sub gratis!

sub gratis!

hosting mantap!

   adminII    Paham Salafy (Wahaby) - 2007/11/26 02:02 From: putraseitalang
              Subject: kepada guru kita hab
    
              assalamualaikum wr wb
              kepada guru yang saya hormati habib munzir almusawa
              mohon diberi penjelasan dari apa yang saya dapat dari email yang
              dikirim dari teman saya yang berpaham salafy(wahaby)ini karena
              saya tidak mempunyai cukup ilmu

              Ulama adalah Sosok Penjaga dan Pembela Dien Allah
              Penulis: Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari
              Manhaj, 13 Desember 2005, 12:15:37
              Abu Ghalib berkata:  Ketika didatangkan kepala orang-orang
              Azariqah [1] dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah
              Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu 'anhu. Ketika melihat mereka, air
              matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya.
              كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْمِ
              السَّمَاءِ وَخَيْرَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ
               Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!
                kata Abu Umamah.  Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di
              bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di
              bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh, 
              lanjutnya.
              Kata Abu Ghalib:  Ada apa denganmu hingga mengalir air matamu? 
               Karena kasihan terhadap mereka, dulunya mereka itu termasuk ahlul
              Islam,  jawab Abu Umamah.
              Abu Ghalib berkata: Kami bertanya:  Apakah engkau mengatakan  
              mereka itu anjing-anjing neraka  dengan pendapatmu sendiri atau
              perkataan yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi
              wa sallam? 
               Kalau aku mengatakan dengan pendapatku sendiri, maka sungguh
              betapa beraninya aku. Tapi perkataan seperti itu aku dengar dari
              Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak hanya sekali,
              bahkan tidak hanya dua tiga kali,  jawab Abu Umamah.
              Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam
              Musnad-nya (5/253). Guru kami Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah
              setelah membawakan hadits ini, beliau berkata:  Hadits ini jayyid,
              Abu Ghalib adalah rawi yang hasanul hadits.  (Al Jami ush Shahih,
              1/201)

              Dalam riwayat At-Tirmidzi rahimahullah (Sunan At-Tirmidzi no.
              4086), Abu Ghalib berkata:  Abu Umamah melihat kepala-kepala yang
              dipancangkan di atas tangga (masjid) Damaskus, ia pun berkata:
              كِلاَبُ النَّارِ، شَرَّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ وَخَيْرَ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوْهُ
               Anjing-anjing neraka. Mereka ini sejelek-jelek orang yang
              terbunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang
              terbunuh adalah orang yang mereka bunuh. 
              Kemudian Abu Umamah membaca ayat:
              يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ
               Pada hari yang di waktu itu ada wajah-wajah yang putih berseri
              dan ada pula wajah yang hitam muram.  (Ali 'Imran: 106) Sampai
              akhir ayat.
              Abu Ghalib berkata kepada Abu Umamah:  Apakah engkau mendengar
              perkataan seperti itu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
              sallam? 
               Kalau aku tidak mendengarnya dari beliau, tidak hanya sekali, dua
              kali, atau tiga, empat kali  Abu Umamah sampai menyebut tujuh kali
                niscaya aku tidak akan menyampaikannya kepada kalian. 
              Hadits ini dihasankan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami
               us Shahih,1/201.

              Ulama Al-Jarh wat Ta dil Penjaga Agama Allah
              Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:  Segala puji bagi
              Allah yang menjadikan adanya ahlul ilmi pada setiap zaman fatrah
              [2] dari para rasul, yang mereka ini mengajak orang yang sesat
              kepada petunjuk dan bersabar atas gangguan yang mereka terima dari
              manusia. Mereka menghidupkan kitabullah yang telah ditinggalkan
              manusia dan menjadikan orang yang buta (akan kebenaran) dapat
              melihat dengan cahaya Allah Subhanahu wa Ta'ala.

              Berapa banyak korban yang dibunuh oleh Iblis telah mereka hidupkan
              dan berapa banyak orang yang sesat lagi tidak mengerti jalan telah
              mereka bimbing. Alangkah bagusnya apa yang mereka perbuat terhadap
              manusia, namun alangkah jeleknya apa yang diperbuat manusia
              terhadap mereka. Mereka adalah orang-orang yang menolak
              penyimpangan orang-orang yang berbuat ghuluw terhadap kitabullah,
              demikian pula keyakinan orang-orang yang batil dan takwil
              orang-orang jahil, di mana orang-orang sesat ini telah mengikat
              bendera bid ah dan melepaskan tali kekang fitnah. Orang-orang yang
              sesat ini berbeda-beda dalam memahami Kitabullah dan menyelisihi
              Kitabullah, akan tetapi mereka bersepakat meninggalkan Kitabullah.
              Mereka ini berucap terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, tentang
              Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tentang Kitabullah tanpa ilmu.
              Mereka berbicara dengan pembicaraan yang samar/ rancu dan
              bermaksud menipu orang-orang yang bodoh dari kalangan manusia
              dengan apa yang mereka samarkan. Kepada Allah semata kita
              berlindung dari fitnah orang-orang yang menyesatkan.  (Ar-Raddu  
              ala Az-Zanadiqah wal Jahmiyyah, hal. 1)

              Berkaitan dengan ucapan Al-Imam Ahmad rahimahullah di atas, maka
              kita mengetahui bahwa ulama al-Jarh (Mencela) wat Ta dil (Memuji)
              termasuk sisa ahlul ilmi yang Allah Subhanahu wa Ta'ala tempatkan
              di umat ini untuk menjaga dan membela agamanya (Aimmatul Jarhi wat
              Ta dil Hum Hummatud Din min Kaidil Mulhidin, wa Dhalalil Mubtadi 
              in wa Ifkil Kadzdzabin, Asy-Syaikh Rabi  Al-Madkhali
              hafizhahullah, hal. 3)

              Dengan keberadaan ulama ini, terbongkarlah kedok dan borok para
              penyesat umat, sehingga tidak tersisa satu tempat persembunyian
              pun bagi mereka melainkan telah diketahui dan telah
              diporak-porandakan. Sehingga umat tidak lagi mudah ditipu oleh
              mereka bahkan mereka dapat tertangkap basah oleh umat, dilucuti,
              dan dibuka aib yang mereka miliki.

