Forum Majelis Rasulullah

zaenalabidin Asatidz non aswaja di tv – 2009/05/02 05:01 Assalamu^alaikum wr
wb

Semoga habibanan senantiasa diberikan kesehatan dan ke^afiatan
oleh Alloh Ta^ala, aamiin.

Alhamdulillah habibana sudah sembuh kembali, bahagia rasanya..
Bib, ane ada beberapa yg ingin ditanyakan:

1. Ane denger di ceramah Ustz. Dede (mamah Dede-indosiar) yg
membahas masalah zakat profesi, kenapa banyak sekali asatidz yg
secara terus menerus mensyiarkan zakat profesi ini? apalagi
sekarang beberapa lembaga zakat seperti Rumah Zakat Indonesia,
PKPU, dsb giat mensyiarkan ke perusahaan-perusahaan, yg mana
katanya bila telah membayar zakat profesi, maka tak perlu lagi
berzakat 1 th sekali lagi. Sebenarnya bagaimana bib kedudukan
zakat profesi ini?

2. Afwan sebelumnya bib, terus terang ane khawatir dengan dengan
ceramah Ust. Aam Amirudin di Trans 7. Beliau dari bandung, ane
pernah denger ceramahnya yg mengatakan bahwa untuk mendapatkan
syafaat Rasulullah SAW bukan dengan shalawat nyanyi-nyanyian,
ceramah2nya mirip wahahaby, apalagi beliau dibesarkan di persis.
Terus terang ane khawatir dengan beberapa asatidz yg mengisi
ceramah di televisi yg mulai marak bukan dari Ahlussunnah wal
Jamaah..

3. Bib, ane punya kompas yg untuk menunjukkan arah kiblat,
kemaren2 ane mengukur arah kiblat di kantor ane dengan
menggunakan kompas itu ternyata tidak sesuai dimana arah kiblat
untuk kota Bandung di titik 75, ane ukur kembali dengan 2 kompat
lainnya dan ternyat hasilnya sama. Apakah kompas tsb benar2
dapat dijadikan pegangan penunjuk arah kiblat? beberapa arah
mesjid yg ane pernah ukur dengan kompas tsb arah kiblatnya juga
tidak sesuai..

4. Kemaren di kantor ane terjadi diskusi diantara karyawan yg
menanyakan dalil bahwa ma^mum masbuk yg keburu rukuk dan membaca
subhana robbial^ala wabihamdihi sudah termasuk 1 rokaat?

5. Bib, mohon do^anya insya Alloh tahun depan (2010) ane sudah
terdaftar di pemberangkatan haji depag, mohon do^anya untuk
diberikan kemudahan

Syukron katsir,
alfaqir

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Asatidz non aswaja di tv – 2009/05/02 11:32 Alaikumsalam
warahmatullah wabarakatuh,

Kesejukan kasih sayang Nya semoga selalu menerangi hari hari anda
dg kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
1. banyak ustaz ustaz di stason televisi itu bukan ulama, sebab
utama adalah jarang ulama yg mau masuk ke stasion televisi dan
duduk berdampingan dg wanita non muhrim, namun saya pribadi masuk
ke stasion televisi walau duduk berdampingan dg wanita non muhrim
asal tidak bersebelahan, cuma dipisahkan satu meja.
demi pembenahan ummat,

namun beberapa tahun ini belum ada lagi panggilan dari stasion
televsi, kalaupun ada mereka memberi kabar mendadak, misalnya TV
One minta kehadiran saya besok malam, maka tentunya tidak bisa,
karena skedul saya padat, adapula panggilan di TPI untuk acara
subuh, maka harus shalat subuh setelah acara, maka saya tolak,
karena saya ada dzikir selepas subuh dan shalat awal waktu
khususnya subuh dan magrib sangat ditekankan dalam sunnah Rasul
saw.

dan ada juga stasion tv lain yg dulu mengundang saya, dan saya
tidak terima uang bayarannya, saya berikan crew nya, maka saya
dijadikan pembicara tetap setiap senin, saya hanya tanda tangan
saja, 2 juta per 30 menit X 4 = 6jt.

saya tidak perduli itu, yg penting dakwah terus berjalan, namun
ketika dia diganti, maka orang sesudahnya tdk suka pada saya,
karena dianggap orangnya si fulan itu..

begitu juga di stasion TV terkenal lainnya, saya dimasukkan dg
paksa ketika salah seorang komisarisnya adalah orang yg kenal baik
dg saya, ia langsung mengambil jadwal bulanan lalu mengisikan nama
saya 10 x dalam sebulan, maka bagian keagamaan di TV tsb hanya ok
saja dan patuh, namun ketika ia sudah tidak jadi notaris lagi maka
saya langsung di stop oleh bagian keagamaan di tv tsb karena saya
dianggap orang si bapak fulan,

lalu di stasion televisi lainnya saya pun masuk dan ketika
diketahui saya tak terima bayaran maka ia langsung semangat
menaruh saya tampil tiap minggu, namun ketika ketahuan oleh
atasannya bahwa saya tidak menerima uang dan uang itu ditelan oleh
bagian acara keagamaan maka ia dideportasi dan sayapun dianggap
orang si fulan dan saya tersingkir pula,

sejak itu saya tdk lagi muncul di acara keagamaan di stasion
televisi, dan saya kira banyak juga para dai dan ulama aswaja yg
mengalami nasib serupa.

zakat profesi tidak diakui dalam Jumhur Ahlussunnah waljamaah, yg
ada adalah zakat harta jika disimpan tanpa dipakai apa apa, ada
pendapat di mazhab hanafi untuk boleh dilakukan setiap bulan,
namun Jumhur (pendapat terbanyak dan terkuat) seluruh mazhab
berpendapat bahwa zakat harta adalah setahun sekali jika melebihi
nishab dan haul
Nishab : Batas jumlah / nilai yg ditentukan syariah haul :
sempurna 1 tahun

jadi anda bekerja dan mendapat gaji itu tak ada zakatnya, boleh
anda bersedekah saja.

perhitungan zakat harta adalah jika anda menyimpan uang, atau emas
anda baru kena zakat jika menyimpan uang itu sampai setahun, dan
jumlah yg anda simpan telah melebih nishab selama setahun

zakat maal / harta dikeluarkan setahun sekali, terhitung hari
sejak uang kita melebihi Nishob, dan Nishob zakat maal adalah
seharga emas 84 gram, maka bila uang simpanan kita terus
meningkat, misalnya mulai 4 Oktober 2006 uang simpanan kita mulai
melebihi harga emas 84 gram, maka sejak tanggal 4 oktober itu
terhitunglah kita sebagai calon wajib zakat, namun belum wajib
mengeluarkan zakat karena menunggu syarat satu lagi, yaitu haul
(sempurna satu tahun)

nah.. bila uang kita terus dalam keadaan diatas Nishob sampai 3
oktober 2007 maka wajiblah kita mengeluarkan zakatnya sebesar
jumlah seluruh uang kita yg ada pd tgl 3 oktober sebesar 2,5%.
(bukan uang kita yg pd 4 oktober 2006, atau uang kita bertambah
menjadi 100 juta misalnya, lalu naik dan turun, maka tetap
perhitungan zakat adalah saat hari terakhir ketika genap 1 tahun
dikeluarkan 2,5% darinya).

bila uang kita setelah melebihi batas nishob, lalu uang kita
berkurang misalnya pd januari 2007 uang kita turun dibawah harga
emas 84 gram, maka sirnalah wajib zakat kita, kita tidak wajib
berzakat kecuali bila uang kita mulai melebihi nishab lagi, saat
itu mulai laih terhitung calon wajib zakat dg hitungan mulai hari
tsb, dan itupun bila mencapai 1 tahun penuh tidak ada pengurangan
dari batas nishob.

jawaban itu tentunya berdasarkan logika, sedangkan agama ini tidak
bisa dengan logika saja, mesti dengan dalil Nash, boleh disertai
logika.

masalahnya begini, “Zakat” itu hukumnya fardhu ain, tak
mengeluarkannya maka dosa dan haram,. masalahnya adalah orang yg
tak mengeluarkan zakat maka halal dibunuh dan hartanya halal
dirampas.

lalu maksud mereka ini ingin menambahkan hukum fardhu?, jadi
mereka yg tak mengeluarkan zakat profesi maka halal darahnya,
sebagaimana Khalifah Abubakar Assbhiddiq ra memerangi orang orang
yg menolak berzakat,

kita terima kalau yg dimaksud adalah sedekah profesi, atau infak
profesi, tapi jangan bicara zakat, karena zakat adalah fardhu,

hal yg fardhu adalah berlandaskan Nash Sharih dari Alqur^an dan
Hadits, sama saja jika anda menambah satu lagi shalat fardhu
menjadi 6 waktu, dengan alasan orang masa kini lebih banyak dosa,
maka perlu lebih banyak sholat,

tentunya hujjah ini tak bisa diterima karena bertentangan dengan
Jumhur seluruh Madzhab,

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a^lam

JAWABAN ATAS DALIL MEREKA MENGENAI ZAKAT PROFESI

Mereka mengatakan hadist ketentuan setahun yg dari ibn umar yg
diriwayatkan oleh darqutni dan baihaqi doif karena didalamnya
terdapat ismail bin iyasy yg lemah.
Juga hadist yg dari Aisyah ra yg diriwayatkan oleh ibn majah,
darqutni, baihaqi mereka katakan dhoif karena adanya harisha bin
abu rijal yg lemah.

