apakah boleh mandi junub tanpa wudhu?
Dan bila boleh melakukan mandi junub tanpa wudhu, apa wajib
berwudhu lagi setelahnya jika kita ingin melakukan sholat atau
memegang mushaf Al-Quran?

Bila kita berwudhu lalu mandi junub, apa harus berwudhu lagi
setelahnya? Bila tdk perlu, tetapi pd saat mengeringkan badan
(handukan) tersentuh alat kelamin (ini sering terjadi), apa harus
wudhu lagi?

Saya pribadi kurang tahu bagaimana hukumnya utk 2 kasus terakhir,
tetapi saya selalu setelah mandi junub, berwudhu lagi, buat
hati-hati dan jaga-jaga, biar aman dan selamat.

[8] Apakah bila kita telah kena wudhu, kemudian terkena benda
najis, maka cukup membersihkan najis tsb, lalu tdk usah mengulangi
wudhu, karena terkena najis tdk membatalkan wudhu, dgn dalil
adanya hadits yg menceritakan praktek tsb oleh salah seorang
sahabat? Ini penerangan rekan saya yg belajar di Ma^had.

Tetapi utk tayammum tdk ada dalilnya, sehingga lebih amannya bila
setelah bertayammum terkena najis, maka dibersihkan, lalu
bertayammum kembali.

[9] Benarkah najis yg kering sendiri, dan menghilang bau, rasa,
dan warnanya …sudah dianggap suci kembali? Apakah najis bisa
dihilangkan tanpa air, misal dengan tissue, kain, yg penting
kering, dan tdk ada bau serta warnanya.

Karena di perkantoran atau apartemen, terlebih di luar negeri, tdk
umum orang membersihkan kotoran dan najis dgn air, dan di beberapa
tempat agak sulit mendapatkannya.

Kemudian, masalah terkena anjing, juga babi. Apakah madzhab yg 4
(atau madzhab fiqih lain yg masih dlm koridor Sunni) mengharuskan
membersihkan dgn 7 kali basuh di awali di sertu (diberi debu/
tanah), atau hanya madzhab Syafi^i? Bagaimana bila membersihkannya
cukup dgn mencuci dgn sabun dsb, sampai hilang rasa, bau, dan
warnanya, apakah memadai atau bisa ditoleransi? Bagaimana bila
debu/tanah diganti dgn abu gosok?

Ini pengalaman pribadi dan rekan-rekan muallaf, yg sulit
mendapatkan debu/tanah, juga sulit menerangkan ke kerabat dan
teman yg non-muslim ttg praktek tsb, apalagi jika kita menumpang
tinggal di tempat mereka dlm waktu yg lama, termasuk di luar
negeri.

Dan di beberapa tempat, lebih mudah mencari abu gosok (baik murni
mau pun yg sudah dicampuri bahan kimia pembersih sejenis sabun,
pengkilap logam, dsb), bahkan dijual di toko-toko, lebih mudah
dicari ketimbang mencari debu/tanah.

[10] Menurut rekan di Ma^had yg mengajari kami di tempat pengajian
muallaf, diterangkan bahwa air suci mensucikan bila tergenang,
harus bebas dari rasa, bau, dan warna benda najis, serta menurut
madzhab syafi^i harus 2 qullah atau lebih. Bila tdk bisa memenuhi
standar maka tdk boleh berwudhu dgn air tsb.

Sedangkan air yg mengalir, bila warna berubah, tetapi rasa dan bau
tdk sama dgn benda najis, maka dibolehkan berwudhu dgn air tsb,
sebab dianggap masih suci dan mensucikan.

Benarkah demikian Habib Munzir? Bagaimana dalilnya? Saya
mempertanyakan ini untuk klarifikasi, karena bingungnya kami
mendapatkan pengajaran dari rekan-rekan di Ma^had yg bisa mengaji
dan kuliah Ushuluddin serta Syariah…mereka lebih mumpuni menurut
kacamata kami, tetapi kadang kami mendapatkan apa yg mereka
ajarkan berbeda dgn yg kami dapati dahulu sewaktu sekolah, atau
mengaji di kampung, bahkan termasuk belajar di sekolah
Muhammadiyah.