              Demikianlah gambaran ahlul ahwa (para pengekor hawa nafsu) dan
              ahlul bid ah yang telah dikritik pedas dan dibabat habis oleh
              ulama al-Jarh wat Ta dil, sehingga tidak heran bila ahlul ahwa dan
              bid ah ini sangat antipati dan benci sampai ke ulu hati terhadap
              ulama al-Jarh wat Ta dil yang ada di tengah umat ini. Berbagai
              tuduhan, ucapan kotor dan keji mereka lemparkan pada sang alim
              untuk menjatuhkan kehormatannya dan menjauhkan umat darinya. Namun
              pada akhirnya mereka harus gigit jari melihat hasil perjuangan
              mereka. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala lah yang memberikan
              penjagaan terhadap agama-Nya. Dan Dia terus melahirkan dan
              memunculkan di tengah-tengah umat ini ulama yang membela
              agama-Nya, Dia terus menampilkan dan memenangkan orang-orang yang
              mengawal agama-Nya, karena memang Dialah Subhanahu wa Ta'ala yang
              menghendaki agar Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang ditolong)
              ini tetap ada sampai saat berhembusnya angin sewangi misik yang
              tidak meninggalkan satu jiwa mukmin pun melainkan akan meninggal
              ketika menciumnya (hal ini terjadi menjelang datangnya hari kiamat
              [3]), sebagaimana disabdakan oleh Rasul yang mulia Shallallahu
              'alaihi wa sallam:
              لاَ تَزَالُ طاَئِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظاَهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ
              أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
               Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku dalam keadaan
              dzahir/ menang di atas al haq, tidak memudharatkan mereka orang
              yang menyelisihi mereka. Demikian keadaan mereka sampai datang
              perkara Allah.  (HR. Al-Bukhari no. 7311 dan Muslim no. 1920)
              Dalam riwayat Al-Bukhari (Shahih Al-Bukhari no. 71) disebutkan
              dengan lafadz:
              وَلَنْ تَزَالَ هذِهِ اْلأُمَّةُ قاَئِمَةً عَلَى أَمْرِ اللهِ لاَ يَضُّرُهُمْ مَنْ خاَلَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ
              أَمْرُ اللهِ
               Umat ini terus menerus akan menegakkan agama Allah [4], tidak
              memudharatkan mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang
              perkara Allah. 
              Ath-Thaifah Al-Manshurah, termasuk di dalamnya ulama al-Jarh wat
              Ta dil tentunya sebagai orang yang masuk paling pertama karena
              mereka orang yang terdepan di dalam ilmu dan penjagaan/ pembelaan
              terhadap agama ini.

              Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan bahwa Ath-Thaifah
              Al-Manshurah adalah ahlul ilmi. Sehingga beliau membuat bab
              tersendiri dalam masalah ini dalam kitab Shahih-nya, dengan judul
              bab Qaulin Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:  La Tazalu
              Thaifatun min Ummati Zhahirina  alal Haq wa Hum Ahlul Ilmi  (bab
              Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:  Akan terus menerus ada
              sekelompok dari umatku dalam keadaan zahir/ menang di atas al-haq 
              mereka adalah ahlul ilmi).
              Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:  Kalau mereka itu
              bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu siapa lagi mereka [5] .
              Al-Qadhi  Iyyadh rahimahullah berkata:  Yang dimaksud Al-Imam
              Ahmad adalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan mereka yang meyakini
              madzhab ahlul hadits.  (Syarah Shahih Muslim, 13/66-67, Fathul
              Bari 1/206, 13/306).

              Al-Hakim rahimahullah berkata:  Alangkah bagusnya penafsiran
              Al-Imam Ahmad bin Hambal terhadap kabar ini bahwa Ath-Thaifah
              Al-Manshurah yang selalu diberikan pertolongan oleh Allah
              Subhanahu wa Ta'ala sampai hari kiamat adalah ashabul hadits
              (ahlul hadits). Karena siapa lagi manusia yang paling berhak untuk
              dimasukkan ke dalam thaifah ini terkecuali suatu kaum yang
              menempuh jalan orang-orang shalih dan mengikuti atsar salaf dari
              kalangan orang-orang terdahulu, mematahkan dan menghancurkan ahlul
              bid ah serta orang-orang yang menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah
              Shallallahu 'alaihi wa sallam.  (Ma rifah Ulumil Hadits, hal. 2)
              Al-Hakim juga berkata memuji ahlul hadits:  Akal-akal mereka
              digenangi kelezatan As Sunnah, jantung-jantung mereka yang
              dipenuhi keridhaan terhadap ahwal (segala keadaan) mereka
              makmurkan, mempelajari sunnah-sunnah adalah kebahagiaan mereka,
              majelis ilmu adalah kegembiraan mereka. Ahlus sunnah seluruhnya
              adalah saudara-saudara mereka sementara ahlul ilhad (orang yang
              menyimpang) dan ahlul bid`ah seluruhnya adalah musuh mereka.  (Ma 
              rifah Ulumil Hadits, hal. 3)