tapi mreka tdk melihat kitab muwatto Imam Malik yg meriwayatkan
hadist yg sama Dari Imam Malik, dari Nafi, sungguh Abdullah bin
Umar ra berkata : Tiada wajib pada harta itu zakat kecuali telah
mencapai haul
(Al Muwatta Imam Malik bab Zakat fil ain min addzahab wa wariq)
Berkata Imam Bukhari Sanad yg paling shahih adalah Malik dari Nafi
dari Abdullah bin Umar ra, dan Imam Bukhari menamakannya Silsilah
Emas (Tadriduburrawi fi taqrib li nawawi oleh Imam Assuyuthiy).

juga diriwayatkan oleh Imam Malik pada Al Muwatta bab zakat fil
ain min addzahab wa wariq
Dari Malik, dari Muhammad bin Uqbah Maula Zubair, bahwa ia
bertanya pada Qasim bin Muhammad tentang Mukatab (budak yg sedang
menebus dirinya), maka berkata Qasim bahwa Abubakar Shiddiq ra tak
pernah mengambil zakat dari harta hingga mencapai haul

Mereka mengatakan pula bahwa di kitab Al Muwatta bahwa Mu awiyah
adalah orang yg pertama kali mengenakan zakat dari pemberian,
memeng benar hadist mu awiyah ada di kitab Almuwatto tapi mereka
tidak tahu maksud perkataan mu awiyah tsb.

Dijelaskan pada kitab Al Iddikar syarah Muwatta oleh Imam Ibn
Abdil Barr pada Bab Zakat tentang hadits Muawiyah bahwa Mu awiyah
mengeluarkar zakat dr atho (gaji) yg dia terima utk dirinya
sendiri,dan tidak mengambil zakat dr atho yg diberikan kpd org
lain karena terhalang atasnya haul, perbuatan Mua wiyah tsb yg
langsung mengeluarkan zakat pd waktu menerima gaji krn kewaro
annya, Dan tidak mengambil dari org lain karena dia tahu harus
mencapai haul dulu baru mengeluarkan Zakat.

Berkata Imam Ahmad bin Hanbal : Tiada zakat pada harta almustafad
sampai mencapai haul, dan harta almustafad adalah minal atho,.
Yaitu gaji bulanan, atau hibah (pemberian) atau lainnya.
(Al istidkar Li al hafid ibn abdul bar bab zakat fil ain min
addzahab wa wiriq)

Mereka juga mengatakan bahwa abu ubaid mengatakan bahwa umar bin
abdul aziz memungut zakat apabila mengembalikan barang sitaan
(madzolim)
dalam kitab Al Muwatta bab zat fi dain bahwa umar bin abdul aziz
mengambil zakat dr harta sitaan (madzolim)setelah dikembalikan ke
pemiliknya krn harta tsb sdh tersimpan bertahun tahun
(sudah mencapai haul).

Pada kitab Al Istidkar oleh Al hafidh Ibn Abdul bar disebutkan :
Bahwa : Dari Abu Ubaid,dari Muadz dari Ibn Aun yg berkata : aku
datang ke masjid dan telah dibacakan surat dari Umar bin Abdul
Aziz, maka berkata padaku sahabatku agar jangan kami mengambil
zakat harta dari orang kaya hingga mencapai haul

Disebutkan pula oleh Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy bahwa telah
menjadi Ijma (kesepakatan) ulama dalam persyaratan haul pada zakat
hewan dan uang (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Bab zakat
Alwariq)

Semua diatas adalah pendapat para sahabat, Tabiin, dan Imam Imam
Muhadditsin masalah zakat harta yg mesti haul (sempurna setahun),
demikian pula penjelasan para Fuqaha lainnya sebagaimana Imam
Nawawi pada Almajmu wa raudhah, Imam Ibn Hajar dalam Attuhfah,
Imam Arramliy pada Annihayah, Imam Alkhatib Syarbiniy pada AL
Mughniy dll.

2. semoga Allah segera membenahi para pemimpin kita, hingga bisa
lebih leluasa memperluas dakwah aswaja di media kita

3. baiknya ditanyakan pada masjid atau musholla itu darimana
mereka menentukan arah kiblat, (umumnya pada kompas, ujung utara
menunjukkan pada angka 8 atau 9 untuk indonesia). karena merekapun
di masjid masjid itu mengandalkan kompas.

4. dalam madzhab syafii berpegang pada riwayat Imam Malik pada
kitabnya yg termasyhur yaitu Almuwatta^ bahwa barangsiapa yg
sempat rukuk bersama imam maka ia terhitung mendapatkan rakaat
tsb.

5. semoga Allah swt melancarkan keberangkatan haji anda, dan Allah
membimbing anda pada haji yg sempurna dan bercahaya dg cahaya
keridhoan Nya swt, amiin

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=21621

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here