[11] Maaf mengulangi pertanyaan yg lalu, apakah salah, bahkan
berdosa atau bid^ah utk terbalik menyebutkan urutan kata pd dzikir
dan bacaan yg sunnah dlm sholat? Atau membaca dgn lafal arab lain
yg maknanya sama tetapi lafal itu tdk ada dlm Hadits Nabi Muhammad
saw?

Misal membaca Robbighfirlii warhamnii wajburnii dst…menjadi
Robbighfirlii wajburnii warhamnii…

Atau semisal Doa Qunut yg panjang, kadang terbalik urutannya, atau
berbeda lafal arabnya, seperti Laa yadzilluu man walait, wa laa
ya^izzu man ^adait…suka tertukar urutannya kedua kalimat ini.

Karena utk kami yg muallaf, sering terjadi seperti itu, dan
kesulitan menghafalkan dgn baik urutan doanya.

Kami khawatir sekali dgn fenomena ini, dan sering terjadi pd kami.

[12] Saya pribadi berharap dari Majelis Rasulullah ada buku,
video-audio panduan Rukun Iman serta Rukun Islam, terutama
Thoharoh dan Sholat, yg mudah dipelajari, sistematis, ada diagram
sistematika penjelasan yg gampang dicerna (bukan berupa tulisan
teks belaka), serta beberapa pertanyaan contoh kasus, sehingga
gampang dicerna bagi muallaf dan orang awam seperti kami.

Sejujurnya Ini sulit kami temukan di pasaran, bahkan kebanyakan
buku di pasaran membingungkan kami dgn menyodorkan perbedaan
sambil mendebat pendapat yg lain… Ketimbang menjelaskan
persamaan dan perbedaan, dan penjelasan daerah/madzhab yg memakai
metode tsb, sehingga kami bisa menyesuaikan diri di komunitas tsb;
atau menjelaskan di atas sebagaimana harapan kami yg awam dan
muallaf.

Demikian dari saya, mohon maaf sedalam-dalamnya jika mengganggu
atau kurang berkenan di hati Habib Munzir. Sekali lagi mohon maaf
sedalam-dalamnya, semoga Habib berkenan memberikan pencerahan kpd
kami.

Semoga Allah selalu memberikan taufiq wal hidayah, dan balasan yg
berlipat ganda atas ilmu yg Habib ajarkan kpd kami, dan atas ilmu
yg selalu Habib amalkan. Aamiin.

Was Salamu ^alaikum wr. wb.,

Nugroho Laison (nugon)

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Pertanyaan seputar Sholat dan Thoharoh – 2008/05/11 21:21
alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

cinta dan rindu yg berpadu pada Dzat Allah swt semoga selalu
berpijar pada anda dengan cahaya kebahagiaan

saudaraku yg kumuliakan,
beribu maaf saya sangat sibuk sekali karena quota saya buka 40
pertanyaan kemarin, dan hari ini sudah dibatasi, dikarenakan esok
saya akan menghadap guru saya di Tarim, yaman, mungkin seminggu,
maka forum akan tersendat.

dan sayapun risau terburu buru dalam menjawab maka saya tak bisa
memperjelas, semua pertanyaan anda dan segala permasalahan ini
telah dijelaskan pada kitab Almajmu^ oleh Imam Nawawi, yaitu
ikhtilaf madzhab dalam segala gerak gerik shalat dan dalam segala
hukum syariah beserta pembahasan dalil2nya, ia adalah kitab yg
menjadi induk bagi yg ingin penjelasan dalil seluruh madzhab, ia
setebal 20 jilid,dan setiap jilidnya berkisar 350 halaman, namun
ia belum diterjemahkan, dan telah ada softwarenya di portabel saya
ini, namun waktu saya terbatas sekali untuk memeriksanya .

pertanyaan anda saya rujukkan pada teman saya Ustaz Khairullah dan
Admin II akan menampilkannya Insya Allah.

demikian saudaraku.

wallahu a^lam

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

nugon19 Re:Pertanyaan seputar Sholat dan Thoharoh – 2008/06/25 23:38 As
Salamu ^alaikum wr. wb.,

Mohon kpd Admin atau Habib Munzir agar posting ini tdk usah
ditampilkan agar tdk mengurangi Quota sehingga bisa digunakan oleh
yg lain.