              Guru kami Allamatul Muhaddits Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi i
              rahimahullah berkata:  Hadits ini walaupun tidak secara lafadz
              menunjukkan terhadap perkataan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam
              Ahmad, namun sesungguhnya Ahlul Hadits-lah yang seharusnya
              dimasukkan paling awal dalam thaifah ini karena kekokohan mereka
              di atas Al-Haq, pengabdian mereka dan pembelaan mereka terhadap
              Islam. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas kebaikan mereka
              dengan kebaikan yang banyak atas apa yang mereka sumbangkan
              terhadap Islam dan muslimin.  (Al-Jami us Shahih, 1/11)

              Mereka pula yang dikatakan Al-Firqatun Najiyah (kelompok yang
              selamat) sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu
              'alaihi wa sallam tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan,
              semuanya di neraka kecuali satu, ketika ditanyakan kepada beliau
              Shallallahu 'alaihi wa sallam:
              مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ: هُمُ الْجَماَعَةُ
               Siapa mereka wahai Rasulullah?   Mereka adalah al-jamaah,  jawab
              beliau. (HR. Ahmad 4/102, Abu Dawud no. 3981, Ibnu Abi  Ashim no.
              63, dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah
              dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As Sunnah, hal. 49)

              Sejak terjadinya fitnah dan bercabangnya kelompok hawa nafsu di
              tengah umat hingga mereka mencapai jumlah yang disebutkan [6],
              thaifah ini terus menerus menegakkan perkara Allah Subhanahu wa
              Ta'ala, mereka menyeru kepada al haq, menyebarkan dan menjaga
              ilmu-ilmu nubuwwah, membelanya dan menolak tipu daya orang-orang
              yang melakukan tipu daya, menolak kepercayaan orang-orang yang
              batil dan tahrif orang-orang bodoh. Tidak menggoyahkan mereka sama
              sekali gangguan, tipu daya orang-orang yang membuat makar, dan
              rencana jahat orang-orang yang berkuasa. Kesempitan, gangguan dan
              ujian yang mereka terima tidak akan menambah penderitaan bagi
              mereka terkecuali membuat mereka semakin kokoh di atas al haq dan
              akan membungkam kebatilan, sebagaimana ini terjadi pada masa
              Al-Imam Ahmad, Abdul Ghani Al-Maqdisi dan pada masa Ibnu
              Taimiyyah. (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama ah fi Naqdir Rijal wal
              Kutub wath Thawaif, hal. 18)

              Sikap tegas terhadap ahlul bid ah ini merupakan sikap yang
              diwarisi dari As-Salafush Shalih. Dan As-Salafush Shalih
              menganggap sikap keras terhadap ahlul ahwa dan bid ah merupakan
              suatu kelebihan/ keutamaan dan merupakan sikap terpuji, di mana
              seseorang akan dipuji karenanya. Berapa banyak para imam Ahlus
              Sunnah, ketika disebutkan biografinya, ia dipuji karena sikap
              kerasnya terhadap ahlul ahwa dan bid ah dan betapa kokohnya dia
              dalam memegang As Sunnah. Tidak ada yang mendorong mereka untuk
              bersikap yang demikian kecuali karena kecemburuan terhadap agama
              Allah ini dan dalam rangkaian nasehat kepada Allah, Rasul-Nya, dan
              para pemimpin kaum muslimin serta orang awamnya. Sebagaimana Ibnul
              Jauzi rahimahullah berkata tentang Al-Imam Ahmad rahimahullah:  
              Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hambal, karena sangat kuatnya
              beliau memegangi As Sunnah dan melarang/ mencegah dari kebid ahan,
              beliau tidak segan membicarakan tentang (kejelekan) sekelompok
              orang-orang yang baik, apabila tampak di hadapannya bahwa mereka
              menyelisihi As Sunnah. Ucapan beliau yang demikian itu disampaikan
              kepada mereka tentunya dalam rangka nasehat untuk agama Allah ini.
                (Ijma ul Ulama  alal Hajri wat Tahdzir min Ahlil Ahwa , hal. 42)

              Ahlul Hadits adalah Ulama Al-Jarh wat Ta dil
              Ulama al-Jarh wat Ta dil adalah ulama Ahlul Hadits yang mengilmui
              dan memahami hadits, mengagungkan, dan menjaganya. Mereka adalah
              orang yang mengikuti para shahabat dan tabi in dalam berpegang
              teguh dengan Al Qur an dan As Sunnah. Mereka menggigitnya dengan
              gigi geraham mereka. Mereka kedepankan keduanya di atas setiap
              ucapan dan petunjuk, sama saja apakah hal itu dalam masalah
              aqidah, ibadah, muamalah, akhlak ataupun dalam masalah politik dan
              kemasyarakatan. Mereka sangat kokoh di dalam pokok-pokok agama dan
              cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu
              wa Ta'ala dan diwahyukan-Nya kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya
              Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka menegakkan dakwah
              dengan segala kesungguhan, kejujuran dan ketegaran. Merekalah
              pembawa ilmu nubuwwah. Dengan ilmu tersebut, mereka sangat
              menentang tahrif orang-orang yang ghuluw, kepercayaan orang-orang
              yang batil dan takwil orang-orang jahil. Merekalah orang-orang
              yang selalu berdiri mengintai setiap kelompok/ golongan yang
              menentang manhaj islami seperti Jahmiyyah, Mu tazilah, Khawarij,
              Rawafidh, Murji`ah, Qadariyyah dan setiap yang menyimpang dari
              manhaj Allah dan mengikuti hawa nafsunya pada setiap zaman dan
              tempat. Celaan orang-orang yang mencerca sama sekali tidak
              menyurutkan langkah mereka dalam membela agama Allah Subhanahu wa
              Ta'ala.  (Aimmatul Jarhi wat Ta dil, hal. 4)
              Merekalah yang meletakkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ini di
              hadapan mata mereka:
              وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعاً وَلاَ تَفَرَّقُوْا
               Berpegang teguhlah kalian semuanya dengan tali Allah dan
              janganlah kalian berpecah-belah.  (Ali  Imran: 103)
              Dan firman-Nya:
              فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخاَلِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ
               Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyelisihi perkara/
              perintah Rasulullah untuk ditimpakan kepada mereka fitnah atau
              ditimpakan pada mereka azab yang pedih.  (An-Nur: 63)
              Sehingga mereka adalah orang yang paling jauh dari menyelisihi
              perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan paling jauh
              dari fitnah. Merekalah yang menjadikan firman Allah Subhanahu wa
              Ta'ala sebagai dustur mereka:
              فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْماَ شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِيْ أَنْفُسِهِمْ
              حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْماً
               Maka sekali-kali tidak demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman
              sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam pertikaian yang
              terjadi diantara mereka, kemudian mereka tidak dapatkan di dalam
              jiwa mereka rasa berat terhadap apa yang engkau putuskan dan
              mereka tunduk dengan setunduk-tunduknya.  (An-Nisa`: 65)

