Homeforum.majelisrasulullah.orgKERUSAKAN-KERUSAKAN MAULID Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

KERUSAKAN-KERUSAKAN MAULID Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

forum.majelisrasulullah.org 0 0 likes 19 views share

pencarian diatas.

iqbalnuriman Kerusakan – kerusakan dalam Maulid Nabi SAW – 2007/07/12 04:50
Asalamualaikum Wr Wb

Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat serta
perlindungan-Nya kepada Habib Munzir Almusawa.

Bib, saya mendapatkan artikel ini dari : http://
sunnahku.blogspot.com/2007/03/kerusakan-kerusakan-maulid.html
inilah isi artikelnya :

Saturday, March 31, 2007
KERUSAKAN-KERUSAKAN MAULID
Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Di dalam kitab beliau, Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah wat Thoifah
Al-Manshuroh, Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan
kerusakan dan penyimpangan acara peringatan Maulid Nabi. Di
antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama: Kebanyakan orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid
terjatuh pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka menyanyikan
bait-bait syair (nasyid-nasyid atau qosidah) pujian kepada
Rasulullah dalam acara itu (yang sering di sebut sholawatan).
Mereka mengatakan:

يا رسول الله غوثا و مدد يا رسول الله عليك المعتمد
يا رسول الله فرج كربنا ما رآك الكرْبُ إلا و شرَد

“Wahai Rasulullah, berilah kami pertolongan dan bantuan.
Wahai Rasulullah, engkaulah sandaran kami.
Wahai Rasulullah, hilangkanlah derita kami.
Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan melarikan diri. “

Sungguh, seandainya saja Rasulullah sholllahu ‘alaihi wa sallam
hidup dan mendengar nyanyian tersebut, tentu beliau akan
menghukuminya dengan syirik besar (bahkan beliau pasti akan
melarang mereka dari perbuatan tersebut). Mengapa? Karena
pemberian pertolongan, tempat sandaran dan pembebasan dari segala
derita hanyalah Allah Ta’ala saja.

Allah Ta’ala berfirman:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam
kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah pula) yang
menghilangkan kesusahan….”(QS. An-Naml: 62).

Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shollahu ‘alaihi wa sallam
agar menyampaikan kepada segenap manusia:

قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku tidak kuasa
mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu
kemanfaatan….” (QS. Al-Jin: 21).

Bahkan Nabi Muhammad shollahu ‘alaihi wa sallam sendiripun
bersabda (dalam rangka memberi nasehat kepada Ibnu Abbas
radhiyallahu ‘anhuma dan juga umat beliau lainnya):

إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau
meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah). “
HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: “Hadits ini Hasan Shohih”).

Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu didalam
terdapat sikap Al-Ithro’ (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah
dalam menyanjung (memuji) Nabi shollallahu ‘alahi wa sallam.
Padahal Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut
dalam sabda beliau:

لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ
اللهِ وَ رَسُوْلِهِ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana
orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam.
Aku tak lebih hanya seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku)
‘Abdulllah (Hamba Allah) dan Rasul-Nya!’“ (HR. Al-Bukhari).

Kemudian dalam acara Maulid itu juga, sering dibacakan kitab Diba’
yang berisi sejarah perjuangan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi
wa sallam. Dalam salah satu syair kitab ini menceritakan dan di
yakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad
sholallahu ‘alahi wa sallam dari cahaya-Nya, lalu Ia menciptakan
segala sesuatu dari Nur Muhammad (cahaya Muhammad).

Sungguh ini adalah ucapan dusta. Sebaliknya, Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam itu justru diciptakan Allah dengan
perantara seorang bapak dan ibu. Beliau adalah manusia biasa yang
dimuliakan dengan diberi wahyu oleh Allah.
Bahkan mereka juga menyenandungkan syair Diba’ yang menyatakan
bahwa Allah menciptakan alam semesta ini kerena Muhammad. Ini pun
juga ucapan dusta, karena Allah Ta’ala justru berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka
beribadah kepada-Ku. “(QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

Ketiga: Dalam acara perayaan atau peringatan maulid nabi itu
banyak terjadi ikhthilat, (bercampur laki-laki dan wanita dalam
satu tempat, tanpa adanya hijab/tabir pemisah diantara mereka),
padahal ini diharamkan dalam syariat agama kita.

Keempat: Dalam penyelenggaraan acara maulid nabi ini, sering
terjadi sikap tabzdir (pemborosan harta), baik untuk biaya
dekorasi, konsumsi, transportasi dan sebagainya yang terkadang
mencapai jumlah jutaan. Uang sebanyak itu habis dalam sekejap
padahal mengumpulkannya sering dengan susuh payah, dan
sesungguhnya hal itu lebih dibutuhkan umat Islam untuk keperluan
lainnya, seperti membantu fakir miskin, memberi beasiswa belajar
bagi anak-anak yatim dan sebagainya.

Kelima: Waktu yang digunakan untuk mempersiapkan dekorasi,
konsumsi dan transfortasi sering membuat lengah atau lalai para
panitia peringatan maulid, sehingga tidak jarang mereka sampai
meninggalkan sholat berjamaah dengan alasan sibuk atau yang
lainnya.
Dan tak jarang pula acara peringatan Maulid itu berlangsung hingga
larut malam, akibatnya banyak di kalangan mereka tidak sholat
subuh berjamaah di masjid (karena bangun kesiangan) atau bahkan
ada yang tidak subuh sama sekali.

Keenam: Merayakan maulid (hari kelahiran) adalah sikap tasyabbuh
(meniru atau menyerupai) orang-orang kafir. Mengapa? Lihatlah,
orang-orang Nasrani punya tradisi memperingati natal (hari
kelahiran) Isa Al-Masih, dan juga hari natal atau ulang tahun
setiap anggota keluarga mereka. Lalu, umat Islam pun ikut-ikutan
merayakan bid’ah tersebut. Padahal, Rasulullah shollallahu ‘alahi
wa sallam mengingatkan kita:

مَنْ تَـشَـبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan
mereka. “(HR. Abu Dawud, shahih).

Ketujuh: Sudah menjadi tradisi dalam peringatan maulid itu, bahwa
di akhir bacaan maulid, sebagian hadirin berdiri, karena mereka
menyakini bahwa pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa
sallam hadir didalam majelis mereka. Sungguh ini adalah kedustaan
yang nyata. Mengapa? Ya karena Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Dan di hadapan mereka (orang-orang yang telah mati) ada barzakh
(dinding) sampai hari mereka dibangkitkan. “(QS. Al-Mu’minin:
100).

Yang dimaksud barzakh (dinding) pada saat tersebut adalah
pembatasan antara dunia dan akhirat, sehingga tidak mungkin orang
yang telah mati bangkit atau ruhnya yang bangkit.

Di samping itu, seandainya Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam
masih hidup, tentu beliau tidak senang di sambut dengan cara
berdiri menghormat beliau, sebagaimana dinyatakan oleh Anas bin
Malik radhiyallahu ‘anhu:

“Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat
daripada Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam. Tetapi jika
mereka melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mereka
tidak berdiri untuk (menghormati) beliau, karena mereka mengetahui
bahwa Rasulullah membenci hal tersebut. “(HR. Ahmad dan
At-Tirmidzi, shohih)

Maroji’:
Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil
Zainu.

Sumber:
BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi: 15 / Robi’ul Awal /
1425

mohon penjelasannya dari Habib, atas perhatian Habib saya ucapkan
terimakasih.
Wassalam.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Kerusakan – kerusakan dalam Maulid Nabi SAW – 2007/07/13 07:35
Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari
anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
mereka ini memang tak tahu apa apa, bisanya Cuma menukil satu dua
halaman lalu berfatwa, sungguh rasul saw akan selalu mendoakan
ummatnya bila mereka memuji beliau saw dan minta pertolongan pada
beliau saw,

Sekarang saya punya pertanyaan pendek :
1. bolehkah minta pada teman anda?, pada juragan anda?, pada ayah
anda?, pada ibu anda?, pada Lurah?, pada orang kaya?, mengedarkan
proposal?, syirik kah?

Lalu kalau A diserang ular lalu minta pada tolong pada temannya,
tolonglah saya, bantulah saya, selamatkan saya dari kematian..,
syirikkah..??

Aduh.. dangkal sekali pemahaman tauhid mereka ini.

Lalu kalau minta bantuan pada anjing pun boleh, pada ayah boleh,
pada ibu boleh, pada teman boleh, demi Allah tiada satupun makhluk
yg paling bisa memberi bantuan kepada kita melebihi sayyidina
Muhammad.. !

Dan meminta pertolongan Pada utusan Allah hakikatnya minta
pertolongan pada Allah..,

Kalau saya minta pertolongan pada polisi bukankah berarti saya minta
pertolongan pada Negara..?

Sampai disini semua logika orang yg berakal menerima bolehnya
meminta pada makhluk.

2. pertanyaan kedua adalah apakah dalam memberi manfaat dan
mudharrat itu ada perbedaan antara hidup dan mati?

Bukankah mudharrat dan manfaat itu milik Allah ?, diberikan Nya
kepada siapa yg dikehendaki Nya..?

dangkal sekali pemahaman tauhid mereka ini, bila orang yg sudah mati
mutlak tak bisa memberi manfaat maka kekuatan Allah tertutup dengan
kematian hamba Nya swt..?

sungguh yg mati adalah tubuh, dan ruh tetap hidup, bahkan jelas
jelas Allah swt berfirman : Jangan sesekali kau katakan bahwa
mereka yg wafat di jalan Allah itu wafat, sungguh mereka itu hidup
dan diberi rizki oleh Allah swt (QS Annaml 82).

Lalu nabi saw mengajari kita minta pada beliau saw :
ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan
kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw
menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar
Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw
memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul
saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : Wahai Allah, Aku
meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi
Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku
menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku
ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi
syafaat hajatku untukku (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219,
Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini
shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini
agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya,
bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg
mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul
saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yg hidup,
pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : telah datang
kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin
Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin
Hanif ra : berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu
berdoalah dg doa : : Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan
Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih
Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad
saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku,
wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku (doa yg
sama dg riwayat diatas) , nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah
dg ku kesuatu tempat.

Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya
keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu
masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu
bertanya padanya : apa hajatmu? , orang itu menyebutkan hajatnya
maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui
Ustman bin Hanif ra dan berkata : kau bicara apa pada utsman bin
affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..?? , maka berkata
Utsman bin hanif ra : aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra
tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada
orang buta dan sembuh . (Majmu zawaid Juz 2 hal 279).

Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan
oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.

Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri
oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil
orang yg sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat
mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika
ayyuhannabiyyu (Salam sejahtera atasmu wahai nabi ), dan nabi saw
menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : tiadalah seseorang
bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku
menjawab salamnya (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10050)

Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil
manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yg telah mati daripada yg
masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan
kehidupan, modernisasi dlsb, kesemua para pelopornya telah wafat,
dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non
muslim, seperti teori Einstein dan teori2 lainnya, kita masih
mengambil manfaat dari yg mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari
kekuatan mereka, dari jabatan mereka, dari perjuangan mereka, Cuma
bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun
para shalihin, para wali dan muqarrabien kita mengambil manfaat dari
imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.

Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw
: Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai
setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber
istighatsah kepada Adam, lalu kepada Musa, lalu kepada Muhammad saw
(Shahih Bukhari hadits no.1405),

juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194,
shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2
shahih yg rasul saw menunjukkan ummat manusia ber istighatsah pada
para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa
mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah
dari semua manusai.. dst.. dst…

Maka hadits ini jelas jelas merupakan rujukan bagi istighatsah,
bahwa Rasul saw menceritakan orang orang ber istighatsah kepada
manusia, dan rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah
Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad
saw.

Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yg silam,
bagaimana air laut yg setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan
kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan
makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin
selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt,
karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam2 shalihin itu
terdapat benteng yg tak terlihat membentengi air bah itu,

yg itu sebagai isyarat ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan
tubuh yg taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah
jadikan benteng untuk mereka yg hidup.., tubuh yg tak bernyawa itu
Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka
mereka yg berlindung dan lari ke makam mereka.

Kesimpulannya : mereka yg lari berlindung pada hamba hamba Allah yg
shalih mereka selamat, mereka yg lari ke masjid masjid tua yg bekas
tempat sujudnya orang orang shalih maka mereka selamat, mereka yg
lari dengan mobilnya tetap tak selamat, mereka yg lari mencari tim
SAR tetap tak selamat..

Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara
perlindungan Nya swt?, kenapa bukan orang yg hidup?, kenapa bukan
gunung?, kenapa bukan perumahan?.

Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah
pada shalihin.

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

saqqaf Re:Kerusakan – kerusakan dalam Maulid Nabi SAW – 2007/07/16 09:10
Assalamu^alaikum
Ana ras pertanya jamaah tentang ajarannya wahabi ini cukup meresahkan juga ya..
walaupun sebenarnya habibana sudah menjelaskan cukup panjang lebar dalam
artikel-artikel lainnya. Sabar ya habibiy…

Kemudian ana juga mau ikut sumbang sedikit bib.. menanggapi pernyataan berikut
:
“Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu didalam terdapat sikap
Al-Ithro (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah dalam menyanjung (memuji) Nabi
shollallahu alahi wa sallam. Padahal Nabi sholallahu alaihi wa sallam
melarang hal tersebut dalam sabda beliau:

لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ

Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang
Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanya
seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku) Abdulllah (Hamba Allah) dan
Rasul-Nya! (HR. Al-Bukhari).”

Untuk ana cukup jelas bahwasanya puji-pujian pada Rasulullah SAW yang harus
dijauhi adalah memuji sebagaimana pujian Kaum Nasrani kepada Nabi Isa bin
Maryam yang sampai Menuhankannya… Itulah batasannya…..

Dasarnya :
Karena memang pantaslah Nabi Muhammad dipuji, ini akhlak kita bersyukur kepada
sang pembawa Risalah dari Allah… Oleh karena melalui perantaraannya maka kita
mengenal indahnya ibadah kepada Rabbul Alamin.

“Dan sesungguhnya Allah dan Malaikatnya Bershalawat atas Nabi, wahai
orang-orang yang beriman bershalawatlah atasnya (saw) dan berilah salam atasnya
dengan sebaik-baik salam”

Dan juga Surat Alam Nasyrah :
[94 : 4] Warafa^naa laka dzikraka
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.

Dan tentunya batasannya adalah jelas, jangan seperti kaum Nasrani kepada
nabinya.

Betul dhahirnya Nabi Muhammad SAW adalah manusia sebagaimana manusia pada
umumnya.. beliau makan, minum, beristri, punya anak… Namun satu hal juga
harus kita ketahui, bahwa dalam QS Surat FUSHSHILAT [41: 6]
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan
kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa,….. (sampai akhir
ayat) “.

Cukup jelas juga bahwa Rasul adalah manusia sebagaimana kita. Dengan sisi
kemanusiaannya itulah maka dia (SAW) adalah contoh hidup dari suri tauladan
yang dapat kita ikuti dan teladani. Dan masih diayat ini kita mengetahui bahwa
Rasulullah SAW berbeda (selain sisi dhahirnya yang sama dengan kita), yaitu
dengan diwahyukannya Al Qur^an kepadanya (SAW). Ana arasa dengan telah
diwahyukannya Al Qur^an tersebut kepadanya, maka itu sudah merupakan derajat
yang luar biasa, yang membedakannya dengan manusia seperti kita..

Selesai sudah masalah perbedaan Nabi Muhammad SAW dengan manusia lain pada
umumnya. Dan dengan perbedaan tersebut, kita tidak sampai menuhankan Nabi SAW
sebagaimana Kaum Nasrani Menuhankan Nabi mereka..

Oleh karenanya lah, kita tidak perlu lagi membingungkan diri kita dengan
pemahaman-pemahaman wahabi ini… Tentunya penjelasan Habibana Mundzir sudah
cukup jelas, dan gamblang diberbagai artikel yang tersebar di web ini.. Dan
saran ana untuk yang lain.. jangan terlalu meruwetkan pikiran kita dengan
pemahaman mereka.

Cukuplah bagi kita berpegang teguh pada pemahaman Ahlusunnah Waljamaah yang
telah dipegang oleh guru dan orang-orang tua kita. Pelajarilah itu dan jangan
terlalu menyibukkan diri dengan pemahaman lain yang sifatnya merusak, untuk
menguatkan aqidah kita. Sibukkanlah hari-hari kita dengan ini.

——————————————————————————————-

wa mimmaa yasurrul qolba minnii
luzuumukum thoriiqota aabaaii wa ahlii wa ajdaadi
minassalafil qoumilladziina tawajjahuu ilallaahi
yaqfuunannabil mushthofal haadii

[dan yg paling menggembirakan hatiku
teguhnya kalian pada thorigoh leluhur, keluarga dan kakek-kakekku
para salaf yg kepada Allaah mereka mencurahkan segala usaha
mengikuti petunjuk Nabi pilihan-Nya]

* dari syair Shohibul Magom, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi

——————————————————————————————–

Namun kalau tetap masih ada keraguan silahkan ditanyakan lagi dengan habib.

Wassalamu^alaikum

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Ashhabul Re:Kerusakan – kerusakan dalam Maulid Nabi SAW – 2007/08/01 20:25 saqqaf tulis:
Assalamu^alaikum
Ana ras pertanya jamaah tentang ajarannya wahabi ini cukup meresahkan juga ya..
walaupun sebenarnya habibana sudah menjelaskan cukup panjang lebar dalam
artikel-artikel lainnya. Sabar ya habibiy…

Kemudian ana juga mau ikut sumbang sedikit bib.. menanggapi pernyataan berikut
:
“Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu didalam terdapat sikap
Al-Ithro (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah dalam menyanjung (memuji) Nabi
shollallahu alahi wa sallam. Padahal Nabi sholallahu alaihi wa sallam
melarang hal tersebut dalam sabda beliau:

لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ

Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang
Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanya
seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku) Abdulllah (Hamba Allah) dan
Rasul-Nya! (HR. Al-Bukhari).”

Untuk ana cukup jelas bahwasanya puji-pujian pada Rasulullah SAW yang harus
dijauhi adalah memuji sebagaimana pujian Kaum Nasrani kepada Nabi Isa bin
Maryam yang sampai Menuhankannya… Itulah batasannya…..

Dasarnya :
Karena memang pantaslah Nabi Muhammad dipuji, ini akhlak kita bersyukur kepada
sang pembawa Risalah dari Allah… Oleh karena melalui perantaraannya maka kita
mengenal indahnya ibadah kepada Rabbul Alamin.

“Dan sesungguhnya Allah dan Malaikatnya Bershalawat atas Nabi, wahai
orang-orang yang beriman bershalawatlah atasnya (saw) dan berilah salam atasnya
dengan sebaik-baik salam”

Dan juga Surat Alam Nasyrah :
[94 : 4] Warafa^naa laka dzikraka
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.

Dan tentunya batasannya adalah jelas, jangan seperti kaum Nasrani kepada
nabinya.

Betul dhahirnya Nabi Muhammad SAW adalah manusia sebagaimana manusia pada
umumnya.. beliau makan, minum, beristri, punya anak… Namun satu hal juga
harus kita ketahui, bahwa dalam QS Surat FUSHSHILAT [41: 6]
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan
kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa,….. (sampai akhir
ayat) “.

Cukup jelas juga bahwa Rasul adalah manusia sebagaimana kita. Dengan sisi
kemanusiaannya itulah maka dia (SAW) adalah contoh hidup dari suri tauladan
yang dapat kita ikuti dan teladani. Dan masih diayat ini kita mengetahui bahwa
Rasulullah SAW berbeda (selain sisi dhahirnya yang sama dengan kita), yaitu
dengan diwahyukannya Al Qur^an kepadanya (SAW). Ana arasa dengan telah
diwahyukannya Al Qur^an tersebut kepadanya, maka itu sudah merupakan derajat
yang luar biasa, yang membedakannya dengan manusia seperti kita..

Selesai sudah masalah perbedaan Nabi Muhammad SAW dengan manusia lain pada
umumnya. Dan dengan perbedaan tersebut, kita tidak sampai menuhankan Nabi SAW
sebagaimana Kaum Nasrani Menuhankan Nabi mereka..

Oleh karenanya lah, kita tidak perlu lagi membingungkan diri kita dengan
pemahaman-pemahaman wahabi ini… Tentunya penjelasan Habibana Mundzir sudah
cukup jelas, dan gamblang diberbagai artikel yang tersebar di web ini.. Dan
saran ana untuk yang lain.. jangan terlalu meruwetkan pikiran kita dengan
pemahaman mereka.

Cukuplah bagi kita berpegang teguh pada pemahaman Ahlusunnah Waljamaah yang
telah dipegang oleh guru dan orang-orang tua kita. Pelajarilah itu dan jangan
terlalu menyibukkan diri dengan pemahaman lain yang sifatnya merusak, untuk
menguatkan aqidah kita. Sibukkanlah hari-hari kita dengan ini.

——————————————————————————————-

wa mimmaa yasurrul qolba minnii
luzuumukum thoriiqota aabaaii wa ahlii wa ajdaadi
minassalafil qoumilladziina tawajjahuu ilallaahi
yaqfuunannabil mushthofal haadii

[dan yg paling menggembirakan hatiku
teguhnya kalian pada thorigoh leluhur, keluarga dan kakek-kakekku
para salaf yg kepada Allaah mereka mencurahkan segala usaha
mengikuti petunjuk Nabi pilihan-Nya]

* dari syair Shohibul Magom, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi

——————————————————————————————–

Namun kalau tetap masih ada keraguan silahkan ditanyakan lagi dengan habib.

Wassalamu^alaikum

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Ashhabul Re:Kerusakan – kerusakan dalam Maulid Nabi SAW – 2007/08/01 20:26
iqbalnuriman tulis:
Asalamualaikum Wr Wb

Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat serta
perlindungan-Nya kepada Habib Munzir Almusawa.

Bib, saya mendapatkan artikel ini dari : http://
sunnahku.blogspot.com/2007/03/kerusakan-kerusakan-maulid.html
inilah isi artikelnya :

Saturday, March 31, 2007
KERUSAKAN-KERUSAKAN MAULID
Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Di dalam kitab beliau, Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah wat Thoifah
Al-Manshuroh, Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan
kerusakan dan penyimpangan acara peringatan Maulid Nabi. Di
antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama: Kebanyakan orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid
terjatuh pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka menyanyikan
bait-bait syair (nasyid-nasyid atau qosidah) pujian kepada
Rasulullah dalam acara itu (yang sering di sebut sholawatan). Mereka
mengatakan:

يا رسول الله غوثا و مدد يا رسول الله عليك المعتمد
يا رسول الله فرج كربنا ما رآك الكرْبُ إلا و شرَد

Wahai Rasulullah, berilah kami pertolongan dan bantuan.
Wahai Rasulullah, engkaulah sandaran kami.
Wahai Rasulullah, hilangkanlah derita kami.
Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan melarikan diri.

Sungguh, seandainya saja Rasulullah sholllahu alaihi wa sallam
hidup dan mendengar nyanyian tersebut, tentu beliau akan
menghukuminya dengan syirik besar (bahkan beliau pasti akan melarang
mereka dari perbuatan tersebut). Mengapa? Karena pemberian
pertolongan, tempat sandaran dan pembebasan dari segala derita
hanyalah Allah Ta ala saja.

Allah Ta ala berfirman:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan
apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah pula) yang menghilangkan
kesusahan . (QS. An-Naml: 62).

Allah Ta ala memerintahkan Rasulullah shollahu alaihi wa sallam
agar menyampaikan kepada segenap manusia:

قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا

Katakanlah (Wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak kuasa
mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu
kemanfaatan . (QS. Al-Jin: 21).

Bahkan Nabi Muhammad shollahu alaihi wa sallam sendiripun bersabda
(dalam rangka memberi nasehat kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma
dan juga umat beliau lainnya):

إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau
meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah). HR.
At-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini Hasan Shohih ).

Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu didalam terdapat
sikap Al-Ithro (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah dalam
menyanjung (memuji) Nabi shollallahu alahi wa sallam. Padahal Nabi
sholallahu alaihi wa sallam melarang hal tersebut dalam sabda
beliau:

لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ
وَ رَسُوْلِهِ

Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana
orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam.
Aku tak lebih hanya seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku)
Abdulllah (Hamba Allah) dan Rasul-Nya! (HR. Al-Bukhari).

Kemudian dalam acara Maulid itu juga, sering dibacakan kitab Diba
yang berisi sejarah perjuangan Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa
sallam. Dalam salah satu syair kitab ini menceritakan dan di yakini
bahwa Allah Subhanahu wa Ta ala menciptakan Nabi Muhammad sholallahu
alahi wa sallam dari cahaya-Nya, lalu Ia menciptakan segala sesuatu
dari Nur Muhammad (cahaya Muhammad).

Sungguh ini adalah ucapan dusta. Sebaliknya, Rasulullah shollallahu
alaihi wa sallam itu justru diciptakan Allah dengan perantara
seorang bapak dan ibu. Beliau adalah manusia biasa yang dimuliakan
dengan diberi wahyu oleh Allah.
Bahkan mereka juga menyenandungkan syair Diba yang menyatakan bahwa
Allah menciptakan alam semesta ini kerena Muhammad. Ini pun juga
ucapan dusta, karena Allah Ta ala justru berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka
beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

Ketiga: Dalam acara perayaan atau peringatan maulid nabi itu banyak
terjadi ikhthilat, (bercampur laki-laki dan wanita dalam satu
tempat, tanpa adanya hijab/tabir pemisah diantara mereka), padahal
ini diharamkan dalam syariat agama kita.

Keempat: Dalam penyelenggaraan acara maulid nabi ini, sering terjadi
sikap tabzdir (pemborosan harta), baik untuk biaya dekorasi,
konsumsi, transportasi dan sebagainya yang terkadang mencapai jumlah
jutaan. Uang sebanyak itu habis dalam sekejap padahal
mengumpulkannya sering dengan susuh payah, dan sesungguhnya hal itu
lebih dibutuhkan umat Islam untuk keperluan lainnya, seperti
membantu fakir miskin, memberi beasiswa belajar bagi anak-anak yatim
dan sebagainya.

Kelima: Waktu yang digunakan untuk mempersiapkan dekorasi, konsumsi
dan transfortasi sering membuat lengah atau lalai para panitia
peringatan maulid, sehingga tidak jarang mereka sampai meninggalkan
sholat berjamaah dengan alasan sibuk atau yang lainnya.
Dan tak jarang pula acara peringatan Maulid itu berlangsung hingga
larut malam, akibatnya banyak di kalangan mereka tidak sholat subuh
berjamaah di masjid (karena bangun kesiangan) atau bahkan ada yang
tidak subuh sama sekali.

Keenam: Merayakan maulid (hari kelahiran) adalah sikap tasyabbuh
(meniru atau menyerupai) orang-orang kafir. Mengapa? Lihatlah,
orang-orang Nasrani punya tradisi memperingati natal (hari
kelahiran) Isa Al-Masih, dan juga hari natal atau ulang tahun setiap
anggota keluarga mereka. Lalu, umat Islam pun ikut-ikutan merayakan
bid ah tersebut. Padahal, Rasulullah shollallahu alahi wa sallam
mengingatkan kita:

مَنْ تَـشَـبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan
mereka. (HR. Abu Dawud, shahih).

Ketujuh: Sudah menjadi tradisi dalam peringatan maulid itu, bahwa di
akhir bacaan maulid, sebagian hadirin berdiri, karena mereka
menyakini bahwa pada waktu itu Rasulullah shallallahu alahi wa
sallam hadir didalam majelis mereka. Sungguh ini adalah kedustaan
yang nyata. Mengapa? Ya karena Allah Ta ala berfirman:

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Dan di hadapan mereka (orang-orang yang telah mati) ada barzakh
(dinding) sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mu minin: 100).

Yang dimaksud barzakh (dinding) pada saat tersebut adalah pembatasan
antara dunia dan akhirat, sehingga tidak mungkin orang yang telah
mati bangkit atau ruhnya yang bangkit.

Di samping itu, seandainya Rasulullah shollallahu alahi wa sallam
masih hidup, tentu beliau tidak senang di sambut dengan cara berdiri
menghormat beliau, sebagaimana dinyatakan oleh Anas bin Malik
radhiyallahu anhu:

Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat
daripada Rasulullah shollallahu alahi wa sallam. Tetapi jika mereka
melihat Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam mereka tidak
berdiri untuk (menghormati) beliau, karena mereka mengetahui bahwa
Rasulullah membenci hal tersebut. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi,
shohih)

Maroji :
Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

Sumber:
BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi: 15 / Robi ul Awal /
1425

mohon penjelasannya dari Habib, atas perhatian Habib saya ucapkan
terimakasih.
Wassalam.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Ashhabul Re:Kerusakan – kerusakan dalam Maulid Nabi SAW – 2007/08/01 20:27
munzir tulis:
Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari
anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
mereka ini memang tak tahu apa apa, bisanya Cuma menukil satu dua
halaman lalu berfatwa, sungguh rasul saw akan selalu mendoakan
ummatnya bila mereka memuji beliau saw dan minta pertolongan pada
beliau saw,

Sekarang saya punya pertanyaan pendek :
1. bolehkah minta pada teman anda?, pada juragan anda?, pada ayah
anda?, pada ibu anda?, pada Lurah?, pada orang kaya?, mengedarkan
proposal?, syirik kah?

Lalu kalau A diserang ular lalu minta pada tolong pada temannya,
tolonglah saya, bantulah saya, selamatkan saya dari kematian..,
syirikkah..??

Aduh.. dangkal sekali pemahaman tauhid mereka ini.

Lalu kalau minta bantuan pada anjing pun boleh, pada ayah boleh,
pada ibu boleh, pada teman boleh, demi Allah tiada satupun makhluk
yg paling bisa memberi bantuan kepada kita melebihi sayyidina
Muhammad.. !

Dan meminta pertolongan Pada utusan Allah hakikatnya minta
pertolongan pada Allah..,

Kalau saya minta pertolongan pada polisi bukankah berarti saya minta
pertolongan pada Negara..?

Sampai disini semua logika orang yg berakal menerima bolehnya
meminta pada makhluk.

2. pertanyaan kedua adalah apakah dalam memberi manfaat dan
mudharrat itu ada perbedaan antara hidup dan mati?

Bukankah mudharrat dan manfaat itu milik Allah ?, diberikan Nya
kepada siapa yg dikehendaki Nya..?

dangkal sekali pemahaman tauhid mereka ini, bila orang yg sudah mati
mutlak tak bisa memberi manfaat maka kekuatan Allah tertutup dengan
kematian hamba Nya swt..?

sungguh yg mati adalah tubuh, dan ruh tetap hidup, bahkan jelas
jelas Allah swt berfirman : Jangan sesekali kau katakan bahwa
mereka yg wafat di jalan Allah itu wafat, sungguh mereka itu hidup
dan diberi rizki oleh Allah swt (QS Annaml 82).

Lalu nabi saw mengajari kita minta pada beliau saw :
ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan
kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw
menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar
Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw
memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul
saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : Wahai Allah, Aku
meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi
Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku
menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku
ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi
syafaat hajatku untukku (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219,
Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini
shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini
agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya,
bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg
mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul
saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yg hidup,
pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : telah datang
kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin
Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin
Hanif ra : berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu
berdoalah dg doa : : Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan
Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih
Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad
saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku,
wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku (doa yg
sama dg riwayat diatas) , nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah
dg ku kesuatu tempat.

Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya
keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu
masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu
bertanya padanya : apa hajatmu? , orang itu menyebutkan hajatnya
maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui
Ustman bin Hanif ra dan berkata : kau bicara apa pada utsman bin
affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..?? , maka berkata
Utsman bin hanif ra : aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra
tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada
orang buta dan sembuh . (Majmu zawaid Juz 2 hal 279).

Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan
oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.

Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri
oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil
orang yg sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat
mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika
ayyuhannabiyyu (Salam sejahtera atasmu wahai nabi ), dan nabi saw
menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : tiadalah seseorang
bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku
menjawab salamnya (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10050)

Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil
manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yg telah mati daripada yg
masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan
kehidupan, modernisasi dlsb, kesemua para pelopornya telah wafat,
dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non
muslim, seperti teori Einstein dan teori2 lainnya, kita masih
mengambil manfaat dari yg mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari
kekuatan mereka, dari jabatan mereka, dari perjuangan mereka, Cuma
bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun
para shalihin, para wali dan muqarrabien kita mengambil manfaat dari
imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.

Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw
: Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai
setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber
istighatsah kepada Adam, lalu kepada Musa, lalu kepada Muhammad saw
(Shahih Bukhari hadits no.1405),

juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194,
shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2
shahih yg rasul saw menunjukkan ummat manusia ber istighatsah pada
para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa
mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah
dari semua manusai.. dst.. dst…

Maka hadits ini jelas jelas merupakan rujukan bagi istighatsah,
bahwa Rasul saw menceritakan orang orang ber istighatsah kepada
manusia, dan rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah
Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad
saw.

Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yg silam,
bagaimana air laut yg setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan
kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan
makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin
selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt,
karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam2 shalihin itu
terdapat benteng yg tak terlihat membentengi air bah itu,

yg itu sebagai isyarat ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan
tubuh yg taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah
jadikan benteng untuk mereka yg hidup.., tubuh yg tak bernyawa itu
Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka
mereka yg berlindung dan lari ke makam mereka.

Kesimpulannya : mereka yg lari berlindung pada hamba hamba Allah yg
shalih mereka selamat, mereka yg lari ke masjid masjid tua yg bekas
tempat sujudnya orang orang shalih maka mereka selamat, mereka yg
lari dengan mobilnya tetap tak selamat, mereka yg lari mencari tim
SAR tetap tak selamat..

Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara
perlindungan Nya swt?, kenapa bukan orang yg hidup?, kenapa bukan
gunung?, kenapa bukan perumahan?.

Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah
pada shalihin.

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a^lam

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

Laxa Re:Kerusakan – kerusakan dalam Maulid Nabi SAW – 2008/05/06 05:13
Assalamu^alaikum Wr Wb
Semoga habibana dalam keadaan sehat wal afiat dan selalu dalam
lindungan Allah SWT

Ya Habibana ana mau nanya neh, Ana mau tau sedikit tentang Syaikh
Muhammab bin Jamil Zainu.

Terimakasih atas jawaban dari habibana Munzir

Wassalamu^alaikum Wr Wb

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Kerusakan – kerusakan dalam Maulid Nabi SAW – 2008/05/06 06:33
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya kemuliaan Nya swt semoga selalu menerangi hari hari saudaraku
dalam kebahagiaan,

mengenai pribadi beliau maka saya tak jelas dengan pasti, namun kita
bisa menilai dari tulisan beliau diatas, jika itu adalah benar
tulisan beliau, maka jelaslah sudah kedangkalan pemahamannya
terhadap hadits, dan fatwanya tentunya tak bisa dijadikan sandaran

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita,
semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=14181

© http://carauntuk.com/kerusakan-kerusakan-maulid-penulis-syaikh-muhammad-bin-jamil-zainu

Leave a Reply