Sekiranya Habib Munzir atau Admin yg lain nantinya sempat atau ada
waktu luang, pertanyaan ane yg sebelumnya mohon dibantu dijawab,
ini saja harapan ane.

Sehingga ane dapat menambah ilmu dan berbagi ke rekan muallaf yg
lain.

Wassalam,

Nugroho Laison (Nugon)

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Pertanyaan seputar Sholat dan Thoharoh – 2008/07/04 02:16
alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Ketenangan dan kesejukan hati semoga selalu menerangi hari hari
anda

saudaraku yg kumuliakan,
Berikut ini daftar pertanyaannya:
1. Saudaraku yg kumuliakan,
Cara shalat sunnah yg afdhal adalah 2 rakaat 2 rakaat, demikian
dalam madzhab syafii dan demikian yg paling shahih, namun adapula
riwayat lainnya menyambung lebih dari dua rakaat, namun hanya
dengan satu tahiyyat dan salam, dan tak teriwayatkan pada hadits
shahih bahwa Rasul saw menyambung shalat sunnah lebih dari dua
rakaat dengan dua tahiyyat.
Dalam madzhab syafii dan berdasarkan hadits shahih Rasul saw tak
pernah melakukan shalat sunnah lebih dari dua rakaat dengan dua
tahiyyat, betul dalam madzhab hambali demikian, namun landasannya
adalah hadits dhoif

2. Masbuk duduk dengan duduk dg posisi duduk tahiyyat awwal, sebab
makmum yg ini akan berdiri lagi, ia tak mesti mengikuti imam dalam
hal ini, karena ia tak ikut imam untuk bersalam, namun boleh pula
duduk dengan posisi tahiyyat akhir, namun itu akan menyulitkannya
untuk berdiri, dan dalam hal ini tak ada perbedaan antara shalat
subuh dan lainnya
dalam hal ini adalah ijtihad para Imam dan bukan berlandaskan
dalil hadits.

3. Shalawat pada nabi saw merupakan rukun shalat pada seluruh
madzhab, namun shalawat pada keluarga Nabi saw sunnah pada madzhab
syafiii, dan berbeda beda pada masing masing madzhab

4. Mengenai masalah menggerakkan jari dalam tasyahhud ini tidak
ada kewajiban berbuat demikian, dan hal itu sunnah, bila tak
dilakukan maka tak membatalkan shalat,

Berikhtilaf para Imam Madzhab dalam hal ini :
Menunjukkan jari telunjuk saat tahiyyat merupakan sunnah Rasul
saw, demikian diriwayatkan dalam shahih Muslim, lalu dijelaskan
bahwa khilaf antara empat Imam
Madzhab mengenai caranya sbg br :

Menurut Imam Malik, jari telunjuk digerakkan kekiri dan kekanan.

Menurut Imam Syafii jari telunjuk menunjuk saat ucapan ILLALLAH,
dan tidak menggerak2kannya

Menurut Imam Hanafi mengangkat jari telunjuk saat ucapan LAA
ILAAHA, lalu menjatuhkannya sejajar lurus saat ucapan ILLALLAH

Menurut Imam Hanbali bahwa telunjuk menunjuk setiap mengucapkan
lafadz Allah. (Syarh Ibanatul Ahkam hal 435/436)

Kedua riwayat, yaitu menggerak2kan jari telunjuk dan tak
menggerak2kannya merupakan kabar yg shahih menurut Imam Baihaqi,
namun tidak menggerak2kannya merupakan hal yg lebih mantap utk
khusyu. (Syarh Imam Al Baijuri Ahkam shalat hal 255).
Menggerakkan jari jari tidak membatalkan shalat, demikian ittifaq
4 madzhab.

5. Sedekap ini bukan merupakan rukun shalat, bila tak dikerjakan
tak membatalkan shalat, yg merupakan rukun adalah berdiri dalam
shalat wajib bagi yg mampu dan membaca Fatihah padanya, dan
berkata Imam Syafii bahwa yg paling shahih adalah menaruh tangan
kiri diatas pusar, dan tangan kanan diatasnya, bukan kekiri atau
kekanan

6. Rasul saw berwudhu setelah makan daging onta, dan dalam madzhab
syafii hal itu tak membatalkan shalat namun sunnah berwudhu.

7. berbicara saat berwudhu tak membatalkan wudhu, demikian pula
saat mandi Junub, namun sebagian ulama syafii mengatakannya
makruh,
Mengenai buang air kecil atau besar atau keluar angin dari dubur
saat mandi junub, hal itu tak membatalkan mandi junub, tapi
tentunya ia mesti berwudhu jika akan melakukan shalat
Mandi junub boleh tanpa wudhu.
Mandi junub sudah mencakup wudhu, anda mandi junub tanpa wudhu
maka boleh langsung shalat, asal tak berbuat hal hal yg
membatalkan wudhu, seperti hal hal yg ditanyakan diatas, juga
jangan menyentuh qubul dan dubur dengan telapak tangan,
Bagaimana cara mandi junub tanpa menyentuh qubul dan dubur?,
caranya anda membasuh tubuh bagian depan 3x, sentuh qubul dan
dubur dengan kedua telapak tangan tak apa2, jika sudah merata,
baru membasuh tubuh bagian kanan 3x, nah.. jika sudah membasuh yg
ketiga kalinya ini maka jangan lagi menyentuh qubul dan dubur
dengan tangan kanan,
Tangan kiri masih boleh menyentuh qubul dan dubur karena ia belum
anda basuh tuk junub, lalu setelah itu anda membasuh bagian 3 kiri
3X, dan jangan menyentuh qubul dan dubur lagi dengan telapak
tangan kirinya, jika ia menyentuhnya, maka ia mesti berwudhu jika
akan shalat dll.
8. Najis tidak membatalkan wudhu, demikian dalam madzhab syafii

tidak ada dalilnya pula yg mengatakan menyentuh najis harus
bertayammum lagi, dan dalam madzhab syafii bahwa yg membatalkan
tayammum adalah hal hal yg membatalkan wudhu.

9. Najis yg kering, suci hukumnya jika bersentuhan, dg kaidah
fiqih yg masyhur, najis kering bersentuh dg yg kering, maka suci
tanpa ada ikhtilaf lagi.
Beda antara kering.., dengan kering sendiri yg berawal basah, jika
berawal basah maka mesti disucikan dengan air,
Mengenai istinja, maka hukumnya berbeda, sah dengan tisu, namun dg
syarat najis itu tak berpindah, misalnya air seni menetes kepaha,
maka tak bisa disucikan dg tisu, namun mesti dibasuh, jika ia
hanya pada ujung penis maka bisa disucikan dg tisu, demikian pula
buang air besar, jika masih di bibir dubur maka bisa disucikan dg
tisu, jika terkena ke paha atau anggota tubuh lainnya maka tak
bisa disucikan dg tisu,
masalah terkena anjing, juga babi, dalam madzhab syafii mesti
disucikan dg air lumpur 7X, dalam madzhab hanafi anjing tidak
najis, namun babi merupakan jumhur seluruh madzhab atas najisnya,
dalam madzhab syafii tidak suci kecuali dengan air dan debu, atau
sebaiknya dg air lumpur, abu gosok tidak termasukm mensucikan
kecuali dari tanah dan air.
10. dalam madzhab syafii boleh berwudhu dengan air kurang dari dua
kulak, namun tak boleh ada najisnya, dan dua kulak adalah 60cm3
(pxlxt)
Air yg mengalir dan padanya terdapat bangkai, maka yg suci adalah
yg dibelakang bangkai, sebab air mengalir mesti mendahului
bangkai, maka yg didepannya lah yg najis, dan yg dibelakangnya yg
suci,

11., mengenai bacaan shalat, selama bukan rukun, yaitu selain
fatihah dan bacaan tahiyyat, maka ia boleh tak dibaca, atau
dibalik, hal itu tak membatalkan saat, dan tidak berdosa
Maaf telambat menjawab.., monggo ditanyakan lagi jika anda
terbentur masalah, saya siap insya Allah.,

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita
cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

nugon19 Re:Pertanyaan seputar Sholat dan Thoharoh – 2008/08/05 02:04 As
Salamu ^alaikum wr. wb.,

Yg saya hormati Habib Munzir yg Insya Allah senantiasa dirahmati
dan diampuni oleh Allah swt.

Sungguh saya mendapat banyak pencerahan dari jawaban Habib.

Namun izinkan saya menanyakan kembali beberapa hal yg masih
menjadi perbincangan kami yg awam dan muallaf ini, baik hal baru
atau pun hal lama utk penegasan kembali, dari kelanjutan topik
sholat dan thoharoh dari berbagai madzhab terutama madzhab Syafi^i
juga perbandingannya dgn madzhab lain (madzhab yg 4).

Banyak pertanyaan muncul sebagai reaksi dari diskusi yg telah
lalu, sekaligus juga karena membaca terjemahan beberapa buku yg
mengklaim caranya sebagai cara sholat Nabi…yg banyak berasal
dari Arab Saudi, Qotar. Juga reaksi dari sharing membaca buku dan
hasil halaqoh.

Berikut ini pertanyaan-pertanyaan susulan dari kami:

Yg pertama, Pd akhir sholat… apakah kita mengucapkan salam baru
menengok ke kanan, dan mengucap salam baru tengok ke kiri….atau
kita mengucapkan salam sambil sekaligus menengok?

Yg kedua , saya hanya ingin konfirmasi ulang bahwa sholawat kpd
Nabi Muhammad saw beserta keluarga Beliau dlm tahiyat adalah wajib
hukumnya menurut Madzhab Syafi^i. Apakah benar begitu Habib
Munzir?

Yg ketiga, apakah diperbolehkan merubah atau meniadakan dhomir
(kata ganti orang) dlm bacaan sholat baik yg rukun (wajib) maupun
yg sunnah? Misal, yg lazim pd doa qunut, Alloohummahdinii diganti
jadi Alloohummahdinaa? Atau As Salaamu ^alaika ayyuhan-Nabiy
diganti menjadi As Salaamu ^alan-Nabiy? Bagaimana landasan dalil/
ijtihadnya?

Yg keempat, benarkah ada madzhab yg membagi klasifikasi kegiatan
sholat bukan hanya dalam 2 kategori: Rukun dan Sunnah…tetapi
dibagi menjadi 3 kategori: Rukun, Wajib, dan Sunnah? Lalu apa
bedanya Wajib dan Sunnah?

Yg kelima, gerakan jari pd tasyahud yg difatwakan oleh para Imam 4
madzhab hanyalah menggerakan ke kanan & ke kiri; ke atas dan ke
bawah; atau menunjuk dan meletakkan kembali.

Utk yg gerakan telunjuknya berupa lingkaran kecil (berputar-putar)
tdk termasuk fatwa para Imam 4 madzhab?

Posisi tangan kanan sebelum menggerakan telunjuk apakah
dihamparkan sebagaimana posisi tangan kiri, atau digenggam?

Ini pertanyaan susulan dari jawaban Habib sbb:
↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓
Berikhtilaf para Imam Madzhab dalam hal ini :
Menunjukkan jari telunjuk saat tahiyyat merupakan sunnah Rasul
saw, demikian diriwayatkan dalam shahih Muslim, lalu dijelaskan
bahwa khilaf antara empat Imam
Madzhab mengenai caranya sbg br :

Menurut Imam Malik, jari telunjuk digerakkan kekiri dan kekanan.

Menurut Imam Syafii jari telunjuk menunjuk saat ucapan ILLALLAH,
dan tidak menggerak2kannya

Menurut Imam Hanafi mengangkat jari telunjuk saat ucapan LAA
ILAAHA, lalu menjatuhkannya sejajar lurus saat ucapan ILLALLAH

Menurut Imam Hanbali bahwa telunjuk menunjuk setiap mengucapkan
lafadz Allah. (Syarh Ibanatul Ahkam hal 435/436)

Kedua riwayat, yaitu menggerak2kan jari telunjuk dan tak
menggerak2kannya merupakan kabar yg shahih menurut Imam Baihaqi,
namun tidak menggerak2kannya merupakan hal yg lebih mantap utk
khusyu. (Syarh Imam Al Baijuri Ahkam shalat hal 255).
Menggerakkan jari jari tidak membatalkan shalat, demikian ittifaq
4 madzhab.
↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Yg keenam, mengenai posisi sedekap, kami sudah paham letak posisi
tangan yg paling afdhol, yaitu di antara pusar dan dada. Namun ada
pertanyaan susulan mengenai cara menempatkan tangan kanan di atas
tangan kiri.

Apakah cukup diletakkan,atau tangan kanan menggenggam/memegang
tangan kiri? Bila menggenggam/memegang, apakah telunjuk tangan
kanan diluruskan, atau ikut menggenggam, atau ada jari lain yg
menemani telunjuk utk diluruskan?

Berikut jawaban Habib terdahulu:
↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓
Sedekap ini bukan merupakan rukun shalat, bila tak dikerjakan tak
membatalkan shalat, yg merupakan rukun adalah berdiri dalam shalat
wajib bagi yg mampu dan membaca Fatihah padanya, dan berkata Imam
Syafii bahwa yg paling shahih adalah menaruh tangan kiri diatas
pusar, dan tangan kanan diatasnya, bukan kekiri atau kekanan
↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Yg ketujuh, ttg najis, ada beberapa hal yg kami masih bingung.

Bila awalnya najis basah (air kencing) kering dng sendirinya, maka
apakah tanah/lantai/benda yg bekas terkena kencing tersebut
menjadi suci seiring dgn keringnya air kencing tsb?

Bila najis basah di lantai/benda dibersihkan dgn kain, tissue,
atau kertas..dibersihkan (dilap/tempel utk menyerap najis basah)
sampai kering, dan hilang bau, warnanya… apakah dng usaha itu
bisa dianggap lantai/benda tadi menjadi suci? Apakah memadai usaha
penghilangan najis tsb? Karena kami sering mengalami kasus seperti
ini, di tempat yg dilarang menuangkan air, membuat lantai basah,
seperti di apartemen, hotel, dsb.

Kaidah apa yg digunakan utk kasus orang yg sudah berwudhu/tayammum
tdk perlu wudhu/tayammum lagi bila terkena najis? Karena dari
beberapa pengajian, secara umum kami diajarkan bahwa orang bersuci
(wudhu/tayammum) bila terkena najis, maka dianggap batal wudhu/
tayammumnya, dan harus diulang.

Apa Kriteria bentuk atau karakter tanah/debu yg bisa dipakai utk
tayammum, dan juga utk menghilangkan najis mugholladzhoh (terkena
anjing misalnya)? Apakah harus tanah dan debu serta pasir?
Bagaimana dgn variantnya, seperti kerikil, abu, dsb?

Kemudian ada yg memberitahu bahwa tanah/debu/pasir waqof (misal
waqof utk masjid) tdk boleh utk tayammum atau bersuci, atau utk
menghilangkan najis, Apa benar begitu?

Lalu terkait pertanyaan yg lampau, karena kami para muallaf sering
benar-benar mengalami kesulitan utk mencari tanah/debu/pasir guna
menghilangkan najis mugholladzhoh menurut Madzhab Syafi^i,
terutama bersinggungan dgn anjing, dan alat masak serta alat makan
bekas masakan/makanan babi…apakah cukup bila kami cuci berulang
kali hingga bersih rasa, warna, bau najis tsb?

Habib juga menyatakan bahwa Madzhab Hanafi tdk menganggap anjing
najis, dan ada rekan yg menyatakan pd Madzhab Hambali juga katanya
tdk menganggap babi najis (atau mungkin juga anjing dianggap tdk
najis). Apa betul begitu?

Utk kasus kami ini bagaimana jalan keluarnya, dan apakah ada
keringanan/rukhshoh? Atau bisa berpindah madzhab sementara utk
kasus najis mugholladzhoh saja? Seperti beberapa rekan menyatakan
pd kasus naik Haji, dimana penganut madzhab Syafi^i diberikan
keringanan utk memakai fatwa madzhab lain yg menyatakan tdk batal
bersentuhan/bersinggungan lawan jenis yg bukan mahromnya adalah
ibadah haji, terutama pd thowaf.

Karena seperti yg saya pernah ceritakan ke Habib, ditempat yg
mayoritas non-muslim (cth pengalaman saya, di apartemen, atau
pengalaman rekan/saudara saya di negara non-muslim seperti
Hongkong, Cina, dsb)… sering batu, kerikil, abu gosok (baik dari
jenis alami seperti dari akibat letusan gunung berapi, atau pun
hasil dari pengolahan pabrik), lebih mudah didapatkan ketimbang
tanah/pasir/debu…yg menurut madzhab Syafi^i adalah keharusan sbg
alat penyuci (utk sertu) dlm kasus najis Mugholladzhoh.

Berikut ini jawaban Habib terdahulu:
↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓
8. Najis tidak membatalkan wudhu, demikian dalam madzhab syafii

tidak ada dalilnya pula yg mengatakan menyentuh najis harus
bertayammum lagi, dan dalam madzhab syafii bahwa yg membatalkan
tayammum adalah hal hal yg membatalkan wudhu.

9. Najis yg kering, suci hukumnya jika bersentuhan, dg kaidah
fiqih yg masyhur, najis kering bersentuh dg yg kering, maka suci
tanpa ada ikhtilaf lagi.
Beda antara kering.., dengan kering sendiri yg berawal basah, jika
berawal basah maka mesti disucikan dengan air,
Mengenai istinja, maka hukumnya berbeda, sah dengan tisu, namun dg
syarat najis itu tak berpindah, misalnya air seni menetes kepaha,
maka tak bisa disucikan dg tisu, namun mesti dibasuh, jika ia
hanya pada ujung penis maka bisa disucikan dg tisu, demikian pula
buang air besar, jika masih di bibir dubur maka bisa disucikan dg
tisu, jika terkena ke paha atau anggota tubuh lainnya maka tak
bisa disucikan dg tisu,
masalah terkena anjing, juga babi, dalam madzhab syafii mesti
disucikan dg air lumpur 7X, dalam madzhab hanafi anjing tidak
najis, namun babi merupakan jumhur seluruh madzhab atas najisnya,
dalam madzhab syafii tidak suci kecuali dengan air dan debu, atau
sebaiknya dg air lumpur, abu gosok tidak termasukm mensucikan
kecuali dari tanah dan air.
↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Demikian dari saya, Mohon maaf bila banyak pertanyaan ini kurang
berkenan dan merepotkan Habib.

Semoga Allah selalu merahmati dan mengampuni Habib Munzir, dan
melimpahkan segenap balasan berlimpah atas segala amal Habib, dan
menjadikan segala amal dan ilmu pengajaran dari Habib bermanfaat
selalu kpd kami hingga Hari Akhir kelak. Aamiin.

Was Salamu ^alaikum wr. wb.,

Nugroho Laison (nugon)

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Pertanyaan seputar Sholat dan Thoharoh – 2008/08/05 17:57
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya Rahmat Nya swt semoga selalu menerangi hari hari anda
dengan kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
1. Jumhur ulama syafii mengatakan bahwa ucapan “Assalaamualaikum”
adalah pada posisi wajah ke kiblat, lalu “warahmatullah”, adalah
menghadap ke kanan, demikian wajah kembali ke kiblat lalu mengucap
yg sama.

2. Shalawat pada Nabi saw wajib di tahiyyat akhir, demikian dalam
Madzhab Syafii, Hambali dan Maliki, dan menurut mereka jika tidak
maka batal shalatnya (Syarah nawawi ala shahih Muslim).

mengenai shalawat pada keluarga Nabi saw ikhtilaf dalam madzhah
syafii, sebagian mengelompokkannya dalam rukun shalat maka wajib,
sebagian mengatakannya sunnah (syarh Alwajiiz dan
Raudhatutthalibin)

3. mengenai Qunut maka keduanya teriwayatkan, yaitu dengan Jamak
dan dengan tunggal,

mengenai salam pada Nabi saw keduanya teriwayatkan, sebagian
sahabat mengubah salam pada nabi saw setelah wafat beliau saw,
yaitu : assalamualannabiyyi warahmatullahi wabarakatuh,

namun sebagian sahabat lain tetap bertahan, mereka berlandaskan
hadits riwayat shahih Bukhari Rasul saw bersabda : Shalatlah
kalian sebagaimana kalian lihat aku shalat. dan Imam SYafii
berpegang pada pendapat ini.

4. sepanjang yg saya ketahui bahwa itu ada pada haji saja,
sedangkan dalam shalat adalah yg rukun dan yg sunnah.

hukum dalam islam terbagi 5 :
wajib : jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan
mendapat dosa

sunnah : jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak
berdosa

Mubah : jika dikerjakan tak dapat pahala, jika ditinggalkan tidak
berdosa

makruh : jika ditinggalkan mendapat pahala, jika dilakukan tidak
berdosa

haram : jika dilakukan terkena dosa, jika ditinggalkan mendapat
pahala.

5. ada pendapat pada fuqaha diluar madzhab syafii yg mengatakan
gerakan jari telunjuk adalah menulis lafadh Allah, namun hal itu
ada juga dilakukan oleh para Kyai dari madzhab syafii

ikhtilaf ulama dalam posisi jari jari kanan saat tasyahhud, dan
pendapat yg lebih kuat dalam madzhab syafii adalah menggenggamnya,
hingga saat mengangkat telunjuk maka jari jari lain tidak banyak
bergerak lagi.

6. posisi tangan menggenggam punggung tangan kiri, dengan Ibu Jari
diatas dan keempat jari lainnya dibawah dalam posisi menggenggam
tangan kiri, demikian dalam madzhab syafii

7. Najis yg kering tetap najis, namun tidak menajiskan benda
lainnya yg menyentuhnya jika sama sama kering, misal najis air
seni dilantai sudah kering, lalu kita duduk diatasnya atau
menginjaknya, selama kulit kita dan baju kita kering dan lantai
itu kering maka pakaian/kulit kita tetap suci, demikian dalam
pendapat seluruh madzhab.

najis tidak menjadi suci kecuali dengan dialirkan padanya air,
demikian pendapat terkuat dalam madzhab syafii, maka sebaiknya
tetap menggunakan alas kaki jika kaki basah, dan shalat diatas
sajadah agar selalu terjaga dari kawasan yg bernajis, namun selama
ia kering maka tak menajiskan sebagaimana penjelasan saya diatas.

karena hal itu bukan hal yg membatalkan wudhu, tidak ada Nash
hadits yg menjelaskan Rasul saw berwudhu setelah menyentuh najis,
karena hadits shahih merujuk hanya pada 4 hal yg membatalkan
wudhu, yaitu
1. bersentuhan pria dan wanita yg keduanya sudah dewasa dan bukan
muhrim,
2. telapak tangan menyentuh Qubul atau dubur manusia (jika dubur
binatang makla tidak, jika menyentuh qubul dan dubur manusia bukan
dg telapak tangan maka tidak batal.
3. haidh atau nifas
4. hilangnya akal dengan tidur, pingsan atau lainnya
demikian dalam madzhab syafii.

imam Hambali berlandaskan bahwa sentuhan pria dan wanita non
muhrim yg dewasa tidak membatalkan wudhu, namun landasan Imam
Hambali untuk hal ini adalah hadits dhoif.

debu untuk tayammum dan penghilang najis mughaladhah adalah debu
yg berasal dari tanah atau batu, tidak sah dari kayu atau arang
atau lainnya seperti tulang dll.

betul, tanah waqaf tak dibenarkan untuk bertayammum atau diambil.

jika sentuhan kering dg kering maka tidak menajiskan,

mengenai debu, mesti ada dimanapun., karpet, tembok, mestilah ada
debu, wakau tak terlihat mata, maka dalam tayammum hal ini bisa
diperbuat, namun mengenai najis mughaladhah maka tak bisa kecuali
dg tanah, maka hendaknya dirumah rumah muslimin menyimpan sedikit
tanah untuk menyucikan najis besar, yaitu anjing dan babi, dan
tidak sah dg air semata, demikian dalam madzhab syafii

babi Najis pada seluruh madzhab, mengenai anjing maka banyak
perbedaan pendapat diluar madzhab syafii dan saya belum sempat
menelaahnya kembali.

mengenai rukhshah, saran saya begini, anda bermadzhablah dengan
madzhab mayoritas, jika syafii maka bertahanlah pada syafii, jika
mayoritas madzhab lain maka jangan bersikeras pada madzhab syafii,
ikutilah madzhab mayoritas di wilayah setempat, karena kesemuanya
adalah benar, kesemuanya adalah sunnah, namun madzhab adalah demi
teraturnya perbedaan yg ada.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=14295

© http://carauntuk.com/pertanyaan-seputar-sholat-dan-banyak-masalah-lainya

Leave a Reply