              Mereka memuliakan nash-nash Al Qur`an dan As Sunnah dengan
              sebenar-benar pemuliaan, mengagungkannya dengan sebesar-besar
              pengagungan dan mengedepankannya di atas ucapan manusia
              seluruhnya. Mereka berhukum kepada nash-nash tersebut dalam segala
              sesuatu dengan rasa ridha yang sempurna dan dada yang lapang,
              tanpa rasa sempit dan berat. Mereka tunduk kepada Allah dan
              Rasul-Nya dengan ketundukan yang sempurna dalam aqidah mereka,
              ibadah dan muamalah mereka. Kepada merekalah pantas ditujukan
              firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
              إِنَّماَ كاَنَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوْا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ
              يَقُوْلُوْا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
               Hanyalah ucapan kaum mukminin bila mereka dipanggil kepada Allah
              dan Rasul-Nya agar diputuskan perkara diantara mereka, mereka pun
              menyatakan  kami mendengar dan kami taat  , mereka itulah
              orang-orang yang beruntung.  (An-Nur: 51) [Aimmatul Jarhi wat Ta 
              dil, hal. 5]

              Diantara nama ulama ahlul hadits yang bisa kita sebutkan di sini,
              diantaranya:
              - Semua shahabat Nabi, dengan pimpinan mereka Al-Khulafa`ur
              Rasyidin
              - Tokoh tabi in (murid para shahabat): Sa id ibnul Musayyab,  
              Urwah bin Az-Zubair, Ali bin Al-Husain Zainul Abidin, Muhammad
              ibnul Hanafiyyah, Ubaidullah bin Abdillah bin  Utbah bin Mas ud,
              Salim bin Abdillah bin  Umar, Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar
              Ash-Shiddiq, Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Sirin,  Umar bin
              Abdil Aziz, dan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri.
              - Atba ut tabi in (murid para tabi in), paling terdepan dari
              mereka adalah Malik, Al-Auza i, Sufyan bin Sa id Ats-Tsauri,
              Sufyan bin  Uyainah, Isma il bin  Ulayyah dan Al-Laits bin Sa ad.
              - Murid-murid atba ut tabi in, paling utama adalah Abdullah ibnul
              Mubarak, Waki  ibnul Jarrah, Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi 
              i, Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Sa id Al-Qaththan,  Affan bin
              Muslim.
              - Mereka yang berguru kepada murid-murid atba ut tabi in, yang
              terdepan adalah Al-Imam Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma in dan  Ali
              ibnul Madini.
              - Murid-murid mereka yang masuk dalam kelompok di atas,
              diantaranya Al-Bukhari, Muslim, Abu Hatim, Abu Zur ah, Abu Dawud,
              At-Tirmidzi, dan An-Nasai.
              - Generasi berikutnya yang berjalan seperti jalan mereka,
              diantaranya Ibnu Jarir, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraquthni, Al-Khathib
              Al-Baghdadi, Ibnu Abdil Bar An-Namri, Abdul Ghani Al-Maqdisi, Ibnu
              Qudamah, Ibnu Shalah, Ibnu Taimiyyah, Al-Mizzi, Adz-Dzahabi, Ibnu
              Katsir [7] dan para imam setelah mereka seperti Ash-Shan ani,
              Asy-Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab serta kalangan imam dari
              anak-anak dan cucunya.
              Mereka memiliki banyak sekali karya tulis  dengan jumlah yang tak
              terhitung  yang berisi bantahan terhadap ahlul bid ah wa ahwa dan
              kitab-kitab al-Jarh wat Ta dil serta kitab al-jarh secara khusus
              yang penuh dengan keterangan tentang keadaan ahlul bid ah seperti
              kitab Ar-Rad  alal Jahmiyyah karya Al-Imam Ahmad, Ar-Rad  alal
              Jahmiyyah dan Ar-Rad  ala Bisyr Al-Marisi karya  Utsman bin Sa id
              Ad-Darimi, kitab-kitab Al-Imam Ahmad dalam masalah rijal,
              kitab-kitab Ibnu Ma in, kitab-kitab Al-Bukhari, Al-Al-jarh wat
              ta'dil karya Ibnu Abi Hatim, kitab-kitab An-Nasa`i dan
              Ad-Daraquthni, Al-Kamil karya Ibnu  Adi, kitab Al-Majruhin karya
              Ibnu Hibban, Ma rifatur Rijal karya Jauzajani, Muqaddimah
              Al-Madkhal karya Al-Hakim, Muqaddimah Al-Mustakhraj karya Abu Nu 
              aim dan selainnya dari kitab-kitab rijal sebagaimana mereka
              memiliki banyak karya tulis ilmiah dalam perkara aqidah/ manhaj
              seperti kitab As-Sunnah karya Ibnu Abi  Ashim, Asy-Syari ah karya
              Al-Ajurri, Al-Iman karya Ibnu Mandah, At-Tauhid karya Ibnu
              Khuzaimah, Syarah Ushulus Sunnah karya Al-Lalikai, serta
              kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya dan
              lain-lainnya, yang tidak bisa kami sebutkan semuanya di sini.

              Kritikan Ulama Al-Jarh wa At-Ta dil Penjagaan terhadap Agama Allah
              Apa yang dilakukan oleh ulama al-jarh wat ta'dil berupa kritikan
              dan bantahan kepada ahlul bid ah dan ahwa bukanlah perkara yang
              mereka ada-adakan atau mereka buat-buat sendiri tanpa pendahulu
              yang shalih. Tidak pula menunjukkan kotor dan jahatnya hati,
              maksud dan lisan mereka, sebagaimana hal ini banyak disebarkan dan
              diserukan oleh du atul makirin wal ahdzabul hizbiyyin (para
              penyeru dan pembuat makar serta para da i hizbiyyun) yang sangat
              khawatir dan takut dengan kritikan karena akan mematikan mereka
              dan membinasakan langkah dan keinginan mereka yang busuk. Akan
              tetapi apa yang mereka serukan sama sekali tidak demikian,
              wallahi. Bahkan jauh sebelum ulama al-jarh wat ta dil, hal ini
              telah dilakukan oleh sebaik-baik manusia setelah para nabi dan
              rasul, yaitu para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
              sallam ash-shadiqinash shalihin, dan diantara mereka adalah Abu
              Umamah Al-Bahili radhiallahu 'anhu sebagaimana ditunjukkan dalam
              hadits dan riwayat di atas. Ketika Abu Umamah melihat kepala
              orang-orang yang terbunuh dari kelompok ahlul bid ah yang bernama
              Khawarij yang dipancangkan di atas tangga masjid Damaskus, ia pun
              mengatakan:  Anjing-anjing neraka!  (Tuhfatul Ahwadzi, 8/279).
              Ketika melemparkan gelaran jelek kepada pemilik kepala-kepala yang
              telah terpenggal tersebut, beliau tidak mencukupkan sekali, bahkan
              beliau mengulangnya sampai tiga kali.
              Kemudian, apabila ini adalah perkara yang mereka ada-adakan atau
              mereka buat-buat sendiri tanpa pendahulu yang shalih dan
              menunjukkan kotor dan jahatnya hati, maksud dan lisan mereka,
              apakah boleh dan diperkenankan bagi kita untuk mengatakan shahabat
              ini mulutnya kotor, jahat hati, maksud, dan lisannya? Na 
              udzubillah min dzalik, semoga Allah menjaga hati, lisan dan
              perbuatan kita dari mencerca shahabat Rasulullah Shallallahu
              'alaihi wa sallam!
              Apa yang dilakukan oleh Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu 'anhu ini
              telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
              murabbina wa mu allimuna. Beliaulah yang menggelari Khawarij
              dengan anjing-anjing neraka, sebagaimana dinyatakan oleh Abu
              Umamah:  Perkataan seperti itu aku dengar dari Rasulullah
              Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak hanya sekali, bahkan tidak
              hanya dua, tiga kali!  Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan sampai
              tujuh kali.
              لَقَدْ كاَنَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كاَنَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ
              وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
               Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagi
              kalian, yaitu bagi orang-orang mengharapkan pertemuan dengan Allah
              dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.  (Al-Ahzab: 21)
              Bila demikian adanya, berarti apa yang dilakukan oleh ulama
              al-Jarh wat Ta dil ini telah dicontohkan oleh sebaik-baik hamba
              Allah yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
              menjarh, mengkritik, dan mentahdzir orang yang pantas
              mendapatkannya.

              Demikian pula halnya dengan anak paman Rasulullah Shallallahu
              'alaihi wa sallam, orang yang didoakan oleh Rasulullah Shallallahu
              'alaihi wa sallam dengan kefakihan di dalam agama Allah Subhanahu
              wa Ta'ala dan ahli di dalam menafsirkan Al Qur`an, imam para
              mufassirin, Ibnu  Abbas radhiallahu 'anhuma ketika menjarh
              kelompok bid ah yang bernama Qadariyyah.
               Atha rahimahullah berkata:  Aku mendatangi Ibnu  Abbas
              radhiallahu 'anhuma yang sedang berada di sumur Zam-zam dalam
              keadaan bagian bawah pakaiannya basah terkena air.
               Telah muncul orang-orang yang membicarakan (yakni mengingkari
              -ed) takdir (Qadariyah, pen.),  kataku kepada Ibnu Abbas.
               Apakah mereka benar telah melakukannya?  tanya Ibnu  Abbas.
               Iya,  jawabku.
               Demi Allah, tidaklah turun ayat:
              ذُوْقُوْا مَسَّ سَقَرَ. إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْناَهُ بِقَدَرٍ
               Rasakanlah oleh kalian azab neraka Saqar. Sesungguhnya segala
              sesuatu Kami ciptakan dengan ketetapan takdir.  (Al-Qamar: 48-49)
              melainkan ditujukan kepada mereka. Mereka itu adalah sejelek-jelek
              umat ini, jangan kalian jenguk orang yang sakit dari kalangan
              mereka, jangan kalian shalati orang yang mati dari kalangan
              mereka. Bila aku melihat salah seorang dari mereka, niscaya aku
              akan mencungkil kedua matanya dengan dua jariku ini.  (Syarhus
              Sunnah, Al-Lalikai 4/712, As-Sunanul Kubra, Al-Baihaqi 10/205,
              sebagaimana dinukil dalam Ijma ul Ulama  alal Hajri wat Tahdzir
              min Ahlil Ahwa`, hal. 23)

              Asy-Syaikh Rabi  hafizhahullah berkata:  Membantah ahlul bid ah,
              men-jarh mereka dan memperingatkan (tahdzir) manusia dari mereka
              merupakan perkara pokok dalam Islam, karena hal ini termasuk bab
              amar ma ruf nahi mungkar yang paling penting dan juga termasuk bab
              nasihat yang terpenting kepada Islam dan muslimin. Orang yang
              pertama kali men-jarh dan men-tahdzir mereka yang menyimpang
              adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana beliau
              mentahdzir Khawarij dalam beberapa hadits dan menyifati mereka
              sebagai sejelek-sejelek makhluk, beliau Shallallahu 'alaihi wa
              sallam mencela Dzul Khuwaishirah (nenek moyang Khawarij) dan
              dalil-dalil yang menunjukkan tentang perkara ini banyak sekali. 
              (Aimmatul Hadits wa Man Sara  ala Nahjihim Hum A lamun Nasi bi
              Ahlil Ahwa wal Bida  wa Masyru iyyatul Jarh wat Ta dil Minal Akfa 
              Lam Tanqathi , hal. 2)

              Lebih dari itu, mencela dan memberi gelaran buruk kepada orang
              yang menyimpang dari kebenaran telah pula dinyatakan oleh Dzat
              yang Maha Tinggi dan Maha Suci keberadaan-Nya dari segala
              makhluk-Nya, seperti dalam ayat-ayat berikut ini:
              وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْناَهُ آياَتِناَ فَانْسَلَخَ مِنْهاَ فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطاَنُ فَكاَنَ
              مِنَ الْغاَوِيْنَ. وَلَوْ شِئْناَ لَرَفَعْناَهُ بِهاَ وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
              فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ
              الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآياَتِناَ فاَقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
               Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan
              kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab).
              Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu ia diikuti
              oleh syaitan sampai dia tergoda. Maka jadilah dia termasuk
              orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami
              tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung
              kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka
              permisalan dirinya seperti anjing, bila engkau menghalaunya
              dijulurkannya lidahnya dan bila engkau membiarkannya, anjing itu
              tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah perumpamaan orang-orang
              yang mendustakan ayat-ayat Kami.  (Al-A raf: 175-176)

              وَلَقَدْ ذَرَأْناَ لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لاَ يَفْقَهُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ
              أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ آذَانٌ لاَ يَسْمَعُوْنَ بِهاَ أُولَئِكَ كَاْلأَنْعاَمِ بَلْ هُمْ
              أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغاَفِلُوْنَ
               Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam
              kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi
              tidak dipergunakannya untuk memahami. Dan mereka memiliki mata
              namun tidak dipergunakannya untuk melihat. Dan mereka punya
              telinga tetapi tidak diperguna-kannya untuk mendengar. Mereka itu
              seperti binatang ternak bahkan mereka lebih bodoh lagi. Mereka
              itulah orang-orang yang lalai.  (Al-A raf: 179)

              أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ أَوْ يَعْقِلُوْنَ إِنْ هُمْ إِلاَّ كَاْلأَنْعاَمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
              سَبِيْلاً
               Apakah engkau (Muhammad) mengira bahwa kebanyakan mereka itu
              mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti
              binatang ternak bahkan mereka lebih sesat jalannya daripada
              binatang ternak itu.  (Al-Furqan: 44)
              Sehingga kita katakan di sini, orang-orang yang mengingkari
              perkara ini adalah orang yang tidak faham sama sekali apa yang dia
              baca di dalam Al Qur an yang dia baca setiap harinya dan di dalam
              hadits-hadits yang shahih atau memang dia tidak pernah membacanya
              sehingga dengan kejahilannya menjadikannya jahil murakkab?
              Wallahul musta an.

              Para Imam al-Jarh wat Ta'dil tidak hanya memberikan jarh kepada
              ahlul bid ah wa ahwa` namun mereka juga menjaga agama ini dengan
              menjaga hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari
              pemalsuan dan kedustaan, membicarakan perawi-perawi hadits dan
              menjelaskan keadaan mereka, sehingga bila perawi itu lemah
              terlebih seorang pendusta, maka mereka membicarakannya,
              mengkritiknya dan menolak haditsnya. Namun apabila dipelajari dan
              diteliti, para perawi keadaanya tidak demikian, bahkan merupakan
              rawi yang pantas diterima periwayatannya, maka diterima haditsnya
              dan periwayatannya. Diantara kritikan mereka:
              1. Yahya bin Ma in rahimahullah berkata tentang seorang perawi
              hadits yang bernama Talid bin Sulaiman Al-Muharibi:  Dia tidak
              teranggap, dia seorang pendusta yang mencerca  Utsman radhiallahu
              'anhu. Dan setiap orang yang mencela  Utsman atau Thalhah atau
              salah seorang dari shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
              maka dia dajjal, tidak ditulis haditsnya, dan dia akan memperoleh
              laknat Allah, para malaikat dan manusia.  (At-Tarikh, 2670)
              Al-Hakim rahimahullah berkata:  Madzhabnya jelek, mungkarul
              hadits.  (Al-Madkhal, 1/174)
              2. Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berkata:  Negeri Khurasan
              mengeluarkan tiga orang yang tidak ada tandingannya dalam kebid 
              ahan dan kedustaan yaitu Jahm bin Shafwan,  Umar bin Shabh, dan
              Muqatil bin Sulaiman. 
              3. Ahmad ibnu Hanbal rahimahullah berkata:  Habib bin Abi Hilal
              matruk (ditinggalkan).  (Bahrud Dam hal. 105). Demikian juga
              Al-Imam Ahmad berkata tentang Al-Hasan ibnu Dzakwan:  
              Hadits-haditsnya batil.  (Bahrud Dam hal. 114)
              4. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata:  Dawud ibnu
              Al-Muhabbir mungkarul hadits, keberadaannya seakan-akan tidak
              teranggap/ ternilai.  (Adh-Dhu afa` Ash-Shagir hal. 18. Al-Hafidz
              rahimahullah berkata tentangnya:  Matruk, dan kebanyakan kitabul  
              aql yang dia tulis hadits-haditsnya palsu.  (At-Taqrib hal.140)
              5. Al-Imam An-Nasai rahimahullah mengatakan tentang Asy ats ibnu
              Sa id As-Samman:  Tidak punya nilai.  (Adh-Dhua fa` wal Matrukin
              hal.56)
              Wallahu ta ala a lam bish-shawab.

