Homeforum.majelisrasulullah.orgHukum Perkawinan – 2007/07/02

Hukum Perkawinan – 2007/07/02

forum.majelisrasulullah.org 0 0 likes 269 views share

alie Hukum Perkawinan – 2007/07/02 21:35 Assalamu^alaikum Wr. Wb.
Habib yang saya hormati semoga Alloh SWT senantiasa memberikan
Rahmat kepada Habib dan keluarga.
Dalam rubrik ini saya mau menanyakan beberapa hal antara lain :
1. Bagaimana hukumnya menceraikan istri dengan alasan antara lain
:
a. Istri sering utang tanpa sepengetahuan suami
b. Istri keuar rumah tanpa izin suami
c. Istri tidak menghormati keluarga suami
d. Istri sering membantah bila dinasehati
Dengan pertimbangan tersebut, suami bermaksud menceraikan istrinya
akan tetapi istrinya tidak mau dengan alasan masih cinta dan
anaknya masih kecil-kecil.
2. Bagaimana hukumnya bila suami kawin lagi dan punya anak tanpa
sepengetahuan dan seizin istri pertama

Syukron,
Wassalamu^alaikum Wr. Wb.

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Hukum Perkawinan – 2007/07/03 16:18 Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,

Rahmat dan kesejukan sanubari semoga selalu mengiringi hari hari
anda,

saudaraku yg kumuliakan,
1. Mencerai istri adalah diperbolehkan, dengan ada sebab atau
tanpa ada sebab apa apa pun diperbolehkan, demikian secara
syariah, namun tentunya bila kita berbuat dhalim atasnya maka kita
terkena dosa, namun perceraiannya sah dalam syariah walau tanpa
sebab,
Banyak juga terjadi perceraian yg tanpa sebab, misalnya saling
sepakat tuk bercerai, atau begitu saja dan merasa tak saling
cocok, atau sebab sebab yg non syar i.

Kalau saya melihat alasan alasan anda mulai a sampai d, secara
syariah istri yg seperti itu dinamai Nasyizah, dan istri Nasyizah
ini tidak wajib suami menafkahinya, bila suami mempunyai istri
lebih dari satu maka tidak wajib adil / disamakan dengan istri yg
lainnya, misalnya pada istri yg satu, suami padanya dua hari, lalu
istri kedua demikian, namun pada Istri nasyizah tidak wajib
berlaku adil, dan bila ia wafat maka suami tak wajib mengeluarkan
harta untuk kafan dan pemakamannya.

Tentunya kembali pada penjelasan saya diatas, bahwa suami boleh
mencari istri walau tanpa sebab, namun akan terkena dosa bila ia
berbuat dholim, bila melihat poin poin yg anda sebutkan maka hukum
tetap tak berubah, boleh saja mencerainya walau tanpa sebab
apalagi bila ada sebabnya.

Perceraian secara syariah islam tidak mesti dg izin istri,
sebagaimana ayah kandung boleh menikahkan putrinya tanpa seizin
sang anak.

Kesimpulannya saudaraku, anda dapat memilih salah satu
a. tidak mencerainya.
Yaitu bila anda merasa mampu memperbaiki keadaan istri anda, maka
alangkah baiknya anda mendidik dan memperbaiki keadaannya,
alangkah agungnya pahala anda,

b. mencerainya.
Dengan pertimbangan bahwa anda tak mau spekulasi, bila anda
berusaha mendidik istri beresiko, bila berhasil maka
Alhamdulillah, bila tak berhasil maka efeknya adalah pada anak
anak anda, maka anda mencerainya demi menyelamatkan keturunan anda
dari tarbiyah yg buruk dari ibu yg demikian, lalu anda menikah
lagi dg maksud mencari ibu yg dapat mengasuh keturunan anda dan
mengenalkan Tarbiyah suci pada keturunan anda, karena anda
bertanggungjawab atas tarbiyah anak anak anda, dan mencarikan ibu
pengasuh yg baik untuk anak anak anda adalah juga suatu cara untuk
menyelamatkan istri anda, karena ia akan kena tuntutan pula di
hari kiamat bila mendidik anak dg tarbiyah yg buruk, sebaliknya
bila anak anaknya shalih walaupun bukan tarbiyah dari ibu
kandungnya, maka Insya Allah anak anak yg shalih itu dapat
menyelamatkan ibunya di hari kiamat.

2. menikah dg istri kedua sah hukumnya tanpa meminta izin kepada
istri pertama.
Sebagaimana seorang lelaki tak wajib meminta izin ayah ibunya
untuk menikah, yg wajib meminta izin adalah anak wanita, mestilah
walinya mengizinkan, namun pria tak perlu izin walinya untuk
menikah.

Namun sebagaimana walaupun seorang pria boleh / sah menikah dengan
seorang wanita tanpa memberitahu ayah ibunya, namun seyogyanya ia
dari segi adab kepada orang tua yg telah mendidiknya sejak kecil,
sepantasnya ia tak menikah kecuali dg restu ayah ibunya, ini
adalah dari segi Birrul walidain, bukan dari segi hukum.

Demikian pula suami yg akan berpoligami, tak mesti meminta
persetujuan istri pertamanya, secara hukum Islam nikah nya sah,
namun tentunya seyogyanya secara akhlak dan adab ia memberitahukan
pada istrinya, karena telah seperjuangan dari awal bersama, dan
kalau toh niat poligaminya baik maka selayaknya istri yg baik pun
akan menerima

tidak wajib secara hukum, namun sebaiknya ia memberitahukannya.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam rahmat Nya swt
selalu,

Wallahu a lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=5136

© http://carauntuk.com/hukum-perkawinan-20070702

Leave a Reply