Homeforum.majelisrasulullah.orghukumNya Tahlilan Dalam ajaraN Islam boleh ga…?

hukumNya Tahlilan Dalam ajaraN Islam boleh ga…?

forum.majelisrasulullah.org 0 0 likes 265 views share

   wahyudin   Tahlilan - 2008/02/13 08:35 Ass. Habib ana mo Nanya ...! apa
              hukumNya Tahlilan Dalam ajaraN Islam boleh ga...?
    

                               | | ==========

   munzir     Re:Tahlilan - 2008/02/13 10:59 Alaikumsalam warahmatullah
              wabarakatuh,
    
              Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi
              hari hari anda dan keluarga,

              Saudaraku yg kumuliakan,
              tahlilan hal yg diperbolehkan dalam Syariah dan tak satu madzhab
              pun menentangnya, hanya mereka yg dangkal pemahamannya akan
              syariah yg mengharamkan tahlil

              Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita
              cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

              Wallahu a'lam

              Forum silahturahmi jama'ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
              groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

              Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
              No rekening Majelis Rasulullah saw:
              Bank Syariah Mandiri
              Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
              No rek : 061-7121-494
              
                                | | ==========

   BamRusdy   Re:Tahlilan - 2008/02/19 23:49 Aslm
              Bib gmana kalu org yang tdk stuju dgn tahlil bilang mana
              dalilnya,kan nabi muhammad gak menyuruh/memrintahkan...?

              terima kasih atas jwbnya....bib
              jazakallah khoiron

                               | | ==========

   munzir     Re:Tahlilan - 2008/02/23 03:14 Alaikumsalam warahmatullah
              wabarakatuh,
    
              Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi
              hari hari anda dan keluarga,

              Saudaraku yg kumuliakan,
              tanyakan pada mereka, mana dalilnya Alqur'an di bukukan menjadi
              satu jilid?, tak pernah ada dalilnya,

              lalu jangan sentuh Alqur;an itu, karena itu dikumpulkan jadi satu
              jilid bukan dimasa Rasul saw, namun Bid'ah yg diada adakan oleh
              khulafa urrasyidin.

              penjelasannya bid'ah telah saya jelaskan panjang lebar pada buku
              saya : kenalilah akidahmu, buku itu menjelaskan banyak hal
              diantaranya bid;ah, tahlil, maulid, dll.

              ini saya copy paste kan masalah Bid;ah.

              BID AH

              1. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid ah hasanah.
              Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid ah hasanah selama hal
              itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw
              :  Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka
              baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak
              berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat
              hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang
              yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya 
              (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada
              Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy,
              Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna
              Bid ah hasanah dan Bid;ah dhalalah.

              Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?,
              maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru
              yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah
              indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw
              tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi
              ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman,
              modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya
              pastilah diperlukan hal hal yg baru demi menjaga muslimin lebih
              terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama
              ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna
              ayat :  ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst,  hari ini
              Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula
              kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian ,
              maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat
              lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik
              sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah
              dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam,

              bila yg dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat
              itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain
              turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini
              bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki
              orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian
              turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram,
              maka membuat kebiasaan baru yg baik boleh boleh saja.

              namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg
              bertentangan dg syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan
              apa apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah
              makna hadits beliau saw :  Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg
              berupa keburukan...dst , inilah yg disebut Bid ah Dhalalah.

              Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan
              berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa
              kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk
              memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dg hal yg ada dizaman
              kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan
              agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid ah dhalalah).

              Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus
              untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg
              dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas
              tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti
              dengan perbuatan bid ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi in.

              2. Siapakah yg pertama memulai Bid ah hasanah setelah wafatnya
              Rasul saw?
              Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul
              yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur an dan Ahli
              Alqur an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar
              Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :  Sungguh Umar (ra) telah
              datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan
              ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur an,
              lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan
              dan menulis Alqur an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu
              hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata
              padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan
              kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan
              dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar, dan engkau
              (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak
              pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang
              ikutilah dan kumpulkanlah Alqur an dan tulislah Alqur an..! 
              berkata Zeyd :  Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan
              sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu
              padaku untuk mengumpulkan Alqur an, bagaimana kalian berdua
              berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw?? , maka
              Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga
              iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju
              dan kini aku sependapat dg mereka berdua dan aku mulai
              mengumpulkan Alqur an . (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

              Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar
              shiddiq ra mengakui dengan ucapannya :  sampai Allah menjernihkan
              dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar , hatinya
              jernih menerima hal yg baru (bid ah hasanah) yaitu mengumpulkan
              Alqur an, karena sebelumnya alqur an belum dikumpulkan menjadi
              satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis
              di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid ah hasanah,
              justru mereka berdualah yg memulainya.

              Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan
              (menghilangkan) Bid ah hasanah mengenai semua bid ah adalah
              kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat
              subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg
              membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami
              berkata :  Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk
              perpisahan , maka beri wasiatlah kami..  maka rasul saw bersabda :
               Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan
              taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika,
              sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat
              banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada
              sunnahku dan sunnah khulafa urrasyidin yg mereka itu pembawa
              petunjuk, gigitlah kuat kuat dg geraham kalian (suatu kiasan untuk
              kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yg baru, sungguh
              semua yg Bid;ah itu adalah kesesatan . (Mustadrak Alasshahihain
              hadits no.329).

              Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti
              sunnah beliau dan sunnah khulafa urrasyidin, dan sunnah beliau saw
              telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar
              syariah, dan sunnah khulafa urrasyidin adalah anda lihat sendiri
              bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui
              bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak
              dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur an, lalu pula
              selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dg
              persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

              Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini,
              khulafa urrasyidin melakukan bid ah hasanah, Abubakar shiddiq ra
              dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur an, lalu
              kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya
              memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata :  Inilah
              sebaik baik Bid ah! (Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula
              selesai penulisan Alqur an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra
              hingga Alqur an kini dikenal dg nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin
              Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.
              Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah
              dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa
              Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula
              dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn
              Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits
              no.873).

              Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti
              larangan Bid ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa
               urrasyidin ini tak faham makna Bid ah?

              3. Bid ah Dhalalah
              Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid ah hasanah inilah yg
              termasuk pada golongan Bid ah dhalalah, dan Bid ah dhalalah ini
              banyak jenisnya, seperti penafian sunnah, penolakan ucapan
              sahabat, penolakan pendapat Khulafa urrasyidin, nah diantaranya
              adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar
              syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan
              dilakukan oleh Khulafa urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas
              memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah
              pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa urrasyidin, bagaimana Sunnah
              Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid ah hasanah, bagaimana
              sunnah Khulafa urrasyidin?, mereka melakukan Bid ah hasanah, maka
              penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid ah dhalalah, hal yg
              telah diperingatkan oleh Rasul saw.

              Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid ah hasanah, maka kita
              telah menafikan dan membid ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits
              yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab
              tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw
              untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal
              itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu 
              anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.

              Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak
              pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula
              Khulafa urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi in
              mulai menulis hadits Rasul saw.

              Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain
              sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua
              adalah perbuatan Bid ah namun Bid ah Hasanah.

              Demikian pula ucapan  Radhiyallahu anhu  atas sahabat, tidak
              pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat,
              walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu
              diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw
              memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun
              karena kecintaan para Tabi in pada Sahabat, maka mereka
              menambahinya dengan ucapan tersebut.
              Dan ini merupakan Bid ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu
              muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program
              Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua
              adalah Bid ah hasanah.
              Bid ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan
              muslimin, karena dengan adanya Bid ah hasanah di atas maka semakin
              mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca
              Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang
              memungkirinya.

              Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila
              Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang
              terjadi pada perkembangan sejarah Islam ?
              Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan
              para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul
              beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang
              akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan
              riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam.
              Namun dengan adanya Bid ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal
              Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid ah Hasanah ini pula
              kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah
              Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah
              membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dg jelas bahwa hal hal
              baru yg berupa kebaikan (Bid ah hasanah), mesti dimunculkan kelak,
              dan beliau saw telah melarang hal hal baru yg berupa keburukan
              (Bid ah dhalalah).

              Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah
              ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya
              adalah Mutiara Alqur an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata
              mengenai Bid ah hasanah :  sampai Allah menjernihkan dadaku dan
              aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar .

              Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra : ..bagaimana kalian berdua
              (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh
              Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu
              adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd)
              sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku
              sependapat dg mereka berdua .

              Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg
              jernih menerima hal hal baru yg baik adalah hati yg sehati dg
              Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin
              haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah
              swt,
              Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal
              ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak
              mau sependapat dg mereka, belum setuju dg pendapat mereka, masih
              menolak bid ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa
              akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan
              perbuatan khulafa urrasyidin, gigit dg geraham yg maksudnya
              berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
              Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati
              dan sependapat dg Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra,
              Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat..
              amiin

              Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid ah

              1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii
              rahimahullah (Imam Syafii)
              Berkata Imam Syafii bahwa bid ah terbagi dua, yaitu bid ah
              mahmudah (terpuji) dan bid ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan
              dg sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah
              adalah tercela, beliau berdalil dg ucapan Umar bin Khattab ra
              mengenai shalat tarawih :  inilah sebaik baik bid ah . (Tafsir
              Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

              2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
               Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam
              Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi :  
              seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid ah
              adalah dhalalah  (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid 
              atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal hal yg tidak sejalan dg
              Alqur an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu
               anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits
              lainnya :  Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam,
              maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak
              berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat
              hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang
              yg mengikutinya  (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini
              merupakan inti penjelasan mengenai bid ah yg baik dan bid ah yg
              sesat . (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

              3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf
              Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
               Penjelasan mengenai hadits :  Barangsiapa membuat buat hal baru
              yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg
              mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan
              barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya , hadits ini
              merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan
              ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini
              terdapat pengecualian dari sabda beliau saw :  semua yg baru
              adalah Bid ah, dan semua yg Bid ah adalah sesat , sungguh yg
              dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid ah yg tercela .
              (Syarh Annawawi  ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

              Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid ah menjadi 5,
              yaitu Bid ah yg wajib, Bid ah yg mandub, bid ah yg mubah, bid ah
              yg makruh dan bid ah yg haram.
              Bid ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada
              ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid ah yg mandub
              (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila
              ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun
              majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam
              macam dari jenis makanan, dan Bid ah makruh dan haram sudah jelas
              diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari
              makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih
              bahwa inilah sebaik2 bid ah . (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim
              Juz 6 hal 154-155)

              Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
              rahimahullah
              Mengenai hadits  Bid ah Dhalalah  ini bermakna  Aammun makhsush ,
              (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah :  
                yg Menghancurkan segala sesuatu  (QS Al Ahqaf 25) dan
              kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat :  Sungguh
              telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin
              dan manusia keseluruhannya  QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya
              bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna
              keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen)
              atau hadits :  aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini  (dan
              kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw)
              (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

              Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan
              pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati
              darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau
              seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh
              atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya
              menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa
              memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

              Walillahittaufiq

              Telah beredar buku saya mengenai Bid ah, tawassul, istighatsah,
              maulid, ziarah kubur, tabarruk dll, buku itu saya beri judul  
              Kenalilah Akidahmu . Dapat dipesan di sekertariat kami.

              mengenai masalah Tahlilan dari buku saya kenalilah akidahmu :

              TAHLILAN

              Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama
              atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau
              bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa
              atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca
              kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih,
              Asma ul husna, shalawat dan lain-lain.
              Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir,
              hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya
              sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah) Lalu
              bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan
              berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk
              mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah
              meninggal dunia ? Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan
              bagi si mayyit ?

              Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau
              shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai
              kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits
              no.1149, bahwa  seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah
              wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw , dan adapula riwayat
              Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa  seorang sahabat menghajikan
              untuk Ibunya yg telah wafat , dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan
              Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk
              ummatnya,  Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan
              keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad  (Shahih Muslim hadits
              no.1967).

              dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada
              mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan
              tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan
              pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi i, bila si pembaca
              tak mengucapkan lafadz :  Kuhadiahkan , atau wahai Allah
              kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini.. , bila
              hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi iy mengatakan
              pahalanya tak sampai.

              Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya
              pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd
              Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah
              (dua puluh satu dalil) tentang Intifa  min  amalilghair (mendapat
              manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : "DAN TIADALAH BAGI
              SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra
              menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat  DAN ORAN ORANG YG
              BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN ,

              Mengenai hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam,
              maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah,
              Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang
              orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas
              bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW
              menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg
              dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah
              memerintahkan di dalam Al Qur'an untuk mendoakan orang yg telah
              wafat : "WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI
              SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN", (QS Al
              Hasyr-10).

              Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam
              yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan
              berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
              Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah,
              tasbih, shalawat, ayat qur an, dirangkai sedemikian rupa dalam
              satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya
              dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur an dalam
              disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani,
              silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat
              rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah
              muslimin terutama yg awam.
              Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah,
              Alqur an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu
              dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab,
              bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ?,

              munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil?, (acara
              berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur 
              an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula
              di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ada dari
              kesempitan pemahamannya.

              Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan
              tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid ah hasanah
              yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu
              bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan
              Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha
              illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi
              orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah
              memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa
              ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir
              pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal
              ini adalah kemungkaran yg nyata.

              Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana
              dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yg merupakan
              adat orang kafir, bahkan mimbar yg ada di masjid masjid pun adalah
              adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak
              melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana
              Rasul saw meniru adat yahudi yg berpuasa pada hari 10 muharram,
              bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram
              karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw
              bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau
              saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula  (HR Shahih Bukhari
              hadits no.3726, 3727).

              Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi
              saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca
              fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu
              surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap
              rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu
              berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul
              saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal
              itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul
              saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk
              sorga  (Shahih Bukhari).

              Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul
              saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al
              Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya.

              Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak
              dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yg telah hafal 100.000 hadits
              (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para
              Imam imam mengirim hadiah pd Rasul saw :
                Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq
              rahimahullah :  aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan
              kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw
               .
                Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin
              Ishaq Atssaqafiy Assiraaj :  aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku
              lakukan 7X haji yg pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku
              menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku
              khatamkan 12.000 kali khatam Alqur an untuk Rasulullah saw, dan
              kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw .
              ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan
              70 ribu masalah yg dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218
              H dan wafat pada 313H
                Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti
              Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku
              mengkhatamkan Alqur an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw.
              (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

              Walillahittaufiq

              Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita
              cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

              Wallahu a'lam

              Forum silahturahmi jama'ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
              groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

              Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
              No rekening Majelis Rasulullah saw:
              Bank Syariah Mandiri
              Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
              No rek : 061-7121-494
              
                                | | ==========

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=11935
© http://carauntuk.com/hukumnya-tahlilan-dalam-ajaran-islam-boleh-ga

Leave a Reply