              Footnote :
              1. Satu kelompok dari Khawarij yang dinisbatkan kepada Nafi  bin
              Al-Azraq, salah seorang tokoh Khawarij.
              2. Zaman terputusnya wahyu dan tidak adanya rasul yang diutus di
              tengah umat
              3. Kiamat tidak akan ditimpakan kecuali pada sejelek-jelek
              makhluk. Adapun orang yang memiliki iman semuanya telah meninggal
              ketika mencium angin sewangi misik yang berhembus menjelang
              datangnya hari kiamat (Fathul Bari, 1/206).
              Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
              مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُمُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْياَءُ
               Termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang hari kiamat
              menemui mereka dalam keadaan mereka masih hidup.  (HR. Al-Bukhari
              no. 7067)
              Dalam riwayat Muslim (no. 2949) disebutkan dengan lafadz:
              لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إلاَّ عَلىَ شِرَارِ النَّاسِ
               Tidak akan datang hari kiamat kecuali (menimpa) atas
              sejelek-sejelek manusia. 
              4. Sebagian umat ini akan tetap di atas al-haq selama-lamanya
              (Fathul Bari, 1/206)
              5. Asy-Syaikh Rabi  bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah berkata:  
              Imam-imam Islam seperti Ibnul Mubarak, Yazid bin Harun, Ibnul
              Madini, Ahmad bin Hambal, Al-Bukhari dan para imam yang lain
              diantaranya Al-Khathib Al-Baghdadi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Rajab
              telah menafsirkan Al-Firqatun Najiyah dan Ath-Thaifah Al-Manshurah
              ini adalah ahlul hadits dan orang yang bermadzhab ahlul hadits. 
              (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath
              Thawa`if, hal. 18)
              6. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
              تَفَرَّقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِي عَلىَ ثَلاَثٍ
              وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً
               Yahudi akan terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan umatku akan
              berpecah menjadi 73 golongan.  (HR. Ibnu Abi  Ashim dalam
              As-Sunnah, dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani
              rahimahullah dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As Sunnah, hal. 50)
              7. Dan kami tambahkan ulama ahlul hadits dan para imam al-jarh wat
              ta dil pada zaman ini baik itu yang masih hidup  mudah-mudahan
              Allah mengokohkan mereka dan diberikan umur yang panjang di dalam
              pembelaan agama-Nya  ataupun yang telah Allah panggil disisi-Nya,
              semoga Allah merahmati mereka semuanya dengan rahmat-Nya yang
              lapang  sesuai yang kami ketahui dan penyebutan kami disini bukan
              sebagai pembatasan, diantaranya:
              Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdurahman Al-Mu allimi Al-Yamani,
              Asy-Syaikh Al-Muhaddits Ahmad Syakir, Samahatusy Syaikh Muhammad
              bin Ibrahim Alusy Syaikh, Al- Allamatusy Syaikh Abdullah Ibnu
              Humaid, Asy-Syaikh Al-Muhaddits wal Mufassir Muhammad Amin
              Asy-Syinqithi, Asy-Syaikh Al- Allamatu Abdurrahman As-Sa di,
              Syaikhul Islam Samahatusy Syaikh Abdul  Aziz bin Baz, Asy-Syaikh
              Imamul Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Asy-Syaikh
              Al-Mujahid As-Salafi Hamud Tuwaijiri,  Allamatud Dunya Asy-Syaikh
              Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al- Allamatusy Syaikh Muhammad
              Aman Al-Jami, Guru kami Al-Muhaddits Imam Ahlis Sunnah fil Yaman
              Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi i, Al- Allamah Shahibul Manhaj
              Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Asy-Syaikh Al-Muhadditsul Faqih Ahmad
              bin Yahya An-Najmi, Al- Allamah Asy-Syaikh Al-Mujahid Zaid bin
              Muhammad Al-Madkhali, Imam Al-Jarh wat Ta'dil Syaikhul Muhaddits
              Rabi  Ibnu Hadi Al-Madkhali, Al- Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits
              Abdul Muhsin Al- Abbad, Mufti Mamlakah As-Su udiyah  Allamatus
              Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alusy Syaikh, Al-Ma ali Al- Allamah
              Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh, Asy-Syaikh
              Al-Muhaddits Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, Shahibul Manhajis
              salim Al- Allamah Asy-Syaikh  Ubaid Al-Jabiri, dan ulama ahlil
              hadits lainnya.

              (Dikutip dari artikel berjudul Ulama Al Jarh wa At Ta'dil, Sosok
              Penjaga dan Pembela Agama Allah, tulisan Al Ustadz Abu Ishaq
              Muslim, url sumber http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=
              267)

                               | | ==========

   munzir     Re:Paham Salafy (Wahaby) - 2007/11/26 16:59 Alaikumsalam
              warahmatullah wabarakatuh,
    
              Kebahagiaan dan Kelembutan Nya semoga selalu menyelimuti hari hari
              anda,

              Saudaraku yg kumuliakan,
              1. masalah kilabunnar ini tentunya merupakan Tahdzir dari Rasul
              saw, agar kita menghindari sejauh jauhnya untuk terjerumus seperti
              mereka. bukan diajari mencaci anjing neraka pada semua orang, dan
              dijelaskan pada syarh Ibn Majah bahwa yg ditujukan adalah kaum
              khawarij, mereka yg merusak tauhid, yah.. mirip mirip dg wahaby.

              2. mengenai ulama Jarh watta'dil maka ia salah tafsir, Jarh disini
              bukan pencaci, tapi melihat apakah orang itu 'adil (kuat riwayat)
              atau majruh (lemah riwayat), disebut majruh karena ia mungkin
              pernah berdusta, atau pernah kena penyakit lupa, maka ia majruh
              (terluka=maksudnya ada aib pada riwayatnya). bukan pencaci,

              lucu sekali artikel wahabi ini, marah marah menuduh ahlussunnah
              waljamaah adalah ahlul ahwa, dan mereka ulama jurh watta';dil,
              wahai kalian.., ulama jurh watta;dil itu bukan pencaci berhati
              busuk macam kalian, Imam Bukhari rahimahulllah yg menjadi raja
              seluruh Muhaddits berkata : "aku tak mau menyebut aib aib orang
              dalam riwayatku, karena aku tak mau dikumpulkan oleh Allah dalam
              kelompok ahlulghibah" (Siyar fii a'lamunnubala dan Tadzkiratul
              Huffadh).

              betul, kelompok yg benar adalah pemilik ilmu, ahlussanad, mereka
              yg bukan menukil nukil dari buku, tapi rijalussanad, mereka telah
              sampai pada derajat Al Hafidh, yaitu halal lebih dari 100 ribu
              hadits dg sanad dan hukum matannya, sedangkan tak satupun wahabi
              yg sampai ke derajat AL Hafidh,

              atau derajat Hujjatul Islam yaitu telah hafal 300 ribu hadits dg
              sanad dan hukum matan, seperti Imam Ghazali, Imam Nwawi, Imam Ibn
              Hajar,. Imam Bukhari dll.

              cuma orang wahabi saja mendustakan Hujjatul Islam Al Ghazali,
              mendustakan karena bodohnya mereka terhadapa sejarah dan ilmu
              hadits.

              lihatlah ucapan Imam Malik rahimahullah atas orang semacam wahabi
              :

              Berkata Almuhaddits Hujjatul Islam Al Imam Malik rahimahullah
              ketika datang seseorang yg bertanya makna ayat :  Arrahmaanu  alal
              Arsyistawa , Imam Malik menjawab :  Majhul, Ma qul, Imaan bihi
              wajib, wa su al  anhu bid ah (tdk diketahui maknanya, dan tidak
              boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya
              tentang ini adalah Bid ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang
              jahat, keluarkan dia..! ,
              demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia
              mengatakannya :  kulihat engkau ini orang jahat , lalu
              mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yg menjadi Muhaddits
              Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yg beliau itu Guru
              Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu,
              kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yg tidak
              baik yg mempermasalahkan masalah ini.

              siapakah mereka?, wahabi tentunya.

              3. saudaraku, maaf, tunjukkan satu saja seorang ulama wahabi yg
              punya sanad kepada Muhadditsin?, atau sanad guru yg muttashil
              kepada Rasulullah saw,

              kami ahlussunnah waljamaah berbicara hadits kami mempunyai sanad
              kepada kutubussittah dan muhadditsin, kami bukan menukil dan
              menggunting gunting ucapan ulama lalu berfatwa semaunya.

              tiada ilmu tanpa sanad, maka fatwa tanpa sanad adalah batil.

              Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
              semoga sukses dg segala cita cita,

              Wallahu a'lam

                               | | ==========

   BudhiSuci  Re:Paham Salafy (Wahaby) - 2007/11/26 17:10 assalamualaikum wr wb,
   
              sampurasun maha guru, nambahin sedikit,

              setahu saya Muqbil itu matinya karena kangker lidah karena setelah
              maki maki para wali di hadramaut, lalu konyolnya dia malah berobat
              ke amerika, padahal dia orang paling gedek sama kuffar, malah
              berobat kesono, lalu kojor disono

              wah.. cocok.., khawarij berobat ke bush..

              ngomong ngomong madzhab nukil ini lumayan juga ya, jadi bikin anak
              anak muda pada belajar hadits..

              ya habibana, kalau ke perlis ajak saya dong.., kok Ustaz nuryadin
              diajak saya ngga...kale gettoo..

              yup.. cerio.. eh.. wassalam

                               | | ==========

   NURYADIN   Re:Paham Salafy (Wahaby) - 2007/12/03 15:19 Ngiri ni yee...
              Hehehe...
    

                               | | ==========

   munzir     Re:Paham Salafy (Wahaby) - 2007/12/05 05:14 mas budi boleh ikut
              kalau dah nikah..
    
              Forum silahturahmi jama'ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
              groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

              Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
              No rekening Majelis Rasulullah saw:
              Bank Syariah Mandiri
              Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
              No rek : 061-7121-494
              
                                | | ==========

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=9938
© http://carauntuk.com/kami-ahlussunnah-waljamaah-berbicara-hadits-kami-mempunyai-sanad-kepada-kutubussittah-dan-muhadditsin-arsip-2007

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here