Sponsor 1

forum.majelisrasulullah.org

Bagaimana hukumnya apabila kurang jelas dlm membaca tajwid terutama nun bertemu kaf,kof.nun bertemu ba,fa..dalam sholat?

tajwid – 2007/06/10 20:40Assalamualaikum Wr Wb,

Habibby ana mau tanya lagi..nih,

Bagaimana hukumnya apabila kurang jelas dlm membaca tajwid terutama nun bertemu kaf,kof.nun bertemu ba,fa..dlm sholat?

Ana juga masih tersedat menerapkan tajwid dlm baca Al quran,bagaimana caranya agar lancar?

Mohon penjelasannya,Bib.

Jazakallahu Khairan Katsir,

  | | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya

Re:tajwid – 2007/06/11 16:33Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Limpahan kebahagiaan dan Inayah Nya swt semoga selalu tercurah pada hari hari anda,

saudaraku yg kumuliakan,
mengenai kesalahan kesalahan itu tidak berpengaruh atas sah nya shalat, karena hal itu tak ditetapkan dimasa Nabi saw.

mengenai mempelajari tajwid masa kini sangat mudah, sudah ada tuntunan mudahnya di buku buku dan dalam beberapa jam saja anda sudah dapat memahami dasar dasarnya.

demikian saudaraku yg kumuliakan,

wallahu a'lam

Forum silahturahmi jama'ah Majelis Rasulullah, klik disinihttp://groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

 

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494
  | | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya

Re:tajwid – 2007/06/14 07:27Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh…

Semoga Habib senantiasa diberikan kesehatan oleh Alloh Subhanahu Wata'ala..Amiin

Ana mau tanya bib dari penjelasan Habib tersebut apakah yang dimaksud dengan tidak berpengaruh atas sahnya sholat itu bila pembacaannya tidak menggunakan Tajwid adalah membaca surah setelah Alfatihah atau Alfatihahnya ?

karena sepengetahuan ana membaca surah Alfatihah itu termasuk rukun dalam sholat dan harus berurut-urut dan berturut-turut serta memperhatihan syadah²nya (Tasyjiid) dalam membacanya. dan orang yang qory tidak boleh berma'mun kepada orang yang ummi (kurang bagus dalam bacaannya).
Dan jika kita merasa kurang dalam pembacaannya memang selama kita masih dalam tahap belajar tidak masalah, yang jadi masalah sekarang ini orang yang kurang bagus bacaannya tidak mau belajar dan mempertahankan bacaannya yang salah.

Dan untuk mempelajari Tajwid itu bukankah seharusnya dengan guru dan buku itu hanya sebagai referensi saja karena mempelajari ilmu tajwid itu harus berhadap²an dengan guru sehingga kita tau bentuk mimik/mulut dalam pembacaannya, karena sekarang ini banyak buku metode pembelajaran ilmu tajwid itu dengan disertai bahasa indonesia yang saya pikir akan sulit dipraktikan bila tidak ada yang mencontohkannya sebab banyak huruf arab (hijaiyah) yang apabila diterjemahkan dalam bahasa indonesia tidak sesuai sewaktu pengucapannya.

Dan setahu ana juga Hukum dalam mempelajari ilmu Tajwid itu adalah fardu kifayah dan Hukum dalam membaca Al-quran dengan tajwid adalah Fardhu Ain.. Apakah benar bib ?

Demikian bib, disini ana cuma sekedar berpendapat mengenai masalah ini yang ana tahu…Mohon maaf bila ada kata yang salah dan kurang berkenan.

Wallohu 'alam

Wasalaamu'alaikum
Hartono – Mangga Besar XIII

  | | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya

Re:tajwid – 2007/06/14 21:12Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya Rahamat dan keberkahan semoga selalu atas anda,

sausdaraku yg kumuliakan,
bacaan fatihah yg salah namun tak merubah makna sebagian ulama berpendapat bila dinegeri luar bangsa Arab maka fatihahnya tetap sah, maka shalatnya sah, terkecuali bacaan fatihah yg salah hingga merubah makna maka fatihah nya tidak sah dan shalatnya pun tidak sah, namun berkata Al hafidh Imam Nawawi rahimahullah bahwa kesalahan makna dalam membaca fatihah dimaafkan bila di negeri yg tidak berbahasa arab, selama tidak disengaja, kecuali bila ia faham dan sengaja merubahnya maka fatihah nya batal dan shalatnya pun demikian.

di negeri kita, Tajwid yg difahami adalah ilmu untuk belajar membaca Alqur'an, padahal berbeda antara belajar membaca huruf arab, dan belajar untuk menyempurnakan membaca Alqur'an, 

Ilmu tajwid adalah metode pembacaan Alqur'an yg indah dan sempurna, hal ini hukumnya sunnah.

yg wajib adalah ilmu membaca Alqur'an dg benar, dan ini bukan ilmu tajwid, ini adalah ilmu bahasa arab, karena semua orang yg berbahasa arab dan mengenal huruf arab akan mampu membaca surat Alfatihah dan Alqur'an karena mereka mengenal huruf arab, maka sifatnya umum, namun belum tentu orang arab atau yg berbahasa Arab mengetahui ilmu tajwid, karen ilmu tajwid adalah ilmu kesempurnaan membaca alqur'an, dan bukan membaca keseluruhan tulisan arab.

misalnya begini, bila anda membaca huruf "nuun" yg berjumpa dg Qaaf maka akan melahirkan huruf "ng". demikian dalam tajwid membaca Alqur'an., namun bila anda membaca hadits Rasul saw atau tulisan lainnya dan anda membaca misalnya Man Qaala lalu anda membaca "mangqala" maka anda akan ditertawakan, karena hal itu tak dipakai kecuali dalam Alqur'an, dan hukumnya pun sunnah.

bila anda membaca misalnya dalam ayat Alqur'an من قال dengan membacanya maN Qaala" maka bacaan anda benar, namun sunnahnya merubahnya menjadi Idgham (ng).

mengenai Tartib (berturut turut) dalam membaca Fatihah bukanlah dari ilmu tajwid, 

Tasydiid Fatihah yg sebanyak 13 tasydid adalah dari ilmu bahasa Arab, bukan hanya pada ALqur'an, sedangkan tajwid adalah khusus untuk kesempurnaan membaca Alqur'an, 

dan ikhtilaf ulama tentang ilmu tajwid, ada juga pendapat yg tidak memakai tajwid dalam membaca Alqur'an, ada yg berikhtilaf pula dalam cara membacanya, 

Ummi adalah orang yg buta huruf, boleh menjadi Imam selama bacaannya benar, dan berbeda antara "tidak boleh" dengan "yg lebih Afdhal".

tentunya yg lebih afdhal menjadi imam adalah yg sempurna bacaannya daripada yg tidak sempurna, 

namun saudaraku, dalam Bab Imamah dijelaskan urutan seseorang menjadi Imam yg pertama adalah Amirulmukminin atau Khalifah, atau Sultan atau pemimpin, setelah itu barulah Imam yg biasa mengimami ditempat itu, setelahnya baru para Ulama, setelah itu baru orng tua, setelah itu barulah mereka yg indah bacaaannya,.

maka seorang Sultan atau khalifah atau pemimpin lebih berhak menjadi Imam walau bacaannya kurang sempurna, selama tidak merubah makna, dan Imam tetap ditempat itu lebih berhak dari Ulama walaupun bacaannya kurang sempurna selama tak merubah makna, dan Ulama lebih berhak daripada Qari, walaupun suaranya dan kesempurnaan bacaannya tak seindah Qari, demikian seterusnya. 

bila orang yang kurang bagus bacaannya tidak mau belajar dan mempertahankan bacaannya yang salah selama tak merubah makna dan keberadaannya diluar bangsa Arab maka tetap sah keimamannya menurut sebagian ulama, namun tentunya ia berdosa, tapi shalatnya sah dan bermakmum padanya sah.

untuk mempelajarinya dari buku merupakan dasar dasar membaca Alqur'an boleh boleh saja, dan untuk lebih afdhalnya adalah belajar dg guru, namun bukan merupakan kewajiban karena tajwid hukumnya sunnah muakkadah.

saudaraku, yg fardhu 'ain itu adalah belajar membaca huruf arab agar dapat membaca Alqur'an, hal itu fardhu 'ain, namun belajar tajwid demi menyempurnakan bacaan Alqur'an hukumnya sunnah mustahibbah, karena ilmu tajwid belum ada dizaman Rasul saw

demikian saudaraku yg kumuliakan,

wallahu a'lam

  | | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya

Re:tajwid – 2007/06/23 06:03Assalamualaikum ya habib, yahfazhukumullah..maaf habib, menyambung pembahasan di atas, apakah boleh menjadi makmum kepada imam yang rusak makharijul hurufnya, seperti menyebut ain menjadi hamzah, dzal menjadi zay dlsb. Sebab, jika melihat jawaban yang habib berikan, sepertinya boleh makmum yang qori' itimam kpd imam yang ummiy. Padahal di fathul qorib lil allamah Muhammad bin qosim as syafi'iy diterangkan : tdk sah bagi qori' yaitu orang yang bagus bacaan fatihahnya mengikuti kepada ummiy yaitu orang yang rusak huruf dan tasydidnya daripada fatihah. Mohon penjelasannya ya habib..dan ana mohon maaf apabila ada kata2 saya yang salah. Wassalamualaikum
  | | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya

Re:tajwid – 2007/06/25 01:06Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Inayah dan kelembutan Nya swt semoga selalu tercurah pada hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
sah menjadi makmum orang yg rusak makhraj hurufnya seperti Ain diucap alif, di negeri selain negeri yg berbahasa arab, selama tak merubah makna, mengenai mana yg lebih didahulukan maka berkata Alhafidh Imam Ibn Hajar dalam Fathul Baari Almasyhur Juz 2 hal 171 agar mendahulukan yg lebih faqih daripada Qari’, karena Qari’ hanyalah baik bacaannya saja, sedangkan imam shalat dibutuhkan mendalami syariah dan hukum shalat secara keseluruhan, bukan hanya bacaan fatihah saja yg merupakan sebagian kecil dari rukun rukun shalat,

nah.. bila seorang ulama namun memiliki lidah yg tidak fashih, maka ia didahulukan daripada Qari’ yg bukan ulama, namun tentunya jika fatihah nya tak merubah makna.

Mengenai ummiy ini, maksud saya adalah sah menjadi makmumnya, walaupun tentunya lebih afdhal adalah yg bacaannya fashih, tapi si Ummiy tadi tetap sah menjadi makmumnya, shalat makmum tidak batal karena bermakmum kepadanya.

Dijelaskan bahwa batal shalatnya apabila bacaannya merubah makna fatihah, seraya mengetahui dan sengaja (Busyralkarim 148)

Anda dapat menjumpai ulama ulama Mesir yg mengucapkan Qaaf menjadi ‘Ain, padahal mereka ulama ulama kelas atas, atau anda dapat menemukan ada diantara kyai kyai besar yg sudah sangat mendalami syariah dan hukum, namun mereka memiliki lidah yg tidak fashih mengucapkan Zay, dan sebenarnya dijelaskan oleh para ulama bahwa tak ada yg lebih fashih dari Rasulullah saw, dan beliau saw bersabda : “akulah yg paling fashih mengucap “Dhaad”. 

Banyak orang terjebak kesalahan saat mengucapkan huruf “Dhaad”, mereka mencampurkannya antara Daal dan Zay, dan masih banyak contoh lainnya, 

sebagaimana dijelaskan oleh para ahli tajwid bila seseorang mengucapkan “Raa”, masih bergetar lidahnya maka ia belum fashih mengucapkan “raa”, di pondok pondok Alqur’an di Jawa Timur, ada yg bertahun tahun tak pernah lulus mengucapkan huruf “raa”, karena masih bergetar lidahnya saat mengucapkannya.

Dan masih banyak lagi celah celah tajwid namun hal itu dimaafkan bila tak merubah makna, dan atau tidak sengaja.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a’lam

Forum silahturahmi jama'ah Majelis Rasulullah, klik disinihttp://groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

 

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

sumber

© http://carauntuk.com/bagaimana-hukumnya-apabila-kurang-jelas-dlm-membaca-tajwid-terutama-nun-bertemu-kafkof-nun-bertemu-bafa-dalam-sholat

Sponsor 2

Show More

cu.admin

Nama: Arie Ibrahim | Lahir : 16 january 1987 | Lulus : SMA 28 Oktober 1928 jakarta Selatan Tahun 2005 | Keahlian : dibidang komputer. | Ketertarikan: ilmu komputer, ilmu Quran, dan Ilmu Fisika. | Kontak : arie@carauntuk.com adpit31@gmail.com | Pesan : semoga artikel diatas bermanfaat bagi saya pribadi dan yang membutuhkannya, Terimakasih

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker