Homeforum.majelisrasulullah.orgKemuliaan Mahabbah kepada Sang Pewaris Risalah

Kemuliaan Mahabbah kepada Sang Pewaris Risalah

forum.majelisrasulullah.org Comments Off on Kemuliaan Mahabbah kepada Sang Pewaris Risalah 0 likes 102 views share

Forum Majelis Rasulullah

adiebinahmad Kemuliaan Mahabbah kepada Sang Pewaris Risalah – 2006/12/17
16:13 Bismillah walhamdulillah wa ?ala niyyati sunnati
rasulillah Muhammad ibn Abdillah shallallah wa sallam wa baraka
?alaih, wa ba?d

Alhamdulillah dengan rahmat dan hidayahNya kita masih terus
mengikuti perkumpulan mulia ini, perkumpulan yang senantiasa
mengajarkan kita tentang keindahan risalah Baginda Rasulullah
SAAW, perkumpulan dimana para pengikut dan pecinta Baginda
Rasulullah berkumpul terikat dalam kekuatan mahabbatullah dan
mahabbatur rasul. Shalawat serta salam termuliakan selalu kepada
Baginda kita, junjungan kita, pemimpin kita, kekasih kita
tecinta Al-Musthofa Muhammad Shallallahu wa sallam wa baraka ?
alaihi. Salam hormat penuh kecintaan ini senantiasa kita
sampaikan kepada Guru kami bersama, guru yang mengasihi murid
layaknya seorang ayah kepada anaknya, guru yang senantiasa
menebar senyuman penyembuh kegundahan, guru yang menerangi
sanubari para muridnya, guru kami Habibana Munzir Al-Musawa. Ma
ta annallahu bihi wa nafa?ana fid daroin.

Sahabat-sahabatku yang kubanggakan, sebagai seorang penuntut
ilmu kita disandingkan dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban
yang keduanya saling berkaitan dan saling melengkapi. Hak-hak
yang telah kita dapatkan sebagai seorang penuntut ilmu adalah
mendapatkan penjelasan mengenai ilmu agama yang tentunya akan
sangat bermanfaat untuk para penuntutnya/mempelajarinya. Amat
sangat merubah seluruh kehidupan yang mempelajarinya, banyak
memberikan manfaat, semakin dekat hubungannya dengan Robbul ?
Alamin, semakin berakhlak dalam pergaulan, semakin membuka pintu
rezeki, semakin indah kesehariannya, dan semakin semakin yang
lainnya..

Maka berkaitan dengan hak?hak tersebut terdapat pula
kewajiban-kewajiban kita yang menyeimbangkan hak-hak tersebut,
dalam hal ini saya mengutip apa yang pernah disampaikan oleh
Sayyidina Ali karromallahu wajhahu yaitu bahwa ada 6 hal yang
harus diperhatikan yaitu bahwa dalam menuntut ilmu yaitu
diperlukan dzakaa?in (kecerdasan), wa hirsin (serakah dalam
menuntut ilmu), wastibarin (harus dengan kesabaran), wa
bulghotin (ada biayanya), wa thuliz zaman (masanya panjang), wa
bi irsyadil ustadz (dengan bimbingan pengajar).

Jelas disana kewajiban kita sebagai pelajar adalah menjalankan
kesemuanya dengan ikhlas, seperti halnya ilmu pendidikan yang
sangat membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Maka
jikalau untuk ilmu dunia saja kita berani menjalankan semua
syaratnya, maka apalagi kepada ilmu agama yang akan menuntun
kita kepada keluhuran kelak dan membimbing kita mencapai
kemuliaan hingga dihantarkan karenanya kepada kita pintu gerbang
keridho?an Ilahi Robbi, tiada lain yang kita harapkan dalam
kehidupan ini selain mencapai ridho?Nya. Maka sebagai hambaNya
wajib bagi kita untuk menempatkan urusan akhirat diatas urusan
dunia.

Yang harus kita garis bawahi juga adalah bahwa ilmu itu
bertempat di dada sang guru sebagai penyambung dan pewaris
risalah mulia Baginda Rasulullah SAAW. Dan ilmu yang kita terima
dari guru manapun tidak akan membawa kebaikan sedikitpun jikalau
terdapat hati yang su?udzhon (prasangka jelek) terhadap guru,
tidak mahabbah/mencintai guru, apalagi sampai tidak pernah
terbesit dihatinya untuk memperhatikan kehidupan sang guru.

Alangkah ruginya dia duduk berjam-jam untuk mendengarkan
kemuliaan dan kesempurnaan risalah Baginda Rasulullah SAAW
tetapi tidak sedikitpun hatinya tergerak untuk berusaha
memperhatikan apalagi mencintai pewaris risalah mulia tersebut,
tidak akan sampai dia pada hakikat mahabbatullah dan
mahabbaturrasul. Karena kunci keduanya adalah mahabbah kepada
penyambung dan pewaris risalah yaitu kecintaan pada sang guru.
Maka janganlah sedikitpun kita mengeluh kepada 6 hal yang tadi
disebutkan jikalau kita bercita-cita untuk mendapatkan keridho?
an Robbul ?Alamin.

Berkaitan dengan mahabbah, hal ini pun telah lama dijalankan dan
diamalkan oleh para auliya? dan sholihin sejak zaman Shababah,
tabi?in, tabi?it tabi?in, ulama salaf, hingga masa ini. Tercatat
dalam sejarah betapa mulia seseorang jikalau kehidupannya
senantiasa diisi dengan kecintaannya kepada sang guru. Salah
satunya dalam manaqib Shohibur Ratib Alattas yaitu Habib Umar
bin Abdurrahman Alattas yang senantiasa ratibnya kita lazimkan 2
minggu sekali, yaitu terjadi pada khadimnya sekaligus muridnya
Syaikh Ali bin Abdullah BaRos yang sangat mencintai gurunya
Habib Umar Alattas Shohibur Ratib hingga kehidupannya senantiasa
dipenuhi dengan berkhidmat kepada sang guru yaitu menjadi khadim
(pembantu) sang guru dan dijalankannya dengan ikhlas selama
bertahun-tahun sehingga dengan kesibukannya memuliakan dan
mengurus sang guru sampai-sampai Syaikh Ali tidak sempat untuk
ikut duduk dalam majlis ta?lim yang digelar oleh sang guru.
Sampai pada suatu masa iblis datang menyerupai seorang yang ?
alim dan bersahaja layaknya tuan guru untuk menggoda Syaikh Ali
yang tengah menimba air untuk mandi sang Habib dari sumur sambil
berkata iblis itu katanya : ?wahai Ali, percuma kamu menjadi
khadim Habib Umar, karena meskipun kamu bertahun-tahun
berkhdimat padanya, ilmunya belum sampai kepadamu sedikitpun,
(karena tahu kesibukan Syaikh Ali hingga tidak dapat mengikuti
majlis ta?lim Habib Umar Alattas) lebih baik engkau sampaikan
saja permintaanmu kepada Habib Umar untuk berhenti menjadi
khadimnya agar bisa mengikuti pengajian yang digelarnya.?
Perkataan ini membuat Syaikh Ali risau, karena memang dalam hati
kecilnya membenarkan bahwa dia belum pernah lagi menerima ilmu
sedikitpun dari Habib Umar Alattas semenjak bekhidmat kepada
beliau. Maka perasaan gundah ini disampaikan kepada sang guru
pada saat Habib Umar tengah melayani ummat yang sedang menuntut
ilmu dengannya, maka sebelum Syaikh Ali mengutarakan lebih dulu
maksud dan tujuan pembicaraannya, dengan cahaya petunjuk dari
Sang Maha Luhur maka Habib Umar lebih dahulu berbicara sebelum
Syaikh Ali berbicara dengan perkataan, ?engkau mau berhenti
menjadi khadimku agar bisa mendapatkan ilmuku??? maka Syaikh Ali
pun terheran-heran dan langsung mengatakan ?Ya. Hamba sangat
ingin sekali merasakan kemuliaan risalah baginda Nabi Muhammad
SAAW dengan hadir duduk mengikuti pengajian.? Maka Habib Umar
pun berkata,?yang bertemu denganmu disumur tadi itu adalah iblis
yang menggodamu agar berhenti menjadi khadimku? maka Syaikh Ali
pun tersentak kaget atas perkataan gurunya itu dan beristighfar
atas kelancangannya. Belum surut kerisauan Syaikh Ali, Habib
Umar langsung memerintahkan Syaikh Ali untuk duduk ditempat
Habib Umar mengajar, agar menggantikan Habib Umar dalam mangajar
dan memimpin majlis ilmu itu. Tambah bingung Syaikh Ali karena
menyadari bahwa belum satu pun ilmu yang pernah diajarkan oleh
Habib Umar, tetapi malahan disuruh untuk bergantian mengajar
majlis ilmu yang dihadiri ratusan orang itu. Habib Umar
meninggalkannya kedalam rumah dan menyuruh agar Syaikh Ali tidak
risau dan menurut dengan perkataannya, maka Syaikh Ali pun sami?
na wa atho?na. Dengan keridho?an Robbul Izzati dengan keluhuran
dan keistiqomahan Habib Umar Alattas dan mahabbah dari Syaikh
Ali kepada sang guru tercinta maka Allah Ta?ala membantu Syaikh
Ali dengan luasnya samudra keilmuanNya yang tiada tandingan
seketika itu pula Syaikh Ali dapat mengajarkan dan memimpin
majlis ilmu yang dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan hadirin itu
layaknya Habib Umar yang sedang memberikan penjelasan.

Bahkan dalam manaqib Shohibur Ratib Alattas dijelaskan bahwa
jika seorang yang membaca Ratibul Attas tanpa disertai tawassul
kepada Syaikh Ali bin Abdullah BaRos, maka dia belumlah membaca
Ratibul Attas.

Demikianlah keadaan kecintaan sang guru Habib Umar Alattas
kepada muridnya, begitu juga sebaliknya Syaikh Ali sebagai murid
yang sangat mencintai dan menghormati sang guru sehingga dia
merasakan betapa indahnya hamparan samudra keilmuan Robbul ?
Alamin. Sebab mahabbah dan keistiqomahan dapat menyebabkan Allah
Ta?ala memberikan curahan rahmat dan hidayah yang tiada
putus-putusnya sepanjang hari. Dan masih banyak kisah-kisah yang
berkaitan dengan ini yang dapat menjadikan kita semangat dalam
bermahabbah kepada pewaris risalah Baginda Rasulullah SAAW yaitu
tuan-tuan guru kita saat ini yang memang ilmunya bersanad kepada
Baginda Rasulullah SAAW.

Semoga Allah Jalla Jalaluh mendekatkan kepada kita semua
keindahan mahabbah itu agar kita dapat dengan segera meraih
kekuatan yang tiada tandingannya yaitu kekuatan mahabbatullah wa
rasuluh.. semoga Allah menyampaikan tabir keridho?anNya kepada
kita hamba yang nista, agar Dia mengangkat dan meng-ijabah doa?
dan munajat kita semua, agar diri kita ini semakin merasakan
manfaat dari ilmu yang telah kita pelajari dan kita terima dari
para pewaris risalah kebenaranNya, agar semakin menumbuhkan rasa
takut kita kepadaNya dengan memuliakan orang-orang yang terlebih
dahulu takut kepadaNya, sesuai firmanNya : ?Sesungguhnya yang
takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…?
(QS. Faathir : 28), Allah Ta?ala memuliakan kita semua dengan
hadirnya ulama? ditengah-tengah kita,
terkhusus kepada Habibana Munzir Al-Musawa sebagai guru kita
semua, semoga Allah senantiasa menjaga dan memelihara beliau
dengan DzatNya Yang Maha Mulia, maka dengan kemuliaan itu
senantiasa kita jaga mahabbah ini kepada para pewaris dan
penyambung risalah Baginda Rasulullah SAAW.

Izinkan kami mencintaiMu Yaa Robbi, semampu kekuatan kami
mencintaiMu melewati cinta kami kepada hamba-hambaMu para
pewaris risalah kebenaranMu.
Wa shallallahu wa sallam ?ala sayyidina wa habibina Muhammadin
nabiyyil ummi wa ?ala alihi wa shohbihi ajma?in Walhamdulillahi
robbil ?alamiin.

Wallahu a?lam

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=1992

© http://carauntuk.com/kemuliaan-mahabbah-kepada-sang-pewaris-risalah

Sponsor 2