Homeforum.majelisrasulullah.orgMabuk Kepayang – 2007/05/19

Mabuk Kepayang – 2007/05/19

forum.majelisrasulullah.org 0 0 likes 333 views share

arifpalu Mabuk Kepayang – 2007/05/19 21:59 Jalan sempoyong
Tidur meradang
Pikiran bercabang-cabang
Jiwa terbang

Orang-orang pada berang
Mereka hanya selalu menentang
Tak tahu menolong
Sekeliling pada hilang

Kumenatap selayang
Akan cahaya surya yang datang
Sinari diri yang terlentang
Pada bumi yang terhampang

Aku mabuk kepayang
Bukan karena anggur terlarang
Tapi Sang Kekasih terbayang
Gejolak rindunya pada tersayang

(Sang Pengembara)

Shalluu alanNabi!
Allahummah shalli ala sayyidina Muhammad wa alihi wa ahli baitihi
wa shahbihi wabarik wassallim

=ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

nonlady Imam Ahmad Bin Hambal – 2007/05/19 23:38 Imam Ahmad bin Hambal,
Siapa Tidak Kenal??

Setiap kali membaca biografi Ahmad bin Hambal, kita akan bertemu
dengan sosok yang gigih dalam membela sifat-sifat Allah yang haq,
meskipun beliau disiksa bertahun -tahun lamanya. Tidak gentar,
tidak berpaling, dan tidak mengerahkan murid-muridnya untuk
melawan penguasa, tetapi malah selalu mendoakan pemimpin (meski
mereka amat sangat zalim sekali), sebagaimana beliau pernah
berkata, “Sekiranya saya memiliki doa yang pasti terkabul, tentu
doa itu kutujukan untuk pemimpin”.
Nasab dan Kelahirannya

Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Nasab
beliau bertemu dengan nasab RasuluLlah sholaLlahu a^laihi wasallam
pada diri Nizar bin Ma^d bin ^Adnan. Yang berarti bertemu nasab
pula dengan nabi Ibrahim ^alaihissalam.
Ketika beliau masih dalam kandungan, orang tua beliau pindah dari
kota Marwa-tempat tinggal sang ayah-, ke kota Baghdad. Di kota
itulah beliau dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi^ul Awwal 164H.
Ayah beliau, Muhammad, meninggal dalam usia muda, 30 tahun, ketika
beliau baru berumur 3 tahun.

Masa Menuntut Ilmu

Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya,
Shafiyyah binti Maimunah, berperan penuh dalam mendidik dan
membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah meninggalkan dua rumah
untuk mereka: satu ditempati sendiri, dan satunya disewakan dengan
harga sangat murah. Dalam hal ini, keadaan beliau sama dengan
keadaan syaikhnya, Imam Syafi^i, yang yatim dan miskin, tetapi
tetap mempunyai semangat yang tinggi. Keduanya juga memiliki ibu
yang mampu mengantar mereka kepada kemajuan dan kemuliaan.

Beliau mendapatkan pendidikan pertamanya di Baghdad.Setamatnya
menghafal AlQuran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di
al-Kuttan saat berusia 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya
ke ad-Diwan. Perhatian beliau saat itu tengah tertuju pada
keinginan mengambil hadits dari para perawinya. Orang pertama
tempat mengambil hadits adalah Al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan
Imam Abu Hanifah. Pada usia 16 tahun, Imam Ahmad mulai tertarik
untuk menulis hadits. Beliau melakukan mulazamah kepada syaikhnya,
Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim Al-Wasithy hingga syaikhnya wafat,
dan telah belajar lebih dari 300.000 hadits.

Pada umur 23 tahun, beliau mulai mencari hadits ke Bashrah, Hijaz,
Yaman, dan kota lain. Selama di Hijaz, beliau banyak mengambil
hadits dan faidah dari Imam Syafi^i, bahkan Imam Syafi^i sendiri
amat memuliakan Imam Ahmad dan menjadikan beliau sebagai rujukan
dalam mengenal keshahihan sebuah hadits. Demikianlah ketekunan
beliau, sampai-sampai beliau baru menikah di usia 40 tahun.
Seseorang pernah berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdillah, Anda
telah menjadi imam kaum muslimin”. Beliau menjawab, “Bersama
mahbarah (tempat tinta) hingga ke maqbarah(kubur). Aku akan tetap
menuntut ilmu sampai aku masuk liang kubur”. Beliau senantiasa
seperti itu: menekuni hadits, memberi fatwa, dsb. Banyak ulama
yang pernah belajar kepada beliau, semisal kedua putranya,
Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Abu Zur^ah, dan lain- lain.

Kitab-kitab beliau

Kitabnya yang terkenal, al-Musnad, beliau susun dalam waktu 60
tahun sejak beliau pertama kali tertarik menulis hadits. Beliau
juga menyusun kitab Al-Manasik ash- Shaghir dan Al-Kabir, kitab
Az-Zuhud, Ar-Radd ^ala Jahmiyyah wa az-Zindiqiyyah, kitab
as-Sholah, as-Sunnah, al-Wara^ wa al-Iman, al-^Ilal wa
ar-Rijal,Fadhail ash- Shahabah, dan lain-lain.

Penghormatan Ulama lain kepada Beliau

Imam Syafi^i pernah mengusulkan ekpada Khalifah Harun Ar-rasyid
pada hari-hari akhir hidup khalifah, agar mengangkat Imam Ahmad
menjadi qadhi di Yaman, tetapi Imam Ahmad menolaknya, dan berkata
kepada Imam Syafi^i, “Saya datang kepada Anda untk mengambil ilmu,
tetapi Anda malah menyuruh saya menjadi qodhi untuk mereka”. Pada
masa khalifah setelahnya, Imam Syafi^i juga mengusulkan hal yang
sama, lagi-lagi Imam Ahmad menolaknya.

Abdul Wahhab al-Warraq berkata, “Aku tidak pernah melihat orang
seperti Ahmad bin Hambal”. Orang-orang bertanya, “Dalam hal apakah
dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang
lain?” Al-Warraq menjawab, “Dia seorang yang jika ditanya tentang
60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan berkata, ^Telah
dikabarkan kepada kami^, atau ^Telah disampaikan hadits kepada
kami^”

Keteguhan di Masa Penuh Cobaan

Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak
akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang
berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad
termasuk di antaranya. Beliau mendapat cobaan dari tiga orang
khalifah Bani Abbasiyah 16 tahun lamanya.

Di masa kekhalifahan Al-Makmun, ahlul-bid^ah dari golongan
Mu^tazilah yang dipimpin Ibnu Abi Duad mendapat angin segar.
Mereka leluasa menyebarkan pemahaman sesatnya (semisal
pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam),
sehingga khalifah Al-Makmun kemudian memaksa kaum muslimin,
khususnya ulama mereka, untuk meyakini bahwa Alquran adalah
makhluk. Padahal, pada masa khalifah sebelumnya, Harun ar-Rasyid
dan Al-Amin, pendapat tentang kemakhlukan AlQuran telah ditindak
tegas.

Untuk memaksa kaum muslimin tersebut, Al-Makmun sampai mengadakan
ujian. Dan selama itu, tidak terhitung orang yang telah dipenjara,
disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Meski begitu, tidak terhitung pula
jumlah ulama yang menolak pendapat bahwa AlQuran adalah makhluq,
termasuk di antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten bahwa
AlQuran itu kalamullah, bukan makhluk.

Al-Makmun bahkan sempat memerintahkan bawahannya agar membawa Imam
Ahmad dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua
ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan
terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum
sampai ke Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Baghdad
dan dipenjara disana karena telah sampai kabar tentang kematian
Al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan
kebaikan untuk Al-Makmun.

Sepeninggal Al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya,
Al-Mu^tashim. Khalifah ini tetap berpegang pada kemakhlukan
AlQuran. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara dan dipertemukan
dengan Ibnu Abi Duad dkk. Mereka mendebat beliau tentang
kemakhlukan AlQuran, tetapi beliau mampu membantahnya dengan
bantahan yang tidak dapat mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk
sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke dalam
penjara dan mendekam disana selama sekitar 28 bulan. Selama itu
beliau sholat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.

Selama itu pula, setiap harinya Al-Mu^tashim mengutus orang untuk
mendebat beliau, tetapi jawaban beliau tetap sama, tidak berubah.
Akhirnya, bertambah kemarahan Al- Mu^tashim. Dia mengancam dan
memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras
dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu diterima Imam
Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang kokoh
menjulang.

Pada akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan
ke rumah dalam keadaan tidak mampu berjalan. Setelah luka-lukanya
sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali menyampaikan
pelajaran-pelajarannya di masjid sampai Al-Mu^tashim wafat.

Selanjutnya, Al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Al-Watsiq
melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang.
Akhirnya, Imam Ahmad terpaksa selalu berada di rumah, tidak keluar
darinya, bahkan untuk keluar mengajar atau menghadiri sholat
berjama^ah. Dan itu dijalani kurang lebih lima tahun, yakni sampai
Al-Watsiq wafat tahun 232.

Sesudah Al-Watsiq wafat, Al-Mutawakkil menggantikannya. Selama dua
tahun masa pemerintahannya, ujian tentang kemakhlukan AlQuran
masih dilangsungkan. Tetapi, pada tahun 234, khalifah menghentikan
ujian tersebut. Khalifah mengumumkan ke seluruh wilayah tentang
larangan atas pendapat kemakhlukan AlQuran dan ancaman hukuman
mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Khalifah juga
memerintahkan kepada para ahli hadits untuk menyampaikan
hadits-hadits tentang sifat Allah. Maka, bergembiralah
orang-orang. Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya
tersebut dan melupakan kejelekan-kejelekannya.

Demikianlah gambaran ringkas ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad.
Terlihat bagaimana sikap agung beliau yang tidak akan diambil
kecuali oleh orang-orang yang penuh keteguhan lagi ikhlas. Beliau
bersikap seperti itu jusrtu ketika sebagian ulama berpaling dari
kebenaran. Dan dengan keteguhannya, maka madzhab Ahlussunnah pun
dinisbatkan kepadanya karena beliau sabar dan teguh dalam membela
kebenaran. Ali bin Al Madiniy berkata dalam menggambarkan
keteguhan Imam Ahmad, “Allah telah mengokohkan agama ini lewat dua
orang laki-laki, tidak ada ketiganya. Yaitu, Abu Bakar Ash-Shiddiq
pada yaumur Riddah (saat banyak orang murtad pada awal-awal
pemerintahannya) dan Ahmad bin Hambal pada Yaumul Mihnah.”

Sakit dan Wafatnya

Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari.
Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguk.
Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai
sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya,
pada permulaan hari Jumat, tanggal 12 Rabiul Awwal 241H, beliau
menghadap Rabbnya. Sekitar 700-800 ribu orang mengantar jenazah
beliau (bahkan ada yang mengatakan sejuta). Semuanya menunjukkan
bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi
menunjukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau.
Beliau pernah berkata ketika masih sehat, “Katakan kepada ahlu
bid^ah, bahwa perbedaan antara kami dan kalian adalah (tampak
pada) hari kematian kami”

Diringkas dari majalah Fatawa, vol 05/I/Muharram-Safar 1424H-2003
M

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=4232

© http://carauntuk.com/mabuk-kepayang-20070519

Leave